Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
pernikahan


__ADS_3

Part 56 (pernikahan)(Sesion 2)


Keesokan harinya...


Tidak terasa dua hari lagi Lusi akan segera menikah. Kini rasa deg degan yang kian berkecamuk di hati terus di hati. Terlihat Lusi yang seolah melamun. Pikirannya bercabang-cabang, antara senang sekaligus sedih. Ia senang karena akan menikah. Sedihnya adalah prianya adalah Rian.


Terlihat Lusi yang sedang merebahkan diri di kasur.


Tiba-tiba ibu datang membawa sebuah mangkuk berisi lulur.


"Ayoo sini ibu pakaikan lulur ke semua tubuh kamu"


"Haruskah ini dilakukan"


"Ya iyalah. Malah seharusnya kamu ikutin tradisi. Di pingit, Kamu puasa, dan luluran selama seminggu. Biar pangling pas nikah"


"Ribet amat sih bu"


"Iya emang begitu"


Lalu ibu pun melumuri lulur ke tubuh Lusi. Mulai dari tangan badan hingga kakinya.


"Nah setelah mengering kamu mandi. Besok sekali lagi lulurannya ya"


"Iya" jawab Lusi.


Lalu setelah itu Lusi pun mandi. Selesai mandi Lusi duduk di depan rumah sambil menikmati jamu pemberian ibu. Gak tau lah itu jamu apaan. Kayanya sih kunyit asem, beras kencur, sirih, beserta rempah rempah lainnya. Katanya sih buat calon pengantin. Iya aja dah. Nikah kan seumur hidup sekali. Kalau pun menikah yang ke dua kalinya. Ya pasti gak akan serempong ini.


...


Keesokan harinya terlihat ibu yang sedang sibuk menyiapkan beberapa persiapan untuk menyiapkan acara pengajian untuk nanti malam. Mengundang beberapa kerabat dan tetangga untuk hadir di pengajian . Terlihat Ibu dan Lisa yang sedang sibuk memesan nasi box dan beberapa hidangan lainnya yang akan disuguhkan.


"Lisa ada yang bisa kakak bantu gak? " ucap Lusi


"Gak usah. Calon pengantin istirahat aja di kamar. Luluran, maskeran, meni pedi. Ya semacemlah jangan urusin urusan ini" ucap Lisa.

__ADS_1


"Iya kamu di kamar aja. Istirahat urusan dapur biar kita yang bereskan" ucap Ibu menambahkan, dengan bergaya wonder womannya itu.


Lusi pun cuma bisa pasrah.


.


.


.


.


Sampailah keesokan harinya.Terlihat Lusi yang sudah di rias berikut dengan baju pengantin. Dengan baju kebaya putih adat sundanya itu. Dan siger dan kembang goyang menghias dikepalanya. Serta kembang melati yang menjuntai indah. Lusi tampak cantik dan mempesona bagi siapa saja yang melihatnya. Rasa degup di jantungnya tak bisa di tutupi. Apalagi saat orang-orang memandangnya. Decak kagum pun menyelimuti dirinya saat melihat betapa cantiknya Lusi menjadi pengantin.


Lalu Lusi pun di bawa dari rumah menuju gedung serbaguna yang biasa di gunakan untuk acara pernikahan. Sudah terlihat penghulu dan Rian yang duduk. Sedang menunggu kehadiran pengantin wanitanya. Lalu Lusi pun diantar ibu untuk duduk disebelah Rian.


Serasa mimpi melihat Rian berada disampinnya. Pria yang paling Lusi benci. Kini harus berusaha ia cintai. Ingin marah .pada dunia. Namun Lusi tak mampu merubah dunia. Ia hanya menerima disaat memang ini adalah kenyataannya.


Tampak Ayah duduk disebelah penghulu. Bersiap diri menikahkan anak perempuannya. Kepada seorang pria yang mungkin ia tidak suka. Namun Ayah berusaha untuk tetap menerima. Calon menantunya yang pernah memberikan Lusi duka, Yang tak pernah ada habisnya.


"Saudara Rian bin Chandra. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Lusi Amelia dengan mas kawin yang tersebut tunai" ucap Ayah sambil menjabat tangan Rian.


"Saya terima nikah dan kawinnya Lusi Amelia bin Rusman dengan mas kawin yang tersebut tunai" ucap Rian dengan lantang.


"bagaimana para saksi sah" ucap pak penghulu.


"Saahhh" kata para saksi.


"Alhamdulillahirobil alamin." ucap pak penghulu.


Hah ... sudahlah mereka sudah sah. Seharusnya Lusi sudah tak ada lagi dendam pada Rian. Karena kini pria bejat itu telah menjadi suaminya.


Dan setelah itu.. pak peghulu memimpin doa untuk kedua mempelai itu.


Namun entah mengapa.. ada kejanggalan di acara pernikahan. Ayah pun menanyakan kepada pak penghulu dimanakah buku nikahnya. Sayang seribu sayang. Pernikahan itu tanpa buku nikah dan hanya sah menurut agama saja.

__ADS_1


Seketika pernikahan yang terasa hikmat itu berubah menjadi tegang. Ayah pun terlihat marah dan menarik baju Rian. Lalu menariknya ke tempat yang sedikit jauh dari tamu undangan.


"Rian teganya kamu menikahi anak saya dengan cara seperti ini. Mana buku nikahnya" ucap Ayah marah.


"Akan segera saya urus" ucap Rian.


Lalu Lusi pun menemui Ayah.


Terlihat Ayah yang sudah siap dengan tanganya memukul Rian.


Lalu Lusi pun memegang tangan Ayahnya dan memenangkannya.


"Sudah sudah.. Ayah sudah. Aku mohon jangan berkelahi dalam keadaan seperti ini" ucap Lusi.


Lalu Rian pun pergi.


"Teganya dia mempermainkan kamu Lusi" ucap Ayah.


Lalu Lusi pun menitihkan air matanya.


"Apa yang kita bisa harapkan Ayah dari seorang tersangka seperti Rian. Dari awal Lusi ini cuma korban dari kasus Lusi sendiri. Tak ada yang kita bisa harapkan.." ucap Lusi sambil menangis.


Saat melihat Lusi menangis ibu pun mendekap putrinya. Terlihat Lusi yang berkali-kali mengusap air matanya dan berusaha menguatkan dirinya untuk tidak menangis.


"Ayah dan ibu kali ini kalian tidak usah pikirkan soal buku nikah. Soal ini biar Lusi yang bicara pada Rian. Aku gak mau kalian sedih di hari bahagia ini" ucap Lusi. Lalu Ayah pun memeluk Lusi.


Setelah itu karena acara pernikahan belum selesai. Lusi pun kembali. Dan duduk di kursi pelaminan yang sudah disiapkan. Lusi berusaha untuk tetap tersenyum. Menerima tamu undangan yang datang. Ia tidak sama sekali peduli dinikahkan secara resmi atau siri. Yang ia tahu adalah ini pernikahan pertamanya. Ia harus bahagia di hari bahagianya itu.


.


.


.


Like yaaa

__ADS_1


__ADS_2