
Part 68 (Terciduk) (Sesion2)
Lalu Juna pun menghampiri Lusi. Suasana malam hari dan keheningan malam begitu terasa.
"Ini Lusi kan. Iya bukan sih" tanya Juna. "Kamu ngapain disini sendiri?"
Lusi pun hanya memandang Juna dengan mata yang memerah karena menahan tangisnya.
Lalu Juna pun memakaikan jaketnya ke pundak Lusi.
"Aku tidak ingin kamu merasakan dinginya udara malam ini. Kamu ngapain disini" ucap Juna lagi.
"A-aku menunggu Rian." ucap Lusi terbata.
"Baiklah aku akan menemanimu"
"tidak usah, tak perlu Jun" Ucap Lusi beranjak berdiri
"tidak usah menolak. Seribu kalipun kamu menolak aku akan temani kamu" ucap Juna bersandar. "Kamu sekarang tinggal di jakarta ya" tanya Juna.
"Iya... " jawab Lusi
Lalu Lusi pun menunggu Rian dengan di temani Juna.
Lusi pun tampak diam tak berbicara lagi, dan terlihat sedih diwajahnya. Juna pun tak ingin banyak bertanya. Ia mungkin sudah paham bahwa Lusi sedang sedih dan kecewa.
Sampai jam 12.00 malam Rian pun tak kunjung datang. Lalu Juna pun mengajak Lusi untuk pulang.
"Kita sudah menunggunya satu jam. Lebih baik kita pulang Lusi karena hari sudah malam"
Lusi pun tampak terdiam. Dirinya seperti mematung dan menunduk sambil memeluk bungkusan nasi goreng di pelukannya.
"Ayoo aku antar kamu pulang" ucap Juna. Mengajak Lusi pulang.
"Aku naik taksi aja Jun" ucap Lusi menolak
Juna pun menoleh ke kiri dan ke kanan. Untuk mengecek apakah ada taksi yang lewat
Namun suasana jalan tampak sepi saat itu.
"Sepertinya agak susah kalau mencari taksi jam segini. Aku yang antar aja, aku janji cuma sampai gang" ucap Juna.
"Aku takut kalau.." Ucap Lusi tidak meneruskan. Juna langsung memotong pembicaraan.
"Aku lebih takut kalau kamu sendirian disini" ucap Juna menarik tangan Lusi. "Ayo lah..."
Lalu Lusi pun terpaksa pulang bersama Juna. Karena memang kondisi sudah lewat tengah malam. Lalu Juna memberikan helm kepada Lusi.
"Pakailah helm ini" Ucap Juna memberikan helm.
Lusi pun menerima dan memakainya.
"Motor baru ya" tanya Lusi memandang motor sportnya Juna yang masih mulus.
__ADS_1
"Iya dong.. Dan kamu adalah wanita pertama yang aku bonceng" ucap Juna tersenyum.
Lusi pun hanya diam. Lalu naik motornya Juna.
"kamu pegangan ya" ucap Juna. "Aku takut kamu jatuh" ucap Juna.
Lalu Lusi pun mau tak mau. Memegang pinggang Juna.
ini untuk pertama kalinya aku boncengin kamu. Dan aku gak sangka kalau kamu kini sudah jadi istri orang lain. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku ingin sekali mencintai dan menyayangi mu. Status pernikahan mu.... Sudah menggugurkan segala usaha untuk mendapatkan mu. Ku sesali semua yang telah terjadi. Namun aku sadar diri, Aku tak mungkin mengharapakan wanita yang bukan istriku. Meskipun aku tahu, aku begitu sangat mengharapakan mu ujar Juna di dalam hati. Sambil fokus menyetir dan melirik Lusi dari kaca spion motornya.
Selama di perjalanan...
Sesekali Lusi pun menjatuhkan air matanya. Karena Ia sudah tak mampu lagi menahan rasa sedih dan rasa kecewa pada Rian. Namun air matanya terhempas angin. Sehingga mampu menyapu dari pipinya.
"Kamu nangis Lusi" tanya Juna melirik dari spion
"Gak Jun" jawab Lusi.
"Nanti arahin aku dimana rumah kamu ya" ucap Juna.
"Iya... "
Tampak mereka berdua naik motor. Dan Lusi masih memakai jaket Juna yang melekat di badannya. Ada keraguan dalam hati Lusi untuk pulang bersama Juna. Namun karena lewat tengah malam, lebih baik memang harus pulang .
Dan saat di perjalanan...
Tiba-tiba suara klakson pun berbunyi. Membuyarkan suasana.
Tin.. Tin.. Tin.. Sontak itu membuat Lusi menengok.
Lalu Rian membuka kaca mobilnya dan memandang mereka dengan tatapan tajam.
"Lusi turun kamu!!! " teriak Rian dari dalam mobil.
Lalu Rian memempet lagi dari samping.
Dan Juna putuskan berhenti.
Perasaan takut pun menyelimuti hati Lusi saat Rian tampak dihadapannya.
Motor dan mobil itu langsung terparkir dipinggir jalan. Lalu Rian pun turun dari mobil dengan tatapan tajam.
Lusi pun sesekali menghela nafas dan memejamkan matanya. Karena ia takut pada Rian.
Lusi pun langsung turun dari motor Rian. Dengan wajah yang penuh tegang dan ketakutan.
"Sini kamu Lusi" panggilan keras Rian kepada Lusi.
Lusi pun menghampiri Rian dengan langkah secara peralahan. Dan saat Lusi sampai dihadapannya. Rian pun menampar Lusi dengan keras.
PLAAAAAKKK tamparan Rian nendarat di pipi Lusi.
Air matanya pun tak mampu di bendungnya. Lusi pun menangis..
__ADS_1
"Murahan kamu Lusi!!! Gak punya harga diri. Ngapain kamu sama Juna!!! " ucap Rian dengan nada tinggi.
Sontak itu membuat Juna kesal dan langsung menghampiri Rian. Lalu Juna langsung memukul Rian.
"keterlaluan kamu Rian!!! Jangan pernah kamu sakitin Lusi"
Lalu Rian pun juga memukul Juna.
"saya peringatkan jangan pernah kamu mendekati istri saya. Kamu bukan siapa-siapa" ucap Rian.
"Aku hanya mengantarnya pulang. Apa itu salah" ucap Juna kesal.
"Aku tidak peduli dengan alasan apapun itu" ucap Rian memandang Juna tajam.
"Kamu tahu Rian. kalau bukan karena kejahatan kamu. Lusi takan pernah menjadi milikmu.." ucap Juna kesal.
"ohh begitu rupanya.. Asal kamu tahu Juna.. Lusi terlalu mencintaiku. Sampai aku bunuh pun dia masih tetap akan mencintaiku" Ucap Rian.
"Takan aku biarkan itu terjadi. Kalau sampai itu terjadi. Aku pun akan membunuh mu juga Rian." ucap Juna mengancam Rian.
"Hem... Terserah kamu mau apa. Intinya Lusi sudah jadi milikku sekarang dan kamu gak berhak atas dia"
Juna pun terdiam..
Lalu Rian pun menarik tangan Lusi dengan kasar. Dan mendorongnya kedalam mobilnya.
Dengan tatapan yang penuh amarah Rian langsung pergi membawa Lusi membawanya mobilnya dengan cepat.
Aku ikhlas Rian. Bila kamu benar mencintainya. Namun aku tidak ikhlas bila kamu hanya untuk menyakitinya.. Benak Juna menahan amarah.
....
Lalu selama perjalanan tampak Lusi yang hanya diam sambil menitihkan air matanya. Rasa yg kini ia rasakan kesal, kecewa dan takut.
"Hebat kamu Lusi. Dasar wanita murahan bisa-bisanya kamu sama Juna" ucap Rian.
"Aku cuma mau pulang Rian tidak lebih. Aku menunggumu berjam-jam. Aku sendirian disana. Kamu sangat tega Rian. Membiarkan aku sendirian" ucap Lusi mengahapus air matanya.
"Aku lebih terima kamu sendirian di sana meskipun harus jahatin orang. Ketimbang aku melihat kamu pulang sama Juna" ucap Rian.
"Aku tidak menyangka kalau kejadian akan seperti ini. Makan malam yang aku kira romantis namun berakhir tragis." ucap Lusi. "Tahu akan begini aku lebih baik tidak ikut"
Rian pun hanya diam dan fokus menyetir tidak menghiraukan Lusi.
Harusnya tamparan itu lebih tepat untuk mu Rian. Namun tak sampai hati aku untuk melakukannya. Justru aku yang malah mendapatkannya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi sebagai istri. Aku ikuti apa yang menjadi inginmu.. Tapi aku terus yang dikecewakan.
.
.
.
.
__ADS_1
Oke guys.. Next lg nnti yaa...