
Rasa gemash sekaligus manjanya Erick kali ini tidak bisa dibendung lagi. Dengan keimutan muka Via dan pasrah nya Via. Menjadikan malam tersebut program membuat anak. Via dan Erick pun sudah mulai membaca buku-buku mengenai menjadi orang tua yang bisa membuat anak menjadi teman dan gaya mendidiknya kelak.
Pagi-pagi Via dan Erick sudah turun untuk breakfast. Seperti biasa Via mengambil buah-buahan dan beberapa salad sayuran. Lalu menuju ke meja dimana Erick sudah menunggu. Bergantian dengan Erick yang mengambil beberapa daging untuk dimakan sebagai sandwich, juga butternya. Lalu kembali ke meja yang dimana Via menunggu.
Sebagai Director of Sales and Marketing yang baru di International Hotel menggantikan Erick. Perempuan cantik sedikit kebule-bulean keturunan Indonesia mendekat ke Erick dengan sudah mentouch up make upnya.
"Ahk, pagi pak Erick." Sapa perenpuan tersebut yang berada di samping Erick ikut ambil salad.
"Pagi, mbak." Jawab Erick seadanya karena merasa tidak kenal dengan perempuan tersebut.
"Perkenalkan nama saya Margaret Virginia. Saya Director of sales and marketing yang menggantikan bapak disini."Penjelasan pemeremuan tersebut akhirnya membuat Erick menurunkan makanan nya dan menjabat tangan nya.
Karena makanan nya banyak akhirnya Margaret membantu membawakan piring nya Erick menuju mejanya. Karena Margaret tahunya Erick adalah mantan Vika, dan kelihatan masih single akhirnya membuat Margaret ingin mengenal Erick lebih lagi.
Namun saat menuju meja makan yang sudah ada Via, membuat sedikit keanehan.
"Loh, tumben bapak tidak makan sama bu Vika?" Tanya Margaret secara sengaja di depan muka Via.
"Oh, mungkin dia lagi sibuk." Jawab Erick yang sekedarnya.
Namun muka Via sudah mulai berubah dan mengambil telephone selulernya. Lalu menghubungi Vika yang ada di ujung telephone.
Drrrrrrtttt.... Drrrrrrtttt....
Telephone Vika berbunyi dan keluar nama Novia Heidy. Langsung buru-buru Vika mengangkat telephone tersebut dan harap-harap cemas takut ada yang salah lagi.
"Ohayoo mba Vika, sibuk kah?" Tanya Via saat telephone diangkat oleh Vika.
"Tidak bu. Ada apa yah?" Jawab Vika dan kembali bertanya kepada Via.
"Iyah, saat saya breakfast ada yang nyari mba Vika dari staff hotel. Sebentar saya tanya dulu namanya yah..." Balas Via dan buru - buru Vika turun ke restaurant mencari Via ada di mana.
Benar saja Vika melihat Margaret sedang duduk bersama - sama dengan Via dan Erick.
"Aduh, saya mohon maaf bu Via. Staff saya kurang memperhatikan portfolio ibu."Ujar Vika dengan membungkuk kan bandan.
Via melihat Vika hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan meja lalu pergi. Erick pun cuma bisa diam dan membuntuti Via kearah lift. Ketika ingin berbicara dengan Via, Erick melihat Via sedang serius di ujung telephone nya.
Balik ke kamar Via terus berbicara dalam bahasa Perancis. Sepertinya ada masalah yang mendesak dan urgent need. Erick pun meninggalkan Via dan berangkat ke kantor nya.
Disaat bersamaan Margaret dipanggil oleh General Manager untuk membicarakan kasusnya.
__ADS_1
Setelah Vika memberi info kalau Margaret mengganggu kenyamanan Via saat makan pagi.
" Vik, itu manusia terempong yang orang-orang bilang?" Tanya Margaret saat berdua dengan Vika.
"Elu baca nggak di portfolio, kalau yang elu bilang manusia terempong itu tamu VVIP?" Tanya balik Vika yang sudah meninggi.
"Yah baca. Tapi kenapa harus gue gitu yang disalahin. Kan gue ga tau tu manusia duduk sama Erick yang ganteng itu."Balas Margaret tetap pada pendirian nya tersebut.
"Baca yang benar makanya, baru elu ngomong sama gue. Kalau tamu VVIP ini berulah, gue saranin elu resign." Kata Vika yang memberikan data portfolio Via kepada Margaret.
Saat melihat Via dan Erick adalah suami istri dan melibatkan Vika yang ternyata membuat Margaret menggali kuburan nya sendiri. Dengan langkah gontai Margaret menghadap Vika.
Mukanya tidak secerah saat datang pagi ini. Kali ini hanya keajaiban yang mampu membuat nya masih bekerja. Sementara Via yang baru saja selesai dengan urusan kerjaan. Lalu menatap kearah wastafel kamar mandi yang ada kaca besar.
"Hmmmn, kenapa harus nama Vika yang disebut - sebut sih." Oceh Via kedepan cermin.
Via akhirnya mandi dan akhirnya mengikuti conference yang sudah berjalan 1 jam dimuka. Hingga sore hari dan membuat Via kelelahan sepanjang hari. Masih dilanjutkan dengan kegiatan ramah tamah setelah acara dan makan malam.
Sementara Erick makan malam di hotel Vika karena diundang oleh General Manager dan dihadiri oleh Vika juga Margaret.
"Pak Erick, maaf loh. Saya kurang baca portfolio ibu Novia yang ternyata istri bapak."Kata Margaret penuh penyesalan.
"Yah, sebenarnya didalam portfolio tamu. Mestinya dibaca dengan baik sama ibu, sebagaimana mestinya ditulis kalau tamu VVIP ibu tidak suka diganggu." Kata Erick penuh penekanan.
"Benar pak, saya jadi tidak enak sama istri bapak. Ini kejadian bisa terulang ke dua kalinya."Sambung General Manager yang mencoba menenangkan Erick.
Pandangan mata Erick melihat ketiga orang tersebut, dan berdoa dalam hati Via tidak melakukan hal-hal buruk. Beberapa kali Erick menghubungi Via namun tidak di jawab.
Selesai makan malam Erick kembali ke kamar dan memikirkan Via sedang ada dimana hingga ketiduran. Via yang melihat Erick sudah tertidur merasa bersalah karena tidak bisa menjadi istri yang baik. Lalu Via melanjutkan pekerjaan nya dan tertidur di meja kerja dekat kasur tidur.
Lagi-lagi Erick melihat Via yang tertidur di meja kerja dan mengangkat Via ke tempat tidur. Erick melihat berkas-berkas yang Via kerjakan hanya bisa mengurut dada karena tidak bisa membantu.
" Yah, Tuhan. Jika boleh meminta berikanlah petunjuk kepada hamba-Mu dan istri hamba-Mu untuk menyelesaikan kasus demi kasus."Doa Erick saat dikamar mandi karena sebentar lagi akan ke kantor.
Pagi-pagi Erick memesan room service karena berharap Via bisa bangun lalu berbicara empat mata. Namun ternyata Via masih terlelap tidur hingga Erick berangkat ke kantor.
Dering alarm Via membuat pemiliknya kaget karena sudah siang. Via mengutuki dirinya karen ketiduran. Segera Via langsung membereskan berkas dan segera mandi.
"Pagi bu Novia..." Sapa Margaret saat bertemu Via di Lobby hotel. Karena Via buru-buru dan sudah di jemput pihak United Nations jadi Via tidak membalas sapaan Margaret.
Siang ini Erick berfikir keras apakah Via menghindar karena omongan Margaret atau emang benar- benar sibuk. Erick menelphone Darren untuk menanyakan Via.
Drrrrrt.. Drrrrttt...
__ADS_1
Telephone seluler Darrell bergetar dan melihat nomor Erick di layar.
"Iyah pak, ada yang bisa dibantu?" Tanya Darren saat menjawab telephone Erick.
"Aku mau ketemu Via bisa?" Jawab Erick yang menanyakan untuk ketemu Via.
"Pak, ini saya jujur yah." Jawab Darrell dan seketika Erick menyesali perbuatan nya yang tidak mengenalkan Via kepada Margaret.
"Iyah, bagaimana?"Balas Erick yang mulai menyiapkan mentalnya.
"Ibu belum keluar dari ruangan konfrensi, dan belum makan dari pagi. Tadi saya jemput ibu di hotel mukanya pucat. Sudah ditawari nyemil gak mau."Lapor Darrell yang membuat Erick panik seketika.
Erick mematikan telephone selulernya dan gantian menelphone Via. Namun tidak diangkat oleh Via yang sedang membahas perjanjian kemanusiaan dengan pemerintah India tentang perang di Kashmir.
WhatsApp Via bergetar dan melihat dari Erick;
Erick : Kamu udah makan belum?
Via hanya membaca nya saja, dan kembali berbicara dengan sekertaris mentri hak asasi manusia di India.
Wajah Erick yang mulai panik dan sedikit kesal karena Via hanya membaca nya.
Erick : Kok diam? Kenapa tidak di balas?
Lagi-lagi Via hanya membacanya dan tidak membalas. Akhirnya Erick menulis pesan ke Darren menanyakan Via dimana.
Erick : Via dimana?
Darrell : Send Pict IMG-7123 (Masih sama sekertaris mentri hak asasi manusia nya India)
Erick : Maaf mengganggu.
Tidak putus-putus Erick berdoa buat Via agar segera membalas pesan nya.
°
°
°
°
Yuhuuuu, sudah kembali normal. Akan UP 2x sehari, yuk teman-teman online dibantu buat likenya. Terus di komen, di love novel nya juga dan di Vote yah di event nya you are writer volume 4. Biar bisa menang.
__ADS_1