
Part 105 (Syal dari Viola) (Sesion 2)
Dikamar..
Seusai debat sama ibu mertua. Lusi tampak menjatuhkan air matanya. Sebagai manusia yang punya hati. Pasti akan tersakiti saat dirinya dihina. Apalagi yang menyakitinya adalah ibu mertuanya sendiri. Yang seharusnya ibu mertua memiliki rasa kasih dan sayang terhadap menantu. Ini mah berbanding terbalik jangankan sayang menghargai saja tidak..
.
.
.
Saat Lusi menangis di kamar..
Tiba-tiba..
Ceklek..
Suara pintu terbuka..
Tampak Rian di hadapannya.. Dengan membawa tentengan di tangannya.
Lusi pun menoleh dan melihat suaminya itu.
"Kamu menangis kenapa? " tanya Rian.
"Aku sedih"
"Sedih kenapa? " tanya Rian lagi.
"Bagaimana aku tidak sedih, disaat aku memiliki suami namun lebih menganggap tunangannya daripada istrinya sendiri" ucap Lusi dengan tatapan sendu. "Kenapa sih kamu tega Rian bertunangan dengannya. Aku kurang apa sebagai istri.. Aku sudah berusaha untuk mencintai kamu.."
"Ini bukan keinginanku sebenarnya.. Tapi keinginan Mama.." ucap Rian yang berkata jujur. "Dulu.. aku takut keluargamu menjebloskan aku ke penjara.. Mama datang kepadaku, dan berjanji akan menyelsaikan masalahku. Namun dengan syarat. aku harus mau menikahi Zelda"
Lusi pun menatap Rian.. Dan mendengarkannya.
"Karena pikiran aku sedang kalut, aku pun mau.. Dan saat itu juga mama menyuruhku untuk menikahimu juga... Dengan alasan supaya kamu yakin untuk tidak menjebloskan ku kepenjara. Aku pun mau.. Saat itu aku tidak tahu, kalau mama menghadiahkan harta juga padamu. mama cuma bilang padaku,bahwa kamu yang meminta harta itu.. Aku benci saat mendengar soal itu. Sehingga aku menganggap kalau kamu incar hartaku" ucap Rian.
Lusi pun menghela napas panjangnya...
"Aku tak mau lagi membahas itu. Kalau gitu.. Pilih lah Salah satu.. Kamu pilih dia atau aku.. " tanya Lusi.
Rian pun tampak terdiam..
"Jawab sekarang..? " ucap Lusi dengan tegas.
Dengan mudahnya Rian malah menjawab.. "Jelas Zelda!!!"
"Astaga Rian.. Sungguh mengecewakan jawaban mu itu.." ucap Lusi menutup wajah dengan kedua tangannya.
Lusi pun menjatuhkan air matanya, ketika Rian lebih memilih Zelda di banding dirinya.. Hatinya terasa begitu perih...
"sudahlah aku pergi saja dari dirimu." ucap Lusi tak kuasa menahan air mata.
"Tapi aku juga tidak mau kalau kehilangan kamu..." ucap Rian memegang tangan Lusi.
__ADS_1
"aku tidak bisa diduakan begini.. Kamu terlalu jahat Rian.. " ucap Lusi lagi.
"Aku tidak bisa meninggalkan Zelda. Karena bisnis.. Aku ingin mengembangkan bisinis peninggalan Papa. keluarga Zelda bisa memajukan perusahaan Papa. Mana mungkin aku tidak memilihnya.." ucap Rian..
"Lalu... Aku kamu anggap Apa?"
"Kamu ya kamu.. Tetap menjadi kamu. Cuma istri bayangan aku.. Yang..??? "
"Yang apa!!???. " Ucap Lusi lagi.
"Yang aku gunakan saat aku butuh.. Untuk melayani aku dan mengurus segala keperluan ku.
"Tega kamu Rian!!!" ucap Lusi dengan mata yang berkaca-kaca.
" aku tak mau menceraikan mu. Sampai kapanpun dan Sampai mati pun, tidak akan mau.. Kamu cuma milik aku seutuhnya"
"Kamu jahat.. Kamu sangat jahat!?? " ucap Lusi kesal.
Rian pun memeluk Lusi erat.
"Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah Rian.. " ucap Lusi dalam pelukan Rian.
Lalu Rian melepaskan pelukannya dan memberikan makanan.
"Yaudah kamu jangan sedih lagi.. Kamu makan dulu.. Agar menghilangkan rasa lelah kamu. Aku mau keluar sebentar.."
"Mau kemana? " tanya Lusi.
"Menemui Zelda" ucap Rian..
"Astaga Rian.. Huhuhuhu.. Tega kamu" ucap Lusi sedih.
Rian pun langsung pergi.
Ishhh...Nggak emaknya, gak anaknya sama aja.. Ngeselin dan jahat.. Benak Lusi kesal dan bercampur air mata.
Huhuhu...
.
.
.
Keesokan harinya Lusi berangkat ke kantor. Kali ini dia berangkat agak terburu-buru karena terlambat. Bukan kali ini sih, sudah sering kali sebenrnya Lusi datang terlambat..
"Lusi.. Lusi.. Kamu telat lagi. Telat lagi.. " ucap Pak Sultan
" Maaf pak.. " jawab Lusi.
Pak Adit pun memperhatikan leher Lusi.
"Kamu abis pacaran ya" tanya Pak Sultan tersenyum.
Lusi pun tak menjawab..
__ADS_1
Lalu Lusi pun langsung segera menaiki Lift.
Tiba-tiba..
Lusi bertemu Mba Santi dan Viola di loby. Mereka pun juga sama ingin menaiki Lift.
Tampak Mba Santi yang terheran-heran melihat begitu banyak tanda merah di leher Lusi.
Mba santi pun mendekatinya..
"Lusi.. Leher kamu merah kenapa? " tanya Mba Santi berbisik. "Jangan bilang kamu...? "
Lusi pun hanya menunduk tak menjawab. Dan refleks menutup lehernya dengan kedua tangannya.
Aduh..Gara-gara telat aku lupa menutupi tanda-tanda merah ini.. Benak Lusi.
Sementara Viola, ia pun hanya senyum-senyum saat melihat Lusi.
Viola sudah paham itu pasti ulah Bossnya meninggalkan tanda merah di leher Lusi. .
Lalu Viola pun mengambil syal yang ia kenakan. Kebetulan saat itu Viola memang sedang memakai syal.
Lalu ia pun mendekati Lusi dan memakaikan syal itu kepada Lusi yang berada di depannya.
"Nih.. Pakai.. Demi menjaga nama baik kamu..." ucap Viola tersenyum.. "Kamu terlihat cantik dengan syal ini. Buat kamu saja"
"Makasih viola" jawab Lusi tersenyum.
"Sama-sama.. "
Mba Santi pun hanya menggelengkan kepalanya.. Seolah ia tidak percaya dengan kelakuan Lusi yang diluar dugaannya. Karena yang ia tahu bahwa Lusi itu wanita yang kalem dan wanita baik-baik.
Teng nong.. Lift berhenti dilantai 3..
Tiba-tiba Rian menaiki lift juga, saat berhenti dilantai tiga.
Dan menatap Viola dan Lusi tajam.
Lalu Viola berbicara pada Lusi.
"Masih saja dia melakukan itu sama kamu. Setelah ia menyakiti kamu" ucap Viola pada Lusi.
Rian pun tampak mendengar ucapan Viola, tidak terima dan marah..
"Kalian sedang bergosip apa? " tanya Rian dengan tatapan galak.
"Oh.. Nggak kok pak. Ini Lusi disakitin sama cowok.. Saya bilang tenang saja. Kita cari lagi yang lain, masih banyak kan cowok di luar sana "
"Kamu.. Viola dan Lusi.. Jangan bergosip. Saya benci mendengarnya" ucap Rian dengan lantang.
"Baik pak.. Siap pak.. Maaf pak.. " ucap Viola lantang juga, sambil tersenyum melihat wajah Rian yang bete. Saat Viola menyuruh Lusi mencari penggantinya.
Lalu Viola pun turun di lantai yang sama dengan Rian yaitu di lantai 9.
Sementara Lusi di lantai 7. Bersama Mba Santi.
__ADS_1
*********
Like boleh... boleh laaahh...