
Part 75 (Kembali) (Sesion 2)
Akhirnya Lusi dengan terpaksa menerima Rian masuk kedalam rumahnya. Lusi pun mengajak Rian sarapan pagi bersama. Namun kali ini sebaliknya sepertinya Lusi yang lebih sedikit dingin kepada Rian.
Saat sarapan pagi bersama...
Lusi pun tidak banyak bicara pada Rian. Hanya diam sambil memandangnya sesekali.
"kalau melihat umur pernikahan kalian yang baru seumur jagung memang harus di usahakan untuk di pertahankan. Jauhkan ego masing-masing" ucap Ibu sambil memakan santap pagi.
"Iya bu saya juga maunya seperti itu" ucap Rian sambil memandang Lusi.
"ingat.. kamu juga jangan kasar lagi" ucap Ibu pada Rian.
"Iya bu saya berjanji gak akan. Tapi Lusi sepertinya sulit untuk terima saya " ucap Rian.
Lusi pun hanya diam sambil memakan sarapannya.
"Tapi itu balik lagi gimana maunya Lusi" ucap ibu.
Lalu Rian pun hanya memandang Lusi yang masih terdiam tidak menghiraukan.
Lalu siangnya pun Rian masih setia di rumah Lusi. Rian pun iseng melihat begitu banyak piala terpajang dirumah Lusi. Dia pun agak terheran karena baru tahu kalau Lusi ini memiliki prestasi terutama di bidang akademik.
"Piala ini punya kamu semua" ucap Rian melihat satu-persatu piala diemari kaca
"Iya begitulah.." ucap Lusi.
"Aku baru tahu kalau kamu berprestasi di sekolah." ucap Rian.
"Kamu mana tahu sih tentang aku" ucap Lusi. " Dan Gara-gara piala-piala ini lah, Lisa pernah membenci aku selama bertahun-tahun"
Memang..
Begitu banyak terpajang piala dan medali milik Lusi. Yang pernah ia raih waktu di masa sekolah dulu. Mulai dari olimpiade matematika dan sains, membaca puisi dan sebagainya. Dan hanya ada satu piala di bidang non akademis yang membuat Rian penasaran.
"Tapi semua piala disini ada satu piala yang aku gak sangka-sangka" ucap Rian.
"Piala yang mana? " tanya Lusi heran.
"itu.. yang Juara 1 lomba nyanyi tingkat kelurahan. Itu punya siapa?" tanya Rian.
"Punya aku" jawab Lusi
__ADS_1
"emangnya Kamu bisa nyanyi?" ucap Rian.
"Itu sebenernya sih gak sengaja, karena didaftarin sama temen aku yang iseng. Niatnya mau nge prank eh malah menang."
"terus nyanyi lagu apa?"
"Babak pertama lagu pop. Karena pertama bebas lagunya apa aja. Tapi pas udah tiga besar. Disuruh nyanyi lagu dangdut sama juri. Dikirain temen aku, aku gak bisa lagu dangdut. Pas aku nyanyi kaget ternyata aku bisa"
Rian pun tersenyum. " terus kamu nyanyi ada yang nyawer gak? "
"Kepo ah udah lah.. Gak usah di bahas. Kalau inget-inget itu aku malu. Soalnya aku orangnya datar. Bisa-bisanya ikut lomba nyanyi"
"Gak apa-apalah yang penting kan menang" ucap Rian.
"Mungkin jurinya juga khilaf kali. Orang kaya aku di jadiin pemenang"
"Nyanyi dong sedikit buat aku. Lagu dangdut juga gak apa-apa"
"entar ya kapan-kapan" sahut Lusi.
"Ntar aku sawer deh" ucap Rian.
Lusi pun hanya tersenyum.
Lalu malam harinya.. Rian pun mengajak Lusi keluar untuk makan malam yang romantis. Di malam yang dingin di kota Bandung. Ditemani bulan dan bintang yang menghiasi malam itu. Terlihat Lusi yang sedikit menaruh senyum di bibirnya.
"Aku pastikan makan malam ini berakhir romantis Lusi. Aku sesali setiap kesalahanku padamu"
Lusi pun tersenyum.
"Dari sekian banyak nya cerita yang ku lalui. Mungkin ini malam yang luar biasa dari malam-malam yang sebelumnya" ucap Lusi.
Lalu Rian memberikan sebuah hadiah. Dan di berikan kepada Lusi.
"coba buka" ucap Rian.
Lalu Lusi pun membuka ternyata sebuah kalung emas.
"Kamu ikhlas kan kasihnya. Gak di bahas kan di akhir cerita kita. Aku gak di cap cewek matre lagi kan" ucap Lusi.
"aku sangat ikhlas" ucap Rian memakaikan kalung itu. " Aku mau kita mengulang semua dari awal lagi. Kita rajut kisah kita. Kamu mau kan? " ucap Rian.
Lusi pun menjatuhkan air matanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis. Kamu sedih? "tanya Rian.
"Aku menangis bukan karena sedih. Tapi karena bahagia. Bisa-bisanya kamu seperti ini. Aku gak mimpi kan"
Rian pun mencubit lengan Lusi.
"Aww.. " teriak Lusi.
"Sakit gak? "tanya Rian.
"Sakit" jawab Lusi
"Berati kamu gak mimpi" ucap Rian. Lalu Rian memakaikan cincin juga yang pernah Lusi tinggalkan. "Kamu mau kan kembali"
Lusi pun diam sejenak.
"emm.. Gimana ya.. Ahh... Baiklah.. Tapi ada syaratnya, yang pertama kamu harus berubah lebih baik dan aku mau kamu mengurus buku nikah kita. aku mau dianggap istri di mata hukum Rian. Dan kedua, aku mau kerja. Aku gak mau jadi istri yang selalu mengharapkan belas kasihan dari kamu. Karena aku tidak tahu sifat buruk kamu kapan akan kembali. Paling tidak, dengan aku bekerja aku bisa lebih mandiri"
Rian pun terdiam sejenak.
"Baiklah..."
"Oke deal"
Lalu Rian pun berdiri dan memeluk Lusi.
Setelah itu Rian pun memberikan sebuah mic pada Lusi.
"Aku mau mendengar satu lagu darimu. Supaya aku yakin kalau kamu emang juara menyanyi tingkat kelurahan" ucap Rian.
Lusi pun tersenyum juga.
"Yakin.. " tanya Lusi.
"Yakin lah.. " jawab Rian.
"Musrikk... " sahut Lusi . Lalu Lusi pun menyanyikan sebuah lagu dangdut yang pernah ia nyanyikan saat lomba.
Rian pun terheran heran saat Lusi mampu menyanyikan dengan suara yang bagus dan merdu. Dan ternyata benar Lusi memang bisa bernyanyi benak Rian.
Setelah selesai...
"Oke sekarang aku percaya kamu emang pemenangnya" ucap Rian.
__ADS_1
"Yihaa.. Tarik mang.. " ucap Lusi sambil tersenyum.
*Like ya..