Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
x-tra part (First Kiss)


__ADS_3

x-tra part (First Kiss)


Lusi bersyukur karena suaminya kini sudah sadar..


Namun kondisi Rian memang belum pulih seratus persen. Dia masih harus terbaring diruang perawatan. Dan masih harus di pantau oleh dokter.


Lalu Lusi pun segera menelpon Renata menyampaikan kondisi Rian yang sudah kembali sadar.


Saat Rian tersadar, Lusi pun menyuapi Rian makan. Mengingat sebelum minum obat Rian harus makan dulu. Barang dua atau tiga suap.


Lusi pun menyuapi makan untuk Rian. Dalam kondisi seperti ini Rian tidak boleh banyak bergerak. Kalau pun bergerak perutnya pun masih terasa sakit. Jadi harus tetap bed rest sampai benar-benar kondisinya membaik.


Sementara itu Juna pun tampak pergi.


Selama itu juga..


Dan Rian pun memandangi istrinya.


"Lusi.. aku merasa malu" ucap Rian.


Lusi pun tampak bingung. "Malu kenapa?'


"Harusnya dalam kondisi kamu habis melahirkan seperti ini. Aku lah yang merawat kamu. Malah justru aku yang di rawat oleh mu" ucap Rian.


"Husss.. jangan bicara yang macem-macem. Yang paling penting kamu bisa kembali pulih dan sehat.. akunya sehat dan anak kamu juga sehat. Jangan banyak pikiran yang macem-macem.. kamu harus sehat biar bisa gendong aku. Eh maksudnya anak kita" ucap Lusi.


Rian pun tampak tersenyum.


"Iya sayang. Aku akan gendong kamu dan anak kita.. mm.. ngomong-ngomong anak kita siapa namanya?" Tanya Rian.


"Aku belum siapin. Kamu aja yang kasih nama. Aku lebih senang kalau kamu yang beri nama"


"Hmmmm.. aku kasih nama Fabio.. Fabio Rey Chandra"


Lusi pun mengerenyitkan keningnya.


"Apakah ada artinya?.." tanya Lusi.


"Kamu tahu, Fabio quartararo, dia itu adalah pembalap motoGp dan dia pemain muda yang berprestasi"


Lusi pun tampak tersenyum. "Sudah ku duga pasti kamu akan memberi nama anak sesuai hobi kamu. Tapi aku sih setuju saja"


"Dan Rey itu dari nama depan Mama. Kalau Chandra dari nama papa aku. Jadinya Fabio Rey Chandra kalau di gabung. Gak apa-apakan kasih nama itu" ucap Rian.


"Nama yang bagus aku suka. jadi aku panggilnya apa nih. Fabio..."


"Boleh juga"


"hehehe sedikit kaku dilidah sih. Soalnya bukan indonesia banget namanya. Tapi lama-lama juga akan terbiasa ya kan"


Rian pun tersenyum.


Saat itu...


Lusi pun sengaja menaruh Fabio disamping papanya. Agar Fabio bisa mencium aroma papanya yang belum mandi dari kemarin. Hehee.


Mumpung Fabio anteng.. Lusi pun mengurusi Rian makan. Setelah Rian makan dan minum obat. Tak lama Fabio tampak menangis. Kode keras bahwa Fabio ingin menyusu.


Lalu Lusi pun menggendong Fabio dan memberikannya Asi. Rian pun tampak tersenyum melihat Fabio minum asi langsung dari yang punya pabrik.


"Lucu sekali dia. Kamu juga lihai banget kasih asinya. Tidak percuma, kamu latihan tiap malam menyusui aku. Akhirnya kamu praktekin dan terlihat lihai sekali" ucap Rian.


Lusi pun menyipitkan matanya.


"Hei.. dasar.. aku juga aku masih kaku. aku masih banyak belajar. Lagi juga beda lah, menyusui bayi besar sama newborn gini" ucap Lusi sambil memberikan asinya.

__ADS_1


"Bedanya apa?"tanya Rian mulai ngelantur.


"Bedanya banyak banget!!! Kalau nyusuin bayi baru lahir aku yang menggendong. Kalau nyusuin bayi besar kaya kamu, aku yang digendong" ucap Lusi.


Rian pun semakin tersenyum mendengar jawaban Lusi. " kamu bisa aja jawabin. Jadi mendadak sembuh gini"


Lusi pun hanya fokus memberi asinya. Dan tampak terdiam .


Lalu setelah itu Rian kembali memandang wajah Lusi. Dengan serius...


"Lusi..." Ucap Rian lagi sambil memandang.


"Apa??"


"I love you" ucap Rian.


Lusi pun tersenyum "I love you too papa Fabio"


Rian tampak tak melepas kan sama sekali padangannya. Ia terus memandang Lusi. Rian pun sangat merasakan arti Lusi untuk dirinya. Dan Rian pun tersadar bahwa memiliki istri yang baik merupakan anugerah untuknya.


Dan baru kali juga ini Rian benar-benar merasakan cinta yang benar-benar cinta.


Istri yang sabar, yang baik dan mencintai dirinya apa adanya. Menambah cinta serta kebahagiaan untuk dirinya.


"Lusi.. Terimakasih kamu sudah hadir dalam hidup aku. Kamu sudah melengkapi kehidupan aku yang serba kurang ini. Rasanya.. aku seperti mimpi... Melihat kamu menggendong anak kita..." Rian pun tampak memandang Lusi dengan cinta.


"aku merasa bahagia, melihat istri aku disamping aku. Dan aku berjanji akan selalu menjaga kamu dan juga anak kita. Tidak peduli jika itu adalah nyawa aku menjadi taruhannya"


"Rian.. jangan bicara begitu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku terimakasih kamu sudah berubah Rian. Kamu sudah ada untuk aku dan anak kita. Ini pun juga terasa mimpi untukku. Melihat mu mampu mencintai aku secars tulus. itu sudah berarti untukku" ucap Lusi. dan tampak Lusi yang tampak menjatuhkan air matanya.


"Kamu menangis?"


"Aku menangis karena bahagia"


"Lebih baik kamu istirahat ya. Wajah mu terlihat lelah. Aku tidak mau kamu sakit juga. Aku gak apa-apa disini sendiri" ucap Rian.


"Aku mau di dekat kamu" tolak Lusi.


"Iya tapi kamu juga perlu istirahat. Aku gak mau kalau kamu sakit"


"mm.. Baiklah.." Lusi pasrah.


Lusi pun mengecup kening suaminya.


Lalu Lusi pun tampak keluar dari ruangan Rian....


Dan saat Lusi keluar ruangan, terlihat Juna yang masih stay menunggu di depan pintu ruang rawat Rian.


Lusi berfikir bahwa Juna sudah tak ada disitu. Namun ternyata dia masih menunggu.


"Kamu masih disini" jawab Lusi heran melihat Juna. Lusi pun tampak masih menggendong bayinya.


"Aku yang membawa mu ke sini. Aku juga yang akan mengantar mu kembali. Aku takut jaitan kamu sobek" ucap Juna.


Lusi pun tampak tersenyum namun agak sedikit kecut. Bagaimana tidak, sempat-sempat Juna memikirkan jaitan bekas lahiran yang jelas-jelas itu berada di bagian intim.


Lusi pun hanya tampak terdiam. Tiba-tiba saja Juna melihat baju Lusi yang basah. Karena asi yang merembes pada bagian dada sebelah kananya.


"Lusi maaf baju kamu basah" ucap Juna.


"Basah???" Lusi pun langsung heran dan melihat bagian dadanya. "Astaga...." Lusi pun tampak malu. Dan menutupi dengan tangannya.


"Gak apa-apa gak usah malu. Itu sudah biasa terjadi kan.. pada ibu menyusui"


Lusi pun menghela napasnya. Haduh..... Benak Lusi..

__ADS_1


Lalu Lusi pun di bawa lagi oleh Juna dengan kursi rodanya.


"Duduklah dikursi roda yang tadi. Aku akan mengantar mu kembali"


Karena Juna agak memaksa.


Lalu Lusi pun kembali ke ruangannya.


Sesampainya diruang rawatnya.


Lusi pun menaruh Fabio di ranjang. Terlihat Fabio yang tampak tertidur pulas.


Lalu Lusi pun duduk sambil memandang Fabio.


Tiba-tiba saja Juna pun memandang wajah Lusi.


Sebenarnya meskipun Juna sudah ikhlas Lusi dengan Rian. Namun perasaan cinta itu masih saja ada dalam hatinya.


"Lusi, aku mau kasih kamu hadiah" ucap Juna.


"Hadiah apa??"


"Hadiah adalah... pokoknya syaratnya, kamu pejamkan mata dulu. Nanti kamu akan tahu hadiahnya apa"


"Harus banget apa, aku Pejamkan mata"


"namanya juga surprise biasanya kan memang pejamkan mata"


"Apaan hadiahnya? Kaga jelas ih"tanya Lusi penasaran juga heran.


"Pejamkan mata dulu"


Lalu Lusi pun langsung memejamkan matanya.


Ah.. Baiklah.. cuma pejamkan mata itu mah gampang benak Lusi. Lagi juga ini orang bikin penasaran aja.


Saat Lusi memejamkan mata.


Juna pun tampak mendekati wajah Lusi. Dan Juna pun langsung mencium bibir Lusi.


Cup...


Perasaan Juna pun tampak berdegup kencang. apalagi saat dirinya mampu mencium bibir wanita yang benar-benar ia cintai selama ini.


Lusi pun langsung kaget dan membuka matanya. Lalu melihat Juna dihadapannya yang sedang mencium bibirnya.


"Juna..." Ucap Lusi kaget sambil melotot


Saat itu juga Juna langsung melepaskan bibir yang menempel itu, tanpa basa basi langsung pergi. Karena takut Lusi marah dan tidak enak hati.


Dan dengan cepat Juna langsung pergi keluar ruangan.


Lusi pun langsung kaget dan menarik napasnya sambil memegang bibirnya.


"juna... Astaga" ucap Lusi sambil menarik napasnya berulang ulang.


Dan saat itu juga, Lalu tak lama Lisa datang.


"Kenapa kak? Kaya shock gitu" Tanya Lisa.


Lusi pun tampak memijat keningnya. Tidak percaya apa yang Juna lakukan barusan.


Lusi pun tampak menarik napasnya dengan kasar.


*********

__ADS_1


__ADS_2