Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Lunturnya Kepercayaan Cinta


__ADS_3

Langit di Geneva, Switzerland sangat indah di kala siang hari. Via yang masih jalan - jalan sambil memandangi sepanjang jalan raya dan melihat kendaraan yang lalu lalang. Mengingatkan di Tahun 2004 saat menjalani rehabilitasi mental.


#throwback 2004.


"Novia, si anak baik dan penurut. Gambar mu bagus yah?" Tanya Prof. Toké saat itu melihat Via menggambar dengan sangat detail dan rapih.


Sama seperti biasanya Via hanya terdiam dan menyimpan semua luka di hatinya sendiri tanpa orang-orang melihat seberapa Via terluka. Beberapa kali Via melakukan percobaan bunuh diri, selalu gagal.


"Kok jadi kelamaan throwing back yah. Sudah sekarang harus bisa berbenah diri" Kata Via dalam hati sambil menyemangati dirinya sendiri yang duduk di sebuah coffee shop melanjutkan membaca buku harian dari Tatha.


*Dear Pipiyo,


Wah pasti kamu sibuk dengan pekerjaan mu sebagai dokter specialist jantung yang ternama. Pi, kalau kamu merasa gagal itu it's okay kok dan itu sangat wajar. Berarti kedepan nya kamu harus lebih kuat lagi. Oh yah, bagaimana hubungan mu dengan cowok yang kamu suka? Semoga kamu bahagia. Aku bahagia banget sama Andrew yang mendukung ku. Kamu bagaimana?


Love - Renatha Sylvia Gunawan*.


Via pun membalas tulisan tersebut dengan cerita nya dengan Dewin. Lalu menceritakan bahwa setiap dia suka dengan orang selalu saja orang itu sudah punya orang lain.


Felli melihat Via yang duduk di coffee shop langsung menghampiri Via yang masih sibuk membaca buku harian Tatha dan bergantian dengan buku- buku hukum yang ada di depan nya.



Langkah Felli yang sangat pelan menghampiri Via namun ternyata Via masih asik membaca. Felli mulai iseng seperti kebiasaan nya. Memesan frappucino double caramel kesukaan Via tanpa whipped cream dan sebungkus oreo. Entahlah kenapa Via sangat suka banget sama oreo dan frappucino.


"Permisi, Frappucino Double Caramel dan Oreo nya." Sapa Felli dan berpura - pura menjadi waiter namun seperti biasa Via tidak menggubris nya. Hanya meminggirkan buku - buku nya tanpa melihat Felli.


"Permisi, ada lagi yang di pesan?" Kata Felli sambil melirik Via yang belum ngeh sama suara Felli.



Otak Via mengalami distraksi yang lumayan, dan sangat lucu. Hingga akhirnya menurunkan buku nya lalu melihat frappucino yang ada diatas meja.


Via tersenyum lebar ketika melihat Felli yang ada di sebelah nya yang berpura - pura menjadi waiter.


"Hei Fel. Ada apa?" Sapa Via tanpa bersalah mukanya dan mempersilahkan Felli duduk di dekat Via.


"Ini undangan gue, dateng yah sama Yudha." Kata Felli yang memberikan undangan pernikahan nya ke Via.


"Wooooh kalian nikah? Aaaahhhk selamat yah." Pekik Via yang kegirangan melihat undangan Feli dan Krishna.


"Telat lah. Eh kue nya gue pesen sama elu yah? Please pake banget." Balas Feli dengan sebuah permintaan yang bikin Via susah menolak.


Via tersenyum mengiyahkan permintaan Felli yang sangat ajaib. Felli dan Via melanjutkan pembicaraan mereka mengenai makanan apa saja yang akan Felli pesan sama Via.

__ADS_1


"Vi, gimana sama Yudha? Kapan kalian memberikan kabar baik juga?" Tanya Felli saat jalan pulang mengantar Via.


"Belum Fell. Nanti kalau hati ini sudah siap yah." Jawab Via meninggalkan Felli di depan gerbang rumah Prof. Bjorn dan Prof Cho Song Hwa.


Via langsung mencari refrensi mengenai wedding corner. Setelah sekian lama akhirnya jadi tukang catering lagi. Via pun mulai mendaftarkan bahan - bahan yang di butuh kan.


"Aunty Viaaaaaaa" Teriak anak kecil sepertinya Via mengenal nya. Teriakan nya terus membuat Via terganggu saat lagi mencari refrensi makanan.


"Aunty, kamu kenapa tidak menjawab?" Teriak anak kecil tersebut dan menarik tangan nya Via.


"Mireya mau apa?" Tanya Via yang menggendong anak tersebut.


"Aku mau Tiramisu buatan Aunty." Kata Mireya dengan lantang dan pasti.


Lagi - lagi Via tersenyum dan membawa Mireya ke dapur dan memberikan anak tersebut soft cookies yang kemarin Via buat.


"Bilang apa Mireya?" Kata ibu nya Mireya yang berasal dari Jerman. Wajah nya kental sekali blonde nya.


"Terima kasih aunty, kamu emang terbaik."Kata Mireya yang turun dari gendongan Via lalu dengan muka yang senang dia memamerkan kue yang Via kasih.


Via membereskan bekas cookies yang diambil lalu di taruh ke piring dan tidak lupa dengan teh manis buat acara tea time.


" Vi, aku mau pesan dong kue mu. Maxime suka sekali dengan kue - kue mu." Kata Ibu Mireya yang tidak lain adalah kakak ipar Via.


"Hari ini giliran Via yang akan mempersiapkan makan malam"Kata Prof. Cho yang tiba - tiba bergabung dengan Via dan mama nya Mireya.


" Alright, mom. Nanti kalau tidak enak jangan salahkan Via." Gurau Via saat di goda oleh Prof. Cho saat berada di dapur.


"Lihat lah Annette, Via malah menyuruh mamah nya untuk memasak" Ledek Prof. Cho yang terus menggoda Via.


Annette dan Prof. Cho segera keluar dari dapur dan memberesi meja makan karena mereka akan makan malam. Kali ini adalah hari special karena Alex dan Giselle pulang ke rumah Prof. Bjorn mereka baru saja mendapat rejeki anak. Jadi hari ini akan ada makan malam keluarga besar.


Karena Via sibuk berkutat dengan masakan Annette membantu Via menata meja makan dan sesekali memperhatikan Mireya bersama Maxime. Annette sangat teliti dengan apa yang ditata nya diatas meja. Jadi Via merasa aman mempercayakan kepada kakak iparnya tersebut.


"Vi, sudah kelar semua. Yuk, kamu cepat mandi. Sebentar lagi Giselle dan Alex akan datang." Teriak Annette dari arah meja makan. Mendengarkan hal tersebut Via langsung buru - buru mandi dan tidak lupa untuk sedikit dress up.


Via memastikan semua makanan tersusun rapih di meja dan ternyata Alex serta Giselle sudah datang. Mereka sedang bercengkrama di ruangan tamu. Giselle melihat Via langsung berdiri dan menghampirinya.


"Aku tidak sabar makan masakan mu." Kata Giselle lalu tidak lama memberikan sebuah kado untuk Via.


"Apaan ini?" Tanya Via dan Via membuka bungkusan nya. Ternyata buku - buku masakan dan pastry.


"Aku tahu kamu pasti suka. Oh yah, aku punya ide apakah kamu mau?" Kata Giselle sekaligus menanyakan pendapat Via.

__ADS_1


"Ide apa?" Kata Via sambil menaruh buku - buku tersebut. Lalu memanggil Prof. Bjorn dan Prof. Cho serta kedua kakak laki - lakinya dan istrinya.



Kedua kakak angkatnya dan para istri sibuk memotret hasil karya Via dan tidak lupa mereka bersenda gurau. Via masak kali ini dengan perpaduan menu German dan Switzerland. Annette dan Giselle tidak henti - hentinya mengabadikan makanan mereka dan memasukan kedalam akun social media mereka.


"Jadi kapan kita makan, jika kalian terus mengabadikan makanan ini?" Sindir Prof. Bjorn saat duduk di bangku nya serta memperhatikan tingkah laku kedua anak nya dan kedua menantunya.


Segera anak - anak Prof. Bjorn duduk manis di tempat nya. Tidak terlewatkan Via juga, kebiasaan dari pada keluarga Prof. Bjorn adalah jika di meja makan tidak ada gadget apapun. Jadi semua harus bertegur sapa satu dengan lain nya.


"Maah, aku nginep disini yah? Biar bisa makan masakan Via setiap hari." Rengek Giselle ke Prof. Cho yang duduk disebelahnya Giselle.


"Boleh, asalkan Via mau." Jawab Prof. Cho yang menikmati roti yang di celup keatas kuah keju mozzarella cair.


"Lagian aku punya ide untuk tanah di belakang rumah ini." Kata Giselle sambil mengutarakan keinginan nya membuka restaurant.


Semua mata tertuju ke Giselle dan kembali melanjutkan makan malam. Setelah makan malam Via menyuguhkan kudapan manis yaitu bread pudding andalan nya.


Sekali lagi Giselle mengutarakan keinginan nya untuk membuka restaurant dengan menggunakan kebun belakang rumah Prof. Bjorn dan Prof. Cho yang luas.


"Jadi Pah, aku pernah makan di dormitory nya UN. Dia menjual menu - menu makanan yang tidak biasa. Sementara si pemilik dan chef nya tidak pernah kita tahu siapa." Kata Giselle memulai pembicaraan membuat Via kaget karena itu konsep restaurant nya terdahulu.


"Lalu?" Kata Prof. Bjorn penasaran dengan cerita Giselle.


"Jadi kita hanya di layani waiters dan kita hanya di info lewat BBM group yang akan di ganti setiap harinya. Parah nya reservasinya selalu fully booked." Sambung Giselle dan membuat Prof. Bjorn sedikit curiga.


"Oh gitu. Sepertinya papah kenal dengan chef nya." Ledek Prof. Bjorn dan Giselle semakin penasaran siapa chef nya.


Via berpura - pura tidak mengerti dengan apa yang menjadi omongan Giselle saat ini.


"Baik, kalau kamu mau buka restaurant di belakang. Lalu siapa yang akan masak?" Tantang Prof. Bjorn ke Giselle saat ini.


Giselle termenung dan berusaha merayu Via, apa data Via hanya angkat bahu tanda tidak mau ikutan dengan ide dari Giselle.


°


°


°


°


°

__ADS_1


Like, Love, Vote dan komen juga yah...


__ADS_2