
Wili melihat foto yang diberikan Yudha lalu mengambil kunci mobilnya meminta Alwen untuk segera kembali ke Jakarta.
"Wen, kita harus balik ke Jakarta." Teriak Willi membuat Alwen kaget karena permintaan tersebut. Willi mengepalkan tangan nya karena melihat Yudha bersama dengan Via.
Lain cerita saat di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang-Banten. Gerry, Claudia, Widia dan Jerias akan kembali ke London. Via berpelukan dengan Widia dengan erat karena akan merasa kehilangan teman – teman nya yang menemani Via saat ini.
"Udah, gak usah nangis kek gitu. Elu kan bakalan ke Geneva lagi." Ujar Widia menenangkan Via yang sangat sensitive.
“Ihk, nggak bisa apa sedikit sensitive.”Oceh Via yang hilang rasa sensitive nya akibat Widia membuyarkan semua.
“Weits, gue nggak di peluk? Ledek Gerry saat melihat Via memonyong kan bibirnya saat diceramahi oleh Widia.
“Nggak tahu diriiiiiiiiii…”Cubit Via ke perut nya Gerry yang sudah seperti orang hamil 4 bulan, yah Gerry selalu bilang karena menikah membuat nya menggelambir.
Via mendengar panggilan pesawat komersial yang akan ditumpangi sama teman – teman nya ini sudah memanggil nama mereka ber empat. Claudia melihat Via yang menampilkan senyuman yang khas, lalu mengambil telephone selulernya. Tangan Claudia yang lentik mengetik personal message ke Via lewat aplikasi WhatsApp.
Drrrrrrrrrrrrrttttttttttttt…. 1 pesan masuk ke telephone seluler Via.
Claudia : If you need anything please call me*
(Jika kamu butuh sesuatu, hubungi aku)
Via : Tenang, aku pasti berteriak jika membutuhkan sesuatu.
Claudia : Jangan sungkan sama diriku. Katakan jika kamu butuh bantuan.
Via : Aku butuh kamu jagain sahabat ku. Kamu akan nyesel jika kamu menyakiti mereka.
Claudia : Pasti! Aku akan jagain mantan mu ini 😉
Setelah membaca pesan dari Claudia yang terakhir, Via nyengir kuda dengan kata mantan. Padahal Via tidak pernah berpacaran dengan Gerry. Via menatap langit bandara Soekarno-Hatta yang penuh dengan pesawat hilir mudik.
__ADS_1
Willi akhirnya sampai di Jakarta lalu berusaha menghubungi Via untuk bertemu. Saat melihat layar telephone selulernya menunjukan nama William Tanriardy membuat Via membiarkan nama tersebut berdering dalam keheningan di dalam tas Via. Merasa di cuekin sama Via, Willi mencari cara agar bisa bertemu dengan Via yang menolak Willi. Hingga akhirnya….
“Yah Will, ada apa?” Tanya Via yang akhirnya menjawab telephone dari Willi saat selesai meeting dengan lembaga yang memusatkan perhatian nya kepada hak asasi manusia, lebih detailnya kepada wanita dan anak – anak.
“Kamu kok begitu. Aku ajak kamu makan siang kamu nggak mau, tapi kalau Yudha mau.” Ambek Willi seperti anak kecil.
“Well, aku emang sibuk banget Will. Emang kamu mau bicaraain apa? Kalau hubungan kita kan sudah berakhir lama banget. Jadi mau apa lagi?” Jawab Via yang to the point membuat Willi tidak bisa mengeluarkan kata – kata lagi.
“Baik lah, kalau masalah program kemanusiaan masih bisa kan?” Tanya Willi yang tidak kehilangan akal untuk menjebak Via bertemu dengan nya saat ini.
“Kamu bisa menghubungi lembaga – lembaga ini, untuk memberikan bantuan. Aku masih padat banget jadwal nya. Next aku akan atur waktu buat makan bersama yah,Will” Kata Via yang mengakhiri pembicaraan nya dengan Willi.
Via melanjutkan dinas nya ke Lapas anak di daerah Tangerang, sebagai bentuk program dari kantor. Lalu di lanjutkan menuju rumah sakit kanker anak. Bersama dengan Gubernur DKI Jakarta, banyak nya teman – teman online memanggil nama Via serta ingin berfoto dengan nya. Via heran dengan orang – orang di Indonesia yang mengenal Via sebagai Selebgram daripada relawan United Nations.
Selesai menjalankan tugas sebagai relawan United Nations di Jakarta, Via bergegas menuju pulau paling Barat nya di Indonesia bersama dengan Team Ikatan Dokter Indonesia dan Team Pengajar Muda Indonesia. Via mendapat pengalama baru Bersama mereka, Via merasakan terombang – ambing nya menggunakan perahu kayu menuju daerah tersebut. Pulau We walau ada Pulau Benggala sebagai pulau terbarat serta paling ujung nya Pulau Sumatera. Menuju Pulau We tidak lah mudah, membutuhkan 7 jam di speed boat.
“Ibu tidak apa-apa?” Tanya seorang kepala dinas yang terbata – bata Bahasa Inggris nya. Mengira Via orang luar negri.
“Saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia kok, saya hanya mabok laut.” Kata Via mencoba menenangkan para team.
“Tenang, saya masih orang Indonesia kok. Jadi please, bantu saya untuk memajukan Indonesia.” Via menjelaskan dan meyakinkan sekali lagi kepada team yang di bawa.
“Saya kaget banget, karena Ibu sudah hilang logat Indonesia nya. Lebih ke arah logat Bahasa Perancis, di dukung juga muka ibu seperti campuran.” Kata Suster Novita yang dengan enteng nya menyuarakan ketidak nyaman nya.
“Saya 1-5 tahun saya ada di Spanyol. Sisa nya saya lebih banyak di Indonesia, lalu lulus kuliah saya bekerja di United Nation atau di sebut PBB. Yah, punya kuota data digunakan mencari ilmu ketimbang gibah.” Kata Via berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang serta menghilangkan mabok laut nya Via.
Cerita Via membius semua orang – orang yang ada di speed boat, sehingga tidak terasa sudah sampai di pulau We. Semua mata terpesona melihat Via menggunakan baju gamis, tatapan orang – orang yang ada disana merasa beruntung.
“Bu, ini kita harus ke rumah besar. Yang sudah di siapkan, jadi mohon maaf kalau tidak ada standar bintang 5 disini.” Kata kepala penyuluhan yaitu dr. Deddy yang memberikan informasi kepada Via.
“Tenang ajah, Dok. Semua aman kok buat 3 hari ke depan.” Balas Via yang mengagumi Pulau We yang sangat cantik sekali. Via mengeluarkan camera kesayangan nya dan memotret keadaan laut nya yang bersih sekali.
__ADS_1
Sssssstttt satu hal lagi yang membuat Via senang adalah signal di pulau ini ibarat hubungan suami istri yang sering pasang surut terkadang hilang. Menjadikan masalah ini Via bisa menghindar dengan laporan ke Geneva. Via mulai mempelajari prilaku serta budaya orang – orang disana, apa lagi setelah kejadian 2004 dimana Tsunami menghantam Aceh. Via pun mengingat pada tahun itu Via sedang berada di Singapore menjalani pengobatan dan konsultasi kepada dokter psikiater nya akibat kehilangan Thata.
“Buuuu, ayooo cepat masuk ke rumah besar. Sebentar lagi akan hujan besar…”Teriak Dokter Thyna saat mendapat kabar akan hujan lebat.
“Alamaaak….” Via menjerit dan berlari kearah rumah besar yang beratap seng. Sungguh di luar dugaan hujan mengguyur pulau We dengan deras. Belum sampai disitu saja penyambutan alam terhadap team dengan adanya petir yang menggelora di tambah mati lampu.
“Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrhkkkkkkkkk” Teriak seluruh team yang ada. Keadaan gelap diguyur hujan dan angin beserta petir yang saling bersahut – sahutan. Membuat lengkap penyambutan di Pulau We ini, lagi – lagi Via hanya bisa menahan air mata nya. Ketakutan sangat besar dan membuat nya keluar keringet dingin di pojokan kamar tidur.
Dengan mengutuki telephone seluler nya menjadi benda yang tidak bisa di gunakan untuk menghubungi siapapun. Via hanya bisa berdoa agar hujan cepat berhenti sehingga bisa membereskan kekacauan ini, sepertinya alam mengabulkan permintaan nya. Hujan sudah berhenti namun masalah tidak berhenti disitu saja dan membiarkan team Via duduk manis.
“Banjir gengs, sudah siap kah kita akan menguras rumah ini dan menutup yang bocor – bocor.” Perintah Dokter Deddy saat memperlihatkan bekas rembesan hujan.
“Siaaaaaapppp” Teriakan semangat daripada team. Dengan bergotong royong membersihkan rumah besar yang akan di tempati selama 3 hari kedepan oleh Via dan Team.
Para dokter bersemangat membantu para masyarakat, tidak kalah juga dengan team pengajar muda Indonesia. Mereka akan di tempatkan selama 1 tahun di pulau We ini, sebagai bakti kepada negara karena telah menerima beasiswa. Via mengagumi team nya merasa bukan apa – apa di bandingkan mereka, mereka membuai Via dengan semangat nasionalis. Satu hal kesamaan mereka adalah membuat Indonesia lebih berpendidikan.
Sepulang nya Via dari Pulau We, kulit Via lebih eksotis kecoklatan bak abis berjemur di pantai. Padahal Via sehari-hari membantu para dokter mengadministrasi pasien juga mengajar Bahasa Inggris untuk anak – anak sekitar. Pengalaman yang berharga ini akan Via simpan dalam hati, disaat yang sama…
“Buuuuuuuuuuuu, tolong saya.” Jerit seorang wanita yang Bahasa Indonesia terbata – bata. Karena mereka lebih menggunakan Bahasa Aceh sebagai Bahasa ibu mereka. Jangan tanya yang Via lakukan adalah teriak kepada kepala Team.
“Dokter Deddddddddyyyyyy…..” Teriak Via yang menggema keseluruh ruangan. Via merasa ketakutan karena tidak ada yang membantunya.
Lalu Via kaget saat melihat banyak obor yang di bawa oleh warga menuju rumah besar yang di tempati team. Via menarik wanita tersebut masuk dan menutup pintu dengan rapat, pikiran Via langsung buruk karena akhir hidup nya di bakar oleh warga yang Via tidak tahu salah dimana.
°
°
°
__ADS_1
°
Like, Love, Vote dan Comment yah buat novel ini. Biar Author semangat mengejar ketinggalan. Semoga kalian suka dengan cerita ini yah...