
Part 93 (Mendadak lupa) (Sesion 2)
Keesokan harinya.. Saat di kantor..
Banyak dari karyawan yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Dan tampak Lusi yang juga sibuk dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba Intan menyuruh Lusi.
"Lusi lu minta tanda tangan Pak Adit. Gue mager banget ini.. Males jalannya" ucap Intan memberikan laporan pekerjaannya.
"Adalagi gak" ucap Lusi.
"Udah itu aja. Thanks ya" ucap Intan.
"Sama sama"
Lusi pun menemui Adit di ruangannya. Untuk meminta tanda tangan.
Saat di ruangannya Pak Adit..
"Permisi pak" ucap Lusi.
"Ya silahkan" jawab Adit.
Lalu Lusi pun menyerahkan laporan di meja kerja milik Adit.
Tampak Adit yang fokus dengan laptopnya, tiba-tiba Adit mendekati Lusi dan memandang Lusi.
"Kamu sudah makan" tanya Adit.
"Udah pak"
"kirain belom.. Baru saya mau traktir"
"tidak usah.. Makasih pak"
Tiba-tiba Adit memegang tangan Lusi.
"Eh sini deh lihat tangan kamu. Masa jarinya kecil sebelah" ucap Adit modus.
"Kecil sebelah.. Maksudnya gimana pak? " ucap Lusi bingung.
"Lihat nih.. Masa jempol ama kelingking gedean jempol"
"Iya itu sih saya tahu.. Kirain apaan. Semua jari juga gitu beda-beda pak" ucap Lusi.
Pak Adit pun masih memegang tangan Lusi, mencari-cari kesempatan untuk lebih dekat dengan Lusi.
Tiba-tiba..
Rian datang ke Ruangan Adit. Tanpa ketukan pintu. Dan Rian pun tampak kesal saat melihat tangan istrinya yang dipegang oleh Adit.
"Apa-apaan ini... kalian sedang apa?" tanya Rian kesal.
Lusi pun kaget. Dan menarik tangannya dari genggaman adit..
"oh ini sedang membicarakan pekerjaan pak" ucap Adit.
" ngomongin kerjaan kok pake pegang tangan segala" ucap Rian.
"Maaf pak sebelumnya ada apa pak.. silahkan duduk" ucap Adit pada Rian.
Rian pun hanya memandang Adit sinis.
"Pak Adit jangan pernah menggangu Lusi ya!!!" ucap Rian dengan nada tinggi
"Loh kok bapak marah.. Saya kan cuma bercanda sama Lusi pak"
"Saya tidak suka kalau bapak deket-deket sama dia" ucap Rian lagi.
"Pak.. Lusi ini kan masih single saya rasa siapapun boleh untuk mendekatinya" ucap Adit menangkis omongan Rian.
"Lusi kamu keluar!!! Saya ada urusan dengan pak Adit" perintah Rian.
Lalu Lusi pun keluar.
setelah itu...
"Pak saya minta bapak jangan coba dekati Lusi lagi" ucap Rian yang masih memanas.
"Lohh urusannya sama bapak apa? Emang Lusi siapanya pak Rian", ucap Adit.
"Karyawan saya" ucap Rian.
"Itu bukan alasan pak.. Bapak tidak bisa melarang saya untuk dekat dengan karyawan disini " ucap Adit.
Rian pun diam dan memandang Adit dengan menahan rasa kesal.
"Oia bapak ada apa sebelumnnya kesini. ada perlu apa pak?" tanya Adit.
"Tidak jadi. . Permisi" ucap Rian kesal lagsung pergi.
.
.
Setelah kejadian itu. Rian pun memanggil Lusi untuk ke ruangannya.
"Gak punya harga diri kamu!!! Pegang tangan segala" ucap Rian yang marah pada Lusi.
"Rian kamu pikir aku ini sedang apa dalam sana tadi.. " ucap Lusi.
"kamu mesra-mesraan kan" ucap Rian marah.
"Astaga.. aku cuma butuh tanda tangannya aja gak lebih" ucap Lusi menjelaskan.
"Bohong" ucap Rian.
"Kamu cemburu ya?" tanya Lusi.
"keliatannya gimana? " ucap Rian kesal.
__ADS_1
"Cemburu" jawab Lusi.
"Kalau udah tahu ngapain nanya"
"Yaudah aku minta maaf ya..." ucap Lusi memegang tangan Rian.
"Gak mau cium dulu" ucap Rian.
"Apaan sih gak ah" tolak Lusi.
Lalu Rian malah memeluk Lusi.
"Rian kamu jangan seperti ini. Aku ini sedang kerja Rian" ucap Lusi, merasa risih.
"Gak apa-apa kamu kan istri saya.." ucap Rian membelai rambut dan mencium pipi Lusi.
Tiba-tiba...
Viola datang tanpa mengetuk pintu dan kaget saat melihat pemandangan tersebut.
"Ba..bapak!!! " ucap Viola kaget yang melihat Lusi di peluk oleh Rian.
"Lain kali kamu kalau mau masuk ketuk pintu dulu ya" ucap Rian.
"Ma.. Maaf maaf pak saya tidak tahu kalau bapak lagi .." ucap Viola gugup dan langsung keluar ruangan Rian.
Lusi pun tampak tidak enak hati saat itu.
"Kamu lihat tadi ada Viola kan. Nanti dikiranya aku ini wanita murahan"
"Siapa yang berani bilang kamu wanita murahan. Kasih tahu aku. Nanti aku kasih pelajaran"
"Rian...Maksud aku bukan begitu.. Kamu tolong hargai aku. Jaga nama baik aku"
Rian pun tidak menghiraukan Lusi. Ia malah terus membelai mesra Lusi. Dan menciumi Lusi.
"Rian.. Kamu itu bener-bener ya" ucap Lusi kesal dan berusaha lepas dari pelukan Rian.
Namun Rian malah bergegas mengkunci ruangannya. Dan dengan cepat menutup seluruh gorden yang ada diruangannya tersebut.
Rian malah semakin mesra memeluk dan menciumi Lusi.
"Enaknya.. punya istri di kantor bisa kapan saja melakukannya. Tenang Lusi aku melakukannya sebentar tidak akan lama" ucap Rian memandang Lusi.
"Rian aku mohon jangan lakukan ini"
"Aku sangat menginginkannya Lusi aku mohon"
"Astaga Rian.. Seperti tidak ada tempat lain aja sih" ucap Lusi kesal.
"Memang tidak ada.. Kalau pun ada semua tempat bagiku sama asalkan sama kamu" ucap Rian.
Lusi pun memandang Rian kesal.
"Lusi!! kamu dapat dua perintah kali ini. Dari suami mu dan boss mu.. Layani aku!!!"
"Rian.. kamu ngeselin.. "
...
-Skip-
Setelah selesai...
Rian pun merapikan dirinya. Dan Lusi pun begitu.
Lusi pun merasa kesal pada Rian. Lusi juga merasa ilfill pada dirinya sendiri. Mengingat sangat tidak etis melakukan semuanya itu Di kantor.
Lalu..
Setelah itu..
Rian pun membuka gorden dan membuka konci pintu ruangannya.
Dan terlihat rambut dan lipstik Lusi yang sedikit berantakan.
Tak lama setelah itu Viola datang ke ruangan Rian dengan membawa berkas.
Viola pun memandangi Lusi dengan tatapan tajam. Terlihat Lusi yang sedang merapikan rambutnya dan lipstiknya disebuah kaca di ruangan Rian.
Viola pun kaget sebenarnya namun ia berusaha menutupinya.
Lalu Viola pun duduk di hadapan Rian. Terlihat Rian yang juga sibuk merapihkan dasi dan kemejanya.
"Aku menunggu bapak setengah jam lebih. Tadi pintu sempat terkunci. Jadi aku tidak berani masuk dan mengganggu bapak. Ini ada beberapa laporan yang bapak pinta" ucap Viola.
"Bagus.. Saya memang tidak ingin di ganggu"
"Baik pak.. saya permisi dulu" ucap Viola dan beranjak pergi.
"Viola tunggu sebentar" panggil Rian
"Ada apa pak? " ucap viola.
"Yang kamu lihat barusan. Mmm.. Saya pinta.. Kamu Jangan pernah sekalipun menggangap Lusi wanita murahan ya.." ucap Rian "Karena Lusi bilang sama saya. Ia tidak mau dibilang wanita murahan"
"Bapak tenang saja. Saya tidak akan anggap Lusi wanita murahan pak.. Dan saya baru tahu kalau Lusi itu adalah pacar bapak" ucap Viola
"Bukan dia bukan pacar saya" ucap Rian.
"Oh jadi dia adalah tunangan bapak"
"Bukan.. Dia bukan lah siapa-siapa saya. Dia hanyalah karyawan biasa"
"Saya tidak pernah menyangka, bahwa bapak akan melakukannya juga pada karyawan bapak sendiri"
"Lusi sangat butuh akan belaian. Sehingga saya melakukannya.."
Lusi pun tampak sedih dan menjantuhkan airmata dengan apa yang diucapkan Rian.
"Baik pak kalau gitu.. Saya permisi" ucap Viola pergi.
__ADS_1
Setelah itu.. Rian pun menghampiri Lusi.
"Mulai sekarang. Kamu harus melayaniku sekalipun di kantor. Karena aku punya hak atas dirimu" ucap Rian.
Terlihat Lusi yang tampak menjatuhkan air matanya.
"Aku bingung harus apa dengan sikapmu yang seperti ini. Tubuhku memang milikmu.. Namun entah mengapa aku merasa terhina. Dan Aku seolah tak ada harga diri dimata mu Rian" ucap Lusi yang tiba-tiba menangis.
Lusi pun langsung pergi sambil menyapu air matanya.
Rian pun keluar ruangannya. Dan menarik tangan Lusi.
"Maafkan aku Lusi. Aku tidak bermaksud membuat mu sedih" ucap Rian memohon di hadapan Lusi.
"Siapa yang sedih"
"Kamu.. "
"Saya tidak sedih pak. Saya hanya sadar diri. disini saya bukan lah siapa-siapa. Saya permisi dulu" ucap Lusi pergi.
Pada saat itu Rian pun merasa bersalah pada Lusi.
Dan saat itu Rian pun tak sadar bila dirinya sedang di perhatikan Viola. Dan saat itu hanya Viola yang melihat kejadiaan itu.
Lalu setelah itu Viola pun tersenyum saat melihat Rian.
"Sepertinya yang butuh belaian itu bapak.. bukan Lusi" sindir Viola.
"Tahu apa kamu" ketus Rian.
"Keliatan kok. Betapa bucinnya bapak saat mengejar Lusi"
"Rahasiakan soal yang tadi"
"Yang mana"
"Semuanya.. "
"Aku pikir-pikir dulu ya pak"
"Gaji kamu naik 2 kali lipat"
"Baik pak.. Saya mendadak lupa"
"Dasar..." ucap Rian.
.
.
.
Lalu sore hari tampak Rian yang menemui Renata disebuah restorant.
"Seminggu lagi kamu akan bertunangan dengan Zelda.."
"Iya ma tahu gak usah diingetin terus. .. "
"Sebelumnya.. Kamu harus meeting di luar kota untuk beberapa hari"
"Ada apa ma "
"Kita akan melaksanakan kerja sama bisnis hotel di pulau Bali. Kali ini mama ingin kamu yang menghandlenya"
"Haruskah aku.. "
"Iya.. "
"Hah.. Baiklah"
.
.
.
Saat malam harinya...
Tampak Lusi yang baru saja pulang dari kantor.
"Besok aku akan meeting di luar kota. Ya empat hari sepertinya" ucap Rian.
"Lalu aku disini sama siapa" ucap Lusi.
"kan ada Mama yang temenin"
"tapi aku takut sama mama kamu" bisik Lusi.
"Jangan takut.. Aku sebentar perginya"
"kalau begitu Aku ingin memeluk sebelum kamu berangkat.." ucap Lusi.
"Baiklah kita berpelukan dulu.. " ucap Rian memeluk Lusi.
Tiba-tiba Renata datang melihat Lusi berpelukan dengan Rian.
Renata pun tampak kesal melihat mereka.
"Dasar murahan sudah di buang masih saja mau bertahan" ucap Renata sinis.
Lalu Lusi pun dengan terpaksa melepaskan pelukan itu.
"Tapi Lusi ini kan istri Rian ma" ucap Rian membela.
"Dia memang istri mu.. Tapi sampai kapan pun ia takan pernah bisa menjadi menantu di rumah ini.." ucap Renata kesal.
Lusi pun tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Lalu menyapunya dengan tangannya. Rian pun memeluk Lusi untuk menguatkan.
"Jangan nangis Lusi" ucap Rian.
Lusi pun hanya diam sambil menghapus air matanya. Dan pergi ke kamar.
__ADS_1
Ya Allah sampai kapan hidupku harus sedih seperti ini. Aku ingin hidup sebagaimana mestinya. Dicintai oleh orang-orang yang aku cintai. Tidak tersakiti terus seperti ini. Kuatkan lah hati ku ini.