
Setelah Via siap sehabis makan pagi, Yudha mempersiapkan diri untuk bertemu dengan keluarga Via. Well, Yudha pun melihat ini kesempatan yang baik untuk berkenalan dengan calon mertua.
"Sudah Vi?" Kata Yudha yang ada di dalam mobil. Melihat Via masih dengan muka yang seperti nya shock.
"Sudah Yudh, ayo jalan. Nanti kita mampir beli kue dulu. Aku mau beli Kue Unyil - Versus." Kata Via yang sudah duduk manis di dalam mobil.
Perjalanan dari Villa Duta Permai menuju Toko Roti Unyil - Versus diselingi guyonan - guyonan Yudha. Via yang tadi hanya duduk terdiam membuat Via tersenyum.
Setelah sampai di Toko Roti Unyil - Versus, Yudha meminta izin untuk berbicara sejenak sama Via.
"Viii, aku gak mau kamu kaget. Apalagi anggap aku mempermainkan mu. Aku mau info, ini roti unyil Versus itu punya papah ku." Kata Yudha hati - hati sekali takut Via berubah pikiran.
"Nggak kok, Via sudah tau." Kata Via yang santai dan keluar dari mobil Yudha menuju toko roti tersebut.
Yudha pun mengikuti dari arah belakang dan setengah tidak percaya kalau Via tahu mengenai toko roti papanya Yudha. Setelah memilih - milih roti yang menjadi kesukaan nenek Via, lalu bergegas lah Via memilih rujak buah kesukaan nya assistant nya nenek Via.
Via yang hari itu sangat ceria membuat Yudha senang karena takut kejadian kemarin membuat Via tertekan. Sehabis berbelanja Yudha mengendarai mobilnya menuju Ciumbeleuit - Bandung, rumah Via. Perjalanan Bogor - Bandung menghabis kan waktu 2 Jam bersama dengan kemacetan yang sudah biasa di lalui pintu tol pasteur, tidak begitu lama akhirnya sampai juga di rumah Via. Pepohonan dan bangunan khas rumah Belanda zaman dahulu membuat Yudha sedikit horor. Via yang sedang sibuk menaruh belanjaan nya, dan sibuk mencari seseorang di rumah tersebut, namun tidak menemukan nya.
"Mbaaaaaaaaaaa.... Mbaaaaaaaa....."Teriak Via keseluruh ruangan rumah.
"Iyah nooooonnnn."Jawab assistant rumah tangga yang menjaga rumah Via.
Rumah Via nampak begitu lega, dan besar dinding dan ubin nya masih khas zaman belanda yang dipertahankan design nya oleh keluarga Via. Ketika Yudha melihat banyak foto Via dan 3 anak laki - laki saat mereka kecil dan kedua orang tuanya tidak begitu banyak, hanya foto - foto Via dari kecil hingga dewasa yang terpajang di rumah tersebut.
"Oh, ternyata dari dulu Via bule." Kata Yudha dalam hati dan melihat Via sibuk mengeluarkan roti unyil. Lalu tidak lama terlihat lah nenek - nenek keluar dari arah halaman belakang yang sepertinya noni Belanda.
"Aduh cucu grandma..."Kata nenek tersebut sambil mengyemek nyemek pipi tembam Via.
"Saya rindu grandma.."Jawab Via yang menciumi pipi nenek nya yang sudah kulit semua namun masih segar.
Dengan pandangan heran nenek Via melihat Yudha, dan langsung menanyakan ke Via.
"Iah, itu siapa?" Tanya Nenek Via dan menunjuk Yudha yang berdiri di belakang Via.
"Oh, ini Yudha. Teman dekat Iah." Jawab Via dengan manja nya. Yah, Via dapat panggilan saya "iyah" dari nenek nya.
"Yudha grandma." Sapa Yudha dan mengulurkan tangan nya.
"Lusye"Jawab Grandma Via yang mempersilahkan Yudha duduk dan memerintahkan assistant rumah tangga untuk menyiapkan tea time.
"Grandma sama Yudha dulu yah, aku beresin bawaan ku. Aku soalnya kan liburan."Kata Via yang menyela pembicaraan grandma dan Yudha.
"Iyah. Sana cepat beresin barang - barangnya dan susul grandma di kebun belakang" Balas Grandma Via yang mengajak Yudha untuk ke taman yang tidak begitu luas dengan ada kolam ikan dan gazebo mini membuat pemandangan sangatlah menenangkan.
Grandma Via dan Yudha duduk menatap kolam ikan yang seumur Via, 24 tahun ditahun ini 2011.
"Kamu sayang kan sama cucu grandma?"Tanya grandma Via yang tiba - tiba langsung to the point.
__ADS_1
"Sayang banget!" Jawab Yudha dengan penuh keyakinan.
"Novia Heidy anak special di keluarga ini. Dia lahir dari keluarga yang sering berpindah - pindah karena pekerjaan orang tua nya. Hingga dia tumbuh bukan anak seperti biasanya, dia berkebutuhan khusus."Kata Grandma Via yang membuka obrolan.
"Via tidak dekat dengan keluarga nya, Via saya rawat disini dari umur 5 tahun. Buat saya jika seseorang di bawa ke rumah sama Via. Berarti orang itu sangat lah special dihatinya setelah kejadian 2004"Lanjut grandma nya Via menjelaskan keadaan Via.
"Maksudnya Grandma?" Tanya Yudha sangat hati - hati sekali.
"Via pernah saya bawa ke Singapore untuk di Teraphy oleh dokter ternama. Hasilnya Via bisa mengendalikan emosinya."Jawab Grandma Via sambil menyeruput teh manis.
"Via mempunyai sahabat selain Widia dan Gerry yang sudah meninggal pada tahun 2004. Namanya Renatha, jika sekarang Via dan Widia juga Gerry bersama itu harus kerja keras sama sifat Via." Lanjut Grandma yang menuangkan Teh manis ke cangkir Yudha.
"Pantes, Via selalu overprotektive sama Widia dan Gerry."Bales Yudha yang ikut menyeruput Teh manis buatan nenek nya Via.
Setelah berbincang - bincang dengan Grandma Via, Yudha melihat Via yang membawa makanan manis dan asin untuk menemani tea time.
"Iaah, kamu berapa lama di Indonesia?"Tanya grandma sambil menuangkan teh manis ke cangkir Via.
"Sampe bulan July grandma. Kenapa?"Balas Via dan balik bertanya.
"Oh, kamu tidak mau ke Aussie?" Tanya grandma lagi.
"Tidak, saya tidak nyaman disana."Balas Via sambil menaruh cangkir teh nya.
"Bunda dan papih kangen sama kamu."Kata Grandma lagi namun hanya di kasih senyum kepura - puraan oleh Via.
"Tidak, aku kan sudah katakan. Kalau aku tidak nyaman!"Balas Via penuh penekanan setiap katanya.
"Mereka rindu lowh" Bales Yudha lagi sambil mengambil kudapan asin yang ada di meja.
"Aku tidak!" Jawab Via dengan tegas dan pasti.
"Yah sudah, kalau tidak rindu. Grandma rindu mereka lowh."Kata Grandma Via dan Via hanya memberikan senyum dengan keterpaksaan.
Acara Tea time sedikit penuh dengan canda dan tawa namun Via menyimpan rasa sedih karena sudah kangen dengan sahabatnya Widia dan Gerry. Berkali - kali Via mengecheck telephone selularnya.
Dan akhirnya ....
1 minggu berlalu, Via, Widia dan Gerry mulai gelisah karena mereka tidak pernah Marah begini lamanya. Selama 1 minggu tidak saling menghubungi satu dengan lain nya.
"Ini tidak bisa di tunda - tunda!" Kata Widia yang mendadak mengambil telephone selulernya lalu menghubungi Gerry.
Drrrrrrrrrrrrrrttttt .... Drrrrrrrrrrttttttttt...
"Halo, kenapa Wid?" Sapa Gerry saat di ujung telephone seluler.
"Elu dimana?" Tanya balik Widia ke Gerry.
__ADS_1
"Di Jakarta nih. Kenapa?" Jawab Gerry
"Ayo ketemuan, penting." Balas Widia dan Gerry akhirnya memberikan alamat resto tempat janjian.
Tidak butuh waktu lama Widia menemukan lokasi restaurant tersebut di daerah Jakarta Selatan. Widia langsung menemui pria yang duduk manis di dekat jendela.
"Ge?" Sapa Widia dan Gerry pun memberikan pelukan hangat dan senyuman nya.
"Kangen gue sama elu."Bales Gerry yang sambil duduk.
"Sudah kepala dingin nya?" Ledek Widia ke Gerry yang sedang asik sama kopi nya.
"Udah, Via apa kabar?" Kata Gerry sambil menanyakan keadaan Via.
"Baik kata Yudha, jadi bagaimana penyelesaian kita?" Tanya Widia langsung pada titik permasalahan nya.
"Intinya gue mau elu yang terbaik. Jika kalian berdua memaksa gue ngga bisa menghalangi, namun jika Jerias melakukan kesalahan dan melukai elu. Kepala nya bakal gue seret di jalanan berbatu!" Kata Gerry setengah memberi penegasan.
"Lalu kenapa Via sampai ngamuk?" Tetiba Widia menanyakan perihal Via.
"Via tahu kalau gue naksir sama dia. Lalu dia memaksa gue mengakui nya disaat gue membahas elu dan Jerias." Kata Gerry menjelaskan duduk permasalahnya.
Widia dan Gerry kedua pribadi yang mementingkan logika ketimbang perasaan, namun berbeda dengan Via yang lebih menggunakan hati jika ada permasalahn seperti ini. Setelah berdiskusi panjang akhirnya Gerry mengiyakan permintaan Widia untuk berdamai dengan Via.
Widia mencari cara agar bisa berbicara dengan Via yang lebih sensitive, dan perasaan. Apalagi tragedi ini baru dialami oleh Widia, Gerry dan Via. Selama ini jika mereka ribut tidak pernah lebih dari 24 jam tidak berbicara. Ini record terpanjang mereka bertiga tidak berbicara satu dengan lainnya dengan ego masing - masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ayo di like dan comment serta di vote juga
__ADS_1