
Waktu terus berputar pernikahan Via dan Dewin berjalan tidak seperti dibayangkan. Riak - riak dalam rumah tangga membuat mereka semakin kuat. Dan tanpa terasa dengan menghilangnya Via selama 5 tahun membuat banyak teka - teki yang tidak pernah terungkap. Gerry dan Widia mulai menyerah dengan keadaan, namun tidak bagi Yudha yang masih berharap akan menemukan Via. Bahkan keluarga Via sudah mulai merelakan kepergian Via, yang tanpa jejak dan tidak meninggalkan pesan buat keluarga bahkan teman - teman.
Kepergian Via yang tiba - tiba, membuat orang - orang disekelilingnya kehilangan dan juga terpukul dengan tindakan Via. Terlebih orang tua Via yang kehilangan putri satu - satunya. Putri yang pergi entah kemana.
Namun di satu sisi lain, ketika Willi mengunjungi Korea Selatan dalam rangka kerjasama bisnis. Sepertinya alam semesta memihak kepada Willi,
di saat perjalanan bisnis kali ini Willi melihat sosok Via yang sedang berjalan di taman. Tanpa banyak bicara Willi langsung mengikuti sosok itu dari belakang.
Sementara Via yang berjalan sehabis pulang kerja menuju apartment nya. Tanpa sadar di ikuti oleh Willi. Bahkan untuk memastikan apa yang Willi lihat itu benar seorang Via. Willi pun mengeluarkan ponselnya untuk memotret Via dari belakang.
"Akhirnya keluar juga dari persembunyian mu, hei nona cantik." Kata Willi dalam hati dan meminta Alwen asistant Willi untuk melakukan penyelidikan terhadap Via.
Demi mendapatkan data - data Via sangat susah didapatkan karena perlindungan dari United Nation, Willi mengerahkan segenap kekuatan nya. Walaupun susah bukan tidak mungkin, data - data itu tidak didapatkan. Willi terkejut melihat apa yang Alwen kasih, hatinya sangat terkejut hancur dan sakit membaca data - data tersebut. Seakan - akan tidak percaya apa yang Via lakukan saat ini.
"Kenapa kamu menikahi orang yang mempermainkan mu? Apakah kamu bahagia?" Sejumlah pertanyaan - pertanyaan besar ada di benak Willi. Pertanyaan yang membuatnya hancur.
Kekacauan hati Willi membuat nya kehilangan akal sehat serta mengambil tindakan yang diluar nalar. Willi menghubungi Via untuk ketemuan, juga memastikan apakah ini semua benar?
Drrrrrrrrr... Ponsel Via berdering tiada henti dengan nomor tidak dikenal. Namun ponsel tersebut terus berdering tiada hentinya. Dengan sedikit malas - malasan akhirnya....
"Halo, Via speaking May I beg your service?" Jawab Via yang sedang memberesi apartementnya sehabis pulang kerja.
" Yes, apa kabar kamu?" Balas Willi dengan penuh getaran rasa rindu namun kesal memandang Via dari bawah apartment nya.
"Kamu dimana?" Tanya Via gemetar ketika mendengar suara Willi dari ujung telepon selulernya saat ini.
"Aku di dekat taman persis, di depan apartemen mu dan Dewin." Jawab Willi dengan dan suara sedikit bergetar.
Dengan cepat Via meraih jacket nya dan segera turun menuju tempat yang di infokan oleh Willi. Tidak sampai 10 menit Via melihat Willi yang duduk di taman dekat apartement Via.
Via memandang Willi dengan wajah ketakutan dan kebimbangan.
"Inikah perlarian ku akan berakhir? Apakah mereka akan menyeret ku pulang ke negri, yang tidak ingin aku tinggali?" Tanya Via dalam hati yang sangat membuat dirinya sesak.
Willi memandang Via yang mulai mendekat, memastikan bahwa Via yang saat ini Willi lihat adalah wanita nya dahulu. Wanita yang pernah menemaninya selama 1 tahun lebih.
"Hi, Wil. Apakabar?" Kata Via basa - basi dan hatinya berdebar kencang serta ketakutan.
"Baik, kamu? Gimana pernikahan mu?" Balas Willi namum sangat menusuk. Membuat mata Via terbelalak karena kaget.
"Baik, pernikahan ku baik. Kenapa kamu disini?" Tanya Via, yang sejatinya heran Willi bisa menemukan nya. Bahkan tidak menyangka akan seperti ini.
Perbincangan tidak terelakan lagi, pada akhirnya Via memohon kepada Willi untuk merahasiakan keberadaan nya. Via memohon tidak memberitahukan kepada siapapun yang ada di Jakarta.
"Kenapa Vi? Kenapa harus pergi?" Desak Willi yang masih tidak percaya dengan apa yang Willi dengar dari Via.
"Berjuta alasan mengapa aku hingga saat ini tidak ingin melihat Indonesia lagi." Jawaban Via yang simple dan senyum nya yang khas membuat Willi luluh karena lengkungan di bibirnya.
Setelah berbicara dengan Via, Willi pun pergi dengan sejuta pertanyaan dalam kepala nya yang tidak ada habisnya. Willi pun menatap Via pergi kembali ke apartment nya.
Namun entah mengapa tangan nya sangatlah cepat memberitahukan kepada orang - orang di Jakarta.
Drrrrrrrttttt notification WhatsApp Gerry...
William: Ger, gue mau kirim undangan nih..
Gerry: Undangan nikah?
William: Nggak, makan malam kantor gue.
Gerry: Tumben elu ngundang gue.
Willi: Besok ajak ajah Widia, biar sekalian kita reuni lah.
Gerry: Oke!
Gerry penasaran apa yang akan Willi lakukan,
"Pasti ada yang aneh? Kalau nggak aneh kenapa gak undang Yudha?" Kata Gerry sambil menaruh ponselnya ke atas meja dekat tempat tidurnya.
Claudia yang melihat Gerry sedikit kesal, mendekatinya.
"Kamu kenapa?" Tanya Claudia yang mulai sedikit manja kepada Gerry.
"Oh, aku heran ajah sama Willi" Pungkas Gerry yang menarik selimut dan memunggungi Claudia. Melihat hal itu Claudia berusaha memikirkan hal - hal positif.
__ADS_1
"Ger, besok anniversary wedding kita yang ke 3. Kamu mau kado apa?" Tanya Claudia sambil memainkan ponselnya dengan membuka Pinstagram.
"Aku capek, aku gak kepingin apa2. Kamu mau kado apa? Dan dinner dimana?" Balas Gerry dengan tanpa basa - basi. Gerry lupa kalau besok ada undangan dari William.
Claudia pun jadi semakin kesal karena Gerry bersikap sangat biasa saja.
xxxx South Jakarta xxxxx
"Wid, besok kamu mau dinner dimana?" Tanya Jerias ke Widia yang sedang sibuk dengan membaca kasus - kasus yang dia tangani.
"Aku ada dinner ama senior ku. Kamu ikut ajah, soalnya kamu diundang juga." Jawab Widia namun matanya tetap tertuju kepada laptop tersebut.
"Baiklah kalau begitu, besok kita makan sama Gerry kan?" Balas Jerias yang memastikan jadwal tersebut sehingga tidak bentrok dengan jadwal pribadinya.
Namun ketika Widia sedang men scroll pertemanan di pinstagram, Widia menemukan akun Dewin, dimana Dewin mengabadikan hidupnya bersama Via.
"Dewin udah married?" Tanya Widia dalam hati. Membuat Widia langsung mengikutinya dan berteman dalam social media Dewin. Widia mulai membuka 1 persatu foto Dewin, bahkan foto pernikahan nya. Dimana foto sang wanitanya tidak pernah menampakan wajahnya. Widia semakin penasaran terhadap wanita yang mendampingi Dewin.
xxxxxxxxxxx South Korea xxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Via, aku sudah beresin kerjaan ku disini. Aku akan ikut kamu ke Maroko." Kata Dewin saat makan malam bersama.
"Terima kasih yah, sayang." Jawab Via dengan tersenyum lebar. Sambil memutar otak yang ada, kembali lagi Via melakukan hal yang sama ketika dahulu Via pertama kali kabur.
Persiapan Via mulai berjalan dengan lancar, Via sudah mulai mengirimkan barang - barang ke Maroko dengan bantuan Professor Bjorn dan Professor Cho Song Hwa. Bahkan akan melakukan hal yang sama dengan menutup akses yang ada, sehingga menganggap Via masih ada di Seoul. Kepindahan Via memang sudah di rencanakan jauh sebelum ketemu Willi, namun dengan bertemu dengan Willi membuat Via harus melindungi pelarian nya.
"Novia Heidi, ini document - document yang kamu butuhkan. Setelah di Maroko, kamu bisa kembali ke Swiss." Kata Professor Bjorn saat memberikan document - document kepindahan Via.
"Terima Kasih Daddy, aku akan kembali ke Swiss secepatnya." Balas Via yang sudah memanggil Professor Bjorn dengan kata Ayah.
"Jangan lama - lama, Mommy pasti merindukan anak emas nya. Begitu juga kakak - kakak mu." Kata Professor Bjorn memberikan pelukan ke Via dan melepas nya kembali ke Apartement.
Sementara Willi yang dalam perjalanan kembali ke tanah air, tidak sabar ingin membeberkan kejadian kemarin saat bertemu dengan Via kepada Gerry dan Widia di Indonesia.
Dok dok dok dok...
"Siapa?" Teriak Gerry dari arah kamar mandi di kamarnya. Dengan cepat Gerry menyelesaikan kegiatan mandi nya lalu memakai handuk.
"Telepon mu berdering terus, nama Willi yang tertera di layar ponsel mu." Kata Claudia sambil memberikan ponselnya Gerry.
"Hari ini kita jadi romantic dinner nya?" Tanya Claudia sekedar mengingatkan Gerry akan Wedding Anniversary.
"Kita postpone dulu boleh? Karena aku ada meeting sangat - sangat penting dengan senior ku." Pinta Gerry sedikit memelas kepada Claudia.
Dengan berat hati Claudia membiarkan Gerry menemui Willi walaupun hatinya gundah entah apa yang ada di dalam hatinya.
Willi menyiapkan makan malam spectacular untuk Gerry dan Widia. Berharap mereka berdua akan berterima kasih telah menemukan Via. Serta memaksakan Via untuk kembali ke Indonesia juga membatalkan pernikahan nya bersama dengan Dewin.
"Kali ini Via tidak boleh lolos dari genggaman ku lagi." Kata Willi dalam hati.
Widia yang sudah bersiap makan malam dan menunggu Jerias datang namun....
Drrrrrtttt Drrrrrrrrrttt....
"Halo, sayang. Kamu dimana?" Jawab Widia ketika sedang Video Call dengan Jerias.
"Aku masih di kantor, ada Meeting dengan beberapa pemegang saham. Aku ijin nyusul kamu boleh, tidak?" Tanya Jerias yang meminta izin Widia.
"Okay, see you!" Balas Widia yang memberikan izin kepada Jerias.
Widia pun memesan taksi online untuk ke tempat restaurant yang di berikan oleh Willi melalui WhatsApp. Gerry pun dengan cepat mengendarai mobilnya untuk menemukan alamat restaurant yang di berikan Willi.
Willi yang sudah tiba di tempat restaurant terlebih dahulu dengan langkah pasti memasuki ruangan restaurant yang berdekorasi nuansa Korea Selatan di daerah Kemang Jakarta Selatan.
"Selamat Malam, apakah bapak sudah melakukan reservasi?" Tanya Petugas di depan pintu kepada Willi.
"Atas nama William Tan..." Jawab Willi namun petugas langsung membawa Willi ke ruangan VVIP.
Willi menunggu Widia dan Gerry dengan gelisah, sementara Widia melihat postingan Dewin di Pinstagram. Dalam hati Widia mengatakan itu tangan Via. Namun pikiran berkata realistic yang selalu bilang itu bukan. Mana mungkin Via sama Dewin dan berani melakukan hal - hal gila.
Perjalanan Widia dari Dharmawangsa menuju Kemang tidak terlalu lama, begitu juga Gerry yang juga tinggal di daerah Sudirman - Jakarta Selatan.
Gerry yang terlebih dahulu sampai langsung masuk diantar oleh petugas restaurant setelah memberitahukan pesanan meja atas nama Willi.
Tidak lama menyusul Widia yang masuk menemui Willi. Suasana sedikit canggung lantaran sudah lama tidak berkomunikasi dengan Willi. Setelah kejadian di reunion angkatan 2012.
"Will, ada apa Lu panggil kita berdua kesini?" Kata Gerry membuka pembicaraan nya dengan Willi tanpa basa - basi yang panjang.
__ADS_1
"Iyah, Will. Formal amat bilang nya undangan penting." Timpal Widia yang mengambil minuman nya yang ada di sebelah kirinya.
"Sambil makan, kita akan dengerin rekaman ini yah." Jawab Willi yang mengeluarkan ponsel nya dari saku jaketnya. Lalu memutarkan untuk Widia dan Gerry.
Widia dan Gerry mengambil makanan yang tersedia di depan. Sementara Willi memutar rekaman suara Via yang berhasil di rekam oleh Willi.
"Hi, Wil. Apakabar?" Kata Via basa - basi dan hatinya berdebar kencang serta ketakutan.
"Baik, kamu? Gimana pernikahan mu?" Balas Willi namum sangat menusuk. Membuat mata Via terbelalak karena kaget.
"Baik, pernikahan ku baik. Kenapa kamu disini?" Tanya Via, yang sejatinya heran Willi bisa menemukan nya. Bahkan tidak menyangka akan seperti ini.
" Aku ada pekerjaan disini, ketika ku pulang ternyata semesta berpihak kepada ku." Jawab Willi dengan hati yang berkecamuk.
"Oh, pulang kapan? Gimana usaha mu?" Tanya Via yang duduk disebelah Willi dan menatap langit dengan pandangan kosongnya.
"Well, so far so good. Kamu tidak rindukah dengan Indonesia?" Tanya Willi dengan penasaran sekaligus memojokan.
"Aku tidak rindu, aku hanya rindu kedua sahabat ku." Jawab Via yang diplomatis.
"Kenapa gak pulang, kalau begitu?" Tanya Willi yang penasaran dengan jawaban Via.
"Biarlah Novia Heidi menjadi kenangan untuk kalian. Sekarang aku bahagia menurut jalan ku..." Kata Via yang menerawang seakan - akan menggantung tinggi.
"Kenapa Vi? Kenapa harus pergi?" Desak Willi yang masih tidak percaya dengan apa yang Willi dengar dari Via.
"Berjuta alasan mengapa aku hingga saat ini tidak ingin melihat Indonesia lagi." Jawaban Via yang simple dan senyum nya yang khas membuat Willi luluh karena lengkungan di bibirnya.
Setelah mematikan rekaman suara tersebut Gerry dan Widia berubah raut mukanya.
"Dimana Via sekarang?" Tanya Gerry tanpa basa - basi lagi, dan menghentikan kegiatan makan nya.
"Kapan elu ketemunya?" Tanya Widia ke Willi dengan wajah penuh emosi, dan menaruh sendok dan garpu nya secara sembarangan.
"Via ada di Korea Selatan bareng dengan Dewin. Via kerja masih dengan United Nation. Sementara Dewin di perusahaan Telekomunikasi korea." Jawab Willi sambil memberikan update gambar Via yang di dapat kepada Widia dan Gerry.
"Siaaaal, ternyata dugaan gue bener. Yang di Pinstagram ternyata itu Via." Kata Widia sambil meremas napkin yang ada di sebelahnya.
Gerry yang heran melihat Widia Marah tanpa sebab...
"Kenapa Wid?" Tanya Gerry dengan muka sedikit bingung dan bercampur marah. Lalu tidak lama Gerry melihat Pinstagram yang di kasih tunjuk sama Widia. Wajah Gerry pun berubah menjadi semakin tidak tenang.
Setelah perbincangan dengan Willi, Widia dan Gerry pamit pulang masing - masing. Berbekal dengan data yang dikasih oleh Willi, mereka berdua langsung memesan tiket pesawat menuju Korea Selatan.
Gerry yang sudah memesan tiket ke Korea Selatan penerbangan paling pagi. Membuat Claudia bingung karena Gerry tidak berbicara apapun.
"Ger, kamu mau kemana?" Tanya Claudia yang bingung melihat Gerry langsung merapikan baju dan beberapa dokumen.
"Aku harus ke Korea Selatan, ada urusan penting yang tidak bisa aku tunda lagi." Jawab Gerry ke Claudia dan masih membereskan dokumen lalu mencari passport nya.
Seketika Claudia melihat Widia menelpon, dan mendengar pembicaraan nya Gerry dan Widia. Entah kekuatan dari mana Claudia menahan Gerry keluar dari kamar.
"HARUS KAH MENCARI SEORANG NOVIA HEIDI yang tidak pernah tahu kalau kita sudah hampir gila mencarinya?" Teriak Claudia di depan muka Gerry. Seketika Gerry merasakan hal aneh dari kata - kata Claudia.
"Well, minggir kamu. Kita akan selesaikan setelah aku kembali dari Korea Selatan." Balas Gerry yang sedikit menahan emosi lalu melepaskan tangan Claudia yang menahan nya.
Sementara Widia bersama dengan Jerias berangkat menuju bandara. Wajah Widia tidak bisa dipungkiri cemas dan berkali - kali menghubungi Dewin lewat Pistagram tapi tidak di respon.
Dewin dan Via sedang menuju airport. Lalu berpamitan dengan Profesor Bjorn dan Profesor Cho Song Hwa. Pelarian ke dua yang Via lakukan setelah bertemu dengan Willi.
Ketika membuka Pinstagram, Dewin membaca pesan dari Widia. Karena akan berbahaya di kemudian hari, dengan sigap Dewin mengahpus account Pinstagramnya. Penerbangan terakhir menuju Maroko sudah memanggil nama mereka berdua. Via dan Dewin berjalan bersama - sama dengan muka tersenyum. Perjalanan yang akhirnya kembali berlari - lari lagi. Entah sampai kapan hidup dalam pelarian terus.
•
•
•
•
•
•
Terima Kasih telah membaca cerita tambahan. Kemungkinan saya akan mengembangkan cerita asli ini dalam Sequel ke 2 nya.
__ADS_1