
December 2009…
Suasana di Switzerland membuat Via merindukan tanah air Indonesia, menuju malam pergantian tahun baru Via merencanakan bersama Krishna dan Felly pergi ke Bern, Ibukota Swiss. Saat ini mereka Felly dan Krishna lah yang sering menemani Via kemana pun pergi. Banyak orang mendekati Via namun seperti ada tembok tinggi yang menghalangi untuk membuka diri.
Maka di sore itu…
“Udah nih barang – barang nya?” Teriak Felly yang sumingrah mereka akan ke Bern, Ibukota Swiss.
“Sudah. Aku check mobil dulu yah?” Kata Krishna mengambil kunci mobil dan mengecheck keadaan mobil di luar karena salju turun nanti akan mengganggu mesin.
Felly dan Via sudah rapih dengan perlengkapan lalu tidak lama disaat mereka akan berangkat, teriakan yang memekak an telinga membuat Felly, Via dan Krishna menutup telinga akibat berisik.
“Hello bro! Kalian main pergi saja sih, ko gue nggak di ajak?” Tanya cowok berwajah oriental itu dan bertubuh tambun.
“Yah, kamu telat sih Sel. Kan kita sudah siap semua ini dan tinggal berangkat juga.” Kata Via sambil menunjuk mobil yang sudah siap dan disana ada Felly dan Krishna.
“Ayo lah kita pergi.” Kata cowok tambun ini dengan gaya memerintah seenaknya.
“Oh kenalin ini Felly dan Krishna, Sel. Fell, Krish, ini Rusel teman di ruang kerja.” Kata Via memperkenalkan Rusel teman kerja nya sekaligus teman bergosip.
“Hi, semua. Rusel” Rusel memperkenalkan diri sekaligus mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Mereka bertiga baru berapa menit bertemu sudah mengenal satu sama lain seperti sudah lama berteman. Terlebih Krishna yang dengan cepat sekali nyaman dengan Rusel, yah orang pertama yang bikin rusuh saat pertama kali Via kerja di UN* adalah Rusel. Orang yang supel dan penuh positif vibe saat di dekatnya.
*UN (United Nations)\= Perserikatan Bangsa – Bangsa.
Perjalanan 2 jam ke Bern menjadi seru sekaligus mengocok perut akibat ulah Rusel yang selama itu mereka mendengar ocehan Rusel. Ocehan yang lucu sehingga mereka tertawa tidak ada henti nya, terlebih saat membicarakan atasa mereka.
“Huh, ternyata Alejandro Gomez pernah di kantor kalian? Itu botak parah banget dah.” Kata Rusel mengkonfirmasi atasan nya yang pernah di kantor Felly dan Krishna.
“Pernah, tapi untung cuma 3 bulan saja. Sebelum gue di kirim ke Albania untuk membantu team Delta.” Kata Felly memberitahukan soal atasan nya itu.
“Di aku juga cuma 1 bulan kok. Itu juga parah banget dia suka banget menggoda para wanita.” Kata Krishna sambil menyetir dengan muka datar.
“Tuh kan Vi, bener kata gue kan. Dia itu jelalatan matanya si botak, kita kudu hati – hati.” Kata Rusel yang mulai bergosip.
“Kita hati – hatinya sepertinya buat Via saja deh. Kalau kamu kan laki? Kagak perlu lah, kan Alejandro hanya menggoda perempuan bukan laki.” Kata Krishna yang membuat Felly dan Via ke heranan belakangan ini Krishna mulai banyak berbicara.
Sesampainya di Internlake – Bern. Via dan Krishna berjalan dengan menggunakan ransel nya dan Via memotret nya. Entah mengapa Via mulai ada getaran – getaran jika bersama Krishna, jelas getaran ini yang sering membuat Via merasa nyaman. Krishna yang lembut bukan lemah gemulai, Krishna yang tegas dalam mengambil setiap keputusan, Krishna yang dewasa dalam melihat setiap masalah sehingga selalu jadi penengah disetiap permasalahan yang pelik.
“Ahk, apaan coba. Krishna nggak mungkin suka juga. Dia kan sukanya sama Felly, iyah Felly yang memperkenalkan Krishna ke Via.” Kata Via dalam hati yang sekaligus menekan perasaan yang ada dalam hatinya.
Setelah berjalan – jalan melihat pemandangan di Bern, akhirnya mereka ke Palafitte Neuchatel Hotel. Yang tidak jauh dari mereka berhenti. Pemandang Bern disaat winter membuat pengalaman yang tidak terlupakan.
__ADS_1
Drrrrrrt… BBM Via bergetar hebat..
Yudha: Hei orang Swiss, aku baru landing di Swiss nih.
Via: Apah? Seriusan. Aku lagi di Bern sih.
Yudha: Aku minta di jemput sekaligus kamu harus tanggung jawab jadi tour guide.
Via: Kok aku? Yang nyuruh kamu datang siapa?
Yudha: Pokoknya tolong lah, aku anak terlantar nih di negeri orang.
Via: Tunggu, aku kesana yah.
Dengan cepat Via menuju bandara dari hotel yang hampir memakan waktu 30 menit, dan benar saja Via melihat Yudha sedang duduk ngemper bak backpacker.
“Astaga Yudhaaa.” Jerit Via dan dengan muka sumingrah Yudha langsung bangkit berdiri dan memeluk Via yang pendek.
“Iyah inih. Aku baru dapet cuti nih dari kantor, capek tauk.”Kata Yudha yang sepertinya sudah mulai curhat.
“Ayo, ikut. Ke hotel ajah, kasian perjalanan panjang membuat dirimu lelah.” Kata Via yang berjalan mencari taksi menuju hotel.
“Asiik, tapi ini tidak sebanding aku melakukan perjalanan cinta dengan menunggu kamu. Lelahnya itu nggak bisa dikatakan.” Kata Yudha mulai menggombal.
“Kalau gitu kamu harus mengganti haluan jika menunggu ku lelah.” Kata Via yang membuat Yudha menyesal mengeluarkan kata – kata tersebut.
“Lelah ku itu tidak bisa di massage, karena hati ku. Capek badan bisa di massage tapi kalau hati? Mana bisa?” Kata Yudha yang mengalihkan pikiran Via.
“Hai, kenalin ini Yudha temen kampus ku. Yudha kenalin ini Felly, Krishna, dan Rusel temen kantor ku.” Kata Via yang memperkenalkan Yudha dan ternyata dunia sempit broh!
“Felly Anastazjia Burhan?” Yudha memanggil nama lengkap Felly. Via langsung kaget mendengar nama Felly di sebut.
“Ardrian Yudha?” Felly pun memanggil nama Yudha dengan lengkap dan menatap aneh kearahnya.
“Kalian kenal?” Kata Via tiba – tiba menatap aneh mereka berdua.
“Ini mantan pacar aku Via saat di SMU Kesatuan Bogor.” Kata Yudha dan membuat mata Felly melotot karena Krishna juga mendengarnya.
Saat Via menuju ke Airport, Felly mengajak Krishna untuk menikmati segelas hangat coklat dan mengutarakan perasaan nya.
Disaat itu juga Krishna memintanya untuk menunggu karena Krishna menyukai seorang perempuan, namun tidak Krishna infokan siapa. Krishna hanya meminta waktu untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Namun apa dikata…
“Itu kan cerita lalu, tolong jangan di bahas.”Kata Felly mulai bete akibat Yudha terlalu jujur dan Krishna mulai curiga dengan kedatangan Yudha ke Swiss.
“Dalam rangka apa kamu kesini?” Tanya Krishna ke Yudha saat Yudha sendiri di bangku dan memesan makanan karena selama 17 jam perjalanan perutnya mengalami masalah.
“Liburan sama temen lama. Lagi pula tenang boy, Felly dan gue sudah tidak ada hubungan apapun.” Kata Yudha memberikan penjelasan ke Krishna.
“Oh, bagus lah.” Kata Krishna yang sekaligus meninggalkan Yudha dengan makanan nya dan keluar mencari udara. Semakin lama di dalam hotel semakin sesak bahwa Via semakin jauh di rengkuh dan di jamah.
__ADS_1
Felly terlihat gelisah dengan apa yang terjadi saat ini, membuat Via bingung dengan sikap Felly yang akhirnya menanyakan keadaan nya.
“Fell, ada apa?” Kata Via sambil menatap muka Felly dengan serius.
“Elu sama Yudha pacaran?” Tanya Felly dengan serius, Via tidak pernah melihat muka Felly se serius ini.
“Nggak, kami hanya temen saja.” Kata Via menjelaskan dengan muka serius juga.
“Well, tadi aku mengutarakan perasaan ku ke Krishna dan Krishna pun masih ada masalah dengan perempuan yang dia suka. Kalau mulut embernya Yudha begini, bisa – bisa Krishna menjauh.” Curhat Felly dan dengan hati yang sedih mendalam Via harus melepaskan Krishna yang membuat nya nyaman.
“Kalau Krishna sayang sama kamu, apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan mu demi hal yang simple begini.”Kata Via dengan serius dan tidak lama Via keluar kamar serta berjalan keluar mencari udara segar.
Keluar dari kamar dan hotel dengan berjalan di sekitar hotel, membuat hati Via sedikit membaik dan tidak penuh sesak. Tanpa disangka Via bertemu Krishna yang sedang asik menyeruput minuman dan makan – makan yang manis. Via menatap dan menghampiri nya dengan muka memaksakan senyum yang mengembang luas. Se luas hatinya merelakan kepergian Krishna yang akan memilih felly, dan…
“Hai Krish, sendirian aja?” Sapa Via dengan basa basi yang bisa di tebak oleh Krishna.
“Duduklah, aku mau bicara sesuatu.”Kata Krishna yang mengubah mukanya menjadi serius sekali.
“Baiklah, ayo.” Jawab Via yang mengikuti serius nya Krishna.
“Aku suka dan sayang sama kamu, sepertinya kamu sudah punya pacar baru.” Kata Krishna yang mengutarakan perasaan hatinya.
“Aku juga suka sama kamu, sepertinya Felly lebih baik dari diriku.” Jawab Via dan Krishna langsung kaget mendengar jawaban Via.
“Aku dan Felly….” Kata Krishna yang mengantung dan langsung dipotong oleh Via,
“Aku dan Yudha juga sedang berusaha, kita emang lebih baik menjadi teman baik kan?” Kata Via memotong perkataan Krishna dan menahan air matanya jatuh.
“Iyah, kita akan berteman baik yah.” Jawab Yudha sekaligus menahan sesak di dada.
Via pun pamit dan kembali ke hotel dengan derai air mata membuat Yudha kaget saat menemuinya di Lobby hotel. Yudha pun langsung memeluknya dan Via pun bales memeluk Yudha dan mendengar dadanya berdetak lebih cepat. Apakah ini yang di sebut Cinta akan timbul dengan sendirinya sejalan dengan kehidupan?
Sekembalinya Krishna ke Hotel, tanpa sengaja berpapasan dengan Yudha yang masih memeluk Via dengan erat. Krishna melihatnya seperti ditikam oleh ribuan pisau yang menusuk hatinya saat ini, penutupan 2009 menjadi pengalaman yang tidak terlupakan oleh Krishna. Sekaligus sebagai awalan untuk minta pindah tugas ke daerah lain.
Malam semakin larut, Via, Felly, Krishna dan Rusel mencoba mencari restaurant yang terdekat untuk memenuhi perut yang sudah keroncongan. Dan tampak samar – samar Via melihat Yudha keluar dari lift menghampiri Via dengan baju ala rapper.
“Kita dinner dimana?” Tanya Yudha tanpa masa basi lagi dan membuat yang lain kurang nyaman akan sikap Yudha.
“Kita dinner di fast food ajah.” Kata Felly dan Yudha tanpa perlawanan mengkuti suara terbanyak.
Krishna terus memperhatikan Via dan Yudha, Rusel yang menyadari tingkah aneh Krishna hanya tersenyum kecut.
“Sebagaimana elu menyukai Via, Via adalah gunung es yang susah dikalahkan.” Kata Rusel yang pernah Via tolak.
Ke esokan harinya Rusel berpamitan karena akan melanjutkan perjalanan ke Zurich dan Lucerne. Kampung halaman ibunya Rusel, yes. Rusel yang ayah nya berkebangsaan Hongkong dan Ibunya berkebangsaan Swiss. Sehingga Rusel lebih lama tinggal di Swiss daripada Krishna dan Felly apalagi Via. Felly dan Krishna berpamitan untuk pulang ke Geneva terlebih dahulu, sementara Via dan Yudha pun melanjutkan ke Paris menemui Widia.
*Please comment and like yah, cerita semakin pelik saja ini.*
Next:
Widia kaget melihat Yudha bersama dengan Via di bandara, dan setelah berkunjung ke Paris. Via mendapat tugas ke New York. Gerry menyembunyikan keberadaan nya dari Via di New York namun tidak bisa bersembunyi dari Nori. Kira – kira bagaimana Gerry bisa melepaskan masa lalu yang buruk?
__ADS_1