Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Melewatkan Mu


__ADS_3

Semua kisah yang telah berlalu dan merindukan sosok yang hampir setahun menemani Willi disaat suka dan duka. Perempuan yang selalu mendukung nya kini telah meninggalkan dia, dengan cara yang menyedihkan akibat ulah nya sendiri.


Drrrrrrt... Drrrrttt... Email masuk dari aplikasi mail di Blackberry, dengan cepat Willi melihat ticket yang dikirim oleh Alwen. Willi mulai bimbang dan sedang memikirkan ulang kepulangan nya. Willi pun menggunakan Alwen untuk menyelidiki siapa Krishna dan bagaimana dia.


"Awas saja jika dugaan ku benar. Akan ku bikin bersujud mengakui salah dan minta maaf." Kata Willi didalam hati.


Sementara Gerry dan Widia sudah berjalan menuju negara masing - masing. Gerry mendapat tugas ke New York - kota yang dibilang tidak pernah tertidur dan the apple of eyes nya United State atau kita kenal Amerika Serikat.


Widia pun mendapat kan penugasan ke Paris, Perancis.


Soekarno - Hatta Airport,


"Gerr, see you on July 2010 yah di Swiss." Kata Widia yang memeluk Gerry.


"Iyah, see you on July 2010. Kita bikin rusuh di Swiss yak.." Kata Gerry sambil memeluk erat sahabatnya itu.


"2010 kayak nya ada yang jadian nih?" Sindir Widia dengan muka jahil nya ke Gerry. Dan yang di ledek hanya tersenyum penuh arti diantara iyah dan enggak.


Pesawat yang membawa mereka ke negara - negara yang dituju sudah memanggil - manggil nama mereka. 2 kembar heboh ini langsung menuju badan pesawat yang membawa mereka menuju kesuksesan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi Krishna ini anak beasiswa dari United Nation." Kata Willi sambil membaca apa yang di infokan sama Alwen, assistant nya Willi.


Drrrrrrt... Drrrrrtt... BBM masuk dengan cekatan Willi membalas nya dengan penuh kemenangan.


Via: Kamu ada waktu?


Willi: Sejak kapan aku tidak punya waktu untuk kamu?


Via: Oh gitu? Bukan nya aku prioritas terakhir?


Via mulai dingin dan mengeluarkan kata - kata yang menusuk hati.


Willi: Apakah kamu masih marah dengan yang kemarin?


Via: Nanti aku bicarakan setelah ketemu dirimu.


Willi: Baik, aku rindu kamu.


Chat terakhir hanya di baca saja dengan Via. Willi melebarkan senyuman nya karena Via emang tidak bisa lepas darinya.


Pukul 19.00 waktu Geneva, Switzerland


Via menunggu dengan jacket tebal nya karena udara dingin yang menusuk tulang.


Bulan December 2009 mestinya menjadi akhir cerita yang bahagia, namun kenapa menjadi tragis seperti ini.


Willi melihat Via dengan jacket tebalnya langsung berlari dan memeluk nya. Via yang menunggu Willi hanya diam tidak membalas pelukan Willi. Via menatap Willi dengan dingin seolah sudah tidak ada rasa, rasa yang dahulu membuatnya mabuk akan cinta.


"Via, aku minta maaf. Aku salah Vii." Willi memulai pembicaraan nya.


"Will, keputusan Via sudah bulat. Via, pikir dan mempertimbangkan kalau lebih baik kita berpisah." Kata Via yang membuat Willi melotot.


"Maksud kamu apaan? Kamu beneran? Demi cowok yang kemarin?" Willi mulai mencecar Via dengan muka menghina.


"Via sudah katakan, via tidak ada hubungan sama dia. Berapa kali Via bilang! Kamu tidak berubah intinya." Kata Via yang mulai menegas.


Willi terus memojokan Via dengan kata - kata yang kasar. Membuat Via semakin jengah akan sikap Willi.


"Ini barang - barang yang Willi kasih. Termasuk cincin yang Willi kasih ke Via di Paris, 1 tahun lalu." Kata Via yang menyerahkan semua barang - barang yang pernah William kasih.


"Kamu lebih milih anak beasiswa itu ketimbang aku yang sudah nemenin kamu selama 1 tahun, Via!" Kata Willi yang masih berusaha mengambil hati Via.


"Setidak nya dia tidak berbohong, dia tidak kasar dan paling penting dia tidak lupa kalau ada orang yang menunggu kabarnya." Kata Via yang membuat Willi diam tidak bisa berkomentar.


"Aku selalu nanya kabar kamu loh. Aku hanya khilaf. Wajar kalau aku cemburu Via! Lelaki mana yang nggak cemburu melihat pacarnya dengan pria lain?" Willi melakukan pembelaan ketika Via mulai memojokan Willi.


"See, kamu hanya berdalih! Coba check chat BBM mu. Berapa kali Via nyariin dan seberapa sering kamu membalasnya?" Via semakin kecewa dan semakin ingin cepat selesai.


Beragumen dengan Willi cukup menguras tenaga dan memilih meninggalkan Willi yang terus membela dirinya sendiri. Hingga akhirnya Via menelpon Felly dan meminta Felly untuk menemaninya di dormitory membuat kue bolu tape pesanan ibu duta besar Indonesia di Swiss.


Tooooook... Tooook....


"Yah, tunggu sebentar." Teriak Via dari dalam dan buru - buru mengelap tangan nya yang penuh dengan tepung terigu.


"Lama amaaaat buka pintunya." Felly setengah teriak. Namun hidungnya sudah mencium sesuatu yang wangi dan sepertinya merubah suasana hati.


"Hi Krish. Diajak ama Felly?" Sapa Via yang melihat Krishna.


"Hai, iyah. Aku aku kan pelanggan mu yang setia." Ledek Krishna dan memamerkan deretan gigi putih nya yang rapih.


Krishna dan Felly duduk manis ketika Via mengeluarkan kue dari panggangan. Wanginya semerbak kemana - mana.


"Woooh, ide- ide Lu semakin ajaib ajah." Puji Felly yang mulutnya penuh dengan bolu tape.


"Iniiii enaaaaaak." Krishna membuka suara secara spontan.



Via merasa heran karena Krishna jarang bicara. Hanya hal-hal yang penting kalau dia bersuara.


"Beneran? ini nggak bohong kan?" Kata Via mencoba meyakinkan diri.


"Ini enak banget Via. Ini kue apaan?" Krishna meyakinkan Via bahwa beneran enak.


Toook Tooook... Pintu kamar dormitory Via, Via pun kaget. Karena Via nggak ngundang siapa pun selain Felly.


Setelah membuka kan pintu kamar, Via kaget melihat Willi yang bau alcohol.


"Viaaa.. Kenapa kamu begooo banget memilih lelaki yang hanya biasa saja." Racauan Willi dan langsung memuntahkan isi perutnya di badan Via. Dengan penuh kekagetan Via memapah Willi dibantu Krishna dan Felly.


Secepatnya Via membuat susu hangat dan sop mabuk. Hati Via masih belum bisa 100% merelakan Willi pergi. Namun otaknya berkata kenapa harus kasar?


"Via, mau dipanggilin taksi?" Kata Krishna menawarkan bantuan untuk Via.


"Nggak usah Krishna. Biarin ajah, kalau di kasih taksi nanti malah ribet." Kata Via yang menenangkan Krishna dan Felly.


"Yah udah, kita nginep disini semua." Kata Felly yang mengkhawatirkan Via.


"Nggak usah, kalian pulang ajah. Nanti biar aku saja yang urus. Thanks yah." Kata Via memberikan penjelasan.


Krishna dan Felly tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah menjadi pilihan nya. Krishna sedikit kecewa kenapa Via masih menolong Willi. Namun Krishna tidak bisa berbuat apa-apa.


Willi yang mendengar samar - samar pembicaraan mereka. Sedikit lebih lega karena akhirnya bisa berduaan dengan Via.


"Yah ampun Will, kapan sih kamu berubah?" Kata Via yang mengelap sisa - sisa muntahan tadi. Dengan telaten Via membersihkan muka Willi, lalu menggantikan bajunya.

__ADS_1


Memberinya selimut agar tidak kedinginan. Willi merasakan kehangatan yang seperti biasa Via sering lakukan. Bahkan disaat Willi menjadi buas akibat emosinya yang tidak terkendali.


Rasa bersalah semakin mendalam, ternyata 100% dia salah. Via kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaaan nya lalu ke kamar tidurnya. Sebelum Via ke kamar tidur Via melihat Willi keringat dingin dengan sigap Via mengelap wajah nya.


Pagi - pagi, Via menyiapkan bubur hangover dan susu beruang. Untuk Willi yang masih tertidur pulas. Setelah menyiapkan bubur yang aroma nya membuat Willi bangun dan langsung mencari sumber wangi.


"Masih saja dia sempat membuatnya." Kata Willi dalam hati. Tidak lama Via keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap dengan pakaian Dinas UN*.


*United Nations \= Perserikatan Bangsa - Bangsa.


"Kamu sudah mau berangkat?" Tanya Willi basa basi.


"Iyah, kalau kamu mau istirahat silahkan. Ini buburnya makan lah." Kata Via sambil menguncir rambutnya menjadi ekor kuda.


Willi hanya menatap Via dari kejauhan yang sibuk bersiap kerja. Sambil berdoa ini tidak mimpi dan berharap Via melupakan kejadian kemarin.


"Aku berangkat, kalau kamu tak betah. Kunci kamar dorm ku bisa kamu titip di security. " Kata Via yang mengambil sepatu dan pergi kerja dengan pamit seadanya.


Willi hanya terdiam dan tidak berbuat apapun. Willi dengan cepat menghubungi Alwen untuk menukar kepulangan nya. Sang assistant hanya bisa menurut apa yang tuan nya katakan.


Pukul 17.00 waktu Geneva, Switzerland.


Via kembali ke dormitory yang didalam nya masih ada Willi. Bahkan Willi memindahkan barang - barang nya ke dormitory Via. Sesampainya Via ke dormitory, melihat barang - barang Willi. Via pun sudah tidak merasa kaget.


"Aku bosan, kamu nggak ajak aku jalan - jalan." Kata Willi setengah memerintah.


"Kamu punya kaki? Teman mu banyak kan? Dan satuhal lagi, kamu punya uang. Bisa kan jalan - jalan?" Sindir Via yang menusuk hati Willi.


Willi hanya diam, karena kalau diladeni akan semakin pecah perang dunia. Via mengganti seragam nya dengan baju biasa, lalu mengajak Willi keluar untuk menikmati Switzerland yang Indah.


"Kenapa kamu sudah tidak mau aku gandeng?" Willi mencoba menetralisir keadaan.


"Aku hanya orang luar, sebaik nya kamu ingat kalau kita sudah tidak ada hubungan sebagai kekasih." Jawab Via yang mulai memberikan batasan.


"Kenapa masih memberikan ku harapan palsu?" Bales Willi membuat Via tersenyum karena sifat dan tabiat Willi tidak pernah berubah.


"Kau kan teman ku, walau kita putus sebagai kekasih. Apa aku pantas menelantar kan mu?" Jawab Via dan Willi menunduk kearah jalanan.


"Aku tidak seperti dirimu, yang bisa membenci orang - orang disekeliling mu. Biar gimana pun, aku tidak lupa akan kebaikan mu." Kata Via sambil memberikan kue egg tart yang Via beli di dekat dormitory dan masih hangat.



Willi ternyata salah, Via benar - benar dengan pilihan nya. Teringat omongan Widia ketika Via di Rumah sakit Tarumanegara.


#Throwback#


"Will, Inget. Kalau Via tau elu bohong habis lah elu. Jangan sampai elu kasar juga, Via bakal pergi tanpa kembali." Kata Widia yang memberitahukan apa yang Via suka dan tidak.


"Beres Wid, bantu gue yah. Kali ini saja, gue panic banget tadi. Jadi gue hilang akal sehat pas nyampe." Pinta Willi ke Widia dan disepakati Widia akan membantu Willi dalam menutupi hal tersebut.


Namun ternyataaaa....


"Will... Are you there?" Tanya Via yang melihat Willi melamun tanpa sebab.


"Yes, I'am." Willi menjawab dengan tersenyum paksa.


Menghabiskan waktu bersama dengan Via, benar - benar melupakan beban kerja selama ini. Willi bisa melihat wajah Via yang tertawa bebas seperti pertama kali Willi melihatnya di Kampus Tritunggal.


Seperti biasa Via menuju supermarket untuk membeli kebutuhan kue pesanan. Dan sementara waktu Via menutup restaurant rahasianya. Namun ketika di supermarket, Via melihat tableware keluaran terbaru yang lucu - lucu. Dengan penuh perhitungan Via mencatat biaya investasi. Willi melihat semuanya menemukan Via berubah banyak.



"Tidak usah. Aku sangat menghargai tawaran mu." Kata Via yang masih asik memilih - milih tableware untuk nanti akan menjadi koleksinya.


"Anggap saja ini ganti rugi yang kemarin." Kata Willi yang menjebak.


"Hmm, tidak usah. Aku menganggapnya itu force mejaure yang harus ku tanggung." Kata Via sambil matanya melihat hiasan untuk acara Thanksgiving nanti.


"Kalau begitu anggap saja ini hadiah dari teman baik mu." Kata Willi lagi yang penuh jebakan betmen.


"Terima kasih teman baik ku. Kamu sangat akan membantu jika diam dan tidak berisik." Lagi - lagi di mentahkan oleh Via yang masih sibuk menyisir perlengkapan cutleries yang akan dia koleksi.


"Kalau begitu aku jadi investor mu bagaimana?" Kata Willi yang tidak menyerah dengan usaha menjebak Via kembali kepelukannya.


"Hmmm, aku tidak suka berhutang. Aku ingin melakukan nya dengan caraku." Kata Via yang mulai gerah sama ocehan Willi.


Setelah membeli beberapa koleksi yang di sesuaikan budget. Via juga membeli beberapa bahan pangan untuk next table. Kali ini Via akan mengangkat tema Indonesia Timur yang kaya akan rempah - rempah yang disukai oleh orang - orang eropa.


Hari semakin sore dan akhir nya Via dan Willi kembali ke dormitory Via. Saatnya unboxing belanjaan yang akan menjadi bahan next table. Via dengan lincah mengeluarkan semua bahan - bahan. Lalu menyusun menu sebelum dibagikan di group BBM.


Drrrrrrrrrrrrrrttttttt....... Drrrrrrtttttttt....


Admin (Via): Malam semua, maaf menunggu lama dan kemarin sempat ada kejadian tidak mengenakan. Berikut ini menu yang akan hadir yah.


Pembuka : Asinan Pala


- Bayam rebus sambal turbo


- Soup Iga Conro


Main course : 1. Ikan bambu kuning



Sapi bumbu RW


Dessert : Es Palu Butung



Terima kasih atas perhatian nya. Jangan lupa daftar yah! - Secret Dinner Party admin -


Max: Aku dua orang yah min.


Admin (Via): Baik. 2 orang atas nama siapa?


Max: Atas nama Maxime dan Lorraine.


Admin (Via): Baik, kami akan proses jika ada down payment dan tidak refundable yah.


Max: Baik. Akhirnya...


Gina: Saya 2 orang yah min.


Admin (Via): Baik. 2 orang atas nama siapa?


Gina: Atas nama Gina dan Frans.

__ADS_1


Admin (Via): Baik, kami akan proses jika ada down payment dan tidak refundable.


Gina: Baik min. Masih rekening yang sama?


Admin (Via): Masih.


Hampir 20 menit dan kursi 8 orang sudah terisi full. Selebih nya akan masuk di group berikutnya. Via menginvestasikan BBM pribadinya untuk pekerjaan sampingan ini. Dan BBM yang lain untuk pribadi dan pekerjaan utamanya.


Willi melihat bakat pengusaha dalam diri Via. Sayangnya Via dan dirinya sudah tidak ada titik terang untuk kembali. Setelah membalas Via menyiapkan bahan - bahan kue. Untuk pesanan Perkumpulan orang - orang Indonesia di Switzerland.


"Aku bantuin kamu yah?" Kata Willi yang langsung mencuci piring bekas Via membuat kue 1 per 1.


"Thank you yah." Kata Via yang tersenyum melihat inisiatif Willi.


Didalam hatinya Willi bergejolak antara hati dan pikiran, sungguh benar- benar bodoh diriku yang tidak mempercayainya.


"Will, kamu buka mulutnya." Kata Via yang memberikan potongan lapis legit keju.


"Hmmmmmn, enaaaaaak." Teriak Willi dan membuat Via kaget langsung memeluk Willi karena kegirangan.


Willi kaget dan tersenyum membiarkan Via memeluknya.


"Maaaf, aku lupa." Kata Via melepaskan pelukan nya dan wajah kecewa Willi tidak bisa di hindarkan.


"Aku mohon, berlaku lah seperti kita masih pacaran. Hingga aku kembali ke Indonesia minggu depan." Pinta Willi memohon ke Via membuat Via diam.


Via merapikan kue - kue yang sudah jadi dan memberikan nama pemesan di kotak - kotak sesuai pesananya.



"Aku tidak bisa melewatkan mu dari hidup ku." Kata Willi yang tiba - tiba memeluk Via dari belakang dan memohon kepada Via untuk diam sebentar.


Setelah beres semua pekerjaan sampingan, Via langsung mandi dan masuk ke kamar tidur. Dengan shower yang deras Via menangis karena dia masih sayang sama Willi. Namun nasi sudah jadi bubur nggak bisa ditambah kerupuk, ayam suwir dan condiment lain nya.


Tidak ada pilihan lain selain dibuang ke tempat sampah. Via pun sudah tidak mampu berkata apa-apa. Via ingin Willi berubah lebih baik lagi.


Seminggu telah berlalu, Yudha mendapat kabar bahwa Willi sudah kembali ke Indonesia. Sudah saatnya melancarkan aksi untuk mendapatkan Via.


"Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Novia Heidy kamu harus menjadi milik ku." Kata Yudha yang berbicara dengan photo Via.


"Permisi Pak, ini alamat terbarunya Ibu Novia Heidy." Kata Rena sekretaris pribadi Yudha.


"Kirim bunga Lily warna pink ke tempatnya." Perintah Yudha.


"Baik Pak. Saya akan kirimkan sesuai yang bapak minta." Jawab Rena dan pamit untuk memesankan bunga yang disuruh.



Via akhirnya mendapatkan kehidupan normal tanpa harus seperti Cinderella setelah Willi kembali ke Indonesia seminggu kemudian. Semua yang sangat ditakutkan Via ketika terbangun dari mimpi dan kembali ke kenyataan akan membuatnya sakit sekali.


Toooook Toooook....


"Sebentaaaar..." Suara cempreng Via memberitahukan orang yang mengetok pintunya.


Setelah membukanya dan melihat karangan bunga tangan kesukaan Via, tanpa lama - lama Via mencari siapa yang memberikannya.


*Dear Novia Heidy,


I was glad when I found out that you are not in relationship with Willi. So, I can be able to make a friends with you. I promise I will make sure you are happy to be with me.


The next of your love.


Ardrian Yudha.


- Dear Novia Heidy,


Senang banget menemukan kamu sudah tidak ada hubungan bersama Willi. Jadi says dengan leluasa bisa bersama dirimu. Saya berjanji akan membahagiakan dirimu disaat kita bersama.


calon pacar mu.


Ardrian Yudha*


Kata - kata gombal yang diluncurkan Yudha ternyata tidak meluluhkan Via.


Derrrrrrrrrt... BBM Yudha menyala nada special jika Via yang menghubunginya.


Via: Thank you buat bunganya. Cantik banget, semoga niat cantik berteman tidak dirusak oleh perasaan memiliki.


Yudha: 😆😆😆


Via: Iyah seriusan.


Yudha: Ketebak dan skak mat aku.


Via: Coba next life yah. Siapa tahu berjodoh dengan kamu.


Yudha: Kenapa harus next life jika kamu sekarang bisa jadi jodoh ku?


Via: Sekarang aku jodohnya orang lain. Kalau kamu sama aku, takutnya capek jagain aku buat orang lain.


Yudha: 👍👍


Yudha: send IMG_00788



Via: Jahilnya kamu. Sudah sana kerja, jangan bercanda.


Yudha: 👍👍👍


Gombalan demi gombalan ternyata nggak sanggup membuat Via gentar membuka hati.


Via semakin dingin dengan para pria yang mendekatinya karena ingin fokus ke karir dan pekerjaan sampingan nya.


Dilain tempat Gerry yang di New York City terus mengikuti perkembangan Via di Switzerland. Bahkan Gerry melihat perkembangan lebih baik dari blogpost Via. Yang menceritakan restaurant rahasianya juga hobby barunya yang mengkoleksi tableware.



Pengikut di blogpost Via mulai banyak dan Via semakin rajin menulis kegiatan nya di situs blogsnya Via. Gerry dan Widia salah satu dari follower setia Via.


*Yes, Please like dan comment untuk ceritanya. Maaf kan jarang - jarang update karena yang punya cerita lagi ngambek sama author.*


#Next#


Yudha tidak gentar mendekati Via yang sering di tolak. Willi mulai menjadi pria dingin dan memperburuk keadaan nya setelah putus dengan Via. Widia yang di Paris mulai bertemu dengan pasangan yang membuatnya bertekuk lutut. Gerry yang di New York bertemu dengan Nori yang membuat Gerry emotional...


Akan kah cerita Triplet 07 Semakin bahagia? Atau kah seperti takdir mereka akan bersama?

__ADS_1


__ADS_2