Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Bukan Cinta Main - Main


__ADS_3

Menikmati makan malam romantis yang menyenangkan membuat Via bahagia. Makan malam biasa, walaupun terkesan mewah tidak memberikan kesan arogansi.



Via yang sekarang mulai bisa beradaptasi dengan kemewahan. Sesekali Via mengingat perlakuan Wili yang pasti akan membuat resto ini akan kosong.


"Via suka?" Tanya Erick yang merasa kali ini Via lebih banyak diam.


"Suka. Via lagi beradaptasi, Rick." Jawab Via yang membuat Erick bingung.


"Maksudnya?" Tanya Erick lagi membuat Via bingung menjelaskan.


"Sudah lah, itu masa lalu. Besok kita sama-sama check out dan kembali ke tempat masing-masing. Hmn, jadi kangen liburan Via." Kata Via yang sambil makan dan membuat Erick memperhatikan cara makan nya.


"Liburan bareng yuk, December ini. Via mau kemana?" Ajak Erick entah mengapa dan membuat Via langsung mengangguk dan melanjutkan makan malam nya.


Kali ini Indonesia di bulan December harus mengalah sama liburan bersama princess. Erick mulai memikirkan destination mana yang Via bakalan setuju. Makan malam pun selesai, Erick mengantar Via ke kamar dan mengucapkan selamat malam.


Vika melihat Erick turun dari limousine lalu bergerak kearah concierge service. Menanyakan Erick dari mana.


"Kamar 1033, abis darimana?" Tanya Vika yang setengah penasaran.


"Kamar 1033 dan VVIP guest keluar makan malam, bu." Info dari anak concierge service.


Muka Vika sedikit shock karena Erick jarang menggunakan fasilitas hotel kalau tidak diskon gede-gedean. Tapi setelah dicheck Erick membayarnya dengan personal account.


"Ternyata habis pacaran toh, tumben sampai pakai fasilitas hotel."Kata Vika pada dirinya sendiri.


Karena makin penasaran dengan Erick hari ini, Vika menuju kamar Erick.


Toookkk Toookkk Toookkk


"Siapa?" Jawab Dickson yang membuka kan pintu buat Vika.


"Ooh, Rick. Ada yang nyariin elu nih." Teriak Dickson yang duduk di sofa dekat tempat tidur.


Vika menunggu Erick yang belum selesai acara mandinya. Dickson memperhatikan Vika yang manis namun judes parasnya. Walau dalam hatinya Dickson, Via masih lebih anggun dari pada Vika.


Selesai mandi Erick melihat Vika duduk di ruang tamu kamarnya. Melihat muka Vika yang datar Erick mulai menebak-nebak apa yang Vika akan katakan.


"Hi, Vik. Tumben malem-malem kesini." Sapa Erick yang memberikan minuman mineral ke Vika.


"Kita bisa bicara?" Tanya Vika mulai mengintrogasi Erick.


"Bisa, jangan disini. Kita pindah ke lounge ajah yuk." Ajak Erick yang sepertinya Erick mengetahui kemana arah Vika akan bicara.


"Kirain ke kamar cewek elu." Gerutu Vika yang tidak sengaja di dengar oleh Dickson.


Langkah kaki Vika terasa berat karena Erick tidak menceritakan hari ini kepada Vika. Biasa nya kepada Vika lah Erick menceritakan hari-harinya.

__ADS_1


"Gimana pakai fasilitas hotel?" Tanya Vika basa basi membuat Erick semakin yakin kalau Vika penasaran dengan makan malam nya bersama dengan Via.


"Oh, enak. Menyenangkan sekali suasananya." Kata Erick yang menggantung tanpa penjelasan detailnya.


"Huoo... Princess sih. Jadi harus first class.." Ledek Vika yang semakin menunjukan kalau Vika mulai terusik dengan Via.


"Karena dia layak diperlakukan sebagai princess yang akan jadi ratu satu-satunya di hidupku." Kata Erick yang entah mengapa bisa berbicara seperti itu.


Obrolan pun semakin biasa dan Erick mulai terbiasa dengan Via. Keceriaan nya, obrolan nya selalu saja ada topic seru yang membuat Erick terkagum dengan pengetahuan nya. Walau sebenarnya Erick lebih suka ngobrol sama Vika mengenai dunia perhotelan.


Saat ngobrol soal hotel, Erick harus mengajari Via terlebih dahulu agar Via mengerti arah obrolan Erick. Tetapi melihat itu Erick merasa yakin dengan apa yang Via pelajari akan berkembang pesat.


"Rick, selamat yah." Ucap Vika saat melihat Erick seperti melayang jauh pikiran nya.


"Thank you, Vik." Kata Erick yang sepertinya mulai membatasi. Namun Vika tidak abis akal untuk membuat Erick mengejar Vika lagi.


"December kita jadi ke Bora-bora?" Tanya Vika ke Erick dan membuat Erick tersenyum.


"Gue mau ke Jaipur, India. Sama cewek gue kali ini, kayak nya akan seru." Tiba-tiba Erick meluncurkan ide tersebut.


"Jadi kita batal liburan bareng?" Tanya Vika dengan muka serious dan kali ini Erick menjawab dengan mantap.


Muka Vika berubah ketika destinasi liburan romantis ya di sebut sama Erick. Bahkan Erick menyebutnya bukan bersama dengan Vika. Erick masih terus melihat tanggal berapa yang enak untuk berjalan bersama dengan Via. Kali ini harus memikirkan route dari Geneva, Switzerland ke New Delhi, India akan berbeda dari California ke New Delhi, India.


Vika menatap hampa ke arah jalanan. Jalanan yang tidak pernah sepi dan tidak pernah tertidur. Karena kesal dengan rencana liburan Erick yang akhirnya membuat Vika menatap semakin lekat ke Erick yang masih berkutat dengan itinerary liburan nya.


"Kagak. Gue pengen lihat Jal Mahal ajah dan Via ternyata suka culture. Nih anak nya WA.." Jawab Erick yang menunjukan WhatsApp chat nya Via.


"Ooh, begitu. Selamat yah, sama Via. Kayak nya sayang banget elu ke dia gitu juga dia ke elu." Kata Vika lagi membuat Erick meletakan telephone selulernya dan melihat muka Vika.


Erick memandangi muka Vika dengan seksama dan dalam. Wajah Vika terlihat lebih sayu dari biasanya, tidak ada guratan kebahagiaan dalamnya seperti biasa Erick lihat selama ini.


"Vik, kalau elu nyesel sama Mike. Gue ada buat elu 24 jam dalam seminggu. Elu bisa balik ke gue kapan pun elu mau." Kata Erick sambil mengangkat wajah Vika yang bulat namun proportional dan ingin sekali Erick mencium bibir Vika yang tipis.


"Makasih, Rick. Gue balik ke kamar dulu. Besok elu check out jam berapa?" Tanya Vika mengalihkan pikiran Erick.


"Bareng Via. Abis makan pagi gue dan dia. Inget loh Via itu incognito." Kata Erick mengingatkan mengenai tamu VIP hotel nya Vika.


Dengan lantai gontai Vika menuju lift dan menekan tombol lantai 9 dimana Mike telah menunggunya. Hati Vika terasa hampa ketika bersama Mike, berbeda jika bersama Erick. Selalu saja ada obrolan yang bisa di obrolkan.


Pagi-pagi Via sudah rapih dengan pakaian seperti biasa, baju dress hijau dengan sepatu kets putih dan topi fedora pita pink. Via sudah melakukan check out dan barang-barang sudah ada di mini van yang akan membawa Via ke airport untuk kembali.



Setelah beres Via berjalan ke arah restaurant untuk bertemu dengan Dickson. Yang sudah menunggu dari jam 6 pagi di restaurant untuk makan pagi sama Via. Sangking gembiranya Dickson mempersiapkan secara detail, padahal Via bilang setengah 8 baru nyusul ke restaurant.


Dickson melambaikan tangan nya saat melihat Via berjalan santai. Lalu Via tersenyum dan menghampiri Dickson yang sudah berdiri di pintu restaurant. Sengaja sama Dickson dipilihkan tempat khusus, akan tetapi Via kurang nyaman dengan suasana tersebut.


Karena kurang nyaman dengan suasana tersebut Via minta di tuker tempat nya sama Dickson. Via minta dengan view kolam berenang. Dickson pun menyetujui dengan sedikit kecewa.

__ADS_1


"Sorry yah, Dickson. Via kurang suka sama suasananya jadi minta ganti." Kata Via yang berusaha menjelaskan keadaan nya.


"Eh itu Erick. Boleh gabung gak dia sama kita?" Tanya Via saat melihat Erick jalan dan membuat Dickson membalikan bandan melihat Erick.


Dickson menganggukan kepala, karena menyetujui permintaan Via. Akhirnya Via memanggil Erick untuk bergabung. Erick melihat muka Dickson yang tidak bersahabat memilih duduk di sebelah Dickson.


Seperti biasa Via makan salad buah terlebih dahulu, baru makan sayur dan makan telur rebus.


Dickson mengambilkan daging sapi dan menaruh nya di croissants lalu di berikan ke Via. Karena Via tidak makan sapi sekaligus menghargai usaha Dickson. Via membiarkan dahulu croissants nya dan masih memakan salad sayuran dengan saus olive oil.


Erick melihat Via seperti terpaksa, akhirnya menukar croissants isi butter nya Erick dengan yang isi sapi punya Via.


"Kok di tukar, Rick?" Tanya Dickson dengan penekanan kata pada di tukar.


"Terima kasih, Erick. You know me so well." Ujar Via saat mengetahui croissant nya di tukar.


"Sorry, yah Dickson. Karena ibu Via tidak makan sapi dengan alasan allergy. Jadi saya ambil dan di tukar dengan kesukaan beliau." Jawab Erick dengan penekanan pada kesukaan Via.


Erick ingin sekali menggetok kepala nya Dickson yang kurang peka sama kondisi. Akhirnya selama makan pagi, Erick terpaksa diam dan Via pun juga Diam hanya beberapa kali bilang "Oh ya?, Ko bisa?, Lalu?" kata-kata pamungkas Via jika bertemu dengan orang baru.


Mulut Dickson terus ajah mengoceh membuat Via cuma memperhatikan saja. Lalu duduk manis dan tidak lama pamit keluar karena sudah selesai makan paginya. Erick dan Dickson mengantarnya ke Lobby, lalu tidak lama Erick memeluk Via tepat di lobby dan dihadapan Dickson juga Vika yang akan mengantar Via ke bandara.


"Safe flight yah. Princess kodok. See you soon..."Bisik Erick saat memeluk Via.


Adegan di lobby membuat darah Dickson mendidih karena Erick memeluk Via. Sementara ketika Dickson mencoba ramah dengan Via yang ingin cipika cipiki. Namun Via malah berlindung dibalik badan Erick dan memegang baju Erick dengan kuat.


" Thank you yah Dickson buat makan paginya. Via pergi dulu yah." Kata Via saat melihat kecewa nya Dickson tidak bisa memeluk Via.


"Iyah. Sama-sama. Aku nanti chat yah, siapa tahu kita bisa makan siang bareng." Jawab Dickson berusaha menghibur diri.


Kepala Via pun mengangguk, tanda menyetujui bukan sekarang tapi nanti. Via masuk ke mini van lalu di ikuti oleh Vika yang menemani Vika hingga boarding. Melihat Via dari dekat dan ramah nya Via saat ini membuat Vika tersadar, kalau Erick jatuh cinta sangat pantas.


Via yang bisa diajak bercanda, serious bahkan ngobrol apapun nyambung. Saat ini Vika menanyakan semua rasa penasaran tentang Via dan menemukan jawaban kalau Via adalah tipe nya Erick banget.


"Jadi bu Novia Heidy berapa bahasa yang ibu kuasi?" Tanya Vika yang penasaran sama Via soal bahasa.


"Indonesia pasti, English, Jepang, Korea, Perancis, Arab dan Spanish lalu Chinese." Jawab Via yang meminta Vika memanggilnya Via ajah jangan nama lengkap lagi.


Benar kata Erick jika Via membuka hati pasti akan liat sisi rapuh nya. Vika tersenyum dan mulai ngobrol santai selama menuju bandara dan menunggu boarding time.


°


°


°


°


Yuk jempolnya like dulu buat ceritanya. Lalu comment dulu, terus love dan vote novel nya. Biar author semakin semangat menulisnya nih kawan.

__ADS_1


__ADS_2