Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Ayah Yang Harus Pergi...


__ADS_3

Sebulan Via kembali ke Geneva, mendapat kabar dari Rumah Oma. Via diminta untuk pulang ke Bandung jika sudah ada waktu. Via merasa pekerjaan nya sedang menumpuk akhirnya mengirim orang untuk menjemput sang nenek.


"Grandma, Iyah gak bisa pulang karena banyak pekerjaan. Grandma nanti ada yang jemput dan bawa kesini." Kata Via di ujung telephone seluler nya saat berkomunikasi dengan omanya.


"Visa bagaimana?" Tanya Grandma yang bingung.


"Sudah, grandma duduk manis saja." Jawab Via dan tidak lama terdengar panggilan dari luar untuk segera bersiap meeting.


Penjemputan oma Via berjalan mulus dan langsung menuju ke Geneva, Switzerland. Via sudah lama menantikan omanya datang ke Geneva, Switzerland. Sejak Via kerja disana, Via jarang pulang ke Indonesia.


Perjalanan 28 Jam membuat wanita berumur 80 tahun kelelahan. Via yang langsung menjemput di tangga pesawat khusus United Nations.


"Iyaaah, Cucu grandma." Teriak Oma Via yang melihat Via dalam keadaan sehat setelah 5 tahun menghilang.


"Masa Iyah, cucu tetangga." Ledek Via saat memeluk oma nya.


"Sehat nak?" Tanya oma yang melihat Via dan terus merangkulnya.


"Sehat banget grandma. Grandma bagaimana?" Tanya balik Via yang melihat kedalaman mata omanya.


Oma Via hanya tersenyum ketika melihat wajah cucunya yang dia sayang. Dari ke 5 anak oma nya Via, hanya Via lah cucu pertama perempuan dan satu-satunya perempuan. Sisanya laki-laki semua, cucu yang dahulu sering dibuang akibat kebobolan dalam pergulatan suami dan istri.


"Kamu bahagia tinggal disini?" Tanya oma sedikit lebih serius dan lebih menancap di hati Via.


"Aku bahagia Grandma, bahkan aku punya keluarga baru." Kata Via memberikan informasi yang Grandma ingin ketahui.


"Kamu sudah jenguk papah mu di Bandung?" Tanya Oma yang tiba - tiba menanyakan papah nys Via yang dirumah sakit.


Semua anak- anaknya papah Via tidak ada yang duduk di samping nya. Hanya bunda dan papih saja yang di ruang VIP rumah sakit.


"Sakit lagi?" Tanya Via yang mengalihkan pandangan nya menahan rasa sakit. Karena Via akan teringat bagaimana Via menjadi anak yang berpura-pura bahagia bersama keluarganya.


"Iyah, kamu jenguk dong. Sama grandma yuk.."Bujuk oma Via yang mengajak Via pulang.


Via hanya berdiri dan pura-pura ambil minum lagi padahal tidak haus. Entah apa yang semesta ingin kan dalam hidup ini. Via kembali duduk yang berhadapan dengan omanya.


" Aku sibuk Grandma, nanti saja aku jenguk nya." Kata Via dan tidak lama Via meminta izin untuk istirahat di kamar nya. Oma Via hanya menitikan air mata karena Via tidak bisa di salah kan.


#Throwback2002


"Mah, si kak Andy emang gak kangen sama si adek?" Tanya seorang pria yang baru saja menikah dan membawa istrinya kerumah oma.


"Kangen, kan adek juga lagi sekolah nya gak bisa di ganggu." Bela seorang ibu terhadap anak nya yang lain.


"Yah, itu lagu lama. Untung ajah si adek cakep, pinter dan baik. Keinget bagaimana usaha orang tuanya berusaha menghilangkan nyawa nya si adek." Kata pria tadi dan berhasil membuat oma melotot hebat.


Via yang mendengar itu langsung terdiam dan kembali ke kamar nya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sekelebat masa lalu yang buruk membuat oma Via terdiam. Luka batin cucunya tidak akan sembuh jika terus masih seperti ini.


1 bulan oma ada di Geneva, Switzerland dan merindukan Bandung. Via yang mendapat tugas ke Jakarta dari kantor selama seminggu membuat nya bisa mengantar oma kembali ke Bandung.


Drrrrrrr... WhatsApp group...


Gerry+Widia: Oleh-oleh yak!

__ADS_1


Via: Buset, dinas woy!


Gerry: Sekalian atuh...


Widia: 💪🏼 jangan pulang kalau gak kasih kita oleh-oleh.


Via tersenyum membaca chat mereka bertiga yang sudah kembali normal. Segala kegilaan pun menjadi biasa. WhatsApp group rame dengan honeymoon Widia ke Bhutan dan Gerry yang emosi sama client. Via? hanya tersenyum karena akan ke Jakarta.


"Oma, Iyah gak masuk ke dalem yah. Iyah di luar saja." Kata Via yang mengantar omanya saat tiba di Indonesia lalu langsung menuju Bandung.


"Ayo ketemu sama orang tua mu, grandma udah tua. Tidak bisa jagain kamu terus-terusan." Bujuk oma Via dan akhirnya Via turun dari mobil yang mengantarnya.


Omanya Via dan Via akhirnya masuk dan mendapati bunda nya Via sedang membawa makanan untuk papah nya Via yang ada di taman belakang.


"Anak bunda pulang, yuk ketemu papih di belakang." Wajah bunda tersirat kebahagian melihat Via mau bertemu dengan mereka.


"Renee, mamah ganti baju dulu." Kata oma yang meninggalkan mereka.


"Adek.. Pulang?" Tanya Papah Via dan Via tidak menjawab hanya menundukan kepalanya.


"Adek masih jet lag kali pih." Kata bunda yang mencoba untuk memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.


Selama 1 jam Via tidak mengeluarkan suara apun dan menundukan wajah nya ke bawah. Entah apa yang Via lihat selama itu.


"Kamu tidak bisu kan? Masih punya mulut?" Bentak papihnya Via dan langsung membuat Via berdiri dan mulai beranjak pergi tanpa berbicara apapun.


"Dasar anak gak tahu diri! Bagus sudah di gedein" Maki papihnya Via dan berhasil membuka mulut Via yang sedari tadi terkunci rapat.


"Kenapa aku tidak di gugurkan? Aku juga tidak minta dilahirkan!" Kata Via sukses membuat papanya beserta bunda masuk kedalam.


Kesempatan Via untuk melindungi diri karena di dalam rumah oma ada camera cctv yang ada suaranya. Via sengaja menaruh di rumah tersebut untuk memantau oma dari jauh.


"Kamu, bukan nya minta maaf atas kepergian gak jelas. Malah bikin ribut." Kata Papanya yang mulai mengontrol diri.


"Kenapa papih malu? Andy Heidy - mantan duta besar ternama anak nya hilang dan tidak tahu anak nya dipungut siapa." Mulut Via sudah mulai nyinyir dan menyindir.


Papahnya Via hanya duduk sambil memijit-mijjit ringan tubuh nya. Entah mengapa merasa sesak dengan perkataan Via. Oma Via menyuruh Via untuk beristirahat sementara sang bunda menyiapkan makan siang.


Makan siang terdingin dari semua makanan yang jadi. Via hanya memandang makanan di meja dan mencari apa yang bisa dimakan sama Via.


"Kan ini makanan kesukaan kamu semua." Ujar Bunda yang merasa aneh dengan Via.


"Ini kesukaan kak Reynold, Ini kak Ryan, Ini kak Richie. Via mana? Via minta telor goreng ajah." Balas Via dan ternyata oma nya melihat kalau semuanya ada daging sapi.


Sedari kecil Via jarang makan daging sapi karena Via punya allergy protein. Oma nya Via langsung menyuruh ART untuk menggorengkan ikan kesukaan Via.


"Renee, adek bukan nya tidak menghargai. Hanya saja si adek tidak makan daging sapi." Kata Omah nya Via kepada menantunya.


"Oh gitu mah. Maaf" Kata bunda Via yang terdiam karena mamah mertua sudah bicara.


"Adek makan, gak usah pilih-pilih makanan. Kamu tuh jangan di biasakan." Perintah Papahnya Via yang sudah melotot setelah mendengar mamahnya dan istrinya berbicara.


Via hanya tertunduk dan membungkam mulut nya. Lagi-lagi Via tidak bisa mengeluarkan isi hatinya jika tidak terjepit. Namun akhirnya....


"Aku allergic protein pah, kan aku bukan kalian yang rawat. Jadi wajar jika kalian tidak tahu selera ku bahkan keadaan ku." Kata Via yang tiba-tiba membuat semua mata tertuju kepada Via.


Kepulangan oma nya Via yang di ikuti Via, membuat Via menyesal karena tidak menuruti hatinya. Via akhirnya duduk di meja belajar yang biasa Via pakai ketika semasa sekolah.

__ADS_1


Masa-masa terburuk yang harus dilewati seorang anak. Lalu....


"Paaaaaahhhhhhhh....." Teriak bunda Via dari kamar nya, lalu Via hanya melihat sedikit dari balik pintu. Via hanya diam mematung karena melihat papahnya sudah dibawa supir dan tukang kebun omah entah kemana.


Toootoooooktooooomkkk


"Yah, siapa?" Tanya Via dari arah dalam sambil memainkan telephone selulernya.


"Saya Ina, mba Via. Bapak anfal..." Kata Ina dengan suara parau nya memberitahukan Via.


Via mengambil tasnya dan pergi kerumah sakit. Setibanya di rumah sakit Via hanya berjalan gontai dan melihat semua sudah pada nangis.


"Bunda cuma mau mohon. Temui papih dari tadi papih hanya memanggil nama mu." Bujuk bunda ketika melihat Via. Semua keluarga berkumpul kakak-kakak Via sudah berada di bandara menuju Indonesia.


Via melihat papihnya yang tidak berdaya sama sekali. Pria kuat yang akhirnya harus kalah dengan penyakitnya. Via hanya terdiam di ruangan ICU, dan disaksikan Video call semua.


Papahnya Via hanya terdiam dengan semua selang yang ada. Via duduk disamping dan penuh kebingungan serta kecanggungan. Terlihat air mata keluar dari mata sendu papahnya. Via hanya diam membisu seperti biasa. Air matanya nya tidak terbendung oleh papahnya, sesekali Via menyekanya.


10 menit Via berada di dalam kesehatan papah nya semakin memburuk. Lalu setelah Via menyeka air mata papanya, Via merasakan tangan kanan nya di pegang papah. Via berfirasat buruk karena melihat garis lurus pada mesin jantung papahnya.


Dokter masuk keruangan, Via dibawa keluar dan hanya membisu.


"Naikan mesin pengejutnya, tambah dayanya" Teriak dokter jantung yang merawat papahnya Via.


"Dok, tanda vital nya tidak ada kenaikan." Teriak suster memberi tahukan.


"Tambah lagi, kita mulai. 1, 2, 3" Teriak dokter itu berulang - ulang kali.


Segenap tenaga dokter berusaha, tanda vital dari pada papahnya Via tidak menunjukan perubahan. Keluarga Via histeris karena di tinggal oleh papanya Via. Lagi-lagi Via terdiam dan tidak mengeluarkan air mata. Semua orang terpukul atas kepergian papahnya Via.


Banyak orang memberi rasa belasungkawa tidak terkecuali pemerintahan ketika mendengar bahwa papahnya Via meninggal. Gerry dan Widia langsung pulang ke Bandung karena mereka mendengar kabar papanya Via meninggal.


Prof. Bjorn dan Prof. Cho juga langsung pergi ke Indonesia karena mereka khawatir akan Via. Kakak - kakak nya Via sudah berkumpul semua deserts sanak dan saudara. Ada juga dari beberapa teman-teman papah.


"Kamu anak Andy Heidy nomor berapa?" Tanya seorang bapak-bapak yang duduk di dekat Via.


"Ke 4." Jawab Via singkat dan jelas.


"Oh, Ada anak perempuan? Kok gak pernah kelihatan?" Tiba-tiba ada ibu-ibu ikut-ikutan mempertanyakan Via.


Via bangkit berdiri lalu masuk ke ruangan duka untuk keluarga. Via melihat bunda masih menangis karena kehilangan papih.


Acara penutupan peti akan segera di mulai, kakak pertama Via Reynold akan memimpin.


"Selamat malam semua, buat keluarga, sodara, teman dan rekan-rekan sekalian. Terima kasih atas kekuatan, doa dan dukung an kalian" Kata Reynold membuka pidatonya kali ini.


"Saya, bunda, Ryanderra, Richie dan Novia tidak bisa berkata-kata apa-apa. Biarlah papih bisa beristirahat dengan baik." kata Reynold yang menyambung pidatonya tadi.


Selesainya acara tutup peti, semua orang membicarakan Via yang tegar daripada kakak-kakanya. Karena malas mendengar gossip Via langsung pulang bersama dengan omahnya.


Seorang ibu yang kehilangan anak nomor 2 nya yang sangat dia kasihi.


°


°


°

__ADS_1


Like, comment, love dan Vote juga yah


__ADS_2