Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Dilemma Kebenaran Atau Hanya Kebohongan Yang Manis


__ADS_3

Seminggu setelah mengantar William kepulangan nya ke Indonesia, Via melanjutkan kegiatan nya sebagai mahasiswa. Kegiatan nya sangat banyak termasuk dalam penelitian study banding kasus hukum di Eropa. Perbedaan zona waktu membuat Via dan William jarang berkomunikasi lancar.


"Hai Will, gimana persiapan sidang mu?" Tanya Via saat diwaktu senggang.


"Lumayan sibuk, kamu?" Jawab William sangat antusias mendengar di Skype saat Via berkomunikasi dengan William.


"Banget ini capek nya tapi seru sih. You know, aku sekarang ikutan projectnya UN loh."Cerita Via dengan penuh semangat membuat William sedikit was - was karena Via akan semakin lebih sulit di hubungi.


"Good dong, aku senang kamu sudah bisa mengimbangi dengan yang ada." Jawab William yang mulai bimbang dengan hatinya.


*UN : United Nations, adalah nama lain dari PBB (Perserikatan Bangsa - Bangsa). Yang pada saat itu Sekretaris Jendralnya bernama Ban Ki-Moon dari Korea Selatan menggantikan Kofi Annan yang sebelum nya berasal dari Ghana.


Selesainya Via ngobrol dengan William, Via mulai mengecek media internet. Via membuka Friendship.com dimana semua teman - teman membagikan foto ketika jalan - jalan.


"Haiiii Amsterdam, apa kabar?" Tanya Via saat membuka chat dari friendship.com


"Baik dong, hi Lyon city." Jawab Gerry.


"Gimana Paris?" Sapa mereka berdua.


"Baiiiiiiiik" Ketik Widia yang semangat.


Mereka bertiga membagikan cerita sehingga mereka semua membuat bahan journal yang akan di periksa saat laporan akhir.


Waktu terus bergulir dengan cepat membuat Via tidak terasa hampir 3 bulan di, Lyon. Waktu kepulangan ke tanah air semakin dekat. Via pun bersiap membuat laporan kerja akhir di UN.


"Novia, ini judul mu lumayan berat loh." Kata Professor Bjorn yang memeriksa laporan kerja akhir Via.


"Iyah, tapi prof. Saya merasa ini yang dibutuhkan oleh dunia sekarang." Jawab Via memberikan keterangan kalau dia mantap dengan apa yang dia ambil.


"Apa kamu sudah melihat kajian ulang nya?"


Tanya Professor Bjorn


"Sudah, prof. Saya pun melampirkan nya." Jawab Via. Kecemasan mulai terjadi jika laporan kerja akhir di tolak, sia - sia lah Via internship di UN selama 3 bulan ditambah harus exchange student juga.


Via melihat muka Professor Bjorn sudah tidak nyaman. Namun, akhirnya bisa tersenyum lebar ketika dia melihat tanda tangan ada di lembar pengesahan. Yah! Menandakan dia selesai juga akhir nya. Juga menjadi awal untuk kedepan nya karirkarir seorang Novia Heidy di kancah perpolitikan dunia.


"Saya tunggu kamu lulus dan bekerja disini yah, Novia." Ucap Professor Bjorn sambil berjabat tangan dengan Via. Mendengar akan hal itu dan melihat 2 lembar kertas yang ditunjukan khusus untuk dirinya. Beda dari lembar pengesahan Laporan kerja akhir membuat Via ingin berteriak sekencang - kencang nya.

__ADS_1


Tentu saja siapa yang tidak ingin mendapat surat rekomendasi dari UN? Dan surat undangan kerja di UN. Ini benar - benar diluar dugaan yang membuat dada Via boleh sedikit membusung karena kerja kerasnya.


Hari yang di tunggu, Via harus delay keberangkatannya ke Paris. Dikarenakan Via harus mengurus surat - surat untuk ke Den Haag. Setelah delay 2 minggu Via akhirnya menjemput Widia.


Seorang Wanita dengan perkasa berdiri di pintu stasiun kereta. Tampang nya masih sangat sangar, namun di balik kesangaran nya dia wanita yang lembut dan penuh cinta.


"Bebiiiiih kwuuuuuhhhh." Teriakan khas Via yang sudah dihafal Widia.


"Piduuuuuuuth." Bales Widia yang senang sekali mengerjai teman nya ini.


"Ayo, kita ke Amsterdam. Nanti kita ramean ke Den Haag nya yah." Kata Via dan Widia cuma bisa tersenyum.


Melihat perubahan yang signifikan dari Via yang dahulu. Perjalanan Paris - Amsterdam terasa menyenangkan diantara salju yang mulai mencair menuju musim semi.


Via dan Widia tidak sabar menuju Amsterdam untuk melihat Bunga tulip bermekaran. Namun sebelum ke Amsterdam, Via dan Widia mampir ke Jerman untuk melihat - lihat.


"Beb, gimana hubungan kamu dengan Ucink?" Tanya Via mulai kepo dan penuh kerusuhan.


"Biasa sajah. Elu?" Jawab Widia dan mulai kepo juga sama berita William.


"Itu yang akan Via share. Kok aneh ajah sekarang Via ama Willi." Cerita Via dan mata nya menuju semua arah.


"Aneh nya kenapa?" Tanya Widia lalu dia memegang gelas Beer dan sepotong sandwich.


"Huft, hampir mau copot ini jantung. Akibat Via bilang ada yang aneh dari si Willi." Bisik Widia didalam hati.


"Wid, kok diam?" Tanya Via yang mulai penasaran kenapa Widia hanya tersenyum keanehan.


Perjalanan pun tidak terasa kalau harus menuju hotel budget. Via dan Widia mencari hotel budget yang bisa di bagi 2 cost traveling nya.


"Eeeeeh lama amat sih di Jerman nya." Tanya Orang yang diseberang sana. Dengan nada jutek tingkat tinggi orang itu membahas kalau dia sedang kesepian.


"Sabar Gerong! Ini juga di jemput sama kita. Bawel beud dah, elu!" Bales Widia kesel saat di Telphone seluler.


"Hahaha, kangen banget nggak sama kita?" Tanya Via tiba - tiba diujung telephone.


"Kangen dong Piduth. Apa lagi?" Kata Gerry yang mulai emosi dikerjai sama mereka berdua.


Selama perjalanan dari German ke Amsterdam. Via duduk manis di kaca kereta dan memandangi Putih nya salju yang mulai mencair. Menggantikan dingin nya Amsterdam dengan hangat nya matahari.

__ADS_1


Sementara Widia tertidur pulas selama perjalanan tersebut. Kepulangan ke Indonesia membuat Via bersemangat karena akan ketemu keluarga dan kekasih nya.


Di terminal central Amsterdam, Gerry mulai sibuk menanti di gerbang kedatangan. Serta bersiap menuju Den Haag untuk pengesaha advocate.


"Piaaaaa, bebiiiiiihhh" Teriak Gerry yang membuat orang di sekeliling pada melihat.


"Geroooooong" Teriak Widia yang tidak mau kalah dengan Gerry.


"Ayaaaaaangggg." Teriak Via membuat Gerry tersenyum lebar.


Gerry merindukan cewek yang punya senyum manis dan lesung pipinya. Hatinya mulai bergejolak saat Via menghampirinya dan memeluknya dengan erat.


Terasa rindu yang berat dan mendalam. Tidak lama Widia pun memeluk Gerry dan meneteskan air mata. Karena kangen berantem mulut sama Gerry.


"Ayoo, kita kudu kejar kereta ke Den Haag. Dan kudu ke airport juga kan?" Perintah Gerry.


"Jadi kita nggak nginep di Rotterdam?" Bujuk Via.


"Enggaaak, elu nggak tau kita layover dimana?" Tanya Gerry lagi.


"Dimana?" Tanya Via polos dan membuat Gerry emosi jiwa ragaa.


"Di Singapore oncom!" Oceh Gerry yang mulai tidak sabar dengan Via.


Setelah sampai di Den Haag Via langsung menuju kantor Advocate Legalisation. Tidak membutuhkan waktu lama mereka ber 3 langsung menuju Bandara Schipol - Belanda untuk kembali ke Indonesia.


Tangan Via tiba - tiba menjadi kepo setelah melihat kejanggalan William. Terlebih lagi Via melihat posting an teman William yang memposting hasil ujian skripsi William yang mendapat nilai A+.


Caption yang di tulis membuat Via menjadi kepo. Siapa William ini, kenapa mereka menulis penerus group Putraland. Via pun mulai curiga dengan apa yang terjadi selama ini. Dan merunutkan kejadian demi kejadian yang sudah terjadi.


"Hai, Will. Congratulations yah! Hebat lulusan Summa Cumlaude." Kata seseorang yang tiba- tiba menyelamati dia.


"Thanks, Bro!" Jawab William


"Congratulations Williii bini biti." Ucap cewek yang berada di depan muka William.


"Thank you, Bella!" Jawab William dengan datar.


"Kenapa Will? Cewek elu kan lagi di Eropa. Udah lah kita senang-senang." Kata cowok yang memberikan ucapan selamat.

__ADS_1


"Bentar lagi dia pulang kok." Bela William dan akhir nya mereka pergi ke restaurant untuk merayakan keberhasilan William.


Sesampainya Via di Bandara International Soekarno Hatta. Via di sambut sama macetnya Jakarta di malam hari.


__ADS_2