
Kepala Erick kini di bayang-bayangi oleh perkataan sang mama. Dalam relung hatinya semua yang di katakan sang mama benar ada nya. Erick memilih kemeja andalan berwarna putih dan celana berwarna khaki.
Pukul 5 sore Erick berangkat dari Bintaro menuju International Hotel untuk menjemput Via menggunakan kijang Innova kesayangan Erick. 1,5 jam Erick menempuh perjalanan macet dan akhirnya sampai di lobby. Erick melihat Widia dan Via sudah siap dan ada Yudha disana.
"Viii..." Sapa Erick dan membuat Yudha kaget saat melihat kedatangan Erick.
"Heii, oh yah Yudh. Aku dan Erick mau info, nanti kita berdua akan kirim undangan yah."Kata Via memberi informasi kepada Yudha.
"Selamat yah, Rick. Gue dah dengar cerita dari Via semua nya."Ucap Yudha yang menyelamati Erick saat mereka bertemu di Lobby.
"Iyah, terima kasih. Gue berharap elu dapat yang terbaik juga."Balas Erick yang memberi ucapan doa untuk Yudha.
Pertemuan dengan Yudha di lobby yang membahas ranah kerja dan akhirnya bisa mengajak 3 orang ini untuk makan di restaurant hotel.
"Via gak mau makan di hotel, mau makan di pinggiran." Protes Via yang di ikuti oleh Widia dan Jerias.
"Kalau begitu kita makan di Blok M ajah Bagaimana?" Ajak Erick dan entah mengapa 3 manusia itu langsung menyetujuinya.
Erick melajukan mobil nya ke arah Blok M dan merasa kali ini Erick salah kostum. Via dan Widia pun juga sama, berbeda dengan Jerias yang menggunakan kaos.
Sampai di daerah Blok M Widia dan Via menjerit kegirangan ngeliat bajaj.
"Nggak usah norak gitu. Kemarin di Jaipur kamu gak mau naik bajaj."Ledek Erick ke Via yang di dengar sama Widia.
"Aduuuuuuuh, bebiiiiih sakiiiit."Teriak Via yang di jewer sama Widia ketika destinasi liburan Jaipur sudah Via datangin.
"Coba jelasin, kenapa ke Jaipur sudah duluan?" Kata Widia yang mulai menjewer Via, karena merasa tidak setia kawan.
"Terus yang Honey moon ke Buthan, Via ga di ajak." Bales Via ngomel yang membuat Widia melepaskan jeweran di telinga Via.
Erick melihat kelakuan 2 orang ini benar-benar seru. Selama 30 menit Widia dan Via adu mulut mengenai Jaipur, tidak kalah juga Gerry mengomel karena Via liburan ke Jaipur tanpa Gerry dan Widia melalui video call.
"Yah udah, Ger. Nanti kalau Gerry Junior lahir dan sudah 3 bulan. Widia masih kosong sama Jerias, kita ke Mesir dan Jordania yah."Relai Erick yang berakhir bahagia. Kalau tidak 3 anak ini akan terus ribut hingga ada yang mengalah.
"Akhirnya kita berdua bisa makan juga yah Rick." Kata Jerias setelah turun dari mobil.
2 pasangan ini mencari tempat makan yang enak untuk bisa ngobrol. Sekaligus bisa buat kenang-kenangan. Via dan Widia sudah berjalan duluan menyusuri sepanjang jalan Blok M yang ada di belakang mall tersebut. Mulai lah Via membawa kantong belanjaan Disney dengan isi jajanan pasar yang sudah di beli Via saat jalan, lalu berbeda dengan Widia yang berisi gorengan.
__ADS_1
Sementara Erick dan Jerias duduk di warung tenda Gultik* yang tidak begitu ramai. Widia yang memamerkan kepada Gerry makanan-makanan yang habis di beli Widia dan Via. Gerry hanya terduduk lemas ingin sekali makan gultik.
*Gultik \= Gulai tikungan di pinggiran blok m Jakarta.
"Akhirnya balik juga dan bisa mulai makan kita." Kata Erick yang sepertinya bersyukur karena Via datang bersama Widia.
"Noviaaaaaa...." Teriak segerombolan cewek-cewek membuat Via tersedak akibat teriakan cewek-cewek tersebut.
"Boleh minta foto tapi tertib." Kata Widia yang menjual Via kepada fans nya.
Jika bersama dengan Widia, Via harus pasrah dengan kondisi seperti ini. Via menuruti permintaan para fans nya tersebut setelah minum akibat tersedak.
"Boleh ulang ganti gaya?" Pinta salah satu remaja dengan gaya style nya seperti orang korea.
"Waah, itu Novia Heidy." Teriak turis Korea yang melihat Via meladeni para fans dari Indonesia.
"Boleh, tetapi mengantri yah." Kata Via dalam berbahasa Korea.
Via mengucapkan terima kasih kepada fans Indonesia, lalu fans nya yang turis Korea. Sementara Widia, Jerias, dan Erick menikmati makan malam dengan gultik.
"Aku lapar, artis bukan. Diserbu fans." Curhat Via yang merasa privacy nya dirampas oleh social media.
"Sabar yah, Tuhan tuh adil. Dulu di SMU gak ada yang kenal kamu. Aku pun yang 1 sekolah ama kamu juga baru tahu ketika kita reunion." Kata Erick yang menahan ketawa saat mendengar Via curhat.
Via dan Erick akhirnya punya kesempatan berdua dan mereka kepantai Ancol malam-malam.
"Viii, menurut kamu apa arti sebuah hubungan?" Tanya Erick secara random.
"Menurut ku pertama ada sebuah hubungan yang menghargai, kejujuran dan komunikasi. Tapi dari itu semua yang terpenting adalah komunikasi."Jawab Via yang menatap laut lepas seakan melegakan pikiran nya.
"Kenapa komunikasi?"Tanya Erick lagi dan mendekat kepada Via.
"Jika hubungan 1 arah komunikasinya, kita tidak akan menemukan kebahagian dalam apapun. Namun jika 2 arah dalam keadaan susah apapun akan bisa di lalui dan bisa bahagia."Jawab nya Via lagi. Erick mengetahui apa yang mama nya katakan. Bahwa hubungan itu seperti mendayung perahu, jika hanya satu yang mendayung perahu itu tidak seimbang dan bisa karam kapan pun. Namun jika berdua akan cepat sampai tujuan dan bisa menikmati kebahagiaan.
Perasaan Erick seperti tercerahkan ketika mendengar perkataan Via. Erick menggandeng tangan Via lalu mengajak nya pulang. Kali ini Via merasakan di cintai oleh pasangan bukan karena rasa kasihan, rasa nafsu dan lain-lain.
Sesampai Lobby International hotel, Erick pamit pulang ke Via dan mengirimkan salam untuk kedua orang tua Via.
"Kasih tau aku kalau kamu sudah sampai yah."Perintah Via yang harus di penuhi oleh Erick.
__ADS_1
"Siap, princess. See you tomorrow yah."Kata Erick yang melambaikan tangan nya.
Erick kembali ke rumah dengan perasaan bersyukur. Saat dalam perjalanan dering telephone Erick terus bergetar. Erick akhirnya membelokan mobil nya ke arah warung pinggir jalan.
Drrrrrrrrrrrrrttttt.... Drrrrrrrrrrrrrttttt
Layar telephone seluler Erick menampilkan nama penelpon Dickson Wicaksono.
"Halo, bro Erick. Gue di depan rumah lu nih. Dimana lu?" Tanya Dickson saat Erick menjawab telephone tersebut.
"Sekitar Pondok Indah, menuju Veteran. Mungkin sekitar 30 menit sampe." Kata Erick yang datar.
"Gue tunggu deh."Balas Dickson yang menunggu didalam mobil sport carnya.
Erick menutup kasar telephone seluler nya dan melajukan kendaraan nya dengan cepat. Persis 30 menit Erick sampai di rumah nya. Lalu melihat mobil sport carnya Dickson. Erick memarkir mobil nya dan mengganti bajunya dengan lebih casual.
Setelah berganti baju dan memakai sendal kesayangan nya, Erick menemui Dickson yang masih ada di depan.
"Kita clubbing yuk? Bill on me*" Kata Dickson yang sepertinya sedang mabuk.
"Nggak, besok gue mau ke rumah keluarga besar gue. Dan memperkenalkan calon istri gue ke mereka." Kata Erick mencari alasan untuk tidak membuat Dickson mengajak nya lagi.
"Sekarang elu nggak asik, Rick. Sejak sama tunangan sama Vika."Ejek Dickson yang tidak tahu akan kebenaran nya.
Perdebatan menuju ke club akhir nya di sudahi Dickson dengan pergi sendiri. Erick merasa semakin bersalah dengan kebenaran yang Erick sembunyikan.
Didalam hati Erick akan berkata jujur setelah pemberkatan nikah dengan Via. Karena Erick tahu sifat Dickson yang tidak boleh kalah sama sekali.
Erick dan Dickson sudah berteman dari bayi, kedua orang tua mereka saling bersahabat.
Jadi tidak heran kalau Dickson dan Erick sering bersama. Dickson anak ke 2 dari 3 bersaudara, yang di isi 1 kakak perempuan dan 1 adik perempuan. Dickson dilatih sang ayah sedari kecil untuk melindungi keluarga nya. Tak heran sikapnya seperti itu.
°
°
°
°
°
__ADS_1
Yuuuk, kita serbu komen cerita ini. Lalu like cerita ini juga. Terus di love novel nya dan di vote novel nya. Di Novel Hotelier ada cerita masa lalu Erick loh...