
Pembicaraan absurd bapak - bapak ini membuat mereka mengenang bagaimana semesta mempertemukan satu dengan lain nya. Tidak lupa Dewin meledek Dickson yang dimana adik kelas nya waktu SMU.
"Lagi pula kan elu adik nya si Dhyta Wicaksono kan?" Tanya Dewin yang mencoba konfirmasi terkait masa lalu.
"Iyah, gue adek nya Dhyta. Lah, elu kan temen nya kakak nya Via kan. Richie yah?" Balas Dickson sepertinya bakal ada malam reunian, di dalam pikiran Dickson.
"Iyah, gue. Dhyta kan yang barengan ama Sisca karena gak naik kelas terus pindah sekolah kan?" Tanya Dewin yang memberitahukan Dickson. Lalu akhirnya kaget kalau kakak Dickson itu tidak naik kelas dulu.
Muka Dickson kaget dan seakan tidak percaya kalau kakak nya tidak naik kelas. Dewin terus menceritakan kisah kakak nya itu, karena satu kelas dengan Dewin dan Richie. Dickson yang tidak percaya akhirnya menelpon sang kakak.
Drrrrrrrrrttttt....
"Haloo, Nyooong. Kenapa elu telephone?" Tanya orang yang di seberang sana.
"Dhyt. Emang elu kagak naik kelas dulu SMU?" Tanya Dickson dan membuat jawaban jujur dari sang kakak muncul.
"Iyah, kenapa? Elu malu?" Tanya balik Dhyta ke Dickson saat di telephone seluler.
"Kagak, ngapain juga. Cuma nanya ajah, ya udah bye!" Bales Dickson dan akhirnya menutup sambungan telephone nya.
Malam ini geng bapak - bapak akhir nya reunion mengenai hal yang tidak jelas. Bahkan dari Dewin lah Gerry tau bahwa Via mengalami hal - hal yang menyakitkan ketika masih kecil. Dan akhirnya mengerti kenapa Via takut sendirian.
"By the way Win, dulu elu kan pernah nih ketemu gue pertama kali. Dan gue masih inget sih Via patah hati pas di bilang adik elu. Boleh gue sledging gak kepala elu sekarang?" Ledek Gerry yang akhir nya inget kejadian setelah puluhan tahun berlalu.
"Kagak lah. Gila ajah, dulu gue nggak tahu perasaan gue sama Via. Walau sebener nya gue cemburu berat sama elu. Wooy, lah..." Oceh Dewin yang mengingat masa - masa itu.
"Cemburu? Gak salah lu?" Tanya Gerry yang penasaran dengan apa yang di katakan sama Dewin. Muka Dewin menatap Gerry dan mencoba merewind kembali semua yang terjadi.
"Gue yang unboxing Via, pertama kali. Gue inget dengan jelas bagaimana dia berlaku, gue merasa dia itu punya gue, sampai akhirnya dia jadi milik orang lain. Bahkan sampai saat ini pun gue merasa dia milik gue. Tapi yah sudah lah... Itu kan kebodohan gue masa lalu." Kata Dewin yang mengingat masa lalu nya.
Tidak di sengaja Ben mendengar jeritan hati Dewin saat ini. Saat mengambil minuman di dapur belakang yang dekat dengan taman belakang, dimana bapack - bapack ini berkumpul satu dan lain nya. Setika Ben merasakan kalau ayah nya seakan jahat mengambil bunda nya dari Dewin. Pembicaraan tersebut akhirnya di akhiri dengan baik.
Pagi - pagi seperti biasa, manusia - manusia yang tidak bisa hidup mandiri pada bangun.
"Maaaah, baju aku dimana yah? Aku cari tidak ada." Teriak Cia yang mencari t-shirt nya.
"Coba kamu buka lemari sebelah nya. Disitu mamah susun." Teriak Claudia yang sabar menghadapi anak nya.
__ADS_1
"Sayaaaang, charger ku di mana? Aku pinjem charger dong." Teriak Jerias mencari charger telephone seluler nya.
"Nyari pakai mata, kalau pake mulut begini." Omel Widia yang menaikan nada bicara nya.
Sementara Shasha yang sedang memasak makanan untuk keluarga nya, lalu tidak lama keluarga nya sudah duduk rapih di bangku biasa mereka duduk. Sesudah rapih duduk semua langsung menuju muka Gerry yang ada di ujung meja makan.
"Hari ini papah tidak pimpin doa. Tapi ada om Dewin yang TUA disini. Yang akan pimpin doa kali ini" Kata Gerry dan sontak membuat Dewin kaget.
Dengan doa singkat akhirnya Dewin menyelesaikan doa makan. Sungguh lucu kebiasaan - kebiasaan keluarga yang tidak sedarah ini. Setelah makan pagi, Dewin dan Ben berjalan ke arah kantor. Dalam perjalanan Dewin membaca laporan keuangan yang bagus. Bahkan beberapa kali menganggukan kepala atas perbuatan Ben yang sering kali menyelamatkan perusahaan dari kerugian.
Ben sedikit penasaran dengan cerita Dewin dan bunda nya. Entah mengapa cerita nya lebih menarik ketika ibunda nya dengan Gerry dan papah nya.
"Om, bagaimana rasa nya punya cinta pertama?" Tanya Ben ke Dewin yang membuat kopi Dewin tersedak di tenggorokan.
"Kamu pasti mau tau soal ibu mu?" Tembak Dewin pada sasaran nya.
"Iyah, aku heran kenapa bunda memilih ayah." Cerita Ben yang memikirkan tindakan bunda nya.
"Bunda mu memilih orang yang tepat, seandai nya sama om. Dia tidak akan bahagia seperti sekarang, jika sama Willi apa lagi. Jika sama Yudha? Bunda mu akan tertekan." Kata Dewin yang memberikan penjelasan.
"Mungkin kamu dan Shasha tidak akan pernah ada." Jawab Dewin yang sistematis.
"Yah, mungkin. Ayah akan jadi jomblo ngenes kayak om saat ini." Ledek Ben ke Dewin yang membuat muka Dewin merasakan lagi getar - getar kebahagiaan.
"Mungkin, jika om tidak berbuat bodoh. Mungkin juga cerita nya tidak begini." Kata Dewin memberikan nasihat kepada Ben.
Setelah berbincang Ben dan Dewin kembali pada rutinitas yang padat. Sehingga banyak banget pekerjaan yang menyita tenaga yang sangat banyak. Dewin dan Gerry akhirnya mengajukan hak anak asuh atas Ben dan Shasha ke pengadilan di London, England. Lalu pengadilan mengabul kan permintaan Gerry dan Dewin. Secara sah di mata hukum Ben dan Shasha anak Dewin sekarang.
Ben dan Shasha mendengar ini sangat senang, karena hak asuh mereka bersama dengan Dewin dan Gerry.
"Jadi aku sah nih, anak nya om Dewin? Eh papah Dewin." Ledek Shasha yang mengerjai Dewin saat berada di rumah.
"Hmn, kalau kalian tidak mau yah tidak apa - apa." Jawab Dewin dengan penuh guyon.
Hari ini Dewin menginap di rumah Ben bersama dengan Shasha. Di hari ini juga Shasha memasak masakan kesukaan Dewin yang biasa di masak oleh Via. Kali ini Dewin tertegun dengan masakan yang ada di hadapan nya.
"Sha, kamu gak mau ngajak Melvin kenalan sama papah?" Tanya Ben yang membuka pembicaraan agar Dewin tidak teringat dengan Via.
__ADS_1
"Hmn, masih trauma. Nanti ajah..." Jawab Shasha yang melirik ke arah Dewin..
"Buat om sih, asal dia pria yang bertanggung jawab. Om akan perboleh kan lah, tapi kalau dia macem - macem. Om masukin dia ke penjara!" Kata Dewin penuh dengan penekanan nada.
"Tunggu.. Kok Om sih? Kan sekarang sudah papah!" Jerit Shasha yang akhirnya menyadarkan Dewin yang duduk di kursi meja makan.
...****************...
Hari - hari terus bergulir hingga akhir nya saat Shasha ke kantor nya Ben untuk meeting bulanan melihat seorang perempuan mendekati nya. Perempuan tersebut membawa beberapa orang lelaki bertubuh besar. Jelas buat Shasha tidak takut karena pemegang sabuk hitam taekwondo yang di latih langsung oleh Gerry. Tidak membuat gentar Shasha.
Gubraaaak....
Gelas di lempar kearah Shasha dan berhasil Shasha menghindar. Namun cipratan air nya mengenai baju nya. 2 pria menangkap Shasha dan perempuan tersebut mendekati Shasha.
"Ini pacar baru nya Melvin Tenggara? Mantan nya Kim Seon Ho." Hina si cewek tersebut.
"Apaan ini norak tauk!" Teriak Shasha yang mengenal wanita tersebut.
Tamparan keras mengenai muka mulus Shasha dan seketika menjadi kerumunan lalu di video kan orang - orang. Dewin yang dari rapat melihat itu langsung berlari menuju kerumunan.
"Lepasin anak saya, jika terjadi sesuatu dengan anak perempuan saya. Kalian disini saya kirim ke neraka." Teriak Dewin dengan muka penuh amarah.
Semua terkaget karena tidak pernah melihat Dewin semarah itu dan tidak pernah melihat Dewin bisa seperti itu. Semua orang yang ada disana langsung terdiam tidak terkecuali si perempuan tersebut.
"Kamu! Berani nya berbuat onar di kantor saya. Lalu melukai anak saya! Cepat tangkap, bawa dia ke penjara." Teriak sekaligus perintah Dewin. Shasha yang melihat Dewin ketakutan. Bahkan Ben pun baru melihat Dewin seperti itu.
Dewin membawa Shasha ke rumah sakit untuk di Visum. Gerry, Jerias, Widia, Claudia, Dickson, dan Dyandra kaget mendengar berita tersebut. Media social begitu cepat beredar. Sehingga menjadi trending dimana - mana.
°
°
°
°
Ayoooo dukung terus author dengan like, share comments dan vote. Terima kasih!
__ADS_1