
Setelah pulang reunion Via, Widia dan Gerry sangat lelah. Yudha kali ini menjadi supir mereka, sementara Panji duduk di depan membiarkan Via, Gerry dan Widia beristirahat sejenak.
Sementara di dalam kepalanya Panji masih mencerna kata - kata Yudha saat di reunian tadi. Setelah sampai semua masuk ke ruang masing - masing. Tinggal Via dan Widia masih duduk manis di ruang tamu.
Yudha ingin menghampiri mereka berdua, namun...
"Vii, ulang tahun ini gue punya kejutan buat elu." Kata Widia secara tiba - tiba.
"Kalau mau membatalkan Via ke Himalaya percuma aku akan ikut!" Jawab Via dengan mata beradu.
"Emang ikut kan? Kenapa takut?" Ejek Widia sambil mengecek Via.
"Ikut! Siapa yang bilang Via nggak ikut?" Jawab Via dengan penuh keyakinan.
Widia yang mendengar itu sudah meyakinkan diri kalau Via sudah masuk ke permainannya Widia.
"Kalo gitu apa kejutan nya?" Tanya Via penasaran.
"Gue minta elu saat ketemu se seorang besok sore, nih. Please, be nice girl!" Kata Widia memohon ke Via saat ketika temen Widia dateng Via tidak berulah dengan insecure nya Via.
"Kayaknya orang nya baik, sampai kamu ngomong 6 mata gini?" Bales Via yang mulai menunjukan muka Via serius.
"Kok enam mata?" Tanya Widia yang mulai terasa horror kalau Via aneh - aneh.
"Kan Via pake kacamata. Gimana sih bebih!" Jawab Via yang masih serius mukanya.
"Well, bener juga sih!" Bales Widia setelah meyakini dirinya bahwa itu bukan hal yang horror.
"Lah emang mestinya apa?" Tanya Via yang sekarang panik. Via untuk hal - hal horror dia tidak suka. Pasti akan nangis jika mengetahuinya.
"Gue kira elu lagi ngelawak, ternyata elu beneran. Hampir gue mau jambak ini rambut elu!" Kata Widia yang akhirnya langsung ke kamar dan Via yang dibelakang nya mengikuti langkah Widia.
Jangan panggil Novia Heidy jika ke kepoan nya atau rasa penasaran nya tidak terselesaikan saat itu juga. Setelah sikat gigi Via naik ke tempat tidur lalu melihat Widia yang masih sibuk dengan telephone selular nya.
"Kamu nggak minat kasih tau apa kejutan nya?" Tanya Via dengan penuh penasaran dan sudah mulai memaksa.
"Udah, kan sudah gue bilang? Besok kudu jadi anak manis." Bales Widia yang mata nya masih bermain dengan social media di telephone seluler nya.
Via memandang Widia yang sibuk dan kembali bertanya;
"Oh kejutan nya ada orang toh?" Kata Via lagi lalu balik badan sehingga Widia di punggungi oleh Via. Namun Via masih penasaran dengan siapa yang akan Via temui.
Karena akan memasuki fase bertambah lingkup yang baru. Widia akan memperkenalkan orang pengganti Romi dan berharap lebih baik. Kepada Via dan Gerry agar mereka berdua tidak usil karena ke kepoan.
"Viaaaaaaa, Viaaaaaaaa" kata Widia membangun kan Via yang tumben bangun nya siang. Via tidak punya kebiasaan bangun telat apalagi pagi hari.
"Via ngantuk bebih. 5 menit ajah yah?" Pinta Via yang masih ngantuk karena kemarin bertemu banyak orang, membuat Via terkuras energy extrovert nya dan juga semua pikiran Via.
"Vii, nggak enak ama mama nya Yudha yang sudah masak." Bisik Widia dengan halus dan berhasil membangun kan Via. Tanpa komando mata Via langsung terbuka dan menuju kamar mandi.
Dengan terburu - buru Via mencuci mukanya dan gigi. Lalu turun kebawah dan melihat makanan tersedia rapih. Via langsung memasang muka sedih.
"Mampus aku kali ini, bakalan di tolak sama mamanya Yudha." Kata Via dalam hatinya dan mulai merasa insecure.
Melihat Via turun akhirnya Gerry dan Widia langsung mengambil makanan yang ada di meja. Panji yang masih berkutat dengan telephone selulernya. Yudha yang sudah duduk manis dengan makanan nya.
Via berjalan penuh senyum palsu akibat makanan sudah tersedia tanpa Via tau siapa yang masak.
"Kamu mau roti panggang apa mau nasi uduk?" Tanya Yudha sambil mengambilkan makanan di meja.
"Aku gak selera makan, aku kenyang." Jawab Via dengan suara lemah nya.
"Mau aku potongin buah?" Tanya Yudha lagi dan merasa ada yang aneh sama Via.
"Nggak, aku kenyang." Jawab Via dengan mukanya yang bingung.
"Ini yang masak assistant rumah tangga nya Yudha. Ayo makan!" Kata Gerry tiba - tiba dan setengah memaksa Via. Gerry hafal banget sama kelakuan Via.
Via yang mendengar itu cuma memasang muka aneh dan menatap Yudha dengan seksama.
"Ini yang masak si Teh ina. Mamah lagi pergi ke Singapore sama papah." Kata Yudha dengan tersenyum lebar.
"Ooh, gitu." Jawab Via sambil minum susu. Dan mengambil pisang saja.
"Ger, Vii. Siang ini kita makan di De Leuit yak?" Tanya Widia yang secara spontan.
__ADS_1
"Genks, hari ini gue pamit yah. Gue balik ke Jakarta dulu." Kata Panji tiba - tiba.
"Yah gak seru, kan kita belum jalan - jalan Nji.." Kata Via yang sekarang sudah mulai bawel dengan Panji.
Panji mengambil tindakan ke Jakarta karena sadar akan perjuangan cinta nya hanya membuat luka di hatinya semakin dalam.
"Iyah, next lah kita main bowling bareng yah?" Bales Panji sambil terkekeh.
"Ngggaaak mauuuuuuuuuuu" Jawab Via yang memonyongkan bibir saat bilang tidak mau.
Sementara Gerry dan Widia sudah muntah karena ketawa mengingat ada yang nyangkut di lubang gawang nya bowling. Yudha melihat ini ada yang aneh banget.
"Udah ahk, kalian jahat sama Via. Ketawa melulu!" Kata Via yang ngambek sama Widia dan Gerry.
"Kenapa sik?" Tanya Yudha penasaran sama ketawa nya Gerry dan Widia.
"Waktu itu Via nyangkut di lobang nya bola bowling. Barengan masuknya tuh sama bola nya." Kata Gerry yang menceritakan ulang ceritanya dan meledak ketawa.
Sementara Yudha ingin ketawa juga namun ngelihat Via yang sudah merah menahan malu. Akhirnya di tahan rasa tertawanya, dan memeluk Via.
"Kalian tuh jahat banget, bukan nya nolongin malah ketawa." Bela Yudha dan Via yang mendengar itu merasa nyaman. Entah mengapa air mata jatuh.
"Yah, ada yang nangis. Anget ini dada ku.." Kata Yudha membuyarkan suasana hati Via.
"Elu sih Yudh! Ahk kan nangis kan princess kodok." Kata Widia yang meledek Via dengan nama princess kodok.
"Yah, lagian elu pada ngejek bini gue. Yah gue bela lah." Kata Yudha tanpa mikir membuat Via semakin memeluk erat Yudha dan membenamkan wajah nya di dada nya Yudha.
Rasa nyesek dan kecewa yang ada di dada. Membuat Panji dan Gerry menyingkir ke kamar. Via ternyata lebih mementingkan Yudha. Dengan masih memeluk Yudha dan menangis, Widia pun menyingkir dari meja makan ke kamar.
"Heii, my pretty princess. Kenapa masih nangis?" Kata Yudha mencoba menenangkan Via.
"Aku udah gak nangis, cuma malu terlihat bengkak aja." Bales Via yang duduk manis didepan Yudha.
"Sekarang sudah ada aku, tidak akan ku biarkan kamu malu lagi. By the way kamu diet? Apa masih kenyang?" Kata Yudha sambil mengelap air mata Via.
"Ini tuh bener yang masak Teh Ina?" Tanya Via.
Yudha mengangguk dengan pasti dan melihat mata Via sudah berkaca-kaca lagi.
"Loh bukan nya tugas istri yah melayani suami?" Kata Via membalas perkataan Yudha.
"Aku nyari istri loh. Bukan nyari pembantu yah! Aku mau istri ku cerdas mengurus rumah tangga bukan melayani seperti itu." Kata Yudha dengan menatap pasti muka Via.
"Yah, aku gak mau mamah mu bilang aku gak bisa mengurus rumah tangga." Bales Via yang menatap balik Yudha dengan senyuman.
"Aku gak mau kamu sibuk dengan urusan seperti itu, tapi aku tidak lihat kamu berdandan, gak urus badan. Lalu sibuk ngurus keluarga ajah." Kata Yudha sambil memegang tangan Via.
"Aku mau kamu pandai mengatur rumah tangga dan bekerja juga. Karena aku takut kalau suatu saat pergi. Kamu tidak punya apa-apa dan harus menghidupi keluarga." Kata Yudha kembali sambil berdiri di balkon rumah nya menghadap kolam renang.
"Aku pastiin kamu tidak akan kekurangan aku sebagai istri, ibu dan partner kerja mu." Kata Via meluk Yudha dari belakang.
"Ayoo mandii, kita mau ke De Leuit. Si Bebih pasti ngomel kalau kamu mandi." Kata Yudha yang mendorong Via buat mandi duluan.
Via dengan muka penuh senyuman kembali ke kamar. Dan melihat Widia yang asik melanjutkan tidur. Sejam di kamar mandi dan Via akhirnya selesai juga mandi pagi, sementara Widia masih tidur nyenyak tanpa bergerak sedikit pun.
"Katanya mau pergi kasih kejutan. Ini orang masih molor ajah." Kata Via sambil ngomel di depan Widia yang masih nyenyak tidurnya.
Doook doook...
Pintu kamar Via di gedor sama Gerry yang bawel kalau ada janji.
"Udah siap kan?" Tanya Gerry dan terkejut melihat Widia masih tidur di kamar.
"Bebiiiiiiiiiiiiih. Astaga dragon! Katanya makan siang kita ada kejutan." Teriak Gerry yang membangunkan Widia.
"Iyah. Ini gue abis mandi. Udah pada siap belum?" Kata Widia yang mengucek - ngucek matanya.
"Mandiiii sana!" Teriak Gerry dan langsung Widia ngibrit mandi.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Widia selesai juga mandinya. Langsung menuju ke ruang tamu yang sudah ditunggu oleh Gerry, Via, Yudha dan Panji.
"Yuk! Let's go." Kata Widia yang sudah rapih dan dandan an nya tidak seperti biasanya.
"Gue curiga ini yang kasih kejutan." Kata Gerry tiba - tiba.
__ADS_1
"Udah kita liat dulu yuk." Kata Via dan menggandeng tangan Gerry untuk menenangkan Gerry.
Perjalanan Villa Duta Permai ke Restaurant De Leuit hampir 1 jam karena macet. Via yang melihat muka Gerry sedikit panik akibat merasa curiga.
"Udah sampai. Please guys, be nice yah. The most important is Via." Kata Widia penuh penekanan. Well kali ini Via bermuka beda namun kebalikan nya dengan Gerry menunjukan hal yang berbeda.
Setelah masuk dan ditunjukan oleh waiters untuk ke meja yang dipesan. Widia tersenyum melihat seorang pria mapan dan dewasa perawakan nya.
"Itu siapa?" Kata Gerry yang mulai insecure dengan pria tersebut.
"Kenalin ini Ahmed Jerias, temen gue dari Mesir." Kata Widia memperkenalkan Jerias ke Gerry dan Via.
"Gerry" Sambut Gerry yang memaksakan senyuman.
"Novia Heidy" Kata Via yang tersenyum dan keringat dingin.
Gerry dan Via akhirnya duduk lalu mulai mebaur dengan acara ramah tamah. Tidak ketinggalan Gerry juga sudah tersenyum tulus ketika Jerias melontarkan Guyonan.
"Aku permisi dulu, mau ke toilet." Kata Via yang merasa ada hal aneh dengan Jerias.
Semua kembali berkativitas makan dan Via menuju toilet. Namun di tengah jalan Via berjalan sambil berfikir siapa Jerias ini. 15 menit tidak balik dari toilet, membuat Yudha khawatir. Namun sebelum Yudha berdiri Gerry sudah pergi dari bangkunya mencari Via.
"Viii, kenapa?" Panggil Gerry yang akhirnya menemukan Via duduk di sebuah bangku dengan telephone selulernya di genggaman nya.
"Geyiii kenal orangnya?" Kata Via secara tiba - tiba.
"Nggak! Kenapa?" Kata Gerry dan mulai memasang muka serius.
"Nggak, orang nya baik." Kata Via tiba - tiba tersenyum.
"Kalian kenapa disini? Gue gak diajak?"Kata Widia tiba - tiba. Widia kenal persis jika 2 orang menghilang dari suatu acara. Berarti ada something wrong with that.
Pembicaraan pun akhir nya terbuka, mengenai hubungan Widia dengan Jerias.
" Intinya jika beda agama gak bakalan bisa. Inget! Tidak akan ada yang bisa bersatu beb" Kata Gerry memberi pengertian terhadap Widia yang keras kepala.
"Emang gak ada yang lain?" Kata Via tiba - tiba dan menatap tajam kepada Widia.
"Kan masih bisa dibicarakan semuanya. Makanya diundang kalian ngobrol dulu ajah." Kata Widia mencoba menenangkan Gerry.
"Ayoo pulang." Ajak Gerry tanpa basa basi lagi.
Widia dan Via mengikuti Gerry dari belakang. Mereka bertiga menuju meja makan yang tadi mereka pesan. Jerias terlihat bingung kenapa mereka keluar bertiga.
"Kalian ber tiga tidak apa - apa?" Tanya Jerias kepada semua orang disana dengan logat bahasa Indonesia sangat lucu ketika mendengarnya.
"Kamu bisa berbahasa Indonesia?" Tanya Via yang sedikit terheran dan terkagum dengan Jerias.
"Baiik, saya pulang duluan." Kata Gerry tanpa basa basi lagi, serta meninggalkan meja makan lalu berjalan menuju pintu keluar untuk mencari taksi.
"Biar Via yang ikut. Bebih urusin ini saja." Kata Via yang menenangkan Widia dan tidak lama berlari kecil mengejar Gerry.
Gerry menjadi kalut secara tiba - tiba. Perasaan nya menjadi gelap tanpa bersisa, sementara Via yang mendekati Gerry. Lalu menggandeng tangan Gerry membuat Gerry merasakan hangat nya kasih.
"Via kenapa ditinggal?" Tanya Via yang membuat Gerry terkejut.
"Kan tadi pamit ke semua orang, apa lagi?" Kata Gerry sedikit ketus karena merasa Via mulai mencari perhatian.
"Oh begitu? Baiklah. Via cuma bilang, sepertinya Gerry aneh. Jika ada yang tidak disukai kenapa mesti pergi?" Kata Via yang berbicara nya to the point sekali.
Gerry yang mendengarnya setengah terhenyak. Apakah ini akan pengaruh hal yang tadi Via bicarakan. Via hanya duduk manis disebelah Gerry di dalam taksi. Via dan Gerry hanya berkutat dengan pikiran nya masing - masing.
°
°
°
°
°
°
Please di comment dan like ya. Maaf Jika terlalu lama up nya.
__ADS_1