Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Tak sanggup


__ADS_3

Part 100 (Tak sanggup) (sesion 2)


Keesokan harinya..


Tepat malam ini.. Tepat semua hal yang nyonya Renata sampaikan dan aku harus kesana. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Lalu Lusi pun kesebuah hotel mewah.. Banyak tamu penting yang hadir disana. Lusi pun diijinkan masuk karena memang nyonya Renata yang mengundangnya.


Tampak terlihat sebuah acara yang sangat meriah dan mewah. Lusi pun tampak sederhana datang kesana dengan pakaian kerjanya. Hanya blazer dan celana hitam yang ia pakai. Bukan gaun mewah seperti orang lain..


Terlihat Rian dengan balutan jas mewah dan tampan. Lusi pun tersenyum saat melihat suaminya, namun tak disangka di sebelahnya ada sesosok wanita cantik yang Lusi tak kenali. Dengan gaun indah nan elegant. Ia menggandeng tangan Rian.


Apa.. Menggandeng.. Apa aku tidak salah lihat.. Apa jangan-jangan ini adalah... acara pertunangan benak Lusi terlihat kaget.


Lalu benar saja.. Pria yang selama ini menjadi suaminya itu menyiapkan diri untuk sebuah acara pertunangan.


Acara pun di mulai..


Semua tampak menyaksikan..


Lusi pun bersembunyi di balik pohon kecil yang menjadi hiasannya.


Tampak seorang pembawa acara memimpin acara. Tampak Rian di pandu untuk menyematkan sebuah cincin pada seorang wanita yang bernama Zelda. Begitu pun Zelda memakaikan cincin pada jari manis Rian.


Seketika air mata Lusi pun pecah..


Mengapa dirimu tega Rian.. Benak Lusi sambil mejantuhkan air matanya.


Rian pun tak tahu bila Lusi melihat itu semua.


Air mata Lusi pun tanpa sadar terjatuh. Seketika hatinya hancur. Pria yang selalu ia layani itu telah tega menghancurkan hatinya.. Dia yang telah mengikrarkan janji di depan penghulu. Telah sakiti hatinya, dengan sebuah pengkhianatan.


Lusi pun menundukan kepalanya sambil menghapus air matanya yang menetes daritadi.


Ia pun tak sanggup lagi..


Lalu ia berlari ke kamar mandi untuk mencurahkan semua kesedihannya. Air mata yang ia miliki tumpah semua.. Kakinya terasa lemas dan tangannya tampak gemetar seolah ia tak percaya ini sudah terjadi di depan matanya. Lusi pun menangis terisak dan menutup wajah dengan kedua tanganya..


"Sekarang aku tahu Rian.. Mengapa kamu tak pernah menganggap ku sebagai istri mu.. Inikah alasannya. Karena kamu memiliki wanita lain. Aku sebagai istrimu tak pernah sekalipun dianggap olehmu. Dia.. yang hanya seorang tunanganmu. Begitu sangat berati untukmu.. "


Memang pada saat itu banyak tamu undangan yang datang.. Teman kantor dengan jabatan penting pun banyak diundang termasuk Pak Adit kala itu.

__ADS_1


"Aku.. harus kuat.. Aku harus menghapus air mata ku ini. Aku ingin kau tahu, Bahwa aku hadir di acara mu ini. Aku ingin kau melihat ku disini" ucap Lusi menarik napas panjang. Lalu Mencuci mukanya dengan air diwastafle..


Dengan mata yang masih sembab Lusi pun menemui Rian dan Zelda. Dengan melangkahkan kaki dengan langkah yang perlahan namun pasti.


"Selamat" ucap Lusi pada Rian dan Zelda.


Rian pun tampak kaget melihat Lusi dihadapannya. Rian yang tadinya terlihat tesenyum menyambut tamu undangan lain. Tiba-tiba mematung dan kaget melihat Lusi dihadapannya.


Zelda pun tampak bingung dengan kehadiran Lusi yang tak ia kenal.


"Kamu siapa ya? " tanya Zelda.


Renata pun menghampiri Lusi.


"Dia adalah karyawan dari Renata corporation"


Lusi pun tersenyum hambar..


Lusi pun tampak menyalami tangan satu persatu...


Tangan Rian dan Zelda sebagai tanda selamat.


Siapa yang mengundangnya.. Mengapa ia tahu pertunangan ku disini. Mengapa ia hadir, harusnya Lusi tak boleh tahu soal ini. Aku tahu pasti kamu hancur melihatku disini.. Maafkan aku Lusi, Zelda adalah wanita pilihan Mama.. Aku tidak bisa mengingkarinya karena aku sudah berjanji pada Mama benak Rian memandang Lusi.


Acara pun masih berlangsung Lusi tampak melamun dengan kesedihan mendalam kala itu. Melihat Zelda dan Rian berpegangan tangan membuat hatinya bertambah hancur. Dan sampai pada sebuah moment berdansa bersama.


Lusi pun benci bila harus melihatnya.


Lusi pergi dari tempat itu. dengan menaiki ojek.


Air matanya tak bisa ia bendung. Air matanya terjatuh dan tersapu dengan angin. Rasanya Lusi enggan bila harus pulang ke rumah.


Lalu Lusi pun memutuskan untuk duduk dan merenung di sebuah kafe sambil melamun. Kehancuran hatinya membuat ia seolah berada dititik kelam dalam hidupnya.


Mengapa cinta rasanya sesakit ini.. Mengapa sulit bagiku untuk menikmatinya manisnya di cintai dan mencintai. Aku tidak tahu setelah ini aku harus bagaimana.. Benak Lusi sambil memejamkan matanya. Dan sesekali menjatuhkan air matanya.


Tiba-tiba seseorang menghampirinya dan duduk di hadapannya..


"Juna.. " ucap Lusi kaget dan langsung menghapus air matanya.


"kenapa.. Kamu sedih lagi dengan pria yang telah menikahi mu itu"

__ADS_1


Aku tidak mungkin cerita pada Juna dengan apa yang ku alami kala ini. Aku tak mau urusan rumah tanggaku menjadi urusannya juga. Cukup aku saja yang tahu betapa sakitnya apa yang ku alami kini.. Benak Lusi..


"Ohh.. Aku tidak apa-apa" ucap Lusi menghapus air matanya.


"Apakah kamu yakin.. Kenapa kamu terlihat menangis. Apakah kamu tak bahagia"


Lusi pun tak menjawab..


"Aku sebaiknya pulang.. Permisi Jun.. " ucap Lusi pergi...


Lalu mau tak mau Lusi pun pulang ke rumah Rian. Dengan perasaan yang hancur Lusi pun hanya bisa menangis di kamar. Sampai tak sadar tertidur...


Pagi harinya.. Lusi terbangun.. Dan melihat Rian disampingnya. Rian tampak baru terbangun juga dari tidurnya.


Lusi hanya terdiam dan tak percaya bila Rian pulang ke rumah setelah acara pertunangan itu.


Lalu Rian pun mandi. Seperti biasa Lusi pun menyiapkan pakaian kerjanya. Mulai dari atas sampai bawah Lusi yang menyiapkan segala nya.


Lalu tak lama Rian keluar dari kamar mandi.


Lalu Rian pun memakai baju kerjanya dengan di bantu oleh Lusi.


"kamu tidak mandi? "tanya Rian.


Lusi pun hanya diam.. Sambil mengancincangkan kemeja kerja Rian.


"Kamu tak berangkat kerja?" tanya Rian lagi.


"Aku sedang tidak enak badan" ucap Lusi datar.


Tak lama Lusi yang berusaha untuk tidak menangis. Akhirnya menangis juga air matanya tak sanggup ia tahan. Air matanya pun terjatuh dihadapan Rian. Lusi hanya bisa menangis tersedu sambil tertunduk. Rian yang berusaha untuk memeluk Lusi.


Namun Lusi menghempaskan tangan Rian dan menolaknya.


"Tinggalkan aku sendiri dulu.. aku ingin menenangkan hatiku.. "


Rian pun tampak terdiam dan memandang Lusi.


Tak lama Rian pun pergi ke kantor. Lusi masih tampak masih mengenakan baju tidurnya. dan berdiam diri di kamar sambil melamun.


like..

__ADS_1


__ADS_2