
Di balik pintu kamar tamu Yudha hanya bisa menangis dengan mengalir deras air mata. Karena baru kali ini Yudha jatuh cinta begitu dalam nya. Dahulu begitu banyak wanita yang rela mengantri untuk menjadi pacar Yudha. Namun ketika sosok seorang Novia Heidy datang di kehidupan Yudha, membuat Yudha berubah 180° derajat.
Via pun tidak menampik kalau dirinya juga sudah mulai menyukai Yudha yang membuat nya kembali ceria dengan cara nya Yudha memperlakukan Via. Namun di sisi lain Via menjadi bimbang jika Willy menghubungi nya. Tidak akan adil rasanya jika tetap bersama Yudha sementara Via masih ada rasa dengan Willy.
Pagi akhirnya datang juga, Via pun bersiap untuk keluar kamar. Seketika melihat Mama Yudha sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. Via melihat 1 bekas piring makan yang sudah ditinggal pemilik nya.
"Morning Via. Gimana tidur mu?" Sapa tante Irene. Yang memanggang telur dan sosis,
"Enak tante. Via bantuin boleh tante?" Jawab Via yang berada di sebelah Tante Irene.
"Nanti Rian anter kamu pulang, tapi siang yah. Soalnya dia belum bangun, kebiasaan dia." Kata Tante Irene yang memberikan info mengenai Yudha.
"Tenang ajah Tan, kan Rian juga masih gak enak badan. Via bisa kok pulang sendiri." Balas Via yang memotong bahan - bahan nasi goreng.
Tante Irene hanya tersenyum dan melanjutkan membuat salad buah dan mengejus beberapa campuran buah.
"Tante, ini mau dimasak nasi goreng apa yang lain?" Tanya Via saat selesai memotong bahan - bahan tersebut.
"Hmm, Nasi goreng Via. Masaknya tambahin telur mata sapi yah, buat Rian. Tante jangan pakai daging." Kata Tante Irene yang iseng mengetest Via yang katanya masakan nya enak.
20 menit Via masak, lalu dengan cekatan membersihkan peralatan yang dipakai. Tante Irene yang melihat nya sungguh takjub karena Via sangat teliti. Yudha pun sudah bangun dan turun dengan kacamata hitam. Karena tidak mau memperlihatkan wajah nya yang sembab.
"Waaaah, wangi banget mama masak?" Teriak Yudha yang sambil mencium bau harum masakan. Sementara tante Irene sudah menyendok nasi goreng buatan Via untuk test rasa.
"Luaaaar biasa enaaaakkk!" Puji tante Irene yang sambil mengunyah nasi goreng buatan Via.
"Jadi bukan mama yang masak? Waduh tamu disuruh masak?" Tanya Yudha sambil meledek mamanya yang menikmati masakan Via.
"Yuk makan, nggak enak kalau dingin." Ajak Via ke Yudha.
Selesai makan pagi Via kembali ke kamar tamu untuk mengambil tasnya dan mengembalikan baju Yudha. Setelah bersiap Via mengikuti Yudha ke arah mobil BMW nya yang biasa dipakai Yudha.
"Yudh, mobil sudah di benerin?" Tanya Via yang melihat mobil Yudha yang nyemplung di Bunderan HI.
"Mau di jual dan ganti yang lain" Jawab Yudha sekenanya.
Via pun masuk ke dalam mobil Yudha, dan balik ke arah jalanan. Semua kenangan mengenai Yudha kembali melekat, bagaimana Via begitu takut bersama Yudha, hingga akhirnya nyaman bersamanya.
Drrrrrrrrrrrrttttttttt Telephone seluler Via berdering. Via melihat nama penelepon yang ada di layar. Via menunggu berhenti dan mematikan telephone nya. Yudha melihat Via mematikan telephone seluler nya merasa heran.
"Kenapa di matikan?" Tanya Yudha tiba - tiba ketika masuk tol Bogor - Jakarta.
"Oh, Willy yang telephone. Nanti ajah kalau sudah di Kost an Via jawab." Balas Via yang setengah hati ketika ditanya Yudha mengenai Willy.
"Kamu lagi mikir apa?" Tanya Yudha lagi dengan keinginan tahu yang menggelitik di hatinya.
__ADS_1
"Memikirkan takdir yang begitu aneh." Jawab Via yang masih melihat kearah jalanan.
"Kamu ngga minta aku turunin di dalam tol kan?" Ledek Yudha mengingat kejadian itu.
"Nggak, bagaimana aku bisa lupa." Jawab Vis sambil tersenyum.
2 jam membahas flash back memory, seakan tidak ada habisnya. Yudha pun merasa senang Via sudah bisa tersenyum bukan ada rasa membenci.
"Vi, jangan buat aku makin jatuh cinta sama kamu. Padahal kamu tahu kalau kamu bukan untuk ku." Kata Yudha sambil memegang tangan Via ketika sedang berada di rest area untuk istirahat sebentar.
Via pun terdiam dan menahan air mata yang akan turun.
"Vi, bahagia kan dirimu bersama Willy. Kalau kamu tidak mau aku terluka. Aku rela!" Sambung Yudha dan air mata Via pun merembes keluar tanpa tau harus bermuara dimana.
"Yudh, maafin Via. Sudah terlalu dalam dan jauh membuat Yudha berharap." Kata Via yang sesegukan.
"Maafin Via, yang tidak sanggup memperjuangkan Yudha. Walau Via tahu, kisah kita harus berhenti disini. Maaf in Via." Lanjut Via yang sudah menangis bak air hujan yang turun deras.
Yudha pun dibalik kacamata hitam menahan air mata yang sudah ada di ujung mata. Yudha pun tidak memaksa Via untuk kembali ke awal. Setelah 1 jam perjalanan dari rest area menuju Kost an White House.
Setelah membawa Via pulang, Yudha memberikan senyum paling lebar seakan tegar kepada Via. Ketika Via turun dari mobil Yudha. Via pun memaksakan untuk tersenyum kepada Yudha.
Via langsung masuk ke Kost an dan mulai meneteskan air mata. Sementara Gerry dan Widia masih dipekerjaan masing - masing. Willy yang khawatir Via ada dimana, akhirnya langsung menuju Kost an nya Via.
Setengah hari menunggu Via, sementara telephone seluler nya tidak bisa dihubungi. Gerry dan Widia pun gelisah ketika Via tidak bisa dihubungi.
"Tadi sih Yudha bilang udah dikost an. Nah coba ajah check." Jawab Widia mengambil Kunci kamar Kost an.
Dannnnn.....
"Aaaaaaaaarrrrkkk" Jerit Widia yang kaget Via tidur tanpa bergerak sedikit pun.
"Viaaaaa" Teriak Gerry juga panik dan Via terbangun memberikan senyuman khas nya dengan muka bengep.
Widia dan Gerry heran dan mulai kepo...
"Elu diapain sama si Yudha?" Jerit Gerry mulai emotional.
"Diapain Novia Heidy!" Jerit Widia juga melihat muka Via bengkak begkak.
"Atau elu makan seafood?" Cecar Gerry mulai panic melihat Via.
"Via baru jujur sama Yudha. Via nggak mau melukai dia lebih dalam. Ternyata sakitnya lebih tajam dari Via nolak Krishna." Kata Via mulai sesegukan. Gerry dan Widia pun memeluk Via yang masih sesegukan nangis.
"Udah ganti baju, abis itu kita makan mie abang adek, Via roti Bakar nya asep." Ajak Gerry menghetikan emotional moment. Biar tidak mengganggu yang lain nya.
__ADS_1
Willy yang masih di mobil, melihat Gerry turun langsung menghampiri.
"Ger, Via mana?" Tanya Willy dengan sedikit panik.
"Via diatas, elu selesain deh masalah elu. Biar Via bisa move on." Jawab Gerry tiba - tiba yang sangat ajaib.
"Okay!" Jawab Willy dan langsung naik keatas Kost an White house.
Willy melihat Via yang sudah siap pergi sama Widia. Widia yang melihat Willy meninggalkan Via, menginisiatif kan kalau mereka akan berbicara.
"Aku bisa ajak kamu makan?" Tanya Willy ke Via yang ada di depan mata dengan senyuman Via yang khas.
"Ayo, aku juga mau bicara sama kamu." Kata Via ke Willy yang akhirnya Via mengikuti Willy ke mobilnya.
Willy pun melajukan kendaraan nya ke arah Jakarta Utara dimana Via dan Willy suka makan disana. Via pun sepanjang jalan hanya terdiam.
"Vi, bisa kita kembali ke awal? Kita bisa memulai kembali hubungan kita." Kata Willy yang tanpa ragu mengatakan perasaan nya ke Via.
"Sengaja Via memberikan ruang buat Willy untuk memahami hubungan kita. Tak ingin Via mengulangi dengan cara yang sama untuk memahami Willy yang penuh dengan rahasia." Jawab Via memberikan pernyataan tegas sama Willy.
"Lalu menurut Via, Willy harus bagaimana? Agar Via bisa percaya dengan Willy lagi." Tanya Willy lagi yang ingin kembali bersama dengan Via.
"Berikan Via alasan untuk Via kembali ke Willy, setelah Via lelah berharap Willy berubah. Via pikir dengan cara kemarin dapat mendewasakan Via dan Willy." Jawab Via dengan tegas. Entah mengapa Via lebih sedikit lega mengeluarkan unek - unek nya. Apalagi berkaca hubungan mereka yang tidak pernah membaik.
Willy hanya terdiam tidak bisa menjawab apapun. Karena semua pertanyaan Via memutar kembali cerita dimana Willy membohongi Via, bahkan bersikap kasar kepadanya.
#throwback...
"Aku nyesal banget punya pacar kamu, kamu lebih memilih anak beasiswa itu ketimbang aku?" Teriak Willy membuat Via shock dan sedih. Ternyata dimata Willy, Via masih Orang lain dan tidak pernah dapat prioritas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Vi, jika kamu ingin aku yang pergi. Aku mengalah pergi. Semoga kamu semakin dewasa dalam mencari serpihan hatimu." Jawab Willy dan membuat Via terdiam, entah mengapa Via merasakan lega di dalam hati.
Kelegaan dimana Via mencari selama ini, ternyata arti kejujuran sama diri sendiri. Willy pun menghormati semua keputusan Via yang begitu tegas.
°
°
°
°
°
__ADS_1
Yuuuuk di komen dan like yah!
Next: Kira - Kira Via, Gerry, dan Widia menemukan True Love mereka? Bagaimana Gerry yang masih menyimpan rasa dengan Via. Bagaimana Widia melewati Gunung Himalaya?