Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Tarawih bersama keluarga


__ADS_3

Part 45 (Tarawih bersama keluarga) (Sesion 2)


Terlihat Lusi yang bersiap-siap diri untuk ke Bandung yaitu kerumah orang tuanya. Kali ini ia menggunakan kereta api. Rencananya Lusi memang ingin merayakan Idul Fitri disana.


Namun tiba-tiba ia teringat Marta.


Kira-kira Marta punya uang gak ya buat kebutuhan dia sehari-hari. Jangan-jangan dia cuma punya uang buat bayar kost doang lagi, benak Lusi.


Lalu sebelum berangkat Lusi pun mampir dulu ke kostan Marta. Dan memberikan sedikit uang. Memang Lusi dan Marta tidak terlalu akrab. Namun bukan berarti Lusi tidak peduli dengannya.


Lalu setelahnya..


Lusi pun berangkat dari Jogja jam 08.00 pagi sesampainya kurang lebih jam 17.00 di Bandung.


Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam Lusi pun sampai. Lalu Lusi pun dari stasiun naik taksi sampai ke rumahnya.


Sesampainya...


Ayah dan Ibu tampak terkejut. Karena Lusi pulang tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Sesampainya Lusi memeluk erat Ibunya. Terlihat wajah Lusi yang sangat merindukan sang Ibu. Sesekali Lusi menyeka air matanya yang berjatuhan karena rasa rindu itu.


"Eh. Kamu naik apa kesini" tanya Ibu.


"Kereta bu" jawab Lusi.


"Kereta. Emangnya uangnya kurang buat beli ticket pesawat"


"Gak sih bu. Cuma uangnya kepake ada keperluan mendadak"


"Yaudah yang penting kamu selamat sampai sini"


Lalu Lusi pun tersenyum.


Setelah itu...

__ADS_1


Ibu pun menyuruh Lusi untuk istirahat dikamar. Lalu Lusi istirahat karena lumayan melelahkan perjalanan jarak jauh itu.


Namun saat ia ke Ruang tengah. Ia agak sedikit kesal campur sedih, saat melihat wajahnya dan wajah Rian terpampang di depan matanya. Rasanya ia ingin sekali membanting foto itu. Namun apalah daya, Lusi gak mau bikin heboh orang rumah. Ia hanya tampak hancur hatinya saat melihat foto itu.


Tiba-tiba saja Ibu datang.


"Kamu kenapa kangen ya sama Rian"


Kangen.. Iya Kangen pengen mukul sama nampar dia Benak Lusi.


Lusi pun hanya tersenyum dengan sedikit memaksa.


"Terus gimana Rian sering datang ke Jogja kan" Tanya ibu.


"Sesekali" jawab Lusi berbohong.


Karena Lusi tidak ingin membuat sang ibu sedih. Cukuplah kesedihan ini milik Lusi bukan pada Ibunya.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan kamu"


"Ya kita lihat nanti aja bu. Lusi lagi fokus kuliah dulu" ucap Lusi memeluk Ibunya.


.


.


"Hallooo calon manten" ucap Lisa memeluk kakaknya.


"Apaan sih masih lama keleus" ucap Lusi.


"Hahaha.. Ya gak apa-apalah"


Lalu Lusi pun senang bisa berkumpul lagi bersama keluarganyanya yang utuh itu.


Lalu mereka sekeluarga pun melaksanakan tarawih bersama. Dan Ayah yang menjadi imamnya. Karena ia memang paling tampan dirumah. Ayah melantunkan ayat suci alquran yang begitu indah di telinga, dan terasa sejuk di hati. Sudah lama sekali sepertinya tidak seperti ini.

__ADS_1


Malamnya..


Lusi, ibu dan Lisa tidur bersama di ruang tengah. Dengan menggelar kasur lantai. Mereka Sambil mengbrol bersama. Cerita hal lucu-lucu, selama di kampus. Ya pokoknya cerita macam-macam lah. Mulai masa kecil dulu, cerita ayah ibu saat masa muda dan hal gak penting lainnya.


"Bu. Waktu Ibu nikah sama Ayah yang suka duluan siapa? "tanya Lisa.


"Ayah dong. Dia rela sampai jatuh bangun buat dapetin Ibu. Sedangkan dulu ayah kamu itu playboy banget tapi tobat pas ketemu ibu" jawab Ibu.


"Apaan sih. Ibu sok kecakepan." ucap Lisa.


"Biarin aja emang bener kok. Buktinya putri ibu dua-duanya cantik"


"Cie.. Cie kita dibilang cantik" ucap Lusi.


"Tapi nasib ibu gak seperti kak Lusi kan bu" ucap Lisa.


Sontak hati Lusi terasa terpukul dan sesak saat Lisa berbicara seperti itu. Meskipun Lusi tahu bahwa adiknya itu tidak sengaja alias keceplosan.


"Huss.." ucap Ibu menyuruh diam Lisa.


Lalu Lusi pun sedikit membuang pandangannya dan sedikit menutup wajahnya dengan selimut karena sedih.


"Udah kita tidur aja ya. Besok kan kita sahur takut kesiangan" ucap ibu


Lalu ibu pun mencium pipi satu persatu putrinya itu. Kebetulan ibu ditengah diantara kedua putrinya. Saat ibu mencium pipi milik Lusi, ibu pun merasakan basah di pipi Lusi yang sepertinya ia baru saja menangis. Ibu pun tidak berkata sepatah kata pun, ibu langsung mendekap putrinya dari samping. Terlihat Lusi yang memang menangis sambil memejamkan matanya.


.


.


.


.


(Next... )

__ADS_1


(Maaf klo mungkin ceritanya sedih)


jangan lupa like ya


__ADS_2