
Ben yang mendengar surat wasiat Via menahan perih, lalu tidak lama ada surat lagi yang masih tersegel. Dimana surat itu di berikan satu per satu sesuai nama. Semua membaca surat itu dengan menangis.
*Dear Gerry,
Terima kasih selama 35 tahun menemani Via, perempuan yang jauh dari kata sempurna. Perempuan yang selalu menyusahkan mu dan Claudia. Terima kasih yah!
Terima kasih juga memberi warna dan denyut kehidupan kepada Via. Entah berapa besar Gerry bertahan dengan sikap Via yang selalu menyebalkan.
Terima Kasih!
Via hanya minta tolong untuk jaga Erick, Ben dan Shasha. Sampai jumpa lagi saat semesta memanggil mu kembali.
Dari
Via yang cantik tidak tertara*
Isi surat yang membuat Gerry menggigit bibir nya karena tidak mau menangis. Claudia pun membaca surat nya Via untuk dirinya,
*Dear Claudia,
Terima kasih telah menemani ku, bahkan tidak jarang dahulu kamu menahan cemburu akibat kisah ku dan Gerry belum selesai. Tapi harus aku akui kamu wanita terhebat dan terkuat dari yang aku bayangkan.
Selalu bisa aku andalkan disaat aku merasakan hilang energy ketika mengurus rumah tangga. Bahkan kamu selalu paling bawel menyuruhku untuk istirahat. Clau, titip Gerry dan Widia yah...
Lalu tolong jaga Erick dan anak - anak ku si Ben dan Shasha. Terima kasih dan sampai ketemu ketika kamu berpulang ke semesta.
Dari
Via si nona cantik tidak tertandingi*
Claudia terus menahan isak tangis nya ketika membaca apa yang Via sampaikan. Jerias pun akhirnya ikutan membaca surat Via untuk dirinya. Sambil mengelap wajah nya Jerias membuka surat tersebut.
*Dear Jerias,
Terima kasih selama 29 tahun menemani Via, tanpa Jerias Via tidak menemukan tempat tulang rusuk Via. Terima kasih telah bersabar dengan kelakuan Via selama ini, satu hal yang selalu Via inget adalah kamu membawa Via kepada kebahagiaan seutuh nya. Meskipun awal pertemuan dengan Erick tidak seindah bayangan.
Tetapi sangatlah mengaggumkan, Via pamit yah. Jaga Gerry dan Widia karena mereka jantung Via, jaga in Erick yah karena dia nafas Via. Jagain Ben dan Shasha adalah biji mata Via yang tidak akan Via biarkan untuk disakiti.
Terima kasih dan sampai jumpa ketika semesta memanggil mu.
Dari
Via si cantik yang tidak tertandingi tiada tara*.
Jerias terus mengelap wajah nya karena air mata nya terus menetes. Sementara Widia yang ada di pojokan terdiam dan air mata nya terus mengalir karena membaca surat dari Via.
Kepergian Via membuat sahabat - sahabat dan keluarga nya sedih. Tepat malam 40 hari kepergian Via, keadaan Erick semakin kritis. Akibat kesedihan yang mendalam membuat Erick mengalami malnutrition.
"Oke, kita tambah lagi pengejut jantung..." Teriak dokter namun terlambat Erick menghembuskan nafas nya yang terakhir.
"Telah meniggal Tuan Erick Hardjanto, pada tanggal 27 September 2
Ben dan Shasha semakin terpukul karena Erick juva berpulang kepada Semesta. Banyak mitos berkeliaran kalau pria yang cinta dengan istrinya, ketika istrinya pergi si pria akan mengikutinya.
Keluarga akhirnya memutuskan untuk langsung menguburnya karena tidak mau berduka terlalu panjang. Saat pemakaman ada seorang wanita dan seorang anak bule yang dari jauh memandang kearah pemakaman.
Ben mengenalnya karena sang ayah pernah cerita sebelum menikahi sang Bunda. Ayah pernah berpacaran dengan teman kuliah nya namun tidak di setujui oleh Nenna nya. Ternyata Nenna benar mengenai Bunda. Bahkan ayah sendiri membenarkan nya.
Erick di makam kan disebelah Via dan Thata. Setelah di makam kan Erick, Ben menuju Jakarta. Kota yang asing baginya.
__ADS_1
Drrrrrrtttt
" Halo..."Jawab Ben saat mengangkat telephone.
"Saya turut berduka cita atas kepergian kedua orang tua mu." Kata Dewin ketika dalam perjalanan ke Bandung.
"Terima kasih om, saya benar - benar terpukul dengan apa yang saya alami." Balas Ben yang terdiam di airport lounge bersama dengan Shasha dan rombongan yang akan bertolak ke negara masing - masing.
"Semoga amal dan ibadah kedua orang tua mu diterima semesta." Kata Dewin lagi dan entah mengapa Ben membatalkan kepergian nya dan menitipkan Shasha ke Papah Gerry dan Mamah Claudia.
Ben kembali ke pusara ayah dan ibu nya untuk menumpahkan isi hatinya. Selama perjalanan yang panjang Ben menangis menumpahkan semua isi hatinya. Sesampainya Ben di pusara ayah dan Ibunya, tak kuasa Ben menumpahkan isi hatinya yang kehilangan mereka berdua.
Mata Ben terpaku kepada bunga Lilly pink yang ada di pusara sang bunda. Ben berfikir kencang siapa sebenarnya orang yang mengirimkan bunga tersebut. Seperti biasa Ben melakukan penyelidikan siapa yang datang.
Drrrrrrttt....
"Siang, dengan Bapak Benaiah El-Gibbor?" Tanya orang di ujung sana.
"Yah, dengan saya sendiri. Ada yang bisa di bantu?" Tanya balik Ben yang penasaran dengan siapa Ben berbicara.
"Kami dari CEJE Group ingin menawarkan kerjasama dalam bentuk kolaborasi masakan Indonesia yang anda kembangkan." Kata Penelpon di ujung sana.
"Boleh saja, kebetulan saya minggu depan akan ada di South Korea." Jawab Ben dan akhirnya mereka menemukan lini kolaborasi baru.
Ben mempersiapkan semuanya walau hatinya sedang remuk. Bahkan Kaori pun merasakan hal yang sama karena terlanjur sayang ke Via dan Erick.
Dalam kunjungan kali ini Ben menginap di hotel International tempat dulu ayah nya bekerja. Ben menatap kota Seoul, South Korea yang penuh hiruk pikuk. Entah mengapa kaki nya berjalan keluar dan menemukan Street Food. Sebelum nya Ben menghubungi Dewin kalau dia sedang menikmati street food nya Korea.
Drrrtttt...
Dewin : Tunggu aku 15 menit akan kesana.
Ben memesan aneka soju dan barbecue sebagai cemilan. Belum menunggu hingga 15 menit Ben sudah mabuk oleh minuman beralkohol tersebut. Dewin melihat tersebut lupa menanyakan Ben menginap dimana. Selama menunggu tersebut Ben sudah menghabiskan 5 botol soju yang di campur oleh bir dingin.
Dewin melihat hal tersebut menjadi kasihan lalu menggotong Ben ke apartment. Dalam hati Dewin pun berkata mungkin ini saat nya semesta menunjukan kebaikan nya. Sesampainya di Apartment Dewin meletakan Ben di kamar tamu. Lalu Dewin ke kamarnya dan teringat buku harian yang Via kasih.
"Vii, aku sedih anak mu seperti ini. Kenapa kamu menitipkan mereka kepada ku?" Tanya Dewin dalam hati. Halaman demi halaman Dewin buka hingga Dewin menemukan hasil test pack dan ada dua garis yang samar. Mata Dewin terbuka lebar lalu selang berapa halaman lagi ternyata ada pernyataan dokter bahwa itu hanya hamil anggur.
"Terima kasih semesta, seandai nya anak itu jadi pun dia akan menderita karena kebodohan ku." Kata Dewin dalam hati. Waktu terus bergulir dan akhir nya sang pagi datang juga. Ben kaget melihat kasur yang bukan kamar hotel.
"Pagii, yuk ini sudah saya buat kan sup pereda mabuk dan nasi goreng kimchi." Sapa Dewin dan Ben kaget melihat ruangan ini. Jelas di ingatan Ben, kalau Ben pernah melihat ruangan ini di foto Bunda.
"Pagi om, maaf." Jawab Ben dan terhenyak kaget ternyata istri Dewin adalah ibunda nya.
"Kamu pasti kaget, tunggu kamu sadar saya akan cerita dari awal." Balas Dewin membuat Ben penasaran. Jelas ada rasa marah ingin menghatam Dewin saat ini.
Karena merusak figur ibunda nya di depan wajah Ben. Setelah Ben cukup sadar dan meredakan emosi, Dewin mengeluarkan buku harian Via. Lalu surat Via, lalu rekaman CCTV saat Via berkunjung disini.
"Ini ayah mu, dan ini ibu mu. Ibu mu bukan lah wanita sembarangan. Begitu juga ayah mu, hanya takdirlah yang membawa mereka mendekat." Dewin memulai cerita.
"Lalu?" Tanya Ben dengan ketus dan menatap betapa cantik nya Bunda saat itu.
"Bunda mu sempat berpacaran dengan saya namun sayalah yang meninggalkan dia karena takut. Lalu Bunda mu berpacaran dengan Gerry, karena mereka sahabatan akhir nya putus." Lanjut cerita Dewin dan Ben semakin penasaran.
"Terus apa hubungan nya?" Tanya Ben yang mulai emosi akibat mendengar Gerry di salahkan.
"Lalu ibu mu pergi ke South Korea untuk kuliah S2 Hukum, dan disitulah kami bertemu lagi. Lalu kami menikah dan saya yang menceraikan ibu mu karena saya tidak bisa mempertahan kan Ibu." Jawab Dewin sambil menuangkan teh hangat untuk Ben.
__ADS_1
"Terus om merasa bersalah dan ..." Tanya Ben lagi dan menyudutkan.
"Saat itu keadaan nya kacau, ibu mu harus kehilangan papah nya yang dia benci keberadaan nya. Disaat itu pula ibu mu sudah menikah lagi dan bahagia dengan ayah mu. Lalu saya bahagia melihat dia bahagia." Jawab Dewin yang membereskan bekas - bekas makanan.
"Bohong banget kalau om tidak merusak? Emang om Tuhan yang bisa seperti itu?" Cecar Ben yang masih tidak percaya.
"Benaiah El-Gibbor Hardjanto! Saya tidak pernah merusak sedikit pun kebahagiaan ibu dan ayah mu. Bahkan jika saya tahu kamu anak ibu mu, saya tidak akan berbisnis dengan kamu meski bisnis mu sangat menguntungkan saya." Jawab Dewin dengan tegas dan sangat sistematis.
"Ahk, munafik om tuh. Mana ada orang seperti itu!" Sangkal Ben dan akhir nya Dewin memutarkan hasil CCTV.
Ben melihat ibu nya datang dan jelas sekali diwajah nya ada senyuman yang tidak pernah semengembang itu.
CCTV;
Di dalam apartment Dewin....
"*Ini handuk mu, kalau kamu mau cuci tangan." Kata Dewin yang memberikan handuk kesayangan nya Via.
Via pun mencuci tangan nya dan kembali ke ruangan tamu. Dewin pun yang duduk di tempat masih terasa gugup melihat Via Da di depan nya.
"Boleh kah aku melihat semua ini?" Tanya Via saat menggunakan bahasa isyarat kepada Dewin.
"Boleh, silahkan kalau kamu ingin melihat - lihat nya." Jawab Dewin yang memberikan kebebasan Via untuk melihat - lihat.
Air mata Via jatuh ketika semua penataan masih sama dengan apa yang Via dekorasi dahulu kala.
Sedikit iseng Via menaruh buku harian selama bersama dengan Dewin di lemari belakang baju, dan ketika tangan nya menyentuh buku tersebut Via kaget, Dewin tidak menemukan buku tersebut.
Setelah mengambil buku dan melihat seisi apartment tersebut. Via kembali ke ruang tamu dan memberikan buku tersebut kepada Dewin.
"Apa ini?" Tanya Dewin yang sedikit kaget dengan buku tersebut.
"Buka nya nanti jika aku pulang ke Los Angeles, California." Jawab Via yang penuh dengan rahasia.
"Aku kesini ingin berterima kasih untuk semuanya, Terima kasih untuk semua pengorbanan mu yang berkali - kali untuk kebahagian ku. Terima kasih atas setiap darah yang kamu berikan ketika aku kekurangan darah, karena kamu tidak ingin ada darah lain dalam tubuh ku. Aku minta maaf atas segala keliruan ku selama ini. Juga ke egoisan serta harga diri ku" Kata Via lagi yang membuka percakapan dengan Dewin.
"Well, itu sudah berlalu. Kita sudah punya kehidupan masing - masing." Jawab Dewin yang berusaha menahan rasa ingin memeluk Via.
"Iyah, semoga semesta memberikan kamu kebahagiaan kak." Kata Via lagi lalu meminta izin untuk kembali ke Hotel.
Dewin menawarkan besok pagi saja untuk kembali ke hotel. Karena cukup rawan penyerangan ketika jam malam hari. Via pun menuruti lalu ke kamar sebelah dan Dewin memberikan kaos yang biasa Via pakai dahulu. Muka Dewin terasa hangat karena sungguh lucu semesta ini.
Pagi - pagi Via sudah bangun dan memasak nasi goreng kesukaan Dewin. Kali ini Dewin memperhatikan Via seperti ada yang lain dari biasanya.
"Kak, kalau nanti semesta memanggil ku. Aku titip anak - anak ku dan Erick." Kata Via membuka pembicaraan pagi ini.
"Apaan sih Vi, kamu lagi ngelantur yah?" Tanya balik Dewin dan sedikit khawatir dengan omongan Via.
"Yah kan kalau nanti." Jawab Via enteng agar suasana berubah mencair*.
Seketika Ben menangis sejadi - jadinya akibat melihat bahwa Ibu nya sudah mengetahui kapan dipanggil oleh yang punya Semesta. Dewin memberikan tissue untuk mengelap air mata yang jatuh.
°
°
°
°
__ADS_1
Halooo like, comments, share dan vote yah teman - teman online. Terima kasih banyak semua sahabat online!