
Malam semakin larut membuat Via tertidur diruangan kerja papahnya.
"Oh my GOD, ini sudah siang." Teriak Via dan buru-buru turun dari ruang kerja papahnya.
Via mendapati meja makan kosong tidak ada siapa-siapa. Via melihat jam di dinding masih jam 8 pagi...
"Biasanya mereka masih makan, kenapa sudah sepi?" Kata Via dalam hati.
Telephone selulernya berdering lumayan lama, akhirnya Via angkat.
"Vii, sepertinya kasus kita harus di tutup." Kata Yudha dari seberang sana.
"Kenapa? Apa Sisca membayar kepolisian?" Tuduh Via yang mulai emosi.
"Bukan, tadi subuh Sisca mencoba bunuh diri lagi dan sekarang Sisca mendapat perawatan di rumah sakit." Kata Yudha lagi dan Via jadi ingat apa yang kemarin Via katakan ke Sisca.
Via terduduk diam menatap layar telephone selulernya dan beranjak pergi ke rumah sakit dimana Sisca dirawat.
Setibanya Via di rumah sakit dan menuju kamar Sisca, Via mendengar percakapan Richie dan Dewin.
"Win, udah bicara kan sama adek gue?" Tanya Richie saat menjenguk Sisca di rumah sakit.
"Udah, gue akan dukung Via meneruskan langkah hukum buat Sisca." Jawab Dewin saat melihat muka Richie serious.
"Kali ini Sisca harus tau batasan nya, setelah masalah ini selesai. Elu bagaimana Win?" Kata Richie saat disebelah Dewin yang memandang muka Sisca yang penuh dengan alat-alat penyambung hidup.
"Gue balik ke Korea Selatan, kalau adek elu jodoh gue dia akan kembali kepada jodohnya. Jika tidak gue akan melepaskan nya." Kata Dewin penuh luka yang dalam di hatinya.
Dibalik pintu Via mendengar Dewin dan Richie membicarakan tentang ke depan. Lalu Via masuk membuat Dewin dan Richie kaget.
"Vi..." Sapa Dewin melihat Via membawa buah- buahan untuk Sisca.
"Aku taruh disini. Abis ini aku tinggal, karena aku harus ke Jakarta. Besok aku akan kembali ke Geneva." Pamit Via kepada Dewin dan Richie yang sedikit nya kaget dengan keputusan Via.
Setelah menaruh buah-buahan dan pamit pulang, Via kembali ke Jakarta untuk persiapan ke Geneva. Kembali bekerja sebagai Head of Department of Human Rights Commission di Department Human Rights Commission. Membuat Via sangat sibuk dari hari ke hari.
22 Jam perjalanan ke Geneva, Switzerland membuat Via sedikit jet lag karena perbedaan waktu. Baru sampai di Geneva, Switzerland Felly menghampirinya.
"Elu nggak kenapa-kenapa kan?" Cecar Felly saat melihat keadaan sahabat nya ini.
"Baik-baik saja. Bagaimana udah ada calon keponakan belum?" Ledek Via dan sukses membuat Felly ngambek.
__ADS_1
Ternyata Geneva, Switzerland masih seperti biasa nya. Selalu penuh ketenangan dan keseruan yang menyenangkan. Musim panas akan segera datang, dan Via ingat bahwa sebentar lagi dirinya akan berulang tahun.
"Eh, minggu depan ulang tahun traktir apa?" Tanya Felly saat duduk ditaman dekat apartment Via dan Felly. Apartment yang menghadap ke arah Danau yang menampilkan keindahan Geneva.
"Ke London ada urusan, sekaligus merayakan dengan 2 sahabat aku disana." Balas Via yang tersenyum penuh kemenangan.
Gerry dan Widia menyiapkan hadiah buat Via, karena mereka akan merayakan di London. Begitu juga dengan Jerias dan Claudia yang sibuk mencari hadiah buat Via, Gerry dan Widia.
Via juga menyiapkan hadiah buat Widia, dan Gerry. Serta oleh-oleh buat mereka. Tidak lupa juga Via membawa bumbu-bumbu yang dipesan oleh Widia. Kali ini semua berkumpul di Manchester City yang berarti di tempat Gerry.
Perjalanan dari Geneve International Airport menuju Manchester International Airport selama 2 jam membuat dada Via membuncah.
"Viaaaaaaa" Teriak khas Gerry saat melihat dorongan tas serba Disney.
Widia menahan ketawa melihat kelakuan Gerry memanggil-manggil nama Via.
"Beliciiik aaahk..." Jawab Via yang mukanya sudah merah akibat Gerry teriak di airport.
"Welcome to Manchester Piduth..." Kata Widia yang memeluk Via.
"Thank you..." Balas Via yang sudah di giring sama Gerry menuju parkiran mobil.
Gerry dan Widia langsung mengajak Via ke supermarket untuk belanja makanan. Apa lagi kalau bukan disuruh masak. Dan lucu nya Via mau - mau saja.
Perjalanan dari supermarket menuju apartment Gerry dan Claudia hanya memakan waktu 10 menit. Via menata semua bahan-bahan makanan sesuai dengan category nya. Gerry, Widia, Jerias, dan Claudia duduk dekat meja bar agar bisa mendapat hibah dari Via.
"Kalau kalian disini pegangin garpu ajah, Via gak beres-beres ini." Jerit Via yang sedikit emosi.
Gerry, Widia, Jerias, dan Claudia duduk manis di ruang tamu. Tetapi mata mereka memeperhatikan steak yang masih di oven sama Via. 1 jam Via berkutat di dapur dan wangi makanan tercium sampai perut 4 orang berbunyi.
"Ayooooo kita makan..." Teriak Via dan kegaduhan mulai terjadi semua langsung duduk di kursi masing-masing.
"Giliran makan ajah pada cepet yah..." Kata Via lagi yang ikutan duduk di kursinya.
Semua pada hening memakan masakan Via, tidak ada yang komentar sama sekali.
Dalam waktu singkat makanan yang ada di meja ludes dengan sendirinya. Karena Via susah masak sekarang giliran yang makan harus mencuci piring bekasan makan malam hari ini.
"Kalian besok mau makan malam special apa? Kita makan di restaurant Gordon Ramsay yuk." Kata Via duduk di kursi bar dapur nya Gerry.
__ADS_1
"Nggaaaaakkk.." Teriak 4 orang seakan sekampung pada melakukan pengepungan.
"Lalu?" Tanya Via dan mereka semua menunjukan muka tanpa rasa bersalah.
Claudia mendekat ke Via, lalu memijit-mijit bahunya untuk mengambil hati Via. Lalu Gerry yang berubah manis sekali dan disusul oleh Widia juga Jerias..
"Jadi kalian begini minta Via masak?" Tembak Via langsung pada sasaran nya.
"Iyaaaah" Jawab 4 orang tersebut. Via akhirnya mengabulkan permintaan mereka karena Via sudah lama gak ketemu dengan mereka.
Via melihat menu-menu yang akan dimasak besok. Menu yang bisa membangkitkan memori untuk semua nya.
"Vi... Kemarin kejadian sama Sisca udah beres?" Tanya Gerry saat mengambil beer di kulkas.
"Udah, Yudha yang beresin." Jawab Via sekedarnya karena males membahas Sisca.
"Eh, Duth. Yudha gak ngelamar elu?" Tanya Gerry penasaran pada hubungan Via dan Yudha.
"Enggak, mungkin jodohnya Via pangeran Harry deh, Ge." Kata Via dengan muka iseng nya lalu di hadiahi oleh Gerry cubitan di pipi Via.
Via masih sibuk dengan menu dan akhirnya ke kamar tamu. Via melihat telephone selulernya untuk memastikan kerjaan nya akan berjalan dengan aman.
Saat Via melihat akun Pinstagram sudah banyak yang memberikan selamat ulang tahun pada nya.
Tiba-tiba Via mendengar suara ribut di bawah, Via berjalan melihat ada apa.
Jantung Via berdetak lebih kencang karena Via tidak menemukan apapun saat melihat ke luar kamar dan......
"Duaaaaarrrr... Happy Birthday to us... Happy Birthday to us..." Teriak 4 orang gila di tengah malam menuju pagi.
"Happy Birthday Via, Gerry, dan Widia. Wish you all the best forever." Teriak Claudia membawa kue yang tidak jelas bentuknya.
"Tuuuuuungggguu. Jadi gara-gara ini tadi bunyi di dapur?" Oceh Via yang melihat kue ulang tahun nya berantakan.
Dengan muka sedikit bersalah akhirnya 4 orang tersebut mengaku karena ke sandung sama keset di dapur. Via tertawa ngakak dan akhirnya memejamkan mata dan berdoa.
°
°
°
__ADS_1
°
Like yuuuk cerita nya, lalu comment dong, terus love juga novel nya dan Vote buat support author.