
Pria berambut panjang se pinggang
itu ternyata Sekretaris Ketua Mapala* UPW. Widia dan pria itu sudah menjalin
hubungan.
*Mapala\=Mahasiswa Pecinta Alam
"Jadi nya genks, orang itu
nama aslinya Lucky Kurniawan. Biasa di panggil Shite sama temen - temen
nya." Kata Widia menjelaskan orang itu.
Gerry dan Via mendengar baik -
baik tanpa terkecuali. Sementara perkiraan di dalam pikiran Widia meleset total
dengan kenyataan yang terjadi. Karena Widia berfikir kalau Via dan Gerry
bakalan menolak mentah - mentah dengan pilihan nya. Namun ternyata mereka
berdua menyimak Widia bercerita mengenai si Shite alias Lucky Kurniawan. Yang
sekarang menjadi tambatan hati Widia
"Jadi Wid, itu alasan nya
elu nggak ngundang dia ke acara kita?" Kata Willi tiba - tiba tanpa basa basi dan ingin melihat reaksi daripada Widia.
"Itu dah! Si oon lupa kalau ada acara sama kita. Dia malah keasikan molor, abis nebing katanya si Shite." Kata Widia yang meninggi karena ke bodoh an daripada si Shite.
"Hahahahahahaha" Via, Gerry dan Willi tertawa karena melihat ekspresi Widia yang masih emosi ketika membahas Shite.
"Yah, elu kan cinta bebih." Kata Gerry yang menohok Widia hingga Widia hanya memberikan ekspresi flatnya Widia.
Setelah membahas Shite, Via langsung
membuka suatu omongan.
"Genks tau nggak?" Kata
Via sambil memasang muka serius nya. Seketika juga dengan tanpa bersalah Gerry
mencela perkataan Via yang sudah dia susun rapih.
"Enggak, kan elu belum kasih
tau?" Kata muka lempeng Gerry. Willi dan Widia ikutan tertawa karena mendengar
jawaban Gerry.
"Ihk, Gerrryyyy!" Kata
Via yang memanyunkan bibirnya dengan penuh emosi.
Dengan lancarnya Via mulai
memberitahukan sebuah gossip, Gerry dan Widia langsung mendengar dengan seksama
serta melihat telephone selulernya Via. Dan membutikan omongan Via mengenai
Ardrian Yudha, sontak Willi merasa terbakar cemburu mendengar apa yang Via bicarakan.
#Throwback
Yudha: Morning!
Via: Yes.
Yudha: Hari ini bisa minta bantuan nya?
Via: Aku sibuk hari ini.
Yudha: Sebentar sajah.
Via: Nggak, kenapa?
Yudha: Bantuin dong.
Via: Apa?
Yudha: Gue mau ngajak elu makan siang ajah kok!
Via: Baca nggak, aku sibuk
Ternyata rayuan Yudha tidak mampu menembus pertahanan Via untuk hari ini. Setelah berhari - hari berkomentar distatu BBM Via akhirnya Via luluh karena ke kepoan Via mengenai yang terjadi kepada Wenny .
Ternyata oh ternyata kisah Weny dan Yudha tidak seindah yang beredar di kalangan mahasiswa. Setelah bergosip akhirnya Gerry menangkap signal gak beres sama Yudha.
Willi pun mulai memasang keamanan semakin menjadi dengan meningkatkan pengawasan lebih lagi.
__ADS_1
"Eh, istirahat yuk. Besok kita kudu kerja keras demi menyusul liburan ke Swiss." Ledek Widia sambil balik kanan bubar jalan.
"Eaaaak.... Eaaaak..." Gerry dan Via mulai jahil dengan Widia. Yang membuat jari tengah Widia naik ke atas memberitahukan kalau dia emosi.
Pagi - pagi benar, Widia berangkat ke kantor kedutaan Perancis di Jakarta. Dengan di jemput oleh Shite akhirnya Widia sampai di kedutaan Perancis masih sisa waktu 15 menit lebih awal.
"Selamat pagi mbak, saya ingin menyerahkan berkas- berkas untuk kepindahan dari Jakarta ke Perancis." Kata Widia ke petugas yang menyapa dirinya.
"Baik mbak. Saya akan proses dirimu yah, dan selanjutnya kami akan memeriksakan kesehatan." Kata salah satu staff disana. Widia mencoba peruntungan dengan memasukan data kepada team kedutaan Perancis yang membutuhkan.
Semua kelengkapan data sudah selesai, dan akhirnya mengajak Shite untuk ke mall terdekat sekalian makan siang. Sementara Shite ke kamar mandi Shite meninggalkan telephone seluler nya dalam keadaan tidak terkunci. 1 Message masuk dan Widia membaca nya tanpa sengaja lalu meningkatkan kadar cemburu sekaligus di bohongin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Shite: Neng, abang besok mau
jemput jam berapa?
Cewek 1: Jam 10 pagi ajah bang.
Shite: Iyah, tunggu yak.
Cewe 1: Terima kasih yah bang.
1 New Message….
Cewek 1: Bang, Aku sudah di UPJ
nih. Kemarin terima kasih yah di anterin sama di bawain martabak buat babeh.
Dada Widia terbakar cemburu melihat penemuan yang sangat dahsyat ini. Melihat penuh semangat Shite kembali dari kamar mandi. Widia langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Shite tanpa berbicara apapun.
“Widong, mau kemane?” Teriak Shite yang keanehan dengan kejadian ini.
“Ayo balik. Bangke emang elu yah.”Jawab Widia yang sudah emosi sehingga keluar kata – kata umpatan yang kurang pantas.
Shite pun menuruti kemauan Widia dan ketika di parkiran motor, Widia langsung menanyakan kebenaran.
“Eh, tengek. Waktu gue wisuda elu kemana?” Tanya Widia sudah tidak ada basa basi lagi.
“Molor, maapin yah widong. Eh nama gue Lukeeh.. Lukeh bukan tengek ahk elah.” Kata Shite yang kental dengan logat betawinya.
“Bener elu? Kagak bohongkan?” Kata Widia sambil memegang helm ditangan kanan nya dan menantikan jawaban dari Shite.
“Sumpah dah!” Kata Shite dan seketika helm yang dipegang sama Widia mendarat bebas ke kepala shite.
“Boong ajah elu yah tengek.” Kata Widia sambil mengeluarkan telephone selulernya Shite dan Shite pun hanya bisa tersenyum kecut karena ketahuan sama Widia. Lalu mengantar Widia ke kostan White house supaya tidak terjadi hal – hal yang tidak di inginkan. Keringkat dingin karena akan menghadapi Widia lebih menakutkan daripada dosen pembimbing
Setelah berhari – hari melakukan serangan kepada Via, dan rayuan Yudha tidak mampu menembus pertahanan Via selama ini dan akhirnya sedikit melunak untuk hari ini. Menggunakan cara berkomentar di status BBM Via akhirnya Via melunak namun ada maksud tersembunyi akibat ke kepoan Via mengenai Weny. Sejak Weny bersama Yudha, mereka menjadi bahan omongan antar fakultas dan antar kelas. Hingga terjadi pada saat siang ini....
Drrrrrrrrrrrrtttt BBM Via
bergetar...
Yudha; Aku sudah di bawah, yuk
makan siang?
Via: Aku ada janji sama Willi.
Yudha: Sebentar ajah, janji deh.
Via: Baik lah.
Yudha: Thank you!
Via pun bergegas turun ke bawah
menemui Yudha yang menunggu di dalam mobilnya. Mobil BMW yang keluaran terbaru berwana silver ber plat F 1 RE.
"Knook.. Knook" Suara
Via yang memberitahukan kalau dia sudah ada di bawah.
Tidak lama Via mendengar kalau pintu sudah dibuka, dan yang punya nya tersenyum manja dengan penuh kemenangan.
"Vi, bentar yah. Aku mau telephone seseorang." Kata Yudha sambil memencet nama seseorang yang dia maksud.
"Baik, aku tunggu." Kata Via dan Via pun memberitahukan ke Willi kalau dia makan siang duluan sama Yudha.
Drrrrrrrtttttt... Telephone seluler nya Willi berbunyi ...
Willi pun melihat nama yang keluar di layar tersebut dan mengangkat nya penuh kemalasan.
"Yah, Yudha. Ada apa?" Kata Willi tanpa basa basi lagi dan ....
"Gue bawa cewek elu makan yak. Cuma 1 jam saja kok, nanti gue balikin sama elu." Kata Yudha dan membuat mata William terperangah.
"Lunch dimana? Awas elu macem - macem sama cewek gue!" Kata Willi sudah dalam keadaan emosional.
"Pronto, Pondok Indah Mall. Gue nggak macem - macem, cuma kasih tau kalau elu tuh pengecut!" Kata Yudha yang sudah mencari ribut dengan William tidak lama Yudha menutup telephone seluler nya dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Via yang mendengar obrolan tadi langsung menanyakan kepada Yudha,
"Apaan sih, kok norak banget begitu?" Kata Via sambil memberikan tatapan andalan yaitu muka aneh nyadia kepada Yudha.
"Kalau nggak begitu yah, Willi gak akan datang jemput kamu." Kata Yudha sambil menyeringai penuh arti.
"Pinggirin mobilnya. Via ngga suka!" Kata Via tanpa basa - basi lagi.
"Jangan konyol ini di tol dalam kota ini, mau ke Pondok Indah." Kata Yudha terkejut dengan apa yang Via minta.
"Keluar tol, pinggirin. Via nggak mau tahu!" Ancam Via ke Yudha penuh dengan tatapan dingin tidak mau tahu karena merasa dibohongi oleh Yudha.
Benar saja ketika keluar dari pintu tol, Via mengulangi permintaan nya kepada Yudha. Yang semula Yudha pikir hanya gertakan sambal bawang.
“Minggir nggak? Via nggak mau makan siang!” Kata Via yang sudah menaikan satu oktaf suaranya membuat Yudha
semakin kaget.
“Iyah, ini mau minggirin mobil.” Kata Yudha menuruti kemauan Via yang sudah melotot disamping nya.
“Cepet buka pintunya!” Perintah Via tanpa ampun, Yudha pun shock karena permintaan ini tidak ada drama – drama manja sama sekali.
Setelah Yudha membuka pintu mobilnya, segera Via keluar dengan muka dingin tanpa senyum, lalu mencari taksi kosong untuk kembali ke kost an White House. Sementara Willi memacu mobilnya yang terhambat oleh macetnya jalanan Pantai Indah Kapuk yang membuatnya mengumpat habis – habisan kota Jakarta.
Drrrrrrrrrtttttttttt…. Telephone
seluler Willi berbunyi dan Willi melihat nama Princess yang keluar dari layar
tersebut.
“Halo sayang, kenapa?” Kata Willi mencoba tenang dan berusaha wajar menghadapi Via.
“Via sudah on the way pulang nih pakai taksi.” Kata Via tanpa basa basi lagi membuat Willi melotot apa yang di perbuat Yudha sehingga Via bisa pulang pakai taksi.
“Kok bisa? Yudha kenapa?” Tanya Willi sangat hati – hati dan penuh tanda tanya ke Via.
“Bisa lah. Apa yang tidak bisa aku lakukan?” Kata Via yang memberikan jawaban dengan ketus membuat Willi terheran – heran.
“Baik lah. Kamu hati – hati di jalan. Aku ke kost an kamu sekarang, walau masih macet.” Kata Willi menjelaskan ke Via.
Setelah mendengar suara Via, Willi akhirnya menelpon Yudha untuk mengetahui apa yang terjadi. Willi sudah berjanji akan membuat Yudha membayar semua perbuatan nya jika Via disakiti.
“Halo!” Jawab Yudha dengan nada kesal saat telephone nya berdering dan tidak lagi melihat siapa yang menelephone dia.
“Yudh, cewek gue elu apain?” KataWilli tanpa basa basi lagi.
“Cewek elu gila tapi kok manis yah?” Kata Yudha sambil mengejek Willi.
“Elu macem – macem sama dia. Kepala elu taruh di meja gue bayar!” Bentak Willi, yang emosi dengan Yudha yang udah mempermainkan Via.
“Gue nggak akan nyerah sampai
Novia Heidy ada di tangan gue.”Kata Yudha sambil menutup pembicaraan nya dengan Willi.
Willi mulai merasakan dendam 1 tahun lalu mulai dibalaskan Yudha dengan menggunakan media nya melalui Via. Mobil taksi yang ditumpangi Via hampir memasuki komplek kost an di belakang kampus Tritunggal – Jakarta Barat.
“Berapa semua nya mas?” tanya Via kepada supir taksi yang memberhentikan mobilnya tepat di depan kost an nya White House.
“Semuanya 70ribu mba.” Jawab supir taksi tersebut dan melihat Via.
“Ini uang nya pak. Sisa nya ambil saja.” Kata Via mengeluarkan uang pecahan 100rb untuk membayar taksi yang dia tumpangi.
Gerry yang balik dari kantor
Imigrasi Jakarta Barat, melihat Via yang sedang dalam keadaan emosional
mengurungkan untuk menanyakan keaadaan nya saat ini. Bisa bahaya luar biasa kalau ngambek nya keluar. Lalu disusul oleh William yang memarkirkan kendaraan nya di belakang mobil Gerry, Willi langsung menuju kamar Gerry yang dimana ada Via sedang menceritakan kejadian tanpa Gerry bertanya ada apa.
Toook … Tokkkkk
“Masuk.” Gerry menjawab sambil menahan ketawa karena melihat Willi sehabis mendengar Via yang curhat mengenai kejadian tadi.
Willi pun terheran melihat muka
Gerry dan Via. Jelas muka Via yang seperti kepiting rebus aibat emosional
menceritakan kejadian tadi. Willi pun akhir nya menanyakan kejadian yang
sebenarnya kepada Via.
“Jadi begitu Will, Yudha juga
yang mencari masalah sama bocah gendeng ini.” Kata Gerry saat menceritakan
kembali dalam versinya. Willi pun ketawa lepas mendengar penjelasan dari Gerry
yang semula akan mengamuk saat mengetahui Via dan Yudha.
“Please like and comment, biar
author semakin tahu apa yang menjadi kekurangan nya. Terima kasih.”
__ADS_1