
Dari sekedar WhatsApp akhirnya mama nya Melissa menghubungi Ben melalui sambungan selular.
Drrrrrrtttt
telephone seluler Ben bergetar dan keluar nama yang sebenarnya tidak ingin Ben angkat tertera di layar telephone selulernya.
"Siang, Tan. Apa kabarnya?" Jawab Ben sekaligus menanyakan hal basa - basi.
"Baik, Ben. Kamu ada di London, England?" Tanya Mamanya Melissa yang ketahuan sama Ben berbasa - basi.
"Saya sedang di airport tante, akan bertolak ke Indonesia. Karena ada pekerjaan sangat penting sekaligus ingin berkunjung ke makam mamah dan papah." Jawab Ben yang akhirnya berkata sangat jujur.
"Oh, maaf. Yah, Ben. Tante tidak tahu kalau ayah dan ibu mu sudah tiada. Semoga apapun keadaan nya kamu harus kuat yah Ben." Kata mamanya Melissa yang masih saja merendahkan orang.
"Permisi pak Ben, boleh kami berfoto dengan anda?" Tanya seorang wanita yang menyapa Ben saat dia masih berbicara dengan mamanya Melissa.
"Maaf, Tan. Saya harus masuk ke pesawat, dan nanti saya hubungi tante lagi jika saya sudah mendarat di Indonesia." Sambung Ben yang terburu - buru lalu sambil menempatkan diri nya berfoto bersama dengan fans.
Mamanya Melissa akhir nya melihat pinstagram temena nya. Di pinstagram tersebut Ben dan teman nya mama nya Melissa bergaya. Tidak lupa juga
teman mamanya Melissa menautkan akun Pinstagram Ben. Tangan mamanya Melissa melihat Ben yang dia kenal adalah Ben yang di gandrungi oleh cewek - cewek seluruh dunia.
"Yang benar saja, Ben anak nya Novia Heidi?" Tanya mamanya Melissa dalam hati nya.
Di kepalanya masih tidak menyangka bahwa anak yang sederhana tersebut adalah anak orang terpandang. Penyesalan terhadap tindakan nya sekarang adalah terlambat.
...----------------...
Melbourne, Australia....
"Dasar wanita tidak berguna! Masa begini saja kamu tidak bisa melakukan nya?" Teriak laki - laki yang ada di kamar apartment berukuran kecil.
"Akuuu akuuu sudah berusaha Brad. Kamuuu kamuuu tidak pernah menghargai nya." Jawab wanita tersebut yang sudah berlumur darah.
GUBRAAAKKKK....
Pintu kamar di banting dan semua tetangga berhamburan keluar mendengar bantingan pintu tersebut. Perempuan tersebut menangis di ujung kamar dan meraih telephone seluler nya.
Perempuan tersebut menekan tombol nomor telephone yang sangat dia hafal saat ini. Muka sembab penuh lebam yang membuat nya hampir seperti monster.
Drrrrrrrrr....
__ADS_1
Telephone terus bergetar hebat, tidak pernah berhenti. Ben yang tadi sedang rapat akhirnya menjawab telephone tersebut.
"Halo.." Jawab Ben yang bingung kenapa Melissa menghubunginya terus menerus.
"Ben, tolong aku Ben." Isak Melissa yang sudah tidak tahu harus berbicara dengan siapa.
Lalu Melissa mengganti menjadi panggilan Video call. Ben terkejut melihat lebam di muka Melissa, hati nya sekejap hancur melihat sang mantan kekasih yang masih dia kadang rindukan.
"Tunggu disana, nanti aku jemput kamu." Kata Ben saat mengakhiri pembicaraan nya dengan Melissa. Dewin yang melihat dirinya 36 tahun lalu langsung menarik tangan Ben, dengan muka penuh tanya. Dewin membawa Ben ke kursi dekat ujung coffee shop.
"Ben, kamu tahu kenapa saya bisa bercerai dengan mamah mu?" Tanya Dewin tiba - tiba dan Ben tersentak kaget.
"Tidak om, aku masih penasaran kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Ben dengan penuh selidik.
"Dahulu om juga sepertimu, om punya mantan pacar yang sakit jiwa nya. Saat itu om tidak bisa memilih antara mamah mu dan wanita itu. Jika kamu melakukan hal sama. Kamu akan berakhir seperti om, Ben." Cerita Dewin yang membuat Ben terhenyak dan kaget karena Ben menyadari Dewin terperangkap di dunia masa lalu.
Ben menanyakan langkah hukum dengan papah Gerry, dan Ben menuruti kata - kata Gerry dengan menyerahkan kasus Melissa kepada team kuasa hukum Gerry. Melissa menatap wajah Ben yang bahagia bersama dengan Kaori di Pinstagram, air mata jatuh dan penyesalan selalu datang terlambat.
Team kuasa hukum Gerry akhirnya membawa Melissa keluar dan sempat ada keributan dengan pria yang bersama Melissa. Tubuh Melissa sudah hancur di pukuli. Kali ini team kuasa hukum Gerry menyeret pria itu ke jalur hukum.
Kaori menyusul Ben ke Australia atas saran Ben, dan kepergian Ben dan Kaori pun atas bimbingan Dewin.
"Setidak nya, kalian berdua menghadapi nya. Selesaikan masalah kalian bersama, dan ingat Ben. Sekali kamu meninggalkan istri mu, saat itu tidak ada kesempatan untuk kembali lagi pada hal yang sama." Nasehat Dewin yang membuat Ben kuat.
"Kakakakakakakaak...." Jeritan Shasha yang sangat Ben kenali seumur hidupnya.
"Buset, anak nya Erick Hardjanto! Kenapa dia ikut sih?" Kata Ben tiba - tiba yang membulatkan mata seketika ketika melihat Shasha.
"Mungkin Shasha butuh libur." Sahut Dewin yang mendengar ocehan Ben.
"Halo, om Dewin. Apa kabar?" Racau Shasha yang membuat Ben, Kaori dan Gerry kaget kenapa Shasha bisa sedekat itu dengan Dewin.
Sementara Dewin belum begitu nyaman dengan Shasha. Shasha yang sangat mirip dengan Erick secara sifat, tetapi muka sangat mirip dengan Via. Namun kemampuan dan kelebihan Via menurun ke Shasha. Berbeda dengan Ben yang menuruni Via secara sifat dan karakter. Tetapi muka nya mirip dengan Erick. Walaupun mereka kembar dan orang - orang menganggap bahwa Ben lebih tua dari Shasha.
"Ben, ayo. Kita kerumah sakit, biar kita tidak kelamaan." Ajak Gerry yang akan menemani Ben ke rumah sakit.
"Ayo pah, kita lihat kondisinya." Kata Ben yang bersyukur mempunyai keluarga yang sangat mendukung nya.
Perjalanan menuju rumah sakit Shasha dan Dewin berbincang - bincang di sepanjang jalan. Dewin merasakan kehadiran Via meski wujud nya sudah tiada. Shasha akhir nya bertanya kepada Dewin mengapa Dewin tidak menikah lagi.
"Ini Karma saya, setelah saya meninggalkan orang yang diperjuangkan." Kata Dewin yang menatap jalan saat berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Tetapi bukanya Wendi harus berbahagia dengan Peter Pan. Karena Tinkerbell melerelakan nya?" Kata Shasha yang membuat Dewin menangis dan terkaget mendengar Shasha mengetahui rahasia Tinkerbell.
"Sha, apa yang bunda mu katakan?" Tanya Dewin secara langsung dan muka Dewin seperti menahan rasa rindu.
Shasha mengeluarkan kalung bergambar Tinkerbell, dimana hanya Dewin dan Via yang mengetahui rahasia tersebut. Shasha memberikan kalung tersebut kepada Dewin sebagai pemilik utama.
"Om, ini kalung nya. Aku sudah kasih ke om, kata Bunda. Sekarang om sudah bebas dan bisa pergi." Jawab Shasha yang menyerahkan kalung tersebut.
"Mau gak, Shasha pakai ini? Om sangat berterima kasih kamu dan Ben menerima om." Kata Dewin dengan nada suara yang bergetar.
"Bunda bilang, kalau kehidupan akan datang masih berjodoh. Jangan ulangi kesalahan yang sama yah om." Kata Shasha yang membuat Dewin menangis karena merasakan pilu yang besar.
...----------------...
Ben melihat Melissa yang hancur akibat kekerasan dalam rumah tangga. Dokter yang merawat Melissa memberitahukan hasil MRI nya Melissa yang membuat Kaori menangis. Seperti mengingat kematian ibu nya saat dipukul oleh ayah nya.
"Ben, kalau bunda Via ada. Pasti dia akan marah, kamu tidak menolong Melissa. Lihat Ben, pria itu toxic. Dia play a victim loh..." Kaori memohon kepada Ben.
"Ben, kita tidak bisa biar kan ini. Kamu harus mendesak Melissa untuk memenjarakan laki - laki tersebut." Desak Gerry ke Ben dan akhirnya saat bertemu dengan Melissa. Ben menatap kasihan, seandainya bukan masalah harta. Mungkin Melissa lah yang menjadi istrinya.
Ben menatap Melissa dan Melissa melihat Ben dengan penuh senyum terima kasih.
"Ben, Terima kasih untuk pertolongan mu. Terima kasih juga buat Kaori, yang menyemangatiku." Kata Melissa terbata - bata.
"Aku minta persetujuan mu yah. Buat memperkarakan Brad di pengadilan. Untuk kasus penganiayaan dirimu." Tanya Ben dan di setujui oleh Melissa.
Gerry pun mengeluarkan surat - surat yang di tanda - tanganin oleh Melissa. Kaori pun mendekat dan ikut berbicara.
"Thank you, Kaori. Terima kasih atas info nya. Benar ini hubungan toxic bukan atas dasar cinta." Kata Melissa yang masih terbata - bata.
"Benar, Mel. Kamu layak mendapat orang yang lebih baik." Kata Kaori yang memegang tangan Melissa.
Melissa akhir nya memenangkan perkara penganiayaan besar dari Brad. Team kuasa hukum Gerry berhasil memindahkan Melissa ke London, England untuk pulang ke rumah nya.
Melissa menyesal tidak bisa memperjuangkan Ben. Lebih memilih mengikuti orang tua yang tertipu oleh mulut manis Brad yang mengalami penyakit psikopat. Keluarga Melissa bersyukur Melissa bisa selamat dari kasus Brad. Terlebih lagi Mama nya Melissa yang sempat terpukul hebat melihat anaknya sudah hancur oleh Brad.
°
°
°
__ADS_1
Terima kasih telah membaca dan terus di comment, like, share, dan vote. Jika ingin bergabung di group silahkan yah...