
Setelah berita menyebar Yudha berdiam diri di Rumah nya. Hingga keadaan kondusif dan layak untuk di katakan keluar.
Via yang mencoba menghibungi Yudha dan tidak di jawab oleh Yudha. Setelah mendapat alamat Rumah Yudha dengan ditemani supir sewaan Via menuju Bogor.
"Mba, ini alamat nya. Kita sudah sampai Mba." Kata supir tersebut setelah 2 jam perjalanan dari Kost an menuju Villa Duta Permai rumah Yudha.
Sesampainya Via di depan rumah Yudha, dihadapan nya ada gerbang tinggi. Sesuai petunjuk tulisan yang ada di depan rumah. Via me mencet bell untuk minta di buka kan pintu.
"Siapa?" Suara perempuan setengah cempreng dan berlogat sunda.
"Saya teman nya Ardrian Yudha. Apakah Yudha nya ada?" Jawab Via yang sedikit ceria.
"Oh, sebentar." Balas perempuan itu dan membuka pintu gerbang.
Pintu gerbang di buka lalu harus berjalan lumayan agak jauh menuju pintu rumah.
Gooookkk Goookkkk Grrrrrrr
2 Anjing Rottweiler menyerang Via namun di tahan oleh pelatihnya.
"Eh.. Matiiii lu goblok!" Teriak Via dan berlari memeluk perempuan yang membuka pintu gerbang.
"Lewat sini bu" Kata Perempuan dan membuka pintu rumah dan disambut perempuan cantik namun setengah baya sepertinya. Tapi tidak terlihat keriputan yang ada di wajah nya.
"Terima kasih Teh Ina." Kata perempuan yang setengah baya menyebut namanya teh Ina.
"Sama-sama Bu." Balas Teh Ina dengan mundur dan jalan ke arah pintu samping rumah.
"Halo, perkenalkan nama saya Irene Wijayanti Yudha. Kamu mencari siapa?." Kata perempuan yang setengah baya memperkenalkan dirinya dan bertanya maksud kedatangan Via.
"Nama saya Novia Heidy, teman nya Ardrian Yudha." Jawab Via dan perempuan setengah baya tersebut langsung tersenyum lebar.
"Rian ada di kamar lagi nggak enak badan. Biar tante panggilin." Kata perempuan setengah baya dan ternyata ibunda Yudha.
Setelah menunggu 5 menit. Akhirnya Yudha keluar dan menemui Via. Walau dalam hatinya tidak ingin menemui Via, karena masih emosi yang dibakar cemburu ketika melihat Via pulang bersama Willy.
"Rian, tuh Novia dah nunggu. Mama ke dapur dulu masakin makan malam. Via makan sama kita yah?" Kata Mama nya Yudha dan dengan senyuman meninggalkan Via dan Yudha yang duduk di ruang tamu.
"Kamu gimana keadaan nya?" Tanya Via yang memandang muka Yudha yang masih pucat.
"Baik, kamu? Sama siapa kesini?" Bales Yudha yang menyiapkan hati jika jawaban Via itu Willy.
__ADS_1
"Sama supir sewaan, tadi nggak ada yang mau nganter Via. Via gak tahu naik apa." Jawab Via dengan sedikit memelas.
"Suruh supirnya pulang, nanti biar aku yang anter pulang kamu ke Jakarta" Kata Yudha yang mendapat angin segar mendengar Via rela dateng ke Bogor demi dirinya.
"Aku kedepan dulu kalau gitu, bayar dan kasih tau dia dulu." Jawab Via yang mengeluarkan dompet nya dan berjalan ke arah pintu rumah.
"Nggak usah, biar mang ujang yang beresin." Kata Yudha memberhentikan langkah Via yang sudah hampir dekat dengan pintu rumah Yudha.
Hari semakin malam, Via dan Yudha masih bercerita bahkan tidak luput mamanya Yudha ikut nimbrung pembicaraan mereka berdua.
"Jadi Via ini pacar barunya Rian?" Tiba - tiba mamanya Yudha menembak Via dengan kata - kata yang membuat Via sejenak terdiam.
"Bukan tante, saya temen saja. Dan tukang masak ajah." Bales Via dengan diplomatis dan dan tegas.
Yudha mendengar itu langsung terdiam dan berasa runtuh dunia nya. Yudha pun membenarkan kata - kata Via mengenai status hubungan mereka berdua.
"Vi, ujan deras loh di luar. Nginep ajah yah, tuh ada kamar tamu. Nanti Aku bawain baju ku biar kamu nyaman." Kata Yudha memberitahu Via yang sedang asik ngobrol sama mamanya Yudha.
"Iyah Via. Hujan nya deras banget loh. Kalau pulang sekarang bahaya." Kata Mama nya Yudha memohon Via untuk tinggal hingga besok pagi.
"Baik tan, maaf yah Via merepotkan kalian semua." Kata Via yang sedikit khawatir dengan Gerry dan Widia. Mereka berdua nggak tahu kalau Via sedang di rumah Yudha.
"Kenapa bingung Vi? Tanya Yudha yang heran melihat Via mencari - cari sesuatu di dalam Tas nya.
" Via nyari charger, Via belum bilang sama Gerry dan Widia. Takut mereka bingung malah lapor polisi." Kata Via yang masih sibuk dengan mencari charger telephone selulernya.
Dengan sigap Yudha memberikan telephone selulernya dan langsung terdengar suara Widia yang Via hafal banget.
"Wid, Via ngga bisa pulang dari rumah Yudha. Ujan nya deres banget." Kata Via yang cerewet jika bersama Widia dan Gerry.
"ELU SAMA SIAPA KE BOGOR PIDUTH! TERUS NAIK APA?" Teriak Widia kaget mendengar Via ada di Bogor.
"Via tadi Sewa mobil + supir bebih. Tenang Via aman kok." Jawab Via enteng dan sambil senyum -senyum.
"Yudha mana?" Kata Widia memberikan perintah dan Via langsung memberikan telephone selulernya.
"Tenang Wid, besok gue bawa Via ke Kostan dalam keadaan utuh." Kata Yudha mencoba menenangkan Widia.
Jelas ajah Widia panik, Via kan takut sama bunyi petir dan air hujan. Entah mengapa phobia Via akan petir dan air hujan beserta ruangan kecil atau bawah tanah membuat Widia ketakutan.
"Besok, gue bawa Wid. Sekarang Via aman sama gue dan nyokap." Kata Yudha yang sekali lagi meyakinkan Widia besok Via akan pulang ke Jakarta.
__ADS_1
Setelah perbincangan 20 menit denga Widia akhirnya Yudha memberika chargernya untuk Via mengisi baterainya. Via pun dengan cepat mengisi baterainya dan saat melihat Via duduk di kursi tamu didalam kamar tamu.
Yudha langsung ikut nimbrung melihat kearah jendela.
"Vi, kalau aku beneran suka sama kamu bagaimana? Masa jalanin hubungan kita sampai mana?" Tanya Yudha yang tiba - tiba berubah serious.
"Karena itu aku kesini Yudh. Aku merasa nggak akan adil jika 1 perahu 2 nahkoda nya." Kata Via yang memandang kearah luar.
"Vi, dengar yah. Aku tuh ngga pernah main - main sama cinta ku. Jangan coba - coba kamu pergi." Kata Yudha yang membelokan wajah nya dan menatap Via.
"Yudh, aku bilang ini nggak akan adil jika 1 perahu ada 2 nahkoda." Kata Via yang memandang serious muka Yudha.
"Maksud kamu?" Tanya Yudha mencoba untuk pura - pura lupa.
"Aku masih sayang sama Willy dan Via nggak mau mempermainkan kamu untuk melampiaskan apalagi menjadi ban serep Willy." Kata Via yang menghujam jantung Yudha membuat air mata Yudha menetes tanpa sebab.
Via pun terdiam dan tertunduk dengan muka memerah. Dan air mata pun ikut menetes juga karena Via merasa tidak sanggup juga melepas Yudha yang sudah begitu baik padanya.
"Apakah kebohongan Willy bisa dimaafkan? Apakah dia berjanji untuk tidak berbohong lagi? Tanya Yudha yang mencoba tegar.
" Aku tidak balik ke Willy, aku pun tidak tahu apakah dia masih berbohong atau tidak." Jawab Via dan memegang tangan Yudha.
"Kebohongan itu penyakit Vi, dia akan berdusta dan menutupi kebohongan lain nya." Kata Yudha dan meninggalkan Via di kamar tamu.
Via pun menutup mulutnya dengan bantal, dan menangis sesegukan. Sementara di balik pintu Yudha menahan tangis nya namun air matanya sudah mengalir deras.
°
°
°
°
°
"Ketika kamu tahu kalau kuku mu menyakiti mu, maka potonglah kuku mu bukan tangan mu. Begitu pula jika cinta mu membuat orang lain tersakiti, maka potong lah perasaan mu bukan memotong silahturahmi pertemanan mu." - Novia Heidy-
15 Agustus 2010.
Di Comment yah man teman sama di Like...
__ADS_1