
Via yang duduk di sebelah Gerry masih memandang keluar. Jalanan terasa lama banget bagi Gerry yang masih belum bisa menerima Widia dengan Jerias.
Sesampainya di Villa Duta, rumah Yudha. Langsung minta di antar ke salah satu coffee shop yang ada di dekat rumah Yudha. Alhasil Via dan Yudha duduk di Warung Solo.
"Jadi bagaimana?" Tanya Via yang membuka pembicaraan ke Gerry.
"Gue sudah bulat yak. Menurut gue itu si Jerias hanya main - main sama Widia. Lalu agama pun berbeda?" Jawab Gerry yang masih belum terima dengan keputusan Widia yang sepihak.
Jelas saja Gerry masih khawatir dengan pilihan Widia. Karena masih trauma dengan Romi yang didepan mata.
"Menurut Via kenapa nggak di coba dulu?" Kata Via sambil memandang senyum ke Gerry.
"Tetep, nggak bisa!"Gerry tetep ngotot dan Via cuma tersenyum.
" Bagaimana kita buat taruhan?" Ajak Gerry tiba - tiba dengan ide gila nya saat itu.
"Ayooo, via yakin kok bakalan menang!" Kata Via yang percaya diri.
"Kalau Jerias berulah, putus yah elu sama Yudha. Trus pacaran sama gue." Kata Gerry tanpa basa basi ke Via, dan dengan percaya dirinya Gerry.
"Bilang ajah Gerry suka sama Via. Jadi masalahnya bukan sama Jerias nya kan? Via sudah nunggu Gerry Jujur itu susah." Kata Via sambil menuju Toilet yang ada di belakang restaurant.
Gerry yang mendengar nya langsung terdiam kembali dan menunggu Via menjelaskan nya.
Setelah melihat Via kembali dari toilet Gerry dengan cepat menanyakan ulang maksud Via.
"Maksudnya?" Tanya Gerry ke Via yang sudah penasaran.
"Ger, peka makanya. Setelah Via putus dari Willy kenapa Gerry ngga maju? Hingga Via harus nyari orang lain?" Kata Via yang mulai membuka nya.
"Lah, kok peka sih?" Bales Gerry dengan muka tampak acuh.
"Ger, sebelum Via ke Geneva. Via kan sama Gerry. Berapa kali Gerry memberi kode ke Via dan Via pun membalas nya dengan lampu hijau. Bahkan malah nyuruh sama Krishna dan sekarang Yudha." Kata Via menjelaskan yang di maksud dan alhasil membuat Gerry menyesal banget dengan pilihan nya saat itu.
"Vii, kita tuh sahabatan..." Kata Gerry namun Via langsung dengan nada yang sedikit meninggi.
"Tapi kalau suka sama sahabatnya ngga dosa kan?" Jawab Via yang mulai naik darah dan mempertegas nada bicaranya.
"Kita disini bahas bebih yah! Bukan kehidupan kita, pribadi." Kata Gerry yang mulai terpancing sama emosi Via juga ikutan dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Via mau egois! Biar selesai semua, lagi pula Gerry mau sampai kapan menghindar?" Kata Via yang sudah memaksakan kehendaknya terhadap Gerry.
"Vi, ini gak lucu yah!" Kata Gerry mengulangi omongan nya dan di ikuti dengan meninggi nya suara Gerry.
"Apa? Mau kabur? Sama kan kita? Mau sampai kapan?" Kata Via sudah menangis dan setengah berteriak kepada Gerry.
"Pulang, sana ke Yudha." Bales Gerry dan menarik tangan Via. Memanggil taksi lalu ke rumah Yudha. Sepanjang jalan Gerry masih mengeras kan mukanya begitu juga Via.
Setelah sampai di rumah Yudha, Gerry langsung berkemas dan kembali ke Jakarta. Via pun masih gengsi melihat Gerry pergi begitu saja. Yudha yang sudah sampai di rumah makin merasa heran dengan Gerry dan Via. Mereka tampak seperti sedang perang hebat. Entah mengapa Via dan Gerry mempertahankan gengsi masing - masing.
Widia merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Widia berusaha menahan Gerry agar tidak pergi, dan memohon ke Gerry untuk menyelesaikan secara ke keluargaan.
"Gerr, Kita bisa ngomong baik- baik." Tahan Widia ke Gerry dengan muka memelas.
"Nanti kita bicara kalau kita ber 3 sudah kepala dingin." Kata Gerry langsung ke mobil nya.
Di dalam mobil Gerry merenungkan semua omongan Via dan Widia. Seakan film diputar kembali, bahkan Gerry sempat menyesal dengan membuat Widia sedih karena ke egoisan nya.
"Padahal, setidaknya masih bisa dibicarakan." Kata Gerry sambil mengutuki dirinya. Didalam mobil dan memacu mobil nya dengan cepat ke arah Jakarta.
Widia yang melihat Gerry pergi begitu saja membuat perasaan nya makin bersalah.
"Viii, ini bercanda kan?" Kata Widia menemui Via yang duduk dengan mata bengkak.
Yudha melihat itu langsung memeluk Via dan dengan kasar Via mendorong Yudha. Lalu ke kamar dan mengemasi pakaian nya.
"Novia Heidy! Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Widia yang semakin bingung karena banyak persepsi.
"Via mau balik ke Geneva!" Kata Via yang mencari ticket untuk pulang.
"Pulang sana! Emang pengecut kalian berdua. Punya masalah langsung kabur semua!" Teriak Widia yang akhirnya habis menahan emosi karena Via dan Gerry seperti itu.
"Elu pikir cuma elu doang yang menghadapi masalah? Emang semua juga punya masalah." Kata Widia tiba - tiba dan mengemasi barang nya juga.
Yudha melihat ini semakin bingung, namun tidak berani mengganggu. Karena Yudha hanyalah orang luar serta baru kali ini melihat Via, Widia dan Gerry bertengkar hebat.
Widia yang mendorong tas nya dan memasukan ke bagasi taksi. Lalu pergi tanpa pamit ke Yudha, sementara yudha masih bengong melihat apa yang terjadi.
"Aku mau pulang." Kata Via tiba - tiba di hadapan Yudha.
__ADS_1
"Ayook, kamu mau saya antar ke Bandara?" Kata Yudha tanpa ragu. Walau dalam hati ini berkecamuk hebat.
Tidak lama dari itu meledak lah tangisan Via dihadapan Yudha.
"Maafin Via yang sudah nyusahin." Kata Via ke Yudha dan mengelap air mata yang jatuh.
"Aku akan selalu disebelah mu, apapun yang terjadi." Balas Yudha yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
Setelah Yudha menenangkan Via sore itu, dan sekarang menunjukan jam makan malam. Makan malam pun terasa sepi, karena kemarin masih ada canda dan tawa. Via melihat piano Kawai - Upright C 60 akhirnya mencoba untuk mendekat.
"Setelah 6 tahun gak megang piano, ahk coba kalau thata. Pasti nggak berantem seperti ini!" Kata Via dalam pikiran nya dan memainkan Fur Elise serta Bach no 26. Yudha merekam permainan Via lewat telephone selulernya.
"Bagus, fasih banget main nya!" Kata Yudha dalam hati karena tidak mau menggu Via.
Setelah bermain Fur Elise dan Bach No 26, Via main lagu ciptaan Thata sebelum meninggal. Dimana nada nya menyiratkan ketenangan dan ke ikhlasan akan kepergian nya. Yudha bertanya - tanya judul lagu yang di mainkan oleh Via.
20 menit Via bermain tanpa stop, lalu dipuji oleh orang - orang yang mendengarkan. Yudha pun duduk disamping Via dengan menatap wajah Via yang masih penuh tanda tanya.
"Kamu jadi pulang ke Geneva?" Tanya Yudha dengan hati - hati.
"Nggak, Via besok ke Bandung saja. Ada yang mesti Via kerjain." Kata Via dengan senyum penuh keterpaksaan.
"Besok aku antar yah?" Kata Yudha yang akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Via.
Sehabis bermain piano, Via langsung menuju ke ruangan kamar tidur tamu. Tidak terasa jam berbunyi 6 kali yang bertanda sudah pukul 6 pagi. Via bangun cepat lalu menuju dapur, namun Teh Ina sudah menyiapkan semua.
"Teh Ina, saya bantuin yah?" Tanya Via yang sudah mulai stable emotional nya.
"Duduk ajah non, Takut Tuan muda bangun saya lagi kena." Kata Teh Ina yang menyuruh Via duduk manis.
Dengan duduk manis dan rapih, membuat dirikita lebih tenang. Sejak kemarin Via tidak mendapat SMS/BBM / social media.
°
°
°
°
__ADS_1
Please like and commend yah!
😍🙏🙏🙏