Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2: Life-Changing Experience


__ADS_3

Keadaan rumah tangga Via dan Erick mengalami perubahan drastis. Setelah Erick di tugaskan ke Paris, Perancis. Via yang mau tidak mau mengikuti Erick dan lebih memilih tinggal di London. Dimana ada Gerry dan Widia disana, toh London ke Paris hanya 3,5 jam saja menggunakan kereta.


Kondisi ini juga di perburuk oleh Dickson yang memilih tinggal di London juga, membuat Erick dan Via semakin meradang. Seperti hari ini saat Erick diam - diam keluar dari apartment karena di jemput oleh Dickson, Jerias, dan Gerry. Mereka akan Sumori bersama dengan group offroad.


Drrrrrrrrrtttttt.... Drrrrrrrrrtttttt... telephone seluler Erick bergetar terus menerus. Tertera di layar telephone seluler "My Love".


"Yah, sayang. Ada apa?" Jawab Erick dengan santai dan tidak berdosa.


"Enak yah kamu. Pergi diam - diam lalu ninggalin aku sama anak - anak di apartment. Suami macam apa kamu?" Teriak Via menumpahkan semua emosi terpendam nya.


"Loh loh, apaan sih kamu? Kenapa harus teriak - teriak sih?" Balas Erick yang tidak mau kalah.


Melihat Erick mengeluarkan emosi nya, Dickson memutar kembali arah mobilnya kembali ke apartment nya Erick. Gerry dan Jerias pun terdiam karena tidak ingin turut campur dalam kehidupan mereka berdua tanpa diminta oleh Erick dan Via.


"Guys, sorry loh. Jadi nya kalian ajah dulu nanti gue nyusul yah." Kata Erick saat sudah sampai di depan apartment nya.


"Rick, yang sabar yah ngadepin Via. Apalagi habis melahirkan suka begitu kok. Ini fase yang berat tapi bisa di lewati kok." Kata Jerias memberikan nasihat ke Erick.


Erick pun segera kembali ke apartment nya dan melihat Via masih dengan penuh emosi yang tinggi. Kemarahan Via terus mengeluarkan unek - unek dimana Via capek mengurus si kembar sendirian. Sementara Erick tidak memahaminya, malah asik pergi - pergi.


"Kamu tuh kenapa nyemplungin aku sendirian sih? Kamu kenapa mau enaknya saja?" Isak Via yang sudah menyemburkan emosinya ke Erick.


"Aku juga capek Vi, aku lihat kamu lebih sibuk sama si kembar. Kamu jarang bisa diajak bicara lagi, sekarang Centre nya si kembar. Apa - apa si kembar semua!" Curhat Erick yang juga mengeluarkan unek - unek nya dalam hati.


Selama semalaman Via dan Erick berdiam juga merenung dengan kata-kata mereka. Hingga akhirnya suasana rumah menjadi tidak menyenangkan lagi. Erick mulai membandingkan kehidupan nya ketika si kembar belum hadir.


...****************...


Perkumpulan offroader merencanakan touring ke Jerman selama 8 hari, karena akan mampir - mampir ke Brussel, Amsterdam, Jerman dan balik lagi ke London lewat rute lain. Rute yang di ambil Frankfurt, Cologne, Antwerp balik ke London. Perjalanan offroad menguji adrenaline melewati gunung - gunung dan hutan - hutan juga. Gerry dan Jerias sangat menikmati rute yang akan mereka lewati. Dickson pun membagikan rute tersebut di group WhatsApp genk bapack - bapack.


Erick membaca nya namun tidak berkomentar karena urusan rumah tangganya belum lah kelar.


"Dickson, info in gue yah soal perlengkapan offroad. Maklum masih newbie nih." Kata Gerry saat perjalanan pulang.


"Tenang, gue nanti list ajah yah. Pastikan kalian aman masalah ijin istri nih." Jawab Dickson sambil fokus nyetir.


"Kayaknya Erick nggak ikut deh, tadi ajah Via sudah begitu." Timpal Jerias saat berbicara mengenai rencana offroad mereka.


"Sayang nya kita tidak bisa memberikan saran kepada mereka berdua." Balas Gerry yang mengomentari urusan Erick.

__ADS_1


"Gue rasa mereka berdua ke konselor pernikahan deh. Biar bisa beres juga, gue ama Widia kemarin kesana." Kata Jerias membuka rahasia pernikahan.


"Yah, nanti kalau diminta baru kita bilang." Bales Gerry yang menutup pembicaraan karena sudah sampai di rumah.


Melihat keadaan tidak semakin membaik akhirnya Erick pun mulai mendekati Via untuk membicarakan penyelesaian masalah yang mereka alami. Via pun juga merasakan hal yang sama namun tidak bisa di ungkapkan.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Via basa basi kepada Erick.


"Aku mau nasi goreng ajah, sama teh manis." Jawab Erick dan membuntuti Via dari belakang.


Via pun mulai masak nasi goreng kesukaan Erick dan mengeluarkan teh kemasan botol harum sari. Semua kesukaan Erick yang di siapkan Via, setelah selesai menyiapkan untuk Erick, Via mengeluarkan air mineral. Lalu duduk manis disebelah Erick yang melahap nasi goreng.


Suasana yang hening membuat pasangan ini terasa canggung, dan akhirnya memaksa Erick untuk berbicara menyelesaikan masalah yang terjadi. Raut wajah Via yang datar membuat Erick bingung menebak suasana hati Via.


"Kita ke konselor pernikahan yuk, aku mau kita selesai secara tuntas." Kata Erick membuka pembicaraan dengan Via.


"Oke, aku akan nurut semua yang kamu bilang." Jawab Via dengan tanpa ekspresi sama sekali.


"Well, kita berdua cari konselor nya sama - sama." Kata Erick lagi sambil menutup botol Teh kemasan yang menjadi favourite Erick dari dulu.


Via mengikuti semua yang Erick katakan walau dalam hatinya bergejolak akibat kata-kata Erick yang ingin menyelesaikan di konselor pernikahan. Malam semakin larut Erick dan Via duduk sebelahan mencari konselor pernikahan terbaik di London. Yang akhirnya menemukan Prof. Daniel Denham, review pun dibaca Via dan Erick menyatakan konselor ini terbaik.


Pagi hari pun Erick dan Via bersiap menuju konselor pernikahan. Pasalnya mereka ingin mempertahankan rumah tangga mereka berdua. Erick menitipkan si kembar kepada orang tua Erick yang sedang berlibur di London.


"Mah, titip Benaiah dan Shammah yah. Aku dan Via ada urusan penting banget." Kata Erick lalu menyerahkan si kembar dan perabotan lenong nya.


Belum menjawab iyah, Erick dan Via sudah menghilang pergi. Di tempat Prof. Daniel Denham Erick dan Via mendapat nomor urut 13, padahal sudah datang pagi sekali. Yaitu jam buka praktek di jam 8 pagi waktu London, pukul 12 giliran tiba Erick dan Via. Namun karena terbentur dengan jam makan siang, akhirnya sang resepsionis memberitahukan bahwa sesi Erick dan Via baru bisa di mulai setelah jam makan siang.


Tanpa sengaja Prof. Daniel Denham melihat wajah Erick yang putus asa, akhirnya beliau (Prof. Daniel Denham) keluar ruangan menyapa Erick. Dengan jalan pelan - pelan khas orang tua, jelas terlihat Prof. Daniel Denham penuh kebijaksanaan dalam guratan di wajah nya.


"Apakah kamu datang kesini berdua?" Tanya Prof. Daniel Denham dengan melihat mimik wajah Erick yang sedikit putus asa.


"Berdua Prof. tetapi kami terbentur dengan waktu istirahat Prof." Jawab Erick yang memasrahkan keadaan.


"Kalau begitu sekalian saja makan siang bersama saya." Ajak Prof. Daniel Denham yang bersahaja dan sederhana.



Via dan Erick pun tidak menyia - nyiakan keadaan ini. Karena Prof. Daniel Denham adalah Prof. terbaik di London, karena banyak orang ingin konsul ke beliau sambil bersantai. Wajah Prof. Daniel Denham menebar senyum dan memandang Erick dan Via bergantian.

__ADS_1


"Halo sayang, maaf aku telat. Terima kasih telah menunggu ku." Sapa wanita paruh baya yang usia nya diperkirakan se usia Prof. Daniel Denham.


"Sayang, kenalin ini Erick dan Via istrinya Erick. Pasien ku nanti habis makan siang. Kamu mau makan apa?" Kata Prof. Daniel Denham penuh kasih dan benar - benar penuh tatapan cinta.


"Saya Phoebe McFarlane, saya istri Daniel Denham." Sapa Phoebe yang sangat ramah membuat ketenangan hati.


Makan siang terasa hangat seperti Erick dan Via sudah mengenal mereka berdua lama. Bahkan gelak tawa sesekali terdengar, Erick pun merasa senang sekali. Giliran waktu membayar tiba, Erick kaget karena tidak di ijinkan oleh Prof. Daniel Denham. Phoebe pun hanya tersenyum melihat muka Via dan Erick saat berebut bayar bill restaurant mereka saat ini.


"Kalau gitu nanti selesai konseling saya akan bayar lebihan." Kata Erick yang merasa tidak enak kepada Prof. Daniel Denham.


"Rick, nanti kamu akan mengerti setelah ini" Ujar Phoebe sambil berjalan menuju klinik Prof. Daniel Denham.


Setiba nya di klinik, Erick dan Via masuk ke ruangan. Mereka akhirnya berkonsultasi dan meluapkan kemarahan. Prof. Daniel Denham dan Phoebe mendengarkan dengan seksama juga hati - hati sekali.


"Saya merasakan kalau Erick tidak bisa di ajak kerjasama dalam mengurus anak.." Kata Via semakin emosi.


"Loh, kamu dong. Tidak bisa memanage waktu dengan baik." Elak Erick yang mencari pembenaran.


Keadaan semakin memanas hingga akhir nya ada pertanyaan dimana Prof. Daniel Denham memberikan selembar kertas dan pensil warna.


Via dan Erick mulai menggambar sesuai arahan Prof. Daniel Denham, lalu tidak lama Phoebe menanyakan hal yang intim.


"Kapan kalian berdua terakhir berhubungan badan?" Tanya Phoebe yang sedikit hati - hati membuat Erick dan Via terkaget.


"Sekitar 3 bulan lalu, saat dokter menyaran kan untuk kelancaran melahirkan." Jawab Erick sedikit menurunkan nada bicaranya.


"Lalu Via, kapan terakhir kamu menikmati waktu mu sendirian? Maksudnya me time yang bener - bener me time?" Tanya Phoebe lagi.


"Hampir 1 tahun lalu sebelum ada nya si kembar." Jawab Via sambil menahan air matanya.


Setelah mengeluarkan semua unek - unek Erick dan Via yang menjadi ganjalan di hati, akhirnya Erick dan Via mendapat tugas dari Prof. Daniel Denham dan Phoebe untuk mengatakan Maaf dan Terima kasih minimal 10 kali dalam sehari. Ucapan tersebut dilakukan selama 14 hari dan setelah itu mereka akan kembali untuk terapi lagi.


Erick dan Via cukup puas dengan sikap Prof. Daniel Denham dan Phoebe yang memberikan mereka terapi. Sesampainya di apartment Via dan Erick memulai berpelukan, ternyata bahasa cinta mereka berdua berbeda sehingga akhirnya terjadi miss-communication diantara mereka berdua.


°


°


°

__ADS_1


Terima kasih telah menunggu novel ini teman - teman online... Semoga senang!


__ADS_2