Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Hati Yang Tersembunyi...


__ADS_3

 


Setelah mendengar penjelasan Willi, perasaan Via mulai mengalami pergolakan antara realita dan cinta. Via pun mulai berfikir keras dan menentukan pilihan agar tidak menyesal dikemudian harinya, karena begitu banyak hal – hal yang terjadi membuat Via semakin tidak menentu. Di dalam hatinya Via belum sanggup meninggalkan William namun Via juga belum sanggup menerima keadaan Willi yang ternyata seorang pewaris tunggal Putraland Group.


 


“Via, maafkan Willi yang sudah membohongi Via selama ini. Namun perasaan Willi ke Via tidak pernah bohong sama sekali.”Kata Willi sambil memegang tangan Via dan menatapnya.


“Via bingung Will, kenapa seperti ini?” Jawab Via dan menarik tangan nya dari tangan William.


Perjalanan kali ini menuju kost an terasa lebih panjang dan terasa berat. Sesampainya mereka di kostan White House Gerry dan Widia melihat Via yang sudah sembap matanya akhirnya mengurungkan niat mereka untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Sementara Gerry yang mengetahui apa yang terjadi merasakan sesak melihat Via menangis seperti itu.


“Gerr, elu tanya dih sama si Via. Ada apa ini?” Tanya Widia ke Gerry yang sibuk bolak balik dengan remote Tivi.


“Nggak, elu nggak liat apa muka dia seperti itu?” Jawab Gerry yang sekaligus membalikan pertanyaan ke Widia.


“Via, kapan balik ke Bandung?” Tanya Widia ke Gerry yang masih saja sibuk dengan remote Tivinya.


“Belum tahu, biarin ajah sih dia ada disini.” Kata Gerry mulai terusik dengan pertanyaan Widia.


“Ger, kita makan yuk?” Ajak Widia ke Gerry tanpa jawaban Gerry pun mengiyakan ajakan Widia untuk makan malam.


Makan malam di tempat mang Asep, bakalan di rindukan oleh semua anak kampus Tritunggal yang sudah lulus maupun yang sedang liburan semesteran.


“Ger, elu naksir sama Via yah?” Kata Widia tanpa basa basi menanyakan tersebut.


“Nggak, kenapa?” Balas Gerry yang mengerutkan muka nya seolah – olah tidak terjadi.


“Bohong, beberapa hari ini muka elu bahagia. Ketika elu bersama Via, beda sama gue?” Kata Widia yang mulai menyelidiki Gerry.


“huh, kapan gue bisa lari dari introgasi elu yah Wid?” Kata Gerry yang sudah menyerah dan tidak mau mengakui daripada panjang urusan nya.


“Kan, masih ajah elu mau ngelak dari gue!” Semprot Widia sambil mencubit perut Gerry namun yang di cubit ternyata perutnya langsing.


Setelah berkeluh kesah mengenai perasaan nya ke Widia, Gerry pun bilang ke Widia untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun termasuk Via itu sendiri.


“Ger, kalau elu suka emang nggak mau berjuang?” kata Widia sambil merangkul sahabatnya itu.


“Bukan nggak mau Wid, gue belum sanggup persahabatan kita bubar.”Kata Gerry yang mulai tersenyum lebar ke sahabatnya ini.


“Gue akan senang kalau elu berjuang mendapakan Via, setidaknya elu tidak penasaran dengan diri elu sendiri. Jangan kayak gue yang melepaskan orang yang gue suka demi ke egoisan gue sama organisasi.” Bales Widia yang menepuk punggung nya Gerry saat tiba di depan kost an White House.


Malam semakin menjadi, kepergian Via pun akan semakin cepat. Via akan kembali lagi ke Geneva untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Pekerjaan yang dia impikan selama ini, ketika Gerry membuka pintu kamar kost an. Di lihatnya Via yang masih menggunakan baju saat siding skripsi dan rok hitam nya serta make up pada mukanya yang mulus nan chubby.


“Yah, ampun. Masih ajah ini anak kelakuan nya seperti ini.”kata Gerry pada dirinya sendiri. Melihat Via seperti ini timbul perasaan yang membuat Gerry tidak karuan.


……….


“Vi,ayo ganti bajunya. Baru istirahat lagi, inikan kotor bajunya.”Kata Gerry yang membangunkan Via dari tidurnya.


“Hmnnn, iyah.”Sahut Via masih lemas.


“Ayo, kalau enggak gue yang gantiin bajunya.” Balas asal Gerry

__ADS_1


“Gantiin dong, Via males buka mata.” Kata Via sambil membalikan badan nya saja tanpa membuka matanya.


Tidak berapa lama tangan Gerry langsung mejewer kuping Via yang sedikit caplang seperti kuping kurcaci.


“Aduuuuuuuhhhh, sakit Gerr.”Jerit Via tanpa ampun lagi.


“Mangkanya bangun, nggak susah kok. Cuma butuh 5 menit ganti bajunya.”Omel Gerry yang mulai melotot matanya ke Via.


“Yah ampun Ger, lagi pula juga sama siapa sih ini.”Bales Via yang membuka kemeja nya yang mempertontonkan 2 asset nya. 2 assetnya ini di pakaikan pengikat yang berwana pink dan berenda menampilkan kepadatan yang sempurna. Gerry yang melihat nya langsung keluar dan menutup pintunya. Sementara Gerry harus menenangkan adik kecilnya yang mulai berulah melihat badan Via.


“Sial, kenapa lagi – lagi berulah sih tong. Kan belum saat nya ini!” Maki Gerry dalam hati. Setelah setengah jam pergi Gerry kembali menuju kamarnya dan melihat Via kembali memejamkan matanya dan masih ada make up di mukanya itu. Dengan hati – hati Gerry mengambil tissue yang ada cairan pembersih muka.


Melihat muka Via yang begitu polos rasa nya ingin sekali Gerry mencium bibirnya itu. Dan berkata sudahi saja hubungan bersama William, namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Gerry.


Dok.... Doookkk.... Dooookkk....


"Weennnyyyyy, cepetan mandi nya!" Teriak Gerry yang menggedor kamar mandi dengan kasar.


"Woooooooiii..." Teriak Gerry lagi dan akhirnya penghuni kamar mandi pun keluar dengan muka emosi.


Via yang mendengarnya seakan tahu siapa pelakunya kalau bukan Weni. Setelah akhitivitas dikamar mandi Gerry pun kembali kekamar melihat kamarnya sudah rapih berserta dengan Via yang dengan cantiknya berdandan.


"Ayooo temenin ke pasar. Mau beli bahan-bahan. Besok malem kan pulang ke Geneva." Rengek Via ke Gerry.


"Iyah, ganti baju dulu dong." Kata Gerry yang masih memakai handuk nya menutupi sebagian tubuhnya yang atletis.


"Cepetan!" Perintah Via yang melipat tangan nya di dada dan memanyunkan bibirnya.


"Yah elu keluar oncom! Masa gue bugil depan elu?" Kata Gerry yang sudah mulai emosi.


Mendengar kata - kata Via yang seperti itu Gerry akhirnya mengalah untuk mempersingkat waktu saja. Dandanan kali ini Gerry memakai baju kemeja yang Via kasih saat pulang dari Geneva. Dipadu padankan dengan celana putih dan sepatu kets hitam nya.


Mereka berdua akhirnya pergi ke pasar dan supermarket untuk membeli barang - barang keperluan selama Via di Switzerland. Mereka seperti sepasang suami istri.


Tidak berapa lama mereka melihat ada event pengudian baran dan voucher. Disana mereka melihat ada membaca garis tangan. Iseng - iseng mereka menuju kesana dan ternyata yang membaca garis tangan pernah membaca garis tangan mereka 2,5 tahun lalu.


"Sepertinya saya pernah membaca garis tangan ini. Kalau boleh tahu tanggal lahir kalian itu tanggal berapa?" Kata Peramal tersebut.


"Kami berdua tanggal lahirnya 07-07-87 mas." Kata Gerry.


"Benarkan! Saya pernah ngeramal kalian. Apakah kalian sudah menikah?" Kata Peramal tersebut.


"Belum. Kami masih punya pasangan." Kata Gerry dan Via bersamaan.


"Hah? Ooh. Baiklah" Kata Peramal tersebut.


Setelah berbincang - bincang agak cukup lama akhir nya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Rumah. Tabungan pertemuan mereka sangatlah banyak, tapi banyak ajah mereka berdua merasa masih kurang.


"Vi, kembali ke Geneva. Elu cerita sama si Widia nggak?" Kata Gerry memulai pembicaraan.



tak lama pesanan makanan mereka pun datang. Via masih dengan kegemaran nya Strawberry shortcake dan infused waternya. sementara Gerry dengan chocolate peanut crumble dan jus mangga.

__ADS_1


"Tumben minum nya jus mangga biasa nya jus semangka." Ujar Via dalam hati.


Gerry pun mulai sibuk dengan group BBM skripsinya yang lagi heboh dengan dosen pembimbing meminta nilai skripsi Via menjadi patokan kedepan nilai skripsi selanjutnya.


"Ger. Masih sibuk yah?" Kata Via mulai menanyakan kesibukan Gerry.


"Enggak, ini sudah selesai kok." Kata Gerry yang mulai memasukan telephone seluler nya ke Tas Via.


"Kok?" Kata Via yang kaget dengan perbuatan Gerry.


Gerry cuma tersenyum dan menyeruput Minuman nya. Via pun mulai memakan kue yang dia pesan. Hening hingga mereka menyelesaikan makanan masing - masing lalu pulangkke Kost an White House.


Hari ini Via pun bersiap untuk kembali ke Geneva, Switzerland. Semua perlengkapan sudah dipersiapkan. Persediaan anak rantau yang jauh dari tanah kelahiran nya.


"Ayoo, sudah selesai belum?" Kata Gerry yang membuyarkan lamunan Via.


"Ayuuuk." kata Via yang akhirnya mengikuti langkah kaki Gerry.


"Gerrr. Ayoo, kita foto dulu yuk?" Via manggil Gerry dan mengeluarkan Kamera digitalnya dan telephone selulernya.


1...2...3... cekreeeek...


Gerry pun ternsenyum dengan hasilnya. Lalu tidak lama Via menyeting kamera telephone selulernya.


1....2....3.... Cekreeek...


Kali ini Gerry terkejut karena Via mencium pipinya dengan latar belakang Kost an mereka.


"Apa-apaan ini?" Kata Gerry pura - pura tidak terima namun dalam hatinya sudah membuncah kegirangan.


"Ayoo, nanti aku telat boarding." Kata Via yang masuk ke dalam mobil. Lalu Gerry pun membawa Via yang sudah siap ke Bandara.


Sepanjang jalan Gerry diam dan sering melirik Via yang asik melihat kearah jalanan yang macet disaat jam pulang kantor.


"Via, apa elu dah bilang sama Willi? Kalau elu mau balik ke Geneva." Kata Gerry yang membuka percakapan saat ini.


"Belum, nanti ajah kalau Via sudah sampai Geneva." Kata Via yang matanya masih menghadap jalanan.


"Awas, Willi kan suka melakukan tindakan aneh - aneh." Kata Gerry memperingati Via mengenai Willi.


Dengan muka tenang Via memberikan senyumnya yang mengembang. Sampai di Bandara Gerry memakirkan mobilnya di pintu keberangkatan 2E Bandara International Soekarno - Hatta, Banten.


"Udah, periksa kembali semua barang bawaan?" Kata Gerry saat mengantar Via ke pintu keberangkatan.


"Udah, dong semua sudah siap yah." Kata Via yang memperlihatkan paspor biru nya dan ticket ke Geneva, Switzerland.


"Sombong, pake paspor Dinas!" Kata Gerry sambil menunjukan kartu advocate international nya ke Via. Membuat mata Via yang sedikit ngantuk akhirnya terbelalak melihat kartu hitam itu dan wajah Gerry terpampang disana.


Via akhirnya masuk menuju ruangan boarding dan menunggu pesawat yang dia tumpangi membawa nya ke negri orang untuk bekerja.


Menunggu 1 jam akhirnya Via terbang juga dan saat nya mematikan data telephone selulernya.


Via melihat photo - photo yang dia ambil saat terakhir di Kost an White House bersama Gerry. Kemarin bersama Widia sudah seperti kembar siam.

__ADS_1


Perjalanan 17 jam dari Jakarta - Geneva, Switzerland. Membuat Via mengalani jet lag berkepanjangan.


__ADS_2