Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Love Language


__ADS_3


Setelah konsultasi pernikahan dengan Prof. Daniel Denham, Erick semakin mengerti dengan bahasa cinta Via yang mengutamakan quality time dan kebahagiaan nya adalah ketika menghabiskan waktu liburan. Sementara Via mengerti kalau Erick mempunyai bahasa cinta yaitu pujian dan kebahagiaan nya adalah dengan pergi offroad bersama dengan temen - temen nya.


Banyak orang menanyakan kenapa Via dan Erick pergi ke konselor pernikahan. Apakah mereka akan bercerai, atau emang pernikahan mereka tidak sehat. Mulut - mulut orang ternyata membuat Erick gerah di social media. Setelah 3 bulan terapi di Prof. Daniel Denham dan Phoebe akhirnya Erick dan Via memutuskan untuk Live bareng karena sudah bisa mengimbangi antara Erick dan Si kembar.


"Haloooo semua, wah akhirnya bisa live juga. Selamat datang temen - temen online." Sapa Erick yang membuka percakapan di live.


"Wah ada pertanyaan nih, mengenai kenapa saya dengan Erick ke konselor pernikahan." Baca Via di kolom komen live.


Lebih dari 1 jam setengah akhirnya sesi tanya jawab mereka. Dimana mereka menjelaskan bahwa ke konselor pernikahan bukan sesuatu hal yang menakutkan dan bukan orang sakit jiwa. Melainkan sebagai benteng pertahanan keutuhan rumah tangga.


"Jadi sekarang saya dan Via mengerti bahasa cinta kita, jadi sekarang bisa lebih harmonis. Kenapa memilih konselor pernikahan? Tolong Via dijawab." Pinta Erick sambil menggoda Via.


"Karena kita ingin menyelesaikan masalah clear tanpa ada pemihak dimana- mana. Bersyukur konselor kami sangat bagus banget." Kata Via menjelaskan.


Penjelasan tersebut mengakhiri sesi tanya jawab Via dan Erick. Hari - hari Erick dan Via di lalui dengan penuh ke konyolan genk bapack - bapack yang meminta ijin untuk Winter Offroad Touring.


Kepala para istri - istri pun hanya bisa geleng - geleng.


......................


"Jadi aku boleh kan beli Jeep Wrangler yang limited edition itu, cinta?" Rayu Gerry ke Claudia yang membuat Claudia sedikit menghela nafas panjang.


"Aku kan bukan bilang tidak boleh, tapi kita tunda dulu. Karena kita ada keperluan yang lain loh cinta." Jawab Claudia berusaha menekan nada bicara nya.


Gerry pun mengikuti perkataan Claudia karena setelah dihitung - hitung ternyata biaya pindah rumah lebih besar. Dimana Cia tumbuh semakin besar dan butuh ruang lebih besar. Sama hal dengan Jerias juga mengurungkan niat mereka membeli tunggangan monster tersebut.


Sementara Erick membungkus monster nya dari Indonesia menuju London. Mata bapack - bapack ini mulai nanar karena monster tersebut akan tiba sebentar lagi.


"Via udah ngijinin?" Tanya Gerry ke Erick saat melihat email monster nya Erick akan tiba.


"Ijinin dong, kan gue ngga beli baru loh." Jawab Erick dan bikin muka 3 bapack - bapack tersenyum getir.


"Ahk sexy lady bakalan ikut loh bro." Ledek Dickson ke Erick sontak membuat Gerry dan Jerias tersenyum.

__ADS_1


"Tenang, sexy lady mah udah biasa. Belum tau drama queen ngamuk?" Bales Erick tenang karena Erick tau Via jarang cemburu sama yang seperti itu.


Pembelian list - list offroad sudah dilakukan bersama dengan genk bapack - bapack. Dickson juga menyiapkan bahan - bahan makanan. Erick tidak sabar menyiapkan offroad di jalanan bersalju. Adrenaline pun semakin tertantang dan meninggi.


Setelah 2 minggu menunggu akhirnya si monster tiba di London, Erick pun memasangkan plat nomor London. Sebelum berangkat Erick dan Via bersama si kembar berdoa bersama agar Erick selamat dan di berkahi oleh semesta.


Perjalanan ke German melalui darat sangat menyenangkan. Jerias, Gerry dan Dickson menikmati perjalanan yang mulai ada salju sedikit - sedikit. Perjalanan menuju Brussel, Belgium memakan waktu 3,5 jam disuguhi pemandangan seru.



Bagaimana tidak adrenaline mulai menggeliat ditanah yang sudah mulai banyak salju. Group offroader berhenti dulu selama 1 hari karena ada badai salju. Di dalam group yang berisi 7 orang dari berbagai negara yang bergabung.


"Rick, gimana rasa nya menjadi ayah dari anak kembar?" Tanya pria brewok gagah dari Scotland.


"Rasanya tuh kayak odading mang oleh." Jawab Erick sebisa mungkin diplomatis.


"Apa tuh odading mang oleh?" Tanya serempak orang-orang di group.


"Manyeeep banget, mana anak gue mulai MPASI. Yah, Tuhan. Rumah kayak kapal pecah deh..." Curhat Erick yang mulai menceritakan kisah nya.


"Emang kenapa gak mau punya anak?" Tanya Erick penasaran sama temen nya berasal dari Leicester City ini.


"Selain membayar pajak besar, punya anak itu dituntut responsible hidup mereka." Kata Timothy yang menjelaskan kenapa dia memilih tidak mau ada anak sama sekali.


"Berasa ada yang kurang gak?" Tanya Jerias yang ikutan penasaran.


"Tidak, malah seru banget. Kita jadi punya ruang mengembangkan diri kita." Jawab Timothy lagi.


Erick pun memikirkan apa yang dikatakan Timothy saat berdiskusi mengenai anak. Bahwa karakter anak itu tanggung jawab orang tua, karena mereka akan mencontoh kedua orang tuanya. Ketika Erick mulai membicarakan bahwa akan mendukung 100% keputusan anak nya, Timothy menanyakan apaka rela dengan itu.


"Elu yakin rick? Ketika nanti anak elu menemukan jalan dimana dia pindah agama? Atau bilang Pah, aku LGBT? Apakah kamu bisa menerima mereka?" Perkataan terakhir Timothy yang berat membuat Erick memikirkan di kamar.


Karena hal tersebut akhirnya Erick menelpon Via dengan Video Call. Rasa kangen ke si kembar membuat Erick merindu setengah mati. Padahal baru jalan 1 harian.


...----------------...

__ADS_1


Badai salju ternyata terus berlanjut dan ketua group memutuskan masih tinggal 1 hari lagi di Brussel. Karena alasan keamanan pengendara juga, akhirnya mereka melakukan hal - hal konyol khas bapack - bapack yang membuat keakraban semakin melekat.


"Besok pagi kita bisa jalan lagi, jadi persiapan jangan lupa." Kata Ketua group saat selesai makan malam.


"Ger, ini apaan sih?" Tanya salah satu anggota lain nya. Melihat Gerry memakai koyo dan minyak angin.


"Geli, astaga dragon Gerry! Malu - maluin amat sih pake minyak angin." Teriak Erick melihat Gerry memakai minyak angin cap macan khas engko - engko glodok.


"Bentar...." Kata Gerry dan suara bunyi angin disertai bau busuk khas sampah.


Tak pelak membuat semua yang mencium langsung memuntahkan isi perut. Jerias langsung mengambil masker.


"Jadi ini senjata pembunuh yang bikin Via masuk rumah sakit?" Teriak Jerias gantian. Gerry hanya tersenyum penuh kemenangan.


"Yoi, dia ajah yang lebay dulu." Kata Gerry saat bersandar di kursi.


"Woy laaah ini orang. Bau banget sih? Kayak nya gue ngerti kenapa bapak gue juga memakai kek gini." Oceh Dickson saat melihat Gerry yang tidak berdosa mengeluarkan gas beracun nya dan tidur seperti bayi.


Malam semakin larut dan akhirnya team offroad kembali bersiap buat besok pagi. Saat keluar hotel anggota offroad sedikit terkaget dengan ketebalan salju yang ada di jalanan.



Tidak menyurutkan keingininan para offroad untuk menaklukkan salju saat ini. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Amsterdam yang mestinya di tempuh 5 jam namun karena salju yang tebal menjadi 12jam. Keseruan ini tidak bisa di bayar oleh uang. Selalu ada - ada saja kelakuan bapak - bapak yang membuat perut menggelitik.


°


°


°


°


°


Terima kasih buat semua yang menungggu cerita novel ini. Tunggu ke kesalan dan kelucuan geng bapak - bapak ini yah. Sampai jumpa lagi di next story ini!

__ADS_1


__ADS_2