Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Keributan Di Bandung Part 1


__ADS_3

Via memantaskan dirinya mengenakan kemeja dan celana pencil untuk menghadiri makan siang bersama anggota dewan mahasiswa kampus Tritunggal. Kali ini Via di minta memeberikan motivasi terhadap junior - juniornya.


Setibanya Via di restaurant yang dipilih anak-anak campus untuk makan siang dan sesi tanya jawab. Banyak junior yang menunggu nya bahkan ada yang membawa bunga untuk melihat Via. Langsung saja acara tersebut di pandu oleh dewan mahasiswa campus Tritunggal.


"Jadi ada yang bisa saya jawab lagi pertanyaan kalian?" Tanya Via yang duduk manis lalu menebarkan senyum nya yang khas.


"Ada, saya kak!" Teriak seorang anak perempuan dari arah belakang.


Via tersenyum lalu membiarkan perempuan tersebut menanyakan pertanyaan yang dia ingin tanyakan.


"Perkenalkan nama saya Renita Simon. Saya bergabung disini sebagai team media. Saya punya usaha kecil, saya ingin sekali kakak mempromosikan barang saya. Saya tahu rate untuk endorsement kakak pasti mahal. Tapi bolehkah saya mencicilnya?" Tanya Renita yang dengan gugup jika Via akan menolak nya.


"Aduh maafkan saya tidak terima endorsement sama sekali. Namun, saya akan beli jualan kamu. Kira-kira kamu jualan apa?" Balas Via yang sempat membuat anak tersebut down.


"Saya jualan baju batik hasil rancangan saya, kebetulan saya suka menjahit kak." Jawab nya lesu dan memperlihatkan baju yang di rancang nya untuk Via.


Via mengambilnya dan mengeluarkan nya lalu pergi ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Via dengan baju batik tersebut dan berjalan ketempat Via duduk. Semua telephone seluler mengabadikan Via berjalan. Lalu menaruhnya di halaman social media mereka masing - masing.


"Seorang teman harus mendukung teman nya, jangan minta harga teman. Tapi beli lah harga lebih karena itu support yang harus nya teman kasih." Via memberikan nasehat kepada anak-anak muda.


Setelah selesai bersama junior-juniornya, Via menanyakan berapa harga baju tersebut. Lalu memesan 4 lagi buat Gerry, Claudia, Jerias dan Widia dengan motif yang sama. Tak lupa Via memberikan uang baju tersebut.


"Kak, ini kebanyakan. Kakak salah hitung loh." Kata Renita yang menerima uang tersebut.


"Kamu akan kirimnya ke Geneva, jadi ini ongkirnya." Bales Via yang masih duduk disebelahnya anak tersebut.


Via akhirnya pamit karena harus bertolak ke Bandung. Via akan pamit sama keluarganya, hubungan Via dan keluarga nya sudah mulai membaik.


Perjalanan ke Bandung Via habiskan untuk beristirahat dan tertidur. Sangking capeknya hari ini Via mematikan notification Pinstagram nya yang selalu membuat batrenya habis. Gara-gara tersebut. Via memisahkan nya di telephone tabletnya agar tidak mengganggu pekerjaan nya.


"Akhirnya sampai juga di Bandung!" Teriak Via yang melihat rumah nya. Via melihat rumah nya masih ramai oleh orang-orang.


Muka Via bingung ketika melihat orang-orang mengabadikan kejadian yang ada. Via mencoba menerobos masuk dan melihat Sisca lalu juga Dewin yang bertengkar hebat.


Sisca melihat Via datang lalu akhirnya memberikan jambakan dan menyeret Via ke depan muka Dewin.


"Ini wanita pelakornya?" Teriak Siska yang masih terus menjambak Via. Dewin mendengus kesal perbuatan Sisca.


"Please, lepasin. Via gak tau masalahnya." Dewin memohon untuk melepaskan Via.


"Sisca, please. Adek gue luka sedikit. Gue pastiin elu membusuk di penjara." Teriak Richie yang panik lihat Via meringis kesakitan akibat jambakan tersebut.

__ADS_1


Via tidak bisa berbuat apa-apa hanya terus mengringis kesakitan. Terus Richie dan Dewin memohon untuk Via di lepaskan.


"Aku ikut sama kamu, lepasin Via yah." Kata Dewin yang berusaha nego dengan Sisca.


"Nggak, Via jadi jaminan kalau kamu tidak berbohong." Perintah Sisca.


"Angkat tangan nya atau kami akan melakukan tindakan." Teriak seorang polisi International yang menodongkan pistol angin kearah udara.


Sisca bingung dan ketakutan karena ada polisi yang siap menangkapnya.


"Aaaaaarrrghhhk...." Teriak Via yang rambutnya dijambak semakin kuat.


Sisca membawa keluar rumah lalu kaget melihat banyak anggota polisi yang sudah siaga.


"Menyerah atau kami ambil tindakan." Teriak kepala polisi yang memerintahkan anggotanya siaga.


Via melihat Yudha ada didekat polisi, dengan sisa - sisa kekuatan yang tersisa. Via mendorong Sisca kearah polisi lalu berlari ke arah Yudha. Tidak diperdulikan lagi sisa rambut Via di tangan Sisca akibat jambakan tersebut.


Dengan sigap polisi menangkap Sisca dan mengamankan Sisca. Yudha yang menangkap Via saat berlari langsung memeluknya dengan erat. Via yang pecah tangisan nya membuat disekeliling mengabadikan moment penyelamatan ala-ala film.


"Udah, Cewek gila nya sudah ditangkap. Yuk, masuk kedalam." Kata Yudha menenangkan Via yang menangis sejadi-jadinya.


Via mulai tenang dan bisa mengatur nafas nya dan suaranya. Dewin melihat Yudha memeluk Via dan membawa nya ke dalam, ingin rasanya merebut.


"Vi, udah tenang belum?" Tanya Yudha memastikan Via sudah tenang.


"Kamu kok bisa disini?" Balik Via bertanya saat duduk tenang di belakang taman.


"Di dunia social media sudah heboh. Makanya aku begerak. Aku telat datang saja, semestinya kamu nggak perlu mengalami hal ini." Jawab Yudha yang membuat Via kaget.


"Ooh, kirain kamu ngikut dibelakang ku." Balas Via membuat Yudha kecut.


Via masuk kedalam rumah sebentar untuk melihat telephone selulernya. Pasti 2 sahabatnya sudah mengkhawatirkan dirinya. Dewin yang melihat Via mengambil telephone selulernya berpura-pura mengambil makanan di kulkas lalu berjalan keatas menemui Richie.


"Vii, maafin. Aku sungguh tidak berguna, ketika kamu dalam bahaya." Kata Dewin dalam hati dan tetap naik tangga menemui Richie. Melihat teman nya gelisah Dewin memberikan soda ke Richie.


"Win, si Sisca emang belum sembuh?" Tanya Richie yang merasakan keanehan sama Sisca.


"Belum Rich. Dia tuh mental illness disorder*, gue juga ga tau si Sisca bisa ke Indonesia." Balas Dewin duduk di balkon menghadap ke taman belakang.


"Gue tau Win. Elu masih sayang ama adek gue, tapi kayaknya adek gue bisa meninggal cepet kalau Sisca masih hidup." Kata Richie saat di balkon melihat Via bersama dengan Yudha asik berbicara serius. Yang tidak tahu apa yang di bahas oleh mereka berdua.

__ADS_1


Dewin terus memperhatikan Via ketika berbicara dengan Yudha. Lalu....


Drrrrrrtttttttt WhatsApp message masuk dan...


Kojink : Win, itu Sisca dah gila?


Dewin : Nggak, salah paham.


Kojink : Fans nya Via mendesak kepolisian loh.


Dewin : Iyah, gue ngerti.


Kojink : Richie gimana?


Dewin : Send IMG- 2978


Kojink : Yeah udah, enjoy lah pasangan gak jelas.


Mengakhiri perbincangan dengan Kojink akhirnya Dewin masuk ke dalam. Richie yang masih duduk disana, lalu tidak lama Yudha dan Via muncul.


"Kak, ini kenalin namanya Ardrian Yudha. Teman kuliah ku. Yudha, ini kakak ku Richie dan ini kak Dewin teman nya." Via memperkenalkan Richie juga Dewin yang ada diruangan.


"Halo Richie" Sapa Richie


"Halo Dewin" Sapa Dewin


Yudha menjelaskan duduk perkara pemanggilan polisi dan tindakan selanjutnya apa. Sehingga langkah hukum apa yang akan dipakai.


"Yudh, Sisca sedang menjalani pengobatan mental di Canada. Apakah ada bisa diperingan hukumannya?" Tanya Richie mewakili Dewin yang sedang membalas message dari kepolisian setempat.


"Tergantung pihak Sisca koperaktif atau tidak. Via kan anggota United Nations, jadi sangat-sangat di lindungi." Yudha memberi penjelasan.


Dewin yang mendengar sebagian akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor polisi, agar melihat keadaan nya Sisca.


°


°


°


°

__ADS_1


Like, Vote, Comment dan Love novel ini yah...


__ADS_2