
Part 25 (Berlabuh di Tangkuban Perahu) (sesion 2)
Hari ini terlihat Lusi yang sibuk menyiapkan santap pagi. Ia membuat nasi goreng spesial. Walaupun Lusi tidak terlalu pandai memasak. Namun untuk urusan nasi goreng Lusi jagonya. Ia pun membuat nasi goreng sebanyak empat porsi. Untuk Ayah, Ibu, Lisa dan juga dirinya. Saat sarapan bersama terlihat Ibu dan Lisa memakannya. Namun berbeda dengan Ayah. Jangankan memakan, menyentuhnya pun tidak sama sekali. Ayah hanya minum kopi sambil membaca koran. Perasaan Lusi sebenarnya kecewa saat itu. Namun Lusi berusaha untuk tegar. Lalu Ibu pun keluar untuk menyiram tanaman yaitu tanaman kesayangannya Janda Bolong.
"Ayah gak makan" tanya Lusi.
"Gak." ucap Ayah sambil membaca koran dan langsung pergi keluar.
Lusi pun hanya memandangi nasi goreng buatannya yang tak disentuh sama sekali oleh Ayah.
Tiba-tiba Lisa memanggil kakaknya.
"Kak Lusi" panggil Lisa.
Namun Lusi hanya diam melamun. Dan tak mendengar panggilan Lisa.
"Kak Lusi." panggil Lisa lagi.
Namun Lusi hanya diam dengan tatapan kosong. Sambil ke arah nasi goreng buatannya yang tak dimakan sang Ayah.
Tiba-tiba Lisa menggebrak meja makan dengan kuat. Sehingga Lusi pun kaget dibuatnya.
"kenapa sih ." ucap Lusi kaget.
"Yang kenapa itu kakak. Daritadi di panggil malah diem aja."
"Masa sih kamu panggil kakak. kok gak denger"
"Ya ampun. Melamun terus sih" ucap Lisa
"Oia hari ini Juna mau datang. Katanya dia mau ngajak jalan kakak. Mungkin nanti siang dia datang"
"Apa,,, jalan! " ucap Lusi kaget.
"Iya. Gak apa-apa kak sekali-kali" ucap Lisa.
Lalu Lusi pun hanya diam sambil berfikir. Seolah ia tak percaya bila harus jalan dengan seorang pria yang umurnya beda jauh dengannya.
Juna datang saat siang harinya. Terlihat Juna dengan style anak mudanya bergaya bak anak band. Lusi pun tersenyum melihat Juna datang. Baginya ini seolah mengulang masa lalunya dulu. Walaupun Juna sudah berumur kurang lebih 21an. Namun bagi Lusi Juna lebih terlihat seperti anak SMA. Lusi pun hanya menggunakan kaus putih dengan jaket jean dan celana jeans. Namun itu sudah mampu membuat Juna terpesona dengan kecantikan Lusi. Terlebih lagi Juna kaget saat bertemu Lusi dengan perubahan warna rambutnya. Decak kagum pun masih menghiasi di wajah Juna. Mengingat Juna sangat menyukai kakaknya Lisa yang satu ini. Lusi pun menyambut Juna seperti tamu pada umumnya.
"Aya tamu... mangga calik" ucap Lusi.
__ADS_1
Kali ini Lusi menggunakan bahasa sunda.
Lalu Juna pun tersenyum mendengar Lusi pakai bahasa sunda. Ia pun duduk di ruang tamu.
"Bade minum naon?" tanya Lusi.
"Minum. Minum Apa aja lah. Kalau ada sih air tajin" ucap Juna becanda
Lalu Lusi sedikit tertawa. Dan ia menyuguhi teh manis hangat dan kue untuk Juna.
"Capek teu?" tanya Lusi.
"Gak capek. Deket kok Jakarta Bandung" ucap Juna.
"Kumaha damang kang? Tos lami nteu aya kabar?" tanya Lusi lagi.
"Kabar.. Kabar saya baik" ucap Juna.
Lalu Lusi pun mengangguk paham.
Lalu Juna pun memulai kembali obrolan.
"Abdi mah teu kamamana, ngan mantuan kolot di bumi" jawab Lusi.
Namun Juna hanya diam. Karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Dek ulin kamana kitu?" tanya Lusi lagi.
"Jadi bingung mau jawab apa lagi. Bisa gak kalau pakai bahasa indonesia aja" ucap Juna.
Lalu Lusi pun tersenyum. "Iya bisa" ucap Lusi
"Ya ajak lah jalan-jalan di Bandung. Mumpung disini" ucap Juna.
Lalu kita pun sepakat untuk pergi ke Tangkuban Perahu. Sebelum berangkat, tiba-tiba Lisa mengantongi Lusi kartu debit miliknya. Mengingat Lusi tak punya uang sama sekali. Karena Atm di blokir.
Kami pun pergi dengan mobil yang Juna bawa. Meskipun sama-sama di Bandung namun lumayan jauh juga dari rumah.
Sesampainya di Tangkuban Perahu. kami pun di hidangkan dengan keindahan alam yang begitu menakjubkan. Dan beberapa kali Juna juga meminta foto bareng dengan Lusi. Lalu mereka pun berjalan-jalan mengelilingi tempat itu. Dan disela-sela Juna menggandeng tangan Lusi. Mereka pun senang sekali bisa berjalan-jalan bersama. Dan suatu hal yang tak bisa di lupakan bagi mereka berdua.
Bagi Lusi, Juna adalah sosok pria yang sangat baik dan sopan.
__ADS_1
Dan bagi Juna, Lusi adalah sesosok wanita yang baik dan memiliki kecantikan yang luar biasa.
Setelah lelah berjalan-jalan. lalu kami pun duduk sambil menikmati pemandangan Tangkuban Perahu yang indah, ditemani juga dengan segelas teh panas dan jagung bakar.
Lalu Juna pun memulai obrolan.
"Kamu tahu gak? sejarah tangkuban perahu" tanya Juna.
"Tahu dong.. Tentang Sangkuriang dan Dayang sumbi kan" Jawab Lusi.
"Terus menurut kamu gimana, tentang cerita mereka?"
"Cerita cinta yang salah. Tidak mungkin sangkuriang menikahi Ibunya"
"Terus menurut kamu cinta itu apa?" tanya Juna lagi.
"Aku tidak terlalu mengerti cinta itu apa. Kalau gitu menurut kamu aja" ucap Lusi.
"Menurut aku, cinta itu adalah pengorbanan tanpa pamrih. Tanpa imbalan dan balas budi. Lalu pria beruntung manakah yang pernah mendapatkan pengorbanan dari kamu Lusi" ucap Juna
Tiba-tiba saja ucapan Juna mengingatkan dirinya pada Rian. Rian adalah pria yang paling banyak mendapatkan pengorbanan dari Lusi. Dan Lusi pun tidak ingin mengangap pengorbanan yang ia berikan untuk Rian adalah sebuah bentuk cinta. Dan itu sama sekali bukan cinta.
"Ada lah orangnya. Tapi aku yakin itu bukan cinta. Hanya rasa iba dan rasa kasian. Dan aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai bentuk cinta. Mungkin bagi aku cinta yang sebenernya adalah takdir. Dan kita gak pernah tahu, Tuhan akan mentakdirkan kepada siapa kita akan jatuh cinta"
"Kalau gitu aku berharap semoga kamu adalah takdir aku. Takdir Tuhan yang membawa kamu untuk mencintai ku. Dan aku juga mencintai kamu" ucap Juna.
Lalu Lusi pun tersenyum.
Juna pun menunjuk pada sepasang kekasih, yang sedang melakukan prewedding di sana.
"Jika kita berjodoh. Aku ingin kita melakukan prewed seperti mereka disini. Saling berpegang tangan dan saling memberikan kasih sayang. Serta mengabadikannya dalam sebuah ikatan"
"Emang kamu yakin sama aku. Coba ingat-ingat lagi, aku kan punya segudang kekurangan dan masa lalu yang kelam. Apa kamu bisa terima aku apaadanya"
"Setiap manusia tidak ada yang sempurna. Aku siap menerima segala kekurangan yang kamu miliki. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencintai kamu Lusi"
"Aku berharap itu benar adanya. Dan bukan sekedar omong kosong belaka" ucap Lusi
"Aku akan siap membuktikannya" ucap Juna.
Lalu sorenya mereka pun pulang. Sesampainya Lusi menyuruh Juna langsung pulang karena kondisi sudah malam. Didalam rumah terlihat Ayah memperhatikan Lusi dengan tatapan tajam namun tidak bicara sepatah kata pun. Lusi pun sedikit takut melihat Ayahnya seperti itu. Tanpa sepatah kata pun Lusi juga lansung masuk ke kamarnya.
__ADS_1