
Dewin memperhatikan muka Ben yang sangat mirip dengan Erick. Jelas terlihat sekali bahwa Ben mewarisi garis muka nya Erick, sementara Shasha mewarisi garis muka Via.
"2 Frappuccino Caramel with extra caramel shot yah." Pesan Ben kepada barista yang melayani Ben.
"Bagaimana kamu tahu kalau itu Frappuccino?" Tanya Dewin ke heranan akibat Ben mengetahui minuman nya tadi.
"Bunda saya senang minum ini, pak." Jawab Ben yang menatap kosong kearah luar jendela.
"Oh, maaf. Tidak maksud untuk mengingatkan anda." Buru - buru Dewin meminta maaf agar dia tidak di curigai.
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, Ben dan Dewin berbincang mengenai alasan mereka ke rumah sakit.
"Jadi kamu bilang mamah mu sudah hampir 6 bulan tidak sadarkan diri?" Tanya Dewin penuh hati - hati.
"Iyah, Pak. Sementara ayah saya kehilangan semangat hidup nya. Sedih rasanya melihat bunda dan ayah terpisah seperti ini." Jelas Ben yang entah ada perasaan apa bisa nyaman cerita kepada Dewin yang baru dia kenal beberapa menit lalu.
Sementara Dewin menatap kosong ke arah Frappuccino yang baru saja datang. Jelas teringat 30 tahun yang lalu. Dimana Via meninggalkan Dewin di coffee shop ternama ini saat berada di Vancouver, Canada.
"Aku bisa merasakan apa yang papah mu rasakan. Sama hal nya aku kehilangan istri ku akibat kebodohan diriku." Kata Dewin yang tiba - tiba mengeluarkan cerita masa lalu nya.
"Oh, maaf pak. Saya tidak bermaksud membawa anda dalam kesedihan yang sama." Ujar Ben yang merasa bersalah membuat Dewin teringat masa lalu.
"By the way kita belum kenalan. Perkenalkan saya Hyung Yoon Jae, kamu?" Kata Dewin memperkenalkan diri menggunakan nama asli South Koreanya.
"Benaiah El-Gibbor Hardjanto." Jawab Ben dan melihat Dewin tersenyum.
"Sang Panglima Perang yang Semesta Allah menyertai, arti nama mu?" Tanya Dewin saat mendengar nama Ben.
"Wow, anda hebat bisa menebak arti nama saya yang ayah saya berikan." Jawab Ben setengah terkagum.
Pembicaraan pun akhirnya terlarut hingga tanpa sadar mereka duduk berjam - jam. Menceritakan latar belakang mereka, hingga akhirnya bertukar nomor telephone. Berjanji untuk bertemu kembali saat ada kesempatan.
Dewin pulang ke apartment nya setelah melihat Via, lalu memandang foto mereka berdua saat melakukan foto prewedding mereka. Senyuman itu tidak pernah Dewin lupa. Bagaimana Via sangat bahagia, lepas dari segalanya. Bisa jadi diri sendiri tanpa tuntutan dari orang - orang banyak.
__ADS_1
"Kamu harus kembali, princess. Kasihan Erick dan Ben. Mereka butuh kamu Tinkerbell... Please do your magic..." Kata Dewin di depan foto Via dan berharap ada keajaiban.
Ternyata tidak ada keajaiban setelah terus menerus memanggil namanya Via. Tepat 7 bulan Via terkapar namun mata nya tidak kunjung membuka. Dokter bilang kondisi ini sudah dinamakan mati suri, namun heran organ - organ nya berfungsi dengan baik ketika Dewin memberikan darah nya untuk ke 2 kalinya.
Bahkan bisa dikatakan Via mengalami peningkatan kondisi dari awal. Seperti biasa Dewin menyelinap mengikuti Melvin saat mengunjungi Via.
"Tinkerbell bangun dong. Peterpan sudah nunggu lama, kasihan pangeran berkuda putih mu." Rintih Dewin dalam hati.
Diluar dugaan tangan Via merespon bergerak dan membuat Melvin tidak percaya. Dewin pun terus memanggil nama Via dari dalam hati dan berterima kasih kepada semesta atas keajaiban. Mata Via mulai terbuka dan Via melihat pertama kalinya bukan Erick melainkan Dewin.
Senyuman khas Via terukir jelas di wajah nya saat melihat dan merespon panggilan Dewin. Air mata Dewin jatuh di muka Via dan rasa nya ingin memeluk dan mencium kening nya karena rasa bahagia dan bersyukur Via bisa kembali membuka matanya.
Melvin menghubungi Ben dan Erick memberitahukan keadaan Via. Sontak Erick dan Ben ngebut menuju rumah sakit, namun sebelum Ben dan Erick sampai di rumah sakit. Dewin pun pamit undur diri karena tidak mau menjadi biang keributan.
"Saayaaang, terima kasih kamu telah kembali." Teriak Erick yang memeluk Via.
"Bundaaaaa..." Panggil Ben saat melihat wajah Via tersenyum.
Erick bahagia sekali melihat Via sudah membuka matanya. Dokter melakukan pengecheck an ulang dengan CT Scan dan MRI melihat perkembangan tubuh Via. Hasilnya bisa di bilang baik dan tampang Melvin tersentak saat melihat ada robekan kecil di area tenggorokan akibat luka penyerangan.
"Apa itu?" Tanya Ben penuh selidik dan bingung.
"Ibu Via akan kehilangan pita suara dan mungkin ada efek hilang ingatan minor." Jawab Melvin berusaha untuk tenang.
Erick sama sekali tidak terpukul, buat dia tidak apa kehilangan pita suara. Yang terpenting adalah Via bisa bangun dari tidur panjang nya. Hati Erick terasa hangat melihat Via membuka matanya kembali.
Setelah 7 bulan penantian membuat Erick bersemangat lagi. Hadiah terbesar Erick di tahun menuju tahun baru sekaligus ulang tahun anak nya Gerry dan Via yang secara bersamaan.
"Hello January baby!" Sapa Cia saat melihat Shasha dan Ben saat duduk di dekat meja makan.
"Hello kak Cia.." Balas Shasha mengambil potongan buah untuk Cia.
"Aku dah buat pattern baju buat mamah Via. Pasti mamah Via suka deh." Oceh Cia dengan gaya khas nya Gerry.
"Bagus nya, aku mau dong kak." Rengek Shasha ke Cia dan diberikan senyuman nakal oleh Cia khas Gerry.
__ADS_1
Hari ini dokter mengecheck kembali Via dengan CT scan dan MRI. Jelas untuk memastikan tidak ada kerusakan organ tubuh dan Via di perbolehkan pulang, jika hasilnya dinyatakan bagus oleh pihak rumah sakit.
Di satu sisi Via mencoba bicara namun tidak bisa mengeluarkan suara. Via kaget dan sempat menangis karena tidak bisa bicara. Erick yang melihat ikutan sedih. Ben membawakan KiPad untuk Via mengatakan apa yang dia ingin katakan.
"Aku ingin ke kamar mandi, tolong turunkan aku." Tulis Via di KiPad yang dikasih oleh Ben.
Segera Ben membantu sang Bunda untuk turun dari tempat tidur. Lalu mendorong Bunda ke kamar mandi menggunakan kursi roda. Setelah melihat hasil dari dokter kondisi terkini Via, akhirnya Via diperbolehkan pulang oleh Rumah Sakit.
Samar - samar Via melihat Dewin menatap nya. Setelah melihat menangkap mata Dewin, namun secara cepat Dewin mengalihkan pandangan matanya. Dewin lega karena tidak ketahuan oleh yang lain, namun Via melihat nya dan tersenyum.
Sementara dalam pikiran Via terus bergejolak untuk mematahkan ego. Bayangan masa lalu kembali berkeriyapan di dalam otak nya. Bahkan di dalam tubuh nya ada darah Dewin yang mengalir.
"Harus kah, aku menghubungi nya? Berikan aku petunjuk wahai semesta. Aku tidak sanggup melukai Erick." Rintih Via dalam hati dan menatap tajam ke arah luar rumah nya.
Shasha yang melihat sang bunda sedang merenung dengan iseng nya menggoda sang bunda.
"Bunda gak sayang aku yah? Aku rindu kamu tahu ..." Ambek anak gadis nya yang sudah tidak kecil lagi.
"Sayang kok. Lalu bagaimana study mu? Bunda juga mau kenalan sama Seon-Ho." Tulis Via yang menggoda Shasha yang sudah berani berfoto bersama lelaki lain selain Ben dan Erick.
"Menurut bunda bagaimana?" Tanya Shasha lagi penasaran dengan pendapat Via.
"Tanya Ayah mu yah..." Tulis Via lagi dan minta di dorong kursi roda nya untuk kembali ke kamar.
Wajah Shasha sedikit merajuk akibat jawaban Via. Banyak perubahan sifat Via yang dirasakan anggota keluarga. Hilang nya keceriaan di rumah, tidak ada lagi canda tawa menggoda dari Via dan ocehan Via jika rumah berantakan.
Via lebih banyak menghabiskan membaca buku dan latihan fisioterapi. Ternyata benar pepatah berbicara "Jantung nya keluarga adalah ibu, jika jantung itu hilang detaknya maka seisi keluarga akan mati juga."
Erick berusaha mengimbangi Via. Erick lebih banyak berkomunikasi dengan Via lewat aplikasi pesan singkat. Tidak jarang juga Erick mengajak Via untuk berbicara.
°
°
°
__ADS_1
Yeay, Like dulu, lalu comment, terus share dan Vote yah sahabat online.