Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Kembali Ke Awal


__ADS_3

Setelah Richie masuk, akhirnya Reynold pun melihat adik-adik nya berkumpul. Lalu ikut bergabung dengan mereka bertiga.


"Kenapa kita jadi mellow begini yah?" Kata Richie yang tiba-tiba membuyarkan suasana yang ada.


"Ahk ini kan moment sekali seumur hidup. Rich." Teriak Ryan yang kesel sama adik nya ini, menghancurkan suasana.


"Yah udah. Kita ber 4 turun, karena kita ditunggu." Ajak Reynold dan di ikuti semua adik-adiknya turun ke ruang tamu.


Richie yang menggandeng Via karena sudah panik melihat banyak orang. Beberapa orang berbisik karena melihat Via dan Richie turun di belakang Ryan dan Reynold.


"Itu Richie sama perempuan baru?" Kata ibu yang Via tidak kenal. Ketika di belakang nya mereka saat mau mengambil makanan.


"Sepertinya pelakor." Sambung ibu sebelahnya. Via akhirnya kesel dan mengeluarkan mulut nyinyirnya.


"Saya adik nya Jonathan Richie Heidy, Joseph Ryanderra, Johannes Reynold Heidy. Saya Joyce Novia Heidy." Labrak Via saat di belakang ibu-ibu tersebut yang sibuk memisahkan diri.


Via duduk manis mendengarkan penceramah memberikan kata-kata. Sebagian orang - orang masih duduk manis sebagian sudah main telephone selulernya.


Drrrrrtttt.... Drrrrrtttt pesan di aplikasi WhatsApp Via bergertar.


Willi : Aku turut berduka yah atas kehilangan papa mu.


Via : Iyah,terima kasih.


Willi : Aku di depan rumah mu.


Sehabis membaca chat dari Willi, Via berdiri dan menghampiri nya. Sebuah bunga besar dan beberapa box kue di bawa sama Willi.


"Hi, sorry yah. Aku gak proper, by the way thank you papan bunga nya." Sapa Via dan Willi terse yum melihat Via mau menyapanya kembali.


"Ini buat kamu, semoga kamu suka." Kata Willi yang menyerahkan bingkisan kue dan bunga.


"Masuk yuk." Suruh Via dan Willi mengikuti Via dari belakang.


Rencana Willi sepertinya berhasil mendekati Via kembali. Dengan iseng nya Willi mengirimkan lokasi rumah Via ke Yudha. Perang kali ini Willi berharap Yudha akan menyerah.


"Vi, Dewin belum kesini?" Tanya Willi penuh selidik dan sebenarnya Willi sudah tahu bahwa Via dibohongi sama Dewin.


"Belum, kenapa?" Tanya Via dengan santai nya dan kembali mengambil cemilan di atas meja.


"Besok sibuk kah?" Tanya Willi yang berharap-harap cemas.


"Nggak, Will. Kenapa?" Jawab Via lalu melihat muka Willi yang tersenyum memamerkan gigi nya yang bagus.


"Besok aku jemput yah. Aku mau ajak kamu makan siang." Balas Willi saat bersamaan Via hanya memonyongkan bibirnya lalu pergi meninggalkan Willi karena harus ke ruang tamu.


Acara kebaktian sudah selesai, dan banyak tamu berpamitan pulang. Seperti layaknya orang Indonesia lainnya mereka semua berbungkus makanan sebagai tradisi dari zaman dulu.


"Willi gak ikut pulang juga?" Usir Via secara halus ke Willi yang masih duduk di bangku belakang taman rumah Via.


"Jawab dulu pertanyaan ku, baru aku pulang." Goda Willi saat Via berusaha mengusirnya.

__ADS_1


"Yang mana? Emang Willi nanya?" Kata Via berusaha mengingat semua obrolan Via dan Willi.


"Besok Willi jemput yah. Kita lunch bareng, oke?" Paksa Willi dan hanya di gelengkan kepala oleh Via.


Via menolak ajakan Willi karena besok Via akan ke Karawang. Ketempat peristirahatan terakhir sang papah lalu ke Jakarta karena dinas harus mundur 4 hari. Rencana kali ini gagal karena Via tidak memberikan alasan yang sangat jelas.


Malam ini Via menghabiskan waktu bersama keluarga. Via melihat ke 7 ponakan laki-lakinya secara dekat. Sebelum Via kembali ke Jakarta karena Dinas dari kantornya.


"Besok kamu berangkat jam berapa Iyah?" Tanya Oma saat Via duduk di ruang makan sambil memotong - motong semangka.


"Jam 5 pagi, biar di Jakarta nya gak terlalu sore." Jawab Via dan berasa kaget oma sudah menyiapkan segunung perbekalan Via ke Jakarta


"Kamu ke Bunda yah, kasihan bunda." Sambung Oma saat melihat Bunda yang masih kepikiran kepergian papah.


Via hanya kembali ke kamar nya tanpa berkata apapun. Karena di dalam hati Via masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Alasan - alasan ayah dan ibu nya tidak menyukai Via.


Pagi-pagi benar Via menyiapkan diri ke Jakarta, sebelum itu Via ke Karawang ke Bukit San Diego tempat dimana papah nya Via di semayamkan.


"Pah, adek datang. Adek mau melihat papah." Kata Via dalam hati saat didalam mobil yang membawa nya kesana.


Perjalanan 2 jam dari Bandung menuju Karawang tidak terasa karena Via berangkat saat pagi-pagi benar. Sesampai nya di pemakaman Via melihat sosok itu lagi.


"Ngapain kak Dewin disini?" Tanya Via dalam hati yang melihat Dewin khusyuk berdoa di depan pusara papah yang belum kering.


Via berjalan mendekat namun tidak mau menegur Dewin yang sedang khusyuk berdoa. Jelas terlihat Dewin membawa bunga kesayangan Via.


"Om, Dewin minta maaf. Janji Dewin ke om saat ini, belum bisa Dewin penuhi." Isak Dewin di depan pusara papahnya Via.


Setelah berbicara dengan pusara papah nya Via, Dewin terkejut melihat Via yang ada di belakang nya dengan menatap nya penuh kebencian.


"Well, ini tricky apa lagi kak?" Sindir Via yang merasa ini kebohongan Dewin lain nya.


"Terserah kamu mau bilang apa. Aku tadi malam sampai, hari ini mau ke Bandung menemui Richie." Jawab Dewin yang berusaha menahan emosi karena Via memancing.


"Lagi-lagi bobong, kamu nggak capek kak?" Desak Via ke Dewin lalu dengan sedikit kesal Dewin mengambil telephone seluler nya dan menghubungi Richie.


Dering telephone seluler Richie terus menerus, membuat sang pemilik nya akhirnya bangun lalu menjawab.


"Halo Win, udah nyampe mana lu? Katanya nyampe Indo langsung ke Bandung." Jawab Richie yang nada suaranya bener-bener bangun tidur.


"Gue ketemu adek lu nih di kuburan bokap lu. Ade lu emosi gue disini." Dewin mulai mengeluarkan kata - kata yang menyakiti Via.


"Si adek? Dia kan ke Jakarta, mampir dulu emang?" Richie yang mendengar kata-kata tersebut langsung terbelak kaget.


"Iyah, gak sengaja gue ketemu dia disini. Dia gak percaya kalau ini beneran kebetulan." Jawab Dewin dengan suara sudah mulai meninggi.


Via mendengar itu langsung mendorong Dewin keluar dari pusara papah nya, akhirnya Dewin meninggalkan Via sendiri di pusara papah nya.


15 menit Via melihat pusara tersebut dan memberikan bunga kesukaan Via lalu meninggalkan pusara tersebut. Via melanjutkan perjalanan ke Jakarta karena dinas.


Dewin termenung di mobil mengingat kembali pertemuan nya dengan Via. Pikiran Dewin melayang jauh bahkan memikirkan apakah Via mendengar semua obrolan dan pengakuan Dewin.

__ADS_1


"Entah lah, mudah-mudahan Via tidak mendengarnya." Kata Dewin dalam hati saat perjalanan ke Bandung.


Yudha mendengar Via sudah sampai ke Jakarta dan langsung menuju ke beberapa titik pemerintahan Indonesia sebagai perwakilan United Nations masalah Hukum dan Hak Asasi Manusia. Yudha mendapat jadwal Via secara lengkap dari teman nya yang kebetulan mendampingi Via.


"Halo nona manis, makan siang yuk." Sapa Yudha saat Via keluar dari sebuah gedung di Jakarta.


"Aku mau masakan Indonesia dong." Pinta Via ke Yudha saat mendengar makan siang.


Via duduk manis di Grand Cafe Jakarta, Via memesan sate ayam dan ketoprak. Yudha memesan Nasi goreng kambing.


"Saya ulang yah pak dan ibu, 1 porsi sate ayam, 1 porsi ketoprak tidak pakai toge dan tidak pedas, lalu 1 nasi goreng kambing special telur dadar dengan pedas nya sedang. Dan 2 air mineral" Pengulangan pesanan yang di lakukan waiter nya.


"Yak benar." Balas Yudha dan pesanan langsung di proses oleh rumah makan tersebut.


Via duduk di dekat jendela menatap keluar gedung seberang Grand Cafe Jakarta. Yudha mengambil gambar Via secara candid. Ternyata cantiknya masih sama seperti dulu.


"Vii, sorry yah. Aku tidak bisa mendampingi mu ketika papah mu tiada." Yudha memulai pembukaan bicara.


"Well, ini sudah takdir. Toh, aku sudah lega dengan mengetahui alasan kenapa papah membenci ku." Jawab Via dengan santai dan masih menatap jalanan.


"Vi, aku masih ada kesempatan kah untuk bersama mu?" Tanya Yudha dengan muka serious dan akhirnya Via memalingkan mukanya dari arah jalanan langsung menatap Yudha.


"Aku minta maaf. Kisah kita harus sampai disini Yudha. Aku tidak mau kamu berharap, jujur aku gak mau kamu terluka ke dua kali." Balas Via yang menatap muka Yudha penuh penyesalan saat meninggalkan nya waktu 5 tahun lalu.


Yudha terdiam dan berubah wajah nya karena penolakan Via. Akhir...


"Yudh, maafin Via. Sudah mengecewakan Yudha, Via pergi dengan pria lain. Bahkan pernah..." Suara Via semakin serak ketika mengungkapkan kebenaran ini.


"Pernah apa Vi?" Tanya Yudha yang penasaran dengan kata - kata Via.


"Pernaaah..." Kata Via yang menggantung dan air mata keluar..


"Pernah selingkuh sama Dewin? Atau sama Gerry?" Tanya Yudha dan Via kaget mendengar pertanyaan tersebut.


"Vi, tidur sama Gerry dan Dewin saja kan? Sama Willy nggak pernah kan?" Cecar Yudha saat membalas tatapan Via yang minta di kasihani.


Lagi-lagi Via terkejut saat mendengar kata demi kata yang meluncur bebas dari mulut Yudha. Sikap Yudha kepada Via tidak berubah karena masalah tersebut.


"Kita bisa kembali ke awal kok, Vi. Aku akan menunggu kamu siap." Suara manis Yudha melegakan Via saat mendengarkan kata kembali awal.


"Yudh, kisah kita sampai disini. Aku percaya ada wanita lebih back dari aku." Jawab Via yang menuntaskan perkara 5 tahun lalu.


Menikmati makan siang berdua dan tidak lupa foto bareng dengan Via. Yudha memberikan bukti otentik kepada Willi yang masih di Bandung menunggu Via. Namun Via ternyata sudah di Jakarta dan sedang bersama dengan Yudha. Tak lupa Yudha memberi caption "Jodoh tidak akan kemana - mana". Willi melihat foto tersebut semakin membara rasa competitif nya.


°


°


°


°

__ADS_1


Like, Love, Vote dan comment yah buat Novel ini.


__ADS_2