
Part 22
(Mawar yang mengering) (Sesion 2)
Pagi hari yang cerah. Sinar matahari pagi itu telah memasuki seisi kamar pasien vip kala itu. Terlihat Lusi yang menatap ke arah jendela sambil menatap keluar, dan melihat pemandangan kota Jakarta saat itu. Lusi dirawat di lantai 5 rumah sakit. Sehingga ia mampu melihat pemandangan kota jakarta dari atas sana. Ia merasakan hal yang sangat berbeda saat berada di Jakarta.
Sama halnya jika ia berada Bandung dan Jogjakarta. Namun baginya semua daerah punya keunikan dan daya tarik masing-masing. Ia sebenarnya ingin sekali agak lebih lama di Jakarta untuk berkunjung ke tempat wisata. Hanya saja ia belum menemukan waktu yang tepat.
Sudah hampir 3 minggu ia di rawat di rumah sakit karena kecelakaan. Kini saatnya ia kembali ke Rumah, yaitu di Bandung kota kelahirannya. Lusi pun senang karena ia sudah boleh kembali. Dan kondisinya kini sudah merasa lebih baik dan bisa berjalan walaupun masih sedikit terasa sakit di kakinya.
Ia pun merapikan barang-barangnya yang berada di kamar Rumah Sakit tersebut dan mengemasnya.
Lalu tak lama Dokter Wirman datang. Lusi di periksa untuk mengecek kondisi terakhir sebelum ia pulang. Ia juga cek tensi darah serta membawa hasil rontgen. Dan Dokter bilang hasilnya bagus.
__ADS_1
"Selamat kamu sudah bisa pulang sekarang. Ingat jangan lupa minum obat dan jaga kesehatan. Serta tetap istirahat yang cukup" ucap Dokter Wirman.
Lusi pun mengangguk.
Syukur Alhamdulillah aku bisa pulang. Senang rasanya. Kini aku bisa kembali ke rumah, benak Lusi.
Lalu tak lama Ibu datang.Sesampainya Ibu pun memelukku. Rasanya hangat sekali berada di pelukan Ibu. Hati ku terasa tenang dan damai saat berada disampingnya.
"Bagaimana kamu sudah siap pulang hari ini? " tanya Ibu tersenyum.
Aku dan Ibu turun ke bawah. Lalu ke Loby Rumah sakit sambil membawa koper berisi pakaianku selama di Rumah sakit. Terlihat Lisa yang sudah menunggu bersama Pak Makmur. Lalu kami pun pulang dengan mobil. Lisa pun juga ikut bersama kami ke Bandung.
Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 3 jam. Kami pun sampai di Kota Bandung. Beruntung saat itu tidak terlalu macet. Jadi kami tepat waktu sampai ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya aku di rumah. Aku memandangi setiap penjuru. Dan aku melihat ke arah pekarangan Rumah. Aku melihat bunga mawar putih yang ku tanam dulu kini mati. Seketika aku pun sedih saat melihat bunga mawar itu telah layu dan mengering. Seolah bunga itu mewakili perasaanku saat ini. Yang sudah lama layu dan mengering.
Sesampainya di Rumah Lusi melihat Ayah sedang duduk sambil membaca koran. Ia pun senang sekali dapat bertemu kembali dengan Ayah. Lalu Lusi pun mencium tangan Ayahnya. Setelah itu Lusi ingin memeluk Ayah. Namun tidak sampai memeluk. Ayah langsung meninggalkan Lusi tanpa sepatah kata pun. Lalu Lusi pun menoleh ke arah Ibu. Dan Ibu langsung membawa Lusi ke kamar.
"Ayo kita istirahat di kamar", ucap Ibu sambil memegang tangan Lusi.
Lalu aku pun mengangguk. "Iya bu"
Sesampainya di kamar. Lusi seperti kembali lagi ke masa kecilnya. Lagi-lagi ia memeluk Ibunya.
"Eh kenapa menangis" ucap Ibu.
"Kalau bisa memilih Lusi tetap ingin bersama Ibu. Lusi gak mau jadi orang dewasa yang punya banyak masalah" ucap Lusi.
__ADS_1
"Gak boleh gitu. Ibu tahu Lusi adalah orang yang kuat. Buktinya Lusi bisa bertahan sampai saat ini. Lusi harus bisa, gak boleh menyerah" ucap sang Ibu mengelus pundak Lusi.
Lalu Lusi pun mengangguk.