
Via menatap lekat Gerry yang kelelahan, dan beranjak kearah jendela menatap jalan Jakarta yang masih padat dengan kendaraan. Ada rasa hati ingin menjerit seketika. Terhimpit dengan perasaan seperti ini membuat perasaan bimbang.
2 jam Via menatap jalanan Jakarta tidak membuatnya merasa kelelahan. Hingga akhirnya...
"Lu, belum tidur Via?" Sapa Gerry tiba - tiba bangun karena meraba - raba kasur nya tidak ada orang disebelah.
"Belum ngantuk Ger. Kenapa?" Jawab Via dengan Mengembangkan senyum manisnya menatap Gerry dengan mata yang penuh kekosongan.
"Nggak kenapa - kenapa? Apa lu mau gw pesenin susu hangat kah?" Tanya Gerry yang juga menawarkan minuman yang bisa langsung membuat Via tertidur dengan pulasnya.
Via menatap Gerry dan tersenyum serta menggelengkan kepalanya yang menandakan Via, tidak menginginkan nya. Sementara di dalam kepala Via masih berputar kenangan - kenangan bersama Yudha. Perasaan bersalah menghampiri di dalam pikirannya.
Drrrttttt.... Telephone Seluler Gerry berbunyi...
"Ger, kamu dimana?" Tanya orang yang ada di ujung telephone sana.
"Lagi di tempatnya Via. Kenapa?" Jawab Gerry yang akhirnya bertanya balik.
"Kamu nggak pulang?" Tanya orang diseberang sana kembali dengan perasaan gusar karena cemburu.
"Abis breakfast aku langsung pulang." Jawab Gerry yang sekedar namun mulai gelisah karena tidak ingin melukai orang yang di ujung telephone sana.
"Okay, see you tomorrow Ger." Bales orang yang diujung telephone. Via yang mendengarnya kembali semakin larut dengan perasaan nya.
Ingin rasa nya berkata kasar secara langsung namun bibir ini terkatup sehingga susah untuk mengeluarkan kata - kata. Pagi pun akhir nya datang juga dan makan pagi Via minta di kamar karena semalaman tidak bisa tertidur. Akibat banyak pikiran yang melayang di atas kepalanya.
"Mau susu?" Tawar Gerry yang membawakan susu segelas dari meja.
"Aku bisa ambil sendiri kok, kamu pulang ajah." Kata Via yang berusaha tegar dan kuat untuk melepaskan Gerry. Via tahu setelah Gerry keluar dari kamar hotel, Gerry akan menjadi milik Claudia kembali dan setelah itu Via akan bersama dengan Yudha kembali.
"Yuk, selesaikan baik - baik. Biar tidak ada penyesalan dimasa yang akan datang." Kata Gerry dengan tersenyum yang menyimpan luka.
Via pun setengah berlari mendekat ke Gerry dan memeluknya dengat erat. Entah dari mana kekuatan itu berasal, Via yang biasanya bisa menahan diri entah mengapa hari ini tidak bisa menahan dirinya.
Gerry pun juga tidak bisa menahan pelukan Via yang memeluknya dengan erat. Melihat Via meneteskan air mata, tangan Gerry tidak kuasa mengelap air matanya Via.
"Vi, jangan begini dong. Berat buat gue meninggalkan elu seperti ini." Bisik Gerry yang juga mengeluarkan air mata tersebut.
Belum melanjutkan kata - kata Via, sudah mencium bibir Gerry dengan lembut.
"Sekali ini saja, habis itu kita lanjutin cerita kita di kehidupan akan datang." Kata Via memohon kepada Gerry.
"Apaan sih Vi, jangan aneh - aneh deh kalau ngomong." Jawab Gerry yang sedikit aneh dengan omongan Via kali ini.
Dengan cepat Via mencium kembali bibir Gerry dan pertahanan Gerry akhirnya runtuh seketika saat badan nya membawa dirinya larut dalam adrenalin bersama Via. Badan Via yang sudah ada di bawah Gerry pun mengikuti irama permaian dimana Gerry mulai menciumi leher Via dan trurun kebawah. Via pun hanya bisa mendesah dan membuat Gerry semakin liar dalam permainan dan lupa memakai alat pengaman.
"Vi... " Panggil Gerry yang menikmati keliaran tubuh nya kali ini.
"Gerr, lagi..." Jawab Via yang terbata - bata akibat permainan Gerry yang semakin kuat di pagi hari.
"Ahhhkkk..." Jerit Via tiba - tiba dan membuat nafas nya terengah - engah. Sambil menggenggam seprei kasur hotel.
Ada yang hangat masuk kedalam tubuh Via, dan Gerry pun merasakan kepuasan setelah melepaskan cairan tersebut. Melihat Via tidak berdaya akhirnya, membuat Gerry merasakan kenikmatan yang tidak pernah dia dapet di wanita mana pun.
"Viii, ayoo bersihin. Abis ini gue pulang." Ajak Gerry ke Via saat melihat Via tersenyum malu - malunya. Dengan muka masih tersenyum akhirnya Via mengikuti Gerry dari belakang. Mandi berdua bagaikan sepasang kekasih, namun yang sebentar lagi akan berpisah.
Setelah mandi Via dan Gerry melanjutkan makan pagi. Muka Via masih tersenyum namun di dalam kepalanya tersimpan rencana akan pergi menghilang. Setelah beres semua Gerry pun pamit ke Via yang masih di hotel sampai besok siang.
"Sepertinya aku harus kembali ke Geneva dan memberesi kepindahan ku ke Korea Selatan. Aku harus memikirkan bagaimana cara agar tidak ketahuan." Kata Via dalam hati yang tangan nya masih menjawab email masuk.
Seminggu berlalu Widia, Gerry, juga Via pun berkomunikasi dengan lancar. Via tidak menimbulkan tanda - tanda yang aneh. Via pun akhirnya membeli Telephone Seluler 1 lagi untuk nomornya yang baru.
"Saat nya tiba, selamat tinggal Jakarta. Geneva aku kembali." Kata Via di airport yang diantar oleh Yudha. Via pun memberikan pelukan nya yang terakhir ke Yudha.
"See you next week yah Vi. Aku ada jadwal ke Swiss." Bisik Yudha yang memeluk erat Via.
"See you when I see you." Kata Via dan buru - buru masuk kedalam boarding gate nya.
"Maafin Via yah Yudha, kamu tidak pantas buat Via selingkuhin hatinya." Kata Via dalam hati sambil melambaikan tangan nya kepada Yudha untuk terakhir kalinya.
Perjalanan Jakarta - Geneva yang memakan waktu 22 Jam membuat kepala Via sedikit migrain. Via melihat kamarnya yang sudah kosong oleh jasa pengangkut dan tinggal kasur saja. Tubuh Via terasa melelahkan sekali dan Besok harus menghadap professor Bjorn. Via pun secepat tenaga mengistirahatkan badan nya dan menutup matanya agar besok bisa ketemu dengan sehat.
"Morning, Mr. Bjorn!" Sapa Via saat bertemu di cafeteria dekat kantornya. Seperti biasa Mr Bjorn selalu mengantri segelas kopi dan croissant di kafe tersebut. Kebiasaan yang sangat Via hafal dari 3 tahun lalu.
"Bonjour, Novia Heidi." Balas Mr Bjorn dengan tersenyum ramahnya.
__ADS_1
"Well, terima kasih kalau kamu ikut dengan saya ke Korea Selatan. Tenang saya akan merahasiakan keberadaan mu. Namun, bisa kah kamu jelaskan alasan nya?" Kata Mr Bjorn yang masih heran kenapa Via minta di rahasiakan keberadaan nya.
"Saya patah hati Mr. Bjorn. Dan ingin menyendiri sekaligus merefleksikan diri." Jawab Via sambil bergurau. Melihat tatapan Via sedikit kosong Bjorn pun tidak melanjutkan pertanyaan nya.
"Kalau begitu sampai ketemu besok siang di Bandara. Kita akan berangkat bersama - sama" Kata Mr Bjorn yang memberikan ticket Geneva - Seoul ke Via.
Muka Via akhirnya berbinar - binar melihat tiket di depan mata. Via pun segera membereskan administrasi pemindahan kerja. Jelas kerja sambil S2 tidak mungkin di lewatkan oleh Via. Via akhirnya menata setiap dokumen yang akan dia bawa. Sehingga Via lupa dengan telephone selulernya. Mr. Bjorn lebih banyak menghungi Via melalui nomor barunya.
Hingga pagi - pagi waktu Geneva. Via melihat baterai telephone selulernya yang lama telah habis menunggu mati. Via juga melihat banyak sekali miscall dan pesan yang masuk namun tidak di bukanya dan akhirnya telephone selulernya menghembuskan nafas terakhir.
"Akhirnya mati juga, tanpa aku harus matiin. Sekarang saatnya pergi, dan memulai kehidupan yang baru." Kata Via kepada dirinya sendiri. Perjalanan dari Geneva menuju Bern membuat Via sedikit ngantuk. Sementara di Indonesia Yudha mulai gelisah karena Via dari kemarin tidak bisa di hubungi.
Drrrrrrrrtttttttt....
WhatsApp Gerry dan Widia bergetar..
Yudha is typing....
Gerry dan Widia heran kenapa Yudha menghubungi mereka.
Yudha : Wid, Ger. Via kemana yah?
Widia dan Gerry: Lagi sibuk dia sama kerjaan nya Yudh. Kan kalau balik ke Geneva begitu si Via. Semua tidak tersentuh sama sekali.
Yudha : Oh gt. Oke deh...
Via pun mulai mengganti emailnya dengan email yang baru. Semua dengan yang baru agar tidak bisa melacak keberadaan nya. Bahkan ke keluarganya Via pun tidak memberitahukan.
"Sepertinya namaku di panggil - panggil oleh petugas." Kata Via dalam hati.
"Novia Heidi..." Panggil Mr Bjorn yang duduk disebelah Via. Tempat duduk VIP untuk kelas bisnis. Via pun memperhatikan arahan - arahan yang di berikan oleh Mr. Bjorn. Via mulai mencatat semua nya.
Tidak Teresa perjalanan 20 jam direct dari Geneva ke Seoul membuat Via tidak kelelahan.
"Via, kamu langsung ke Seoul National University. Dan bawa surat - surat ini agar di proses. Kamu ketemu sama Prof. Cho Song Hwa istri saya. Saya mau pulang kerumah dulu ketemu anak - anak saya." Perintah Mr. Bjorn
Via cuma tersenyum dan memberikan pelukan hangat ke bapak angkatnya. Lalu mengikuti orang yang menjemput mereka berdua. Via ngamati suasana pagi di kota Seoul membuatnya terasa ada energy yang baru.
Setelah sampai Via langsung bergegas menuju ruangan yang di perintahkan oleh Mr. Bjorn untuk bertemu Prof. Cho Song Hwa. Well, proses pun berjalan lancar tanpa ada masalah. Via pun menuju kamar dormitory yang disediakan untuknya. Yang dimana barang - barang nya sudah sampai terlebih dahulu.
"Aaaaarrrghk... Sial! Kemana sih itu anak." Teriak Gerry yang menghantam tembok dengan pukulan nya.
"Gerry, kamu kenapa?" Tanya Claudia yang merasa heran dengan Gerry.
Sementara Yudha melacak keberadaan Via, yang diketahui masih berada di Geneva berdasarkan data keluar masuk imigrasi. Bahkan terakhir kali panggilan telephone masih di Geneva. Bahkan begitu juga kartu - kartunya terakhir dia pakai pun masih di Geneva dan belum ada pengeluaran yang besar. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali, bahkan teman - teman kantor Via masih sempat bertemu dengan Via.
"Via, kamu dimana sih..."Rintih Yudha yang kebingungan dimana Via berada.
Via benar - benar menghilangkan jejak nya hingga tidak bersisa. Bahkan tidak menghubungi keluarga satu pun, sehingga Via mulai masuk daftar orang hilang. Namun di sisi lain, Via sudah mulai menjalani kehidupan normal dinegara gingseng atau Korea Selatam. Waktu terus berjalan dan akhirnya tidak terasa Via sudah 2 tahun berada di Korea Selatan dan menyelesaikan program S2 nya.
"Via, congrats yah. Nilai tugas akhir mu cumlaude bener - bener spectacular." Kata Prof. Cho Song Hwa yang memberikan Selamat kepada Via saat selesai Wisuda program Magister Hukum International sub International Boundaries.
"Terima kasih, kalau bukan bimbingan Prof. Cho dan Prof. Bjorn mana mungkin saya lulus dengan nilai cumlaude." Balas Via yang memuji kedua prof nya itu, dan berterima kasih atas dukungan nya.
"Novia Heidi, Ternyata insting saya tidak salah kan?" Ledek Mr. Bjorn yang memberikan ucapan selamat atas kelulusan Program Magister S2 Hukum Via.
"Ahk, Prof. bisa ajah, saya tanpa kalian mana bisa lulus tepat waktu." Kata Via yang tersenyum dan mengikuti langkah kedua professor tersebut. Via melihat kedua professor tersebut begitu bahagia sekali.
"Via, kalau kamu mau liburan. Ambil lah, kasih reward kepada dirimu sendiri." Kata Prof. Cho saat duduk berhadapan dengan Via di rumah makan traditional Korea.
"Iyah, Prof Cho, aku akan ke Pulau Jeju untuk melihat keindahan musim semi menuju musim panas. Sehabis itu saya akan ikut program training campus untuk menjadi guru pengganti sementara dikelas Prof Cho. ketika Prof Cho berada di Geneva, Switzerland." Kata Via mantap dan melihat muka Prof. Bjorn keheranan akan perkataan Via.
"Kamu mau kuliah lagi? Buat apa?" Tanya Prof Bjorn saat mengetahui Via mau menjadi asisten Prof. Cho
"Biar aku bisa memahami kasus - kasus sulit prof. " Jawab Via mantap dan meminta persetujuan mereka berdua.
"Gila kah kamu? Sudah liburan sana. Jangan rusak masa muda mu dengan hanya belajar dan belajar." Kata Prof. Cho Song Hwa ketika mendegar alasan Via.
Makan malam sehabis wisuda sangat membuat Via bahagia. Bagaimana tidak Via sangat merindukan hangat nya keluarga, lalu melayangkan pemikiran nya.
"Sudah 2 tahun aku di Korea Selatan, walau terasa sepi tetapi aku merasakan kehangatan." Kata Via dalam hati. Ketika berjalan melihat Prof Bjorn dan Prof Cho jalan berdua.
Setelah sampai di dormitory Via bergegas membereskan baju untuk liburan. Liburan hadiah ulang tahun pada diri sendiri di tahun 2012.
"Tahun ini tepat umur 25 tahun, iyah. 2 sahabat ku juga berulang tahun. Untung aku sudah belikan mereka hadiah seperti tahun - tahun sebelumnya." Kata Via dalam hati dan menatap foto Gerry dan Widia di layar telephone selulernya.
__ADS_1
Gara - gara melihat foto mereka berdua Via akhirnya terlelap. Hingga pagi hari ketika melihat alarm untuk menuju ke Pulau Jeju siang hari. Setelah beberesan baju, Via turun ke bawah untuk mandi dan....
"Saeng-il chugha hamita..." Nyanyi Prof Cho dan Prof Bjorn yang membawakan kue dan soup rumput laut.
"Terima kasih kejutan nya. Prof!" Isak Via melihat effort dari Prof Cho Song Hwa dan Prof Bjorn.
"Ayo, baca doa mu dan tiup lilin nya." Teriak Prof Cho Song Hwa.
"Terima kasih buat semuanya. Kalian emang terbaik." Kata Via lagi setelah baca doa dan tiup lilin nya.
"Ayo cepet mandi, lalu makan soup rumput laut. Lalu kita ke airport untuk anter kamu ke pulau Jeju." Kata Prof Bjorn yang sangat existing dengan Via liburan.
Dengan cepat Via ke kamar mandi dan tidak menunggu lama akhirnya Via duduk manis dengan lengkap Baju yang akan di bawa sama Via ke pulau Jeju.
"Terima kasih, Via. Cuma bisa bilang ini Prof!" Kata Via yang sedikit terisak saat memakan soup rumput laut.
Perjalanan ke pulau Jeju hanya memakan waktu 1,5 jam dari kota Seoul menggunakan pesawat. Begitu di perjalanan Via melihat hamparan bunga Sakura di sekitar sepanjang perjalanan.
Setelah puas dengan foto - foto, Via menuju hotel yang Via sudah pesan melalui media online. Sungguh lucu ketika melihat hotelnya yang mengahadap pulau Jeju yang indah. Namun...
Braaaakkkk.....
"Maaf tidak sengaja menabrak. Maafff..." Kata Via dalam berbahasa Korea fasih.
"Viaaaaa.... " Teriak cowok tersebut dan langsung memeluk Via dengan erat.
Via yang melihat ini langsung berdiri pucat pasi, karena bertemu dengan Kak Dewin.
Dengan sedikit mengancam Via, akhirnya Kak Dewin di perbolehkan ke. kamar Via.
"Kamu kemana ajah? Kamu tuh masuk daftar orang hilang tau di Indonesia dan Geneva." Kata Dewin yang terkejut dengan apa yang Via katakan.
"Yah, Via pengen menyendiri ajah kak. Kalau kakak kasih tau keluarga ku, aku akan pergi lagi!" Ancam Via dengan muka serius.
"Yah, kalau begitu bagus dong. Berarti ini destiny kita. Maafin aku, yang telah menyia - nyiakan kamu selama ini." Kata Dewin tiba - tiba membuat Via semakin tertegun.
"Novia Heidi, aku menunggu mu dari sejak kejadian ulang tahun mu. Hingga saat ini, tepat di hari ulang tahun mu. Tuhan mengembalikan kamu ke tangan ku." Kata Dewin lagi membuat Via bingung dan cuma bisa bengong.
"Maksud kak Dewin bagaimana?" Tanya Via yang kebingungan sama perkataan Dewin.
"Iyah, aku menunggu mu di Korea, karena tidak berani memperjuangkan mu yang bersama lelaki lain." Jawab Dewin mulai menggenggam tangan Via.
"Nanti aku di tinggal kayak kemarin lagi?" Sindiran halus dari Via.
"Aku akan bawa kamu ikut pergi bersama ku." Jawab Dewin dengan mantab.
Akhirnya Via mengiyakan permintaan Dewin, sehabis pulang dari Pulau Jeju, Via menghadap Prof Bjorn dan Prof Cho Song Hwa untuk meminta restu. Menikahkan mereka berdua, Via melakukan tindakan luar biasa.
Photo - photo pun sudah jadi, Dewin memilih untuk di publish tanpa memperlihatkan muka Via. Banyak mengucapkan Selamat bahkan dari kakak - kakak Via. Tidak terkecuali dengan orang Tua Via, yang tidak sadar itu adalah Via.
Drrrrrrrttttt....
WhatsApp Dewin bergetar dengan hebatnya.
Richie : Win, Selamat yah akhirnya elu nikah juga!
Dewin : Thank you Richie, semoga gue bisa bahagia.
Richie : Bini elu orang mana?
Dewin : Indo, cantik. Gue harus jadi anak manis nih. See you later!
Ucapan terakhir sebelum memutuskan kontak dengan keluarga Via. Melihat Via yang cantik dengan balutan baju pengantin yang simple serta riasan muka yang simple membuat Dewin terpana sama seperti ketika melihat Via beberapa tahun lalu. Iyah beberapa tahun lalu ketika Via masih di bangku SMP. Via yang manja dan selalu insecure, yang sekarang tumbuh jadi wanita cantik.
°
°
°
°
°
__ADS_1
Terima kasih telah menjadi pembaca cerita ini yang berdasarkan cerita asli dari teman Author. Please Subscribe dan Like yah!