Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Disaat Harga Diri Ternegoisasi


__ADS_3

Part 29 (Disaat harga diri ternegoisasi) (sesion 2)


Setelah kejadian tersebut Lusi pun merasa serba salah terhadap diri sendiri. Ia tidak menyangka telah menerima lamaran dari Rian. Pria yang sama sekali ia tidak cintai. Namun ia punya alasan kuat di balik itu semua.


"Kakak stres ya. Kenapa mau di ajak damai. Harga diri kakak mau taro dimana" ucap Lisa kesal.


"Lisa .. Kamu gak paham soal ini. Ini bukan lagi soal harga diri. Tapi soal keselamatan kita. Kamu lihat kan tadi nyokapnya Rian bawa bodyguard banyak. Apa yang terjadi kalau kakak menolak keinginannya"


Lalu Lisa pun diam mendenger penjelasan kakaknya.


"Coba kamu pikir. Apakah dengan kakak menolak perdamaian itu bisa selesaikan masalah. Kalau kakak tolak pun sama saja kita memulai perang dengan mereka. Atau mereka bisa saja bayar orang untuk menghabisi kita. Kakak bisa apa Lisa?" ucap Lusi yang terlihat pusing. Sambil memegang kepalanya. "Jalan keluarnya kita ikutin permainan mereka, dan kita lihat aja kedepannya mereka mau apa"


Lalu Lisa pun terlihat biasa saja melihat kakaknya pusing dan kebingungan. Lisa malah sangat santai sambil memakan cemilan diatas meja.


"Ya ampun.. Kakak berfikir sampai sedetail itu. Pantesan kakak selalu dapet nilai bagus di sekolah. Ternyata kakak bisa berfikir diluar pikiran orang-orang. Good job lah kalau gitu. Tapi kalau aku jadi kakak sih. Sudah pasti aku tolak mentah-mentah. HARGA DIRI HARGA MATI kak"


Lalu Lusi pun diam sejenak. Dan kembali berfikir.


"Kamu juga pintar. Dalam keadaan kaya gini, kamu masih mikirin harga diri. Berarti tadi pas kakak setuju, sama aja dong ya. Kakak gak punya harga diri" ucap Lusi sambil mengepalkan tangannya.


"Ember... Kakak kemana aja daritadi. Tapi yaudah lah gak usah di pikirin kita santai aja. Sambil menikmati hasil, kan bentar lagi kakak jadi horang kaya" ucap Lisa cengar cengir.


Lusi pun menyipitkan matanya sambil memandang adiknya kesal. "Kamu in.i ya. Bisa-bisanya becanda dalam keadaan kaya gini"


"Kak.. lebih rugi aku. Aku lari-larian buat dapetin video syur kakak. Emang di pikir gampang. Eh sekalinya dapet. Malahan di hempaskan begitu saja. Percuma"


"Udah lah gak usah di bahas soal video itu. Kalau ingat itu kakak kesel banget"


"Emang kakak gak mau lihat video itu" ucap Lisa


"Ogah" ucap Lusi kesal.


"Ayolaah, sekali aja" ledek Lisa

__ADS_1


"Lisa kamu bener-bener ya"


Lalu Lisa pun tertawa geli melihat kakaknya kesal.


"Tapi aku gak nyangka loh. Kalau Rian tuh anak orang kaya. Aku baru tahu" ucap Lisa.


"Sama kakak juga. Gak pernah mau tau dan gak pernah nanya juga sih" ucap Lusi. "Bodo amat dia mau anak orang kaya. Anak orang utan. Gak mikirin! "


Lalu Lisa pun tertawa lagi mendengar kakaknya yang berbicara ceplas-ceplos.


"Tapi sebenernya di balik itu kakak punya alasan lain" ucap Lusi.


"Alasan apa?" tanya Lisa


Tiba-tiba saja Lusi terlihat sedih.


"Kakak hanya membuang diri kakak. Kakak sudah putus asa. Ucapan ayah semalam menyadarkan. Kalau kakak ini cuma bekas orang. Kakak jijik sama diri kakak sendiri Lisa" ucap Lusi.


Lalu Lisa pun memeluk kakaknya.


Setibanya Ibu kaget melihat barang-barang mewah dan mahal berserakan di meja ruang tamu.


"Siapa yang habis belanja sebanyak ini" tanya Ibu.


"Kakak tuh, abis nerima lamaran" ucap Lisa.


"Dilamar siapa? " tanya Ayah kaget.


"Sama Rian" ucap Lisa.


Lalu Ayah dan Ibu pun kaget.


"Apa!!! pria br*ngs*k itu datang kemari. Mana orangnya biar Ayah habisi dia" ucap Ayah kesal.

__ADS_1


"ada noh yah orangnya" ucap Lisa.


"Mana! Mana orangnya! Dimana dia?" tanya Ayah.


"Ada noh di rumahnya" ucap Lisa.


"Lisa!!" teriak Ayah.


"Kamu ini ya. Ayah sedang serius kamu malah becanda aja"


Lalu Lisa pun tersenyum pada ayahnya "Maaf ya yah"


Dan Ayah pun menghampiri Lusi. Dan Ayah pun duduk dihadapannya.


"Apa benar kamu habis dilamar Rian?" tanya Ayah


Lusi pun mengangguk.


"Apakah kamu menerimanya?"


"iya"


"Tapi kenapa kamu terima?"


"Aku putus asa Ayah. Aku tidak ingin menjadi beban hidup buat Ayah lagi. Aku akan membuang diri aku sendiri. Omongan Ayah semalam benar. Kalau aku cuma bekas orang dan tidak layak untuk siapa-siapa"


Lalu Ayah pun mendekap putrinya.


"Maafkan Ayah nak. Ayah tidak bermaksud begitu. Ayah saat itu hanya sedang kecewa dan emosi. Kamu tidak harus membuang diri kamu kemana pun nak. Dan kamu tidak harus menerimanya. Kita tetap akan proses hukum"


Lusi pun hanya menangis.


"Semua sudah terlanjur. Lusi sudah mendatangani surat perjanjian. Bahwa Lusi sudah menyetujui pernikahan itu. Dan tidak membawanya ke proses hukum" ucap Lusi menangis.

__ADS_1


Lalu Ayah pun memeluk erat putrinya. Perasaan bersalah pada putrinya semakin berkecamuk dalam hatinya. Ia sangat merasa bersalah, karena membiarkan Lusi sendiri dalam menghadapi masalahnya.


"Maaf kan Ayah nak. Ayah terlalu egois. Sehingga Ayah hanya memikirkan nama baik tanpa memikirkan perasaan kamu"


__ADS_2