Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Saya Bukan Kambing


__ADS_3

Part 106 (Saya bukan kambing) (Sesion 2)


Saat di kantor tampak Lusi yang melamun sambil memandang keluar melihat langit biru yang cerah..


Hanya terdengar bunyi telpon dan printer printer. Terlihat karyawan yang saling sibuk dengan pekerjaannya masing masing..


Di lantai 7 ini, di kantor besar milik Rian.


Lusi mampu melihat pemandangan kota Jakarta yang menurutnya indah dan mengagumkan..


Terlihat Lusi yang melamun sambil menopang dagunya. Menatap langit biru dari jendela.


Tampaknya Lusi ini suka sekali melamun dengan pikiran kosong dan terombang ambing tak jelas. Maklum saja.. Riwayat cerita Lusi yang pernah mengalami gangguan jiwa ini, membuat ia suka sekali melamun memikirkan hal yang tak jelas.


Dan memang sepertinya melamun sambil melihat pemandangan luar seperti ini. Membuat aku lebih tenang.. Benak Lusi.. ketimbang aku harus mengingat perasaan sakit hati yang sering aku alami.


Tiba-tiba..


Lusi di panggil untuk ke Ruangannya pak Adit.


Lalu Lusi pun berjalan menyusuri ruang ruang lain. Tampak dari karyawan yang sesekali memandang Lusi yang melewati mereka.


Karena Lusi bukan tipical orang yang mudah akrab. Ia pun hanya tersenyum dan tak pernah menegur orang yang ia lewati di hadapannya. Kecuali orang itu menegurnya duluan. Ia pun hanya menundukan kepalanya, Karena sedikit malu bila ada orang yang melihatnya secara berlebih.


Sesampainya diruangan Adit. Lusi duduk dihadapan Adit. Tampak Adit yang sedang duduk.


"Ada Pak, bapak memanggil saya" tanya Lusi.


Terlihat Adit yang lalu berdiri. Dan langsung menghapiri Lusi. Tampak adit memandang Lusi lama karena Lusi terlihat cantik dan anggun saat itu.


"Besok saya ada meeting di luar kota. Saya mau menitipkan Salsa padamu, ga apa-apakan.. Cuma satu hari. Lagi pula besok weekend pasti kamu tidak keberatan"


"Emm.. Bagaimana ya.." ucap Lusi bingung sambil berfikir.


"Saya menelpon mantan istri saya tidak bisa katanya. Kamu Mau ya..? " ucap Adit lagi


"Mm.. Baiklah pak"


"Terimakasih Lusi" jawab Pak Adit.


Lalu tak lama Adit pun melihat Rian lewat, Rian pun sedikit menoleh dan mengintip saat ada Lusi di ruangan Adit. Lalu Adit pun berpura-pura sakit pada dadanya, demi mendapat perhatian Lusi.


"Lusi tolong saya. Dada saya sakit" ucap Adit memegang dadanya.


"Loh.. Pak kenapa pak" Lusi panik. Lusi pun beridiri.


Adit pun berpegangan pada Lusi.


"Dada saya sakit sekali.." ucap Adit pegangan pada Lusi.


Lalu Lusi pun memapah Adit. Dan membawa Adit ke kursinya untuk duduk.


Adit pun tampak mencari kesempatan dengan merangkul Lusi. Yang membantunya.


Sontak Rian yang saat itu melihat pun langsung kesal. Dan masuk ke ruangan Adit tanpa mengetuknya.


"Ada apa ini" ucap Rian.


"Oh ini.. Pak Adit sakit" ucap Lusi.


"Lusi ambilkan saya air putih" ucap Adit sambil memegang dadanya.


Lalu Lusi mengambil air putih di hadapannya. Dan membantunya untuk minum.


"Lusi bisa tolong pijat dada saya"


"Hah... " Lusi kaget.


" Lusi tolong saya sakit sekali"


Lusi pun dengan terpaksa memijat lembut dada Pak Adit. karena panik.. iya iya aja dah..


Rian yang melihat kejadian itu didepan matanya tampak kesal pada Adit.


"Saya sudah lebih baik.. " ucap Adit memegang dadanya.


"Oh.. Syukurlah.. " ucap Lusi sambil menarik napas panjangnya. Lega.. Karena Adit tidak kenapa-kenapa.


"Lusi terimakasih" ucap Adit.


"Sama sama.. Saya permisi ya" ucap Lusi pergi.


"Hah.. Baiklah kalau bapak tidak jadi sekarat... Kalau gitu saya juga permisi " ucap Rian ketus. Lalu pergi dengan perasaan kesal.


Dan sepertinya Adit paham bahwa Rian sedang marah pada Lusi. Memang itulah tujuan Adit. Agar Rian membenci Lusi.


Namun bukannya benci malah Rian cari perhatian sama Lusi.

__ADS_1


.


.


.


Lalu Rian pun menemui Lusi, yang baru saja keluar dari ruangan Adit.


"Lusi !!! kamu ke ruangan saya" panggil Rian ketus..


"Dalam rangka apa ya.. saya di panggil"


"Segera penuhi panggilan saya"


"Sorry, Sedang sibuk.. " ucap Lusi simple sambil berjalan.


"Ini perintah.. Jangan membantah!!!" ucap Rian dengan wajah kesal.


Lalu menarik tangan Lusi dengan kasar dan kuat.


"Pak saya bukan kambing yang harus bapak tarik-tarik seperti ini" protes Lusi.


"Baik.. Kalau bukan kambing. Lalu apa, kerbau.." ucap Rian ketus.


Rian pun membawa Lusi keuangannya.


.


.


.


sesampainya di ruangan Rian.


Lusi pun dipaksa duduk dikursi milik Rian. Tampak Rian yang berdiri di hadapan Lusi sambil melotot.


"Ngapain kamu ke ruangan Adit pake rangkul-rangkulan segala!!!" ucap Rian kesal.


"Maaf soal itu, Saya tidak tahu bahwa Pak Adit akan merangkul saya secara tiba-tiba"


"Bisakah kamu tidak melakukan hal itu padanya"


"Kalau ada orang sakit. Masa saya abaikan Pak.. Coba bapak pikir!!!"


"Tapi kalau aku sakit kamu gak peduli sama saya"


"Oh.. Yaudah kalau gitu saya sakit sekarang!!" tantang Rian..


"Mana bisa begitu Pak.. " ucap Lusi.


Rian pun mengambil sebilah pisau kecil. Dan menyayat jarinya hingga berdarah.


Sontak Lusi pun kaget dan berlari mengambil plester yang ada di p3 k yang berada di ruangan Rian.


" kelakuan masih seperti anak kecil. Pak... Jangan kebanyakan gaya, cuma mau dapet perhatian. bapak jadi nyusahin saya seperti ini" ucap Lusi kesal. Sambil membalut luka Rian dengan plester antiseptik.


"Haruskah aku diomelin sama kamu. Saat aku terluka"


"tapi Bapak jangan melukai diri sendiri dengan cara seperti ini. Sebagai atasan Bapak Sungguh kurang kerjaan"


"Biarin saya kurang kerjaan.. Daripada kurang perhatian dari kamu.. "


"Astaga... "


Lusi pun menghela napasnya.


"Kamu cemburu ya" tanya Lusi.


"Hah.. Mana mungkin aku tidak cemburu saat istri cantik saya.. Memberikan perhatian kepada orang lain.."


"Apa Bapak bilang tadi.. cantik.. Saya cantik maksudnya.."


"Iya kamu cantik.."


"Siapa peduli dengan kecantikan saya Pak. Kalau cantik saja ternyata tidak cukup untuk menjamin kebahagiaan saya" ucap Lusi. "Sudahlah.. Saya tidak suka pujian, yang justru malah menyakitkan hati saya. "


"Sungguh..!!!. kamu sangatlah cantik Lusi.. Kamu seperti candu di jiwa saya yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja.. " ucap Rian memegang wajah Lusi.. Rian pun membelai wajah Lusi..


"Aku sangat menginginkan mu" ucap Rian memegang leher milik Lusi dengan kedua tangannya. dan mendekatkan wajah Rian ke Lusi. Hingga hidung mereka pun sedikit beradu.


Rian pun mengambil kesempatan untuk mencium bibir Lusi.


Tiba-tiba..


Tok. Tokk..


Suara ketukan pintu.

__ADS_1


Rian pun kaget dengan ketukan pintu itu. Ia pun melepas tanganya dan tidak jadi mencium Lusi saat terdengar ada seseorang yang masuk.


.


.


Dan Yang datang ternyata adalah Zelda.


Rian pun harus menanarik napas panjangnya sangat dalam. Saat ciuman yang ia ingin daratkan kepada Lusi harus tertahan..


Dengan nada mesra Zelda datang.


"Hallo sayang.. Sedang apa, sepertinya wajah kamu tegang" tanya Zelda.


"Ouh.. Aku sedang membahas pekerjaan" ucap Rian.


"Berduaan saja" ucap Zelda lagi sedikit curiga.


"Ia.. Saya sedang membahas hasil meeting tadi. Jadi saya harap kamu mengerti Zel.. Jangan cemburu.." ucap Rian.


"Memangnya kamu kira aku akan cemburu.. Tidak akan Rian.. " ucap Zelda.. "Kecuali kalian memang punya hubungan"


"Oh iya yaudah.. ada apa kamu datang kesini?" tanya Rian.


Lusi pun hanya diam sambil memperhatikan Rian dan Zelda.


"Aku sangat merindukanmu.. Jadi aku niatkan kesini. Aku membawa makan siang untuk mu" ucap Zelda. "Rian boleh kah aku mencium mu. "


Tanpa basa basi Zelda pun langsung mencium pipi Rian.


"Harusnya kamu jangan menciumku di depan karyawan"


"Tidak apa Rian. Ku yakin ia pun tahu bahwa kita sudah bertunangan.. "


Lusi pun yang melihat itu terasa muak dan ingin muntah..


Lusi pun beranjak keluar ruangan. tiba-tiba..


"Hey.. Tolong ambil kan segelas air untuk Pak Rian ya. Karena ia ingin makan siang" ucap Zelda pada Lusi.


"Baik" jawab Lusi pada Zelda.


Lalu Lusi pun mengambil air di gelas.


Setelah selesai mengambil air..


Lusi pun melihat pemandangan yang sungguh menyakitkan lagi..


terlihat Rian yang sedang dusuapi Zelda.


Lusi sebagai wanita biasa, Perasaannya pun seolah teraduk-aduk perih dan juga mendidih melihat pemandangan tersebut depan matanya..


Lalu Lusi pun dengan sengaja.. Saat ia taruh minum ke meja lalu menumpahkannya sehingga mengenai baju Rian.


Pluk.. Byur..


basahlah baju Rian.


"Maaf ya.. Saya barusan tidak sengaja" ucap Lusi.


"Iya tidak apa-apa.. " jawab Rian.


"Ya jelas tidak apa-apa ini kan cuma air pak.. Bapak memang wajib memafkan saya" ucap Lusi.


"Iya.. Kamu boleh kembali keruangan terimakasih"


"Rian.. Kamu sangat baik dengan karyawan mu ini" ucap Zelda.


"Iya Pak Rian memang baik. Buktinya.. Saya sering membuatnya basah namun ia tidak pernah marah sama saya.. Ya kan pak.. "


"Maksudnya..? " tanya Zelda


"Ah.. Bukan apa-apa Zel. Lusi cuma bercanda.. " ucap Rian menambahkan.


Lusi pun langsung pergi, dengan tatapan tajam memandang keduanya.


Setelah Lusi keluar..


"Oh.. Jadi dia yang namanya Lusi. Yang pernah kamu bilang mirip denganku"


"Ia dia.. "


"Oke.. Aku harap kamu tidak jatuh hati padanya.. Karena aku tidak suka persaingan. "


"Tenang.. Aku yakin ia pun tidak mau bersaing denganmu.."


*****

__ADS_1


__ADS_2