
Bertemu dengan Chadala membuat Ben dan Shasha sedikit lega. Semua tabir bunda nya terbuka karena Chadala memberikan informasi. Pagi - pagi Dewin sudah memasak makanan untuk Ben, Kaori, dan Shasha. Muka Ben sedikit kaget kalau ayah tirinya ini bisa masak seperti masakan Via.
"Pah, hari ini kita ada banyak meeting. Papah mau bareng aku apa mau pisah mobil?" Tanya Ben dengan mata masih tertuju pada KiPadnya.
Dewin hanya terdiam dan melihat Shasha dan Kaori yang masih berjalan dengan baju tidur nya. Hanya Ben yang sudah siap untuk meeting dengan beberapa orang.
"Sayang, papah nunggu kamu loh." Panggil lembut Kaori yang melihat Ben masih sibuk dengan KiPad nya dan mempersiapkan bahan untuk meeting.
"Oh, maaf... Aku..." Kata Ben dan terputus karena Dewin membicarakan sesuatu.
"Tidak apa - apa, papah tunggu kamu selesai baru kita makan. Mungkin kamu lupa kalau hari ini kan weekend. Jatah nya hari keluarga..." Kata Dewin mengingatkan Ben dan membuatnya terhenyak mendengarkan dengan perkataan Dewin.
Ben akhirnya menaruh semua pekerjaan nya dan kembali fokus dengan Dewin yang menunggu Ben.
"Pah, aku boleh bicara kah? Tapi jangan ada kak Ben yah?" Tanya Shasha saat membuka percakapan dengan Dewin.
"Boleh, kan hari ini papah akan ngedate sama kamu. Tapi kalau papah nomor 2 dari Melvin, papah ngalah kok." Ledek Dewin yang membuat Shasha memanyunkan bibirnya.
"Pah, hari ini Kaori mau belanja bulanan. Papah mau nitip apa?" Sela Kaori yang mengambil buah di kulkas dan menaruh diatas meja.
"Nggak, papah butuh cucu." Ledek Dewin lagi dan gara - gara itu membuat Ben, Shasha dan Kaori menyemburkan makanan.
"Jorok yah kalian. Beresin, papah gak suka yah!" Omel Dewin dan meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar nya.
Sontak Ben dan Kaori masih bengong dengan omongan papah tirinya tersebut. Sementara Shasha membereskan sisa - sisa makanan tersebut. Di dalam kamar Dewin menatap bunga Lilly Pink kesukaan Via. Di dalam hatinya Dewin masih menganggap Via masih ada di samping nya.
"Rick, maafin gue yah. Mestinya gue gak merebut kebahagian elu dan anak - anak elu. Tapi gue janji jaga mereka." Kata Dewin dalam hati dan mengusap air matanya.
Ben melihat papah Tiri nya tersebut ketika pintu nya tidak di tutup rapat. Pandangan foto Erick dan Via serta air mata Dewin yang akhir nya turun. Kalau selama ini Dewin selalu tegar dengan keadaan.
"Pah, saya boleh masuk, tidak?" Tanya Ben yang mengetuk pintu kamar Dewin.
"Boleh lah. Sini, masuk" Panggil Dewin dari dalam yang sudah rapih mengelap air matanya.
"Pah, Ben nanya serius nih." Tanya Ben yang mulai menatap Dewin serius saat duduk di sofa kerja Dewin.
Dengan muka serius juga Dewin menatap Ben yang sedang duduk santai namun serius.
"Pah, saya ngerti papah menginginkan cucu. Tapi..." Kata Ben membuka pembicaraan yang serius tersebut.
__ADS_1
"Ben.. You don't have to be worry dengan permintaan papah. Mempunyai anak bukan untuk sesuatu yang sangat di haruskan dalam sebuah pernikahan. Tetapi kamu tahu apa?" Kata Dewin yang membuat Ben terdiam dengan kata - kata Dewin yang sama persis dengan ayah nya.
"Nggak pah." Jawab Ben yang muka nya tertunduk karena merasa malu tidak bisa menjawab pertanyaan Dewin.
"Mempunyai anak itu sebuah tanggung jawab besar. Once kamu salah mendidik, kamu tidak bisa mengulang nya." Kata Dewin lagi dan memberikan Ben sebuah botol minuman bersoda.
Ben melihat raut wajah Dewin semakin menua tetapi tidak terlihat menua sedikit pun.
"Bulan depan, hari kematian ibu mu dan ayah mu. Apakah kita perlu pulang ke Indonesia?" Tanya Dewin secara tiba - tiba dan Ben baru mengingat nya.
"Aku tidak mau ke Indonesia. Aku kan ..." Jawab Ben dan menggantung membuat Dewin tersenyum.
"Yah, sudah. Papah ke Indonesia sendiri saja, kamu mau dibawain apa sama papah?" Tanya Dewin lagi dan mereka mengahbiskan siang itu berdua saja.
Senja semakin merekah dan Shasha sudah siap dengan gaya nya untuk ngedate bersama dengan Dewin. Shasha jadi teringat kebiasaan Erick yang selalu mengajak Shasha kencan setiap malam minggu sebelum pergi dengan Seon Ho.
Ting toooonnnggg... Tingtoooongg....
Bel rumah Dewin berbunyi dan Ben penasaran siapa yang iseng banget mengganggu jadwal kencan keluarga nya.
"Apaan sih pah, begini..." Teriak Ben melihat dengan gagah nya Dewin membawa bunga dan sebuah tentengan di tangan.
" Thank you pah." Balas Shasha namun tidak terbendung air mata jatuh ke pipi. Melihat akan hal tersebut Dewin memberikan sapu tangan nya untuk Shasha menghapus air matanya.
Ben teringat Erick selalu mengajak Shasha kencan, namun setelah Erick tiada. Shasha lebih banyak menyendiri di dalam kamar dan tidak menceritakan kepada siapa pun persis banget sama Ibunda nya.
Meliht Ben termenung, Kaori mendekat dan memeluk Ben. Agar pikiran nya tidak jatuh terlalu dalam.
"Ayah, posisi mu memang tidak tergantikan. Namun menduplikat apa yang ayah lakukan sungguh membuat ku sesak." Ujar dalam hatinya Ben yang duduk di depan meja kerja nya dan menatap foto Ben bersama Erick.
...----------------...
London, England ...
Mobil Dewin membelah langit kota yang dijuluki oleh dunia Monarki tertua. Shasha menatap Dewin sambil terus bercerita dan menanyakan pendapat Dewin mengenai Melvin Tenggara.
"Kalau papah, senyaman nya kamu. Karena pernikahan itu bukan sebuah perlombaan." Kata Dewin setelah Shasha membuka mulutnya menanyakan pendapat Dewin.
"Pah, aku serius nanya. Kan papah sama mamah itu dulu love and hate relationship gitu. Terus apakah papah membenci mamah?" Tanya Shasha yang diluar topik pembicaraan masalah Shasha.
__ADS_1
"Sha, cari pria jangan seperti papah mu ini yang bodoh. Tapi yah, sudah lah. Kamu pun sudah tahu cerita papah dan mamah mu." Jawab Dewin yang memarkir kendaraan nya dengan vallet dan Shasha mengunggah keberadaan nya. Dalam waktu sebentar Pinstagram nya Shasha menjadi ramai akibat ulah nya.
Shasha pun melihat dunia social media semakin memanas karena Shasha mengunggah keberadaan nya. Seon Ho melihat Shasha berada di tempat makan favourite nya bersama dengan Ayah nya, segera Seon Ho menyusul Shasha.
"Oppaaaaaa... Kamu mau kemana?" Teriak seorang perempuan dari belakang.
Seon Ho tidak mendengarkan nya dan berlari ke mobil lalu melajukan kendaraan nya ketempat Shasha berada. Sudah beberapa bulan pasca putus nya Seon Ho dan Shasha yang membuat Seon Ho tidak mengerti kenapa Shasha memutuskan nya.
Wajah cantik Shasha dan gandengan tangan nya merangkul lengan Dewin. Membuat Seon Ho memerah muka akibat cemburu buta. Sungguh membuat Seon Ho tidak berfikir panjang untuk menghampiri Shasha.
"Halo Sha, apa kabar?" Sapa Seon Ho yang sedikit basa basi. Untuk membuat Shasha sedikit terkejut dan Dewin mulai memasang pertahanan.
"Hi, kabar ku baik. Kamu?" Balas Shasha yang terdengar biasa.
Dewin yang duduk melihat kejadian tersebut dan akhirnya menyuruh Seon Ho untuk duduk. Shaha melihat wajah cemburu Seon Ho membuat hati nya semakin bersalah.
5 menit Seon Ho menatap cemburu membuat Dewin merasakan tidak nyaman. Tiba - tiba...
"Sha, aku mohon kamu pertimbangkan kembali keputusan mu. Aku bersumpah akan lebih memperhatikan mu." Kata - kata Seon Ho yang begetar sambil berlutut.
"Maaf, Seon Ho. Aku sudah tidak nyaman bersama mu lagi. Alasan ku masih sama dengan awal kita putus." Jawab Shasha membuat Seon Ho menurunkan harga dirinya dengan memohon.
Dewin mengangkat Seon Ho untuk duduk, namun tangan nya Dewin di tepis oleh Seon Ho. Shasha yang melihat tersebut langsung melotot penuh dengan ke kagetan.
"Pah, are you okay?" Tanya Shasha saat melihat tangan Dewin di tepis oleh Seon Ho. Dewin tersenyum dan muka Seon Ho terlihat panik akibat Seon Ho menepis tangan Dewin akibat cemburu. Tangan Shasha menggandeng tangan Dewin lalu pergi meninggalkan Seon Ho yang masih berlutut karena Shasha.
Di dalam mobil Dewin memperhatikan anak gadisnya yang tampak kecewa dengan perlakuan Seon Ho.
"Kamu kaget atau kasihan?" Tanya Dewin saat mengemudikan kendaraan nya menuju rumah.
"Aku sekarang mengerti kenapa Ayah cemberut dengan Seon Ho beda dengan ketika Ayah ketemu Melvin. Bahkan reaksi Papah pun sama dengan Ayah." Kata Shasha saat mengingat kembali semua perkataan Erick semasa hidup.
Di dalam keheningan sepanjang perjalanan membuat Dewin berfikir.
"Seorang ayah/ papah tidak akan membiarkan anak nya disakiti oleh siapa pun. Bahkan termasuk dengan keluarganya sekali pun" Kata Dewin tiba - tiba membuat Sha-sha terhenyak dengan perkataan tersebut.
"Pah.. " Panggil Sha-sha saat sudah sampai di rumah dan masuk ke dalam.
"Sha, tidak ada seorang ayah menginginkan anak nya di sia - sia kan orang. Apalagi di telantarkan oleh pasangan nya." Kata Dewin sambil mengusap kepala Sha-sha dan berjalan ke kamar nya.
__ADS_1
Ben dan Kaori tidak sengaja melihat kejadian tersebut, namun mengurungkan niatan untuk bertanya ada apa dengan makan malam mereka.