
Part 72 (Kepergian mu bag 2)
Suasana menjadi sedih dan haru ketika itu. Koper Lusi pun di masukan ke dalam bagasi mobil. Pak Makmur dan Ibu siap membawa Lusi pulang ke Bandung.
Tampak Rian yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan. Sambil mematung dan tak berkata apapun. saat melihat istri yang selalu ia sakiti itu dijemput oleh ibunya.
Aku tidak tahu kepergian ku ini adalah awal kebahagiaanku. Atau memang hanya pelarian ku. Tapi yang pasti aku ingin menyembuhkan jiwa dan batinku. Aku harap setelah ini kamu akan mengerti artinya sebuah menghargai . Benak Lusi. Ibu pun memeluk dan menghapus air mata Lusi. Air mata lusi itu pun terjatuh tanpa ia sadari. Tampak Juna juga yang duduk di sebelah pak Makmur(supir pribadi Ayah). Yang ikut mengantar kepulangan Lusi.
...
....
Lalu setalah Lusi di bawa ibunya pulang. Rian pun merasa bersalah. Ia melihat kepergiannya dengan air mata. Mungkin baru kali ini Rian menjatuhkan air matanya untuk seorang wanita.
setelah itu Rian naik ke lantai atas. Dan lihat tempat tidurnya. Sontak itu mampu Mengingatkan Rian pada Lusi yang pernah meniduri kasur miliknya.
Lalu tak lama Rian menemukan sebuah kertas perjanjian yang sudah di sobek dan melihat cincin kawin yang tergeletak begitu saja di kasur.
Rian pun langsung menggenggam cincin itu, dan meletakannya di dada sambil memejamkan mata.
...
...
...
Lalu Lusi di bawa pulang ke Bandung. saat itu tidak terlihat Ayah. Karena Ayah sedang keluar kota untuk keperluan bisnisnya.
Selang beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah. Lusi yang saat itu tampak lelah pun langsung masuk kamar duduk dikasur sambil bersandar di bantal. Ibu pun menemui Lusi di kamar.
"Setelah ini... ibu antar kamu berobat ya" ucap ibu pada Lusi.
"Gak usah bu.."
"Kenapa? "
"besok aja bu. " ucap Lusi memegang tangan ibunya " Dan Ayah tak perlu tahu keadaan Lusi saat ini bu"
"Kenapa? "
"Aku gak mau, Ayah jadi ga fokus. Dengan pekerjaannya"
Ibu pun mengelus pundak anaknya.
Setelah itu...
ibu pun mengambil air dingin. Dan mengompres wajah Lusi yang memar itu.
Lusi pun tampak memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit pada wajahnya.
"Ibu pelan-pelan ya bu mengompresnya" ucap Lusi menahan rasa sakit.
"Iya "
Lalu setelah itu ..
__ADS_1
Lusi pun disuapi bubur ayam oleh ibu dan di beri obat penurun panas.
"Juna mana bu?" tanya Lusi.
"Sudah pulang"
"Aku lupa mengucapkan terimakasih kepadanya"
"Juna juga tadi buru-buru.."
Lalu ibu pun menyelimuti tubuh Lusi.
"kamu sekarang tidur ya, istirahat..." ucap ibu.
"Iya bu.. "
.....
Lalu malamnya ibu pun tetap memanggil dokter untuk datang ke rumah. Karena kondisi tubuh Lusi yang masih demam tinggi dan menggigil.
terlihat Lusi yang masih tertidur.
"Bu.. Kalau dalam dua hari anak ibu tidak ada perubahan harus di bawa rumah sakit ya. Ini saya resepkan obat mudah-mudahan lekas sembuh"
"Iya dok"
"Dan untuk memar di wajahnya sudah saya resepkan obatnya juga. Kalau boleh tahu, itu wajahnya kenapa ya bu bisa memar begitu" tanya pak dokter.
Ibu pun terbata untuk menjawabnya. Dan serasa sulit untuk bicara. Dokter pun tidak bertanya lagi.
"Baik dok terimakasih"
....
Keesokan harinya.. Matahari telah menampakan suryanya. Pagi ini Lusi terlambat bangun pagi. Jam sudah menunjukan 07.30 pagi namun Lusi masih tampak tidur.
Tak lama ibu pun membangunkan Lusi untuk sarapan.
"Lusi bangun. Sarapan dulu yuk" ucap Ibu menepuk lembut membangunkan Lusi.
Lusi pun membuka matanya dan melihat ibunya berada disampingnya. Dan sudah membawa sarapan untuk Lusi.
Lalu Lusi pun bangun dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia pun kembali ke tempat tidur lagi.
"Bagaimana kamu udah mendingan" tanya ibu.
"udah lebih baiik di banding kemarin"
Lalu ibu pun menyuapi bubur untuk Lusi.
"Abis ini minum obatnya ya" ucap Ibu.
"Iya bu.. Terimakasih bu"
Lalu beberapa selang kemudian. Terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
Ibu pun penasaran dan hendak membukanya.
Namun...
Saat ibu membuka pintu ibu pun kaget. Ternyata yang datang adalah Rian. Dengan wajah tertunduk dan merasa bersalah Rian datang. Meskipun ibunya Lusi kesal dengan Rian. Namun ibu berusaha untuk menerima dan menghargai Rian sebagai tamu.
"Assalamualaikum bu" ucap Rian
"Waalaikumsallam" jawab ibu.
Lalu ibu pun mempersilahkan Rian duduk.
Rian pun merasa gugup saat bertemu dengan ibu mertuanya itu. Namun ia berusaha memberanikan diri untuk menemuinya. .
"kedatangan saya kesini saya ingin menemui Lusi. Boleh saya bertemu dengannya bu" ucap Rian.
"Tunggu sebentar ya"
Lalu ibu pun menemui Lusi di kamar.
Tampak Lusi yang sedang duduk bersandar sambil melamun.
"Siapa yang datang bu" tanya Lusi.
"Rian" jawab Ibu
"Apaa.. " ucap Lusi kaget.
" katanya ia ingin bertemu dengan mu"
Lusi pun menghela nafasnya.
"Ibu bilang sama Rian. Bahwa saat ini aku sedang tidak ingin di ganggu dulu. Lusi gak mau ketemu Rian bu"
Lalu Ibu pun kembali menemui Rian di Ruang tamu.
"Mohon maaf ya Rian Lusi saat ini sedang tidak ingin bertemu dengan mu dulu"
"Iya bu.. Saya hanya ingin tahu keadaannya. Tapi kalau memang saya tidak bisa bertemu gak apa-apa. Ini ada sesuatu untuknya" ucap Rian memberikan aneka buah-buahan dan seikat bunga mawar merah.
Lalu Rian pun ijin pulang walau dengan perasaan kecewa.
"Apakah mungkin Lusi kini telah membenciku dan tak mau mengenal ku lagi.." benak Rian langsung pergi.
Setelah Rian pulang..
Ibu pun membawa masuk pemberian Rian dan menaruh didekat Lusi.
"Ini ada sesuatu untuk mu dari Rian" ucap Ibu.
Lusi pun memandang lama pemberian Rian itu. Seketika Lusi pun menjatuhkan air matanya.
.....
*Jangan Lupa Like
__ADS_1
*thank you..