Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Mahar pernikahan


__ADS_3

Part 49 (Mahar pernikahan) (Sesion 2)


Lusi pun kaget atas kedatangan Rian. Yang setelah mendiamkan Lusi selama setahun.


Lalu Rian pun membawa mobil sambil memandang tajam ke depan. Tanpa menegok sedikitpun ke arah Lusi.


Sedangkan Lusi duduk di kursi belakang.


Hah.. Ternyata masih hidup juga dia. Aku pikir dia udah pindah planet benak Lusi sambil melihat ke arah jendela mobil.


"Selama ini kemana aja.." tanya Lusi.


"Bukan urusan kamu.."


Lalu Lusi pun menggelengkan kepalanya dan memijat keningnya.


"Seminggu lagi kita akan menikah"


"Apaa?!? " Lusi kaget.


"Gak usah kaget juga kali biasa aja. Sekarang aku mau tanya. Kamu mau mahar apa?!? "


"Terserah" ucap Lusi dengan pandangan kosong.


"Terserah itu bukan jawaban. Cewek matre kaya kamu pasti banyak keinginan?"


Sial.. Aku di bilang cewek matre benak Lusi


"Mahar semahal apapun tidak akan ada yang menjamin kebahagiaan aku Rian" ucap Lusi.


"Yaudah lah kalau gak ada jawaban kamu beli aja sendiri" ucap Rian.


Lusi pun hanya diam.


Lalu tak lama mereka pun sampai.


Rian pun mengambil pecahan ratusan ribu di dompetnya. Dan menengok kearah Lusi. Lalu melempar uang itu ke wajah Lusi.


Lusi pun memejamkan matanya saat uang itu bertaburan di wajahnya..

__ADS_1


"kamu beli sendiri maharnya!" bentak Rian.


Lusi pun menarik napas panjang dan berusaha sabar. Lalu ia mengambil pecahan uang yang bertaburan itu.


"Aku ambil uang ini Rian. Walau aku tahu, kamu memberikan ini secara tidak hormat", ucap Lusi kesal.


" sekarang kamu turun !!!", ujar Rian kasar. "Dan satu lagi.. Kalau kamu masih mau hidup Lusi. Jaga nama baik aku di depan keluarga kamu!" ancam Rian


"Kejam sekali kamu Rian! Aku harus mempertaruhkan kehidupan ku. Demi nama baik kamu" ucap Lusi menahan kesal.


Lalu Lusi pun turun. Dengan perasaan sedikit kesal.. Ah..bukan sedikit kesal tapi kali ini sangat kesal. Namun ia berusaha menahannya. Dan berpura-pura biasa saja.


Dunia ini memang tidak adil. Dunia ini serasa panggung sandiwara. Dimana aku harus tersenyum demi orang lain. Benak Lusi


Lalu Lusi pun turun, dan masuk kedalam rumah.


Sesampainya Lusi pun disambut oleh Ibu.


"Alhamdulillah nak.. Selamat ya kamu sudah lulus kuliah" ucap Ibu memeluk Lusi.


"Iya bu. Cuma satu yang lusi belum lulus. Yaitu ujian hidup", ucap Lusi.


"Ahh.. Bukan apa-apa. Aku hanya bercanda" jawab Lusi sambil tersenyum.


Lalu Rian pun mencium punggung tangan Ibu.


Lalu kami pun duduk di ruang tengah. Dan makan siang bersama.


"Bu Ayah kemana? " tanya Lusi.


"Ayah sedang sibuk. Lagi di bengkel"


"Oh ada apa bu? "


"Gak tahu mobilnya mogok kemarin", ujar ibu.


"Ayo Rian di makan" ucap ibu lagi mempersilahkan makan. Sambil menyiapkan piring dan menyendokan nasi.


"Iya bu" jawab Rian.

__ADS_1


"Bu.. Emang bener ya Lusi ini akan nikah seminggu lagi" tanya Lusi pada ibu.


"Loh.. Bukannya kamu yang meminta seminggu lagi. Kata Rian itu keinginan kamu. Makanya ibu suruh kamu cepet-cepet pulang"


Lusi pun kaget dan menarik napas panjangnya.


Rian kapan aku ngomongnya. Bener-bener ngeselin kamu Rian.. benak Lusi kesal.


"Iya soal Gedung, biaya pernikahan dan berkas persyaratan pernikahan aku yang urus. Jadi kalian tidak usah repot" ucap Rian.


Rian sengaja yang mengurus semua. agar berita pernikahannya tidak tersebar luas.semuanya pun akan dilaksanakan secara tertutup. dan pernikahannya pun tidak di urus ke KUA hanya ijab qabul saja. namun Lusi tidak mengetahui itu semua.


"Terimakasih loh nak Rian" ucap Ibu


"Terus maharnya apa nih kira-kira? " tanya Ibu.


"Sudah ada bu, uang..." ucap Lusi.


"Baik lah kalau begitu" ucap ibu.


Lalu setelah itu Rian pulang.


.


.


.


Lusi pun masuk ke dalam kamarnya. Lalu Lusi beristirahat dan merebahkan diri.


Setahun tidak bertemu kamu Rian. Aku pikir.. Saat Kita bertemu kita akan seperti romeo and juliet, ternyata aku salah.. Kita malah saling membenci dan dingin. Aku jadi ragu sama kamu Rian. Bahkan aku malah takut saat melihat kamu.. Kamu kasar dan aku sudah tidak melihat cinta lagi dimata kamu Rian. Namun... sekalipun aku menolak. Aku takan bisa... karena aku sudah menandatangani perjanjian pernikahan itu.. Benak Lusi sambil melamun.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan Lupa like


__ADS_2