
Usia kandungan Via sudah mulai keliatan menuju 2 bulan. Saat memeriksa keadaan nya di klinik kandungan, Via dan Erick sempat mampir membeli kue untuk cemilan. Karena menunggu di dokter kandungan sangatlah membosankan.
Setelah menunggu 2 jam akhir nya bisa bertemu dengan dr. Vito yang menanyakan keadaan Via. Selama sesi konseling Via menceritakan keadaan nya dan memberikan buku konsulnya kepada dr. Vito. Di layar dokter Vito memperhatikan dengan seksama dan sangat teliti dengan perkembangan anak Via juga Erick.
"Wah kayaknya kita harus liat yang 4D deh" Kata dokter Vito yang tiba-tiba.
"Kenapa dok? Ada yang aneh?" Tanya Via yang sudah mulai sedih akibat hormon.
"Saya cetak yah, sepertinya bayi mu ada dua." Kata dokter Vito yang memberitahu Via dan Erick.
Teriakan yang membahana ruangan dokter Vito karena ekspresi senang dari Erick mengagetkan Via dan juga seluruh orang di klinik tersebut. Erick semakin bersemangat dan sangat senang karena bisa mendapat 2 kado terindah.
Selesai memeriksa Via dan kandungan Erick dan Via pun makan disalah satu restaurant kesukaan Via. Erick sepanjang jalan tidak pernah tidak tersenyum karena mendapat kejutan dari semesta.
"Ternyata semesta itu mengagetkan yah." Kata Erick yang terus senyum saat di restaurant.
"Sudah senyum nya, nanti kamu di bilang gak waras lagi." Jawab Via yang sedang minum air mineral.
"Biarin, mereka tidak tahu kalau aku berbahagia banget. Iyah, aku punya 2 anak yang luar biasa!" Oceh Erick yang selalu membanggakan anaknya.
Via terus menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran dengan kelakuan Erick, sambil bergumam pada dirinya sendiri. Mengenai kelakuan ajaib suaminya tersebut.
Sesampai dirumah Via langsung mandi karena berasa lepek di musim panas dan menuju musim gugur kali ini. Waktu terus berjalan seakan cepat sekali. Sudah hampir di penghujung tahun di bulan november, ternyata Widia merasakan perutnya mulas hebat.
"SAYAAAAAANG, SEPERTINYA SAYA AKAN MELAHIRKAN." Teriak Widia dengan kencang yang seluruh badan nya sudah keringat menahan kontraksi.
"OH, MY LORD! Hell yeah..." Balasan Jerias yang menggila salah ambil kunci mobil menjadi telephone seluler.
Berusaha menenangkan keadaan akhir nya Jerias bisa berfikir mengambil kunci mobil. Lalu membawa Widia ke rumah sakit, di ruang emergency Jerias terus kehilangan akal sehat nya dengan terus bolak - balik melihat Widia yang terus mengerang kesakitan.
"Jeriaaaaassas, gue gak mau punya anak lagi! Ini sakit banget, Cukiok."Maki Widia dalam bahasa Indonesia.
" Iyah sayang, oke sayang. Sabar yah..."Kata Jerias saat Widia mengerang kesakitan.
"Arrrrrrrgggghhhkkkk.... Naaaakkk, kalau mau keluar. Ayo keluarr... Mama sakit nak!" Teriak Widia.
Karena Widia terus mengerang kesakitan akhirnya Jerias menelepon secara group. Claudia dan Gerry panik, lalu Via dan Erick ikutan panik.
"Bebiiiih, hang on.... Kamu kuaaaaat...." Teriak Via yang menggema ke seluruh ruangan dengan suara khas cempreng nya itu.
Oweeeeeeeekkkkk owwwwweeeeeekkkk anak perempuan Jerias dan Widia keluar setelah Via teriak. Tepat tanggal 26 November pukul 11.57 anak Jerias dan Widia lahir.
Widia menjerit nangis hebat sementara Jerias yang bertubuh raksasa jatuh pingsan ketika melihat darah menempel di badan anak nya.
Anak perempuan lahir dengan teriak an Via, membuat para tim medis tertawa.
"Nak, kamu anak mama apa anak nya tante Via sih?" Tanya Widia yang sesegukan karena melihat anak nya lahir akibat Via teriak.
"Bu, kami akan pindahkan pak Jerias dulu, baru setelah itu ibu yah."Kata Suster memberitahukan keadaan Jerias.
" Lah kenapa dengan suami saya?" Tanya Widia yang kebingungan saat diberitahu oleh suster.
"Pingsan bu, setelah melihat anak Ibu keluar." Kata Suster memberitahukan alasanya.
Widia cuma bisa menggelengkan kepala karena kesal Jerias pingsan di moment-moment penting. Akhirnya Widia memberitahukan nama anak mereka dengan "Jevanya Novia Kasich" yang berati orang yang dicintai dan dimahkotai.
__ADS_1
Muka anak Widia dan Gerry sama-sama bule, tapi kalau anak Widia tidak terlalu bule. Anak percampuran Batak - Mesir menjadi seperti ini, Gerry dan Claudia mengucapkan selamat. Begitu juga Via.
Group WhatsApp #triplet07
Gerry : Welcome aboard papa Jerias.
Erick : Selamat bro. Akhirnya keluar juga...
Jerias : Yoii, fase selanjutnya menanti.. Dan ditunggu next nya bro Erick.
Gerry : Untuung gue dah lepas fase asi.
Claudia : Apa Ger?
Via : Emang Gerry suka ngasi Asi Clau?
Widia : Awas ajah si Jerias gak bantuin gue!
Gerry : Ampuuuuuuuunnnn
Jerias : Tenang darling, anak ku adalah segalanya..
All : Preeeettttt
Suasana ceria di group whatsapp yang sangat lucu dimana semua ketawa mendengar cerita Jerias pingsan ketika melihat anaknya. Via bahagia menyaksikan kelahiran Jevanya dan Gelaudy. Tentu saja akan senang sekali menunggu kelahiran sang buah hati.
Berapa kali Via dan Erick mendekorasi ruang nursery dan kamar mereka. Agar bisa di taruh box bayi mereka. Kamar yang di dekorasi senyaman mungkin dan senetral mungkin agar tidak mengganti dekorasi.
Bahkan kamar tidur Via dan Erick sudah berubah suasananya menjadi Mickey Mouse dengan warna monochrome nya.
"Aku seperti lagi kerja di kantor kalau melihat kamar dan apartment kita." Ledek Erick saat melihat hasil akhir yang Via kerjakan.
"Well, apapun perkataan mu. Hanya aku dengarkan dan aku jadikan saran buat kedepan nya." Jawab Via santai sambil memakan ice cream yang tadi dia buat.
"Apapun itu asal membuat mu bahagia aku akan lakukan." Balas Erick yang memeluk Via namun tangan nya sudah tidak cukup akibat perut Via susah membesar.
Menuju tahun baru Via sibuk dengan beberes dan memasak. Karena akan ada tamu dari Indonesia yang akan menginap di tempat Erick dan Via.
Tink tooooonkkkkk....
"Ahk, pasti tamu nya sudah sampai." Kata Via dalam hati yang terkaget oleh suara dering bell apartment nya.
Via berjalan dengan santai dan memperhatikan di layar komunikasi pintu. Via melihat sosok wanita yang dikenalnya.
"Hiii Dy, apa kabarnya?" Sapa Via saat menyambut Dyandra dengan Dianne.
"Baiiiik.." Jawab Dianne dengan muka yang senang sekali.
Namun Via kaget saat melihat Dickson yang ikut bersama mereka. Karena masih kaget Via hampir lupa mempersilahkan mereka bertiga masuk.
__ADS_1
"Eh, iyah. Silahkan masuk." Kata Via yang mempersilahkan mereka semua masuk.
Keadaan sedikit canggung ketika kedua keluarga bertemu. Erick yang sudah mengetahui Dickson keluar dan sudah kembali ke Dyandra.
"Haii semua, gimana di perjalanan?"Sapa Erick yang duduk di depan mereka.
"Baik, Rick. Elu gimana?" Balas Dickson seadanya namun bingung karena suasana apartment Erick dan Via.
"Gue dan Via baik juga." Jawab Erick yang melihat Via sibuk menyiapkan minuman buat Dyandra, Dianne dan Dickson.
Erick pun mulai menanyakan keadaan Dyandra dan Dianne. Mereka menceritakan kalau akan pindah ke apartment Dickson di Jakarta.
"Kapan kalian pindah? Sayang gue sama Via nggak bisa dateng. Via sebentar lagi melahirkan." Tanya Erick yang memulai pertanyaan santai.
"Rencana setelah Dickson beres disini. Kita akan pindah sekeluarga dan meresmikan hubungan kita." Jawab Dyandra yang sedikit malu-malu.
"Waah, bagus dong! Sungguh gak terduga yah?" Balas Erick yang selalu semangat.
Via selesai menyiapkan kudupan manis sebagai bahan cemilan. Via duduk di sebelah Erick saat selesai menyajikan kudapan manis untuk mereka semua.
"Dy, ajak anak lu. Kita beli makanan. Kayaknya Via ga masak hari ini." Ajak Erick saat melihat Via gelisah dan begitu juga Dickson.
"Yuk, biar ada yang menyelesaikan masalahnya." Balas Dyandra yang mengerti kode dari Erick.
Dyandra dan Erick meninggalkan Dickson juga Via dalam kebisuan. Via yang hanya terdiam bingung menyapa Dickson.
15 menit Via membisu, 15 menit juga Dickson diam terpaku oleh sebuah kata penyesalan yang mendalam. Keringat tangan Via membahasi telapak tangan nya.
"Maafin aku, Vi. Semua salah ku." Kata - kata yang meluncur bebas dari mulut Dickson.
"Aku dah, maafin. Sudahlah, ini juga sudah berlalu juga kan." Jawab Via yang mengelap keringat nya di sela-sela baju hamilnya.
"Kita masih bisa berteman kan?" Tanya Dickson yang secara random.
"Masih. Lalu gimana Dyandra dan Dianne?"Jawab Via sekaligus bertanya mengenai status Dyandra.
"Awalnya Dianne menolak ku lalu meminta ku untuk menjauh dari mereka. Namun sepertinya Tuhan berpihak kepada ku." Jawab Dickson yang mengambil minuman di depan Dickson.
Wajah Dickson sangat berbeda ketika pertama kali datang. Via mulai merasa ini bukan ancaman mulai mengendorkan rasa insecure nya.
"Aku menerima keputusan Dianne yang menolak ku, karena aku yang tidak menginginkan dirinya. Ternyata rasa sakit ini sangat menyiksa ku, Vi." Lanjut Dickson dan menatap arah jendela.
"Yah, karma ternyata itu kejam."Kata Via yang memberikan air dingin lagi.
Sudah 1 jam Via dan Dickson membicarakan masa lalu mereka. Lalu diakhiri dengan jabatan tangan untuk pertanda telah selesai.
°
°
°
°
Maaaaffff 🙏🏼 author salah jadwal.. Huhuhu...
__ADS_1
Semoga menikmati kelanjutan karya - karya author. Yuk, di like, love, comment juga. Lalu di vote buat ikutan karya challenge di novel toon. Terima kasih semuanya!