
Part 104 (Enaknya Ngapain)
(Sesion 2)
Setelah itu..
Tiba-tiba Adit menemui Lusi. Saat itu Lusi terlihat sedih..
Lalu..
Entah kenapa tiba-tiba Adit memberikan bunga..
"Oia dulu aku suka lihat Devan memberikan mu bunga. Kini saat nya aku yang menggantikan Devan memberikan mu bunga" ucap Adit berdiri di hadapan Lusi memberikan seiktat bunga.
"Terimakasih pak bunganya. Mudah-mudahan bunga ini mampu mengobati hati saya yang sedih" ucap Lusi.
"Kamu sedih kenapa? " tanya Adit
Lusi pun tidak menjawab..
tiba-tiba Rian lewat dan menemui Adit dan Lusi yang berdua. Ia pun langsung kesal saat tahu Lusi mendapatkan bunga dari Adit.
"Pak.. Ngapain bapak keluyuran di jam kerja" ucap Rian menegur Adit. "Ruangan bapak kan bukan disini"
"Saya melihat Lusi, jadi ingin memberikannya bunga ini. Saya duda, Lusi single.. Bukannya saya dan Lusi cocok kalau jadi pasangan"
Rian pun tampak panas dan kesal. Saat Adit menyandingkan dirinya dengan Lusi.
"Selain bunga nanti aku akan memberikanmu yang lain. Kamu mau apa Lusi" tanya Adit.
Lusi pun tak menjawab..
"Bapak ke ruangan saya sekarang!!!" ucap Rian lantang.
Rian pun langsung pergi dari hadapan Adit, Dengan perasaan kesal.
****
Saat di ruangan Rian..
"Dengan terpaksa Anda saya pecat" ucap Rian.
"Dengan alasan apa anda memecat saya pak Rian" tutur Adit.
"Karena keluyuran di jam kerja"
"Selain itu"
Rian pun terdiam..
"Apakah karena saya mendekati Lusi jadi bapak memecat saya" ucap Adit yang mulai curiga karena Rian tiba-tiba memecat dirinya.
"Intinya saya Memecat anda.. " jawab Rian.
"Saya peringatkan kepada anda Pak Rian. Tak bisa seorang pun yang berani memecat saya kecuali Bu Renata.. Permisi" ucap Adit kesak.
Adit pun langsung pergi.
Sialan Pak Adit... Beraninya dia sama saya. Benak Rian kesal.
Lalu tak lama Hp Rian pun berdering ternyata dari Mama Renata.
"Rian.. Beraninya kamu memecat Adit" ucap Renata di telpon
"Dia memang pantas di pecat" ucap Rian
"Tidak boleh ada yang memecat dia. Apalagi dengan alasan hanya karena ia mendekati Lusi sialan itu" ucap Renata di telpon.
__ADS_1
"Tapi ma.. "
"Tidak ada tapi dan Mama tidak peduli.. " ucap Renata.
Lalu Renata pun menutup telepon.
Tut. Tut.. Tut..
Hah... Sial kamu Adit. Benak Rian kesal.
****
Pulang kerja..
Lusi pun pulang dengan naik kendaraan umum saat itu. Sepertinya Lusi ini hobi sekali menjajal transportasi yang ada ibu kota. Mengingat dirinya lahir diBandung dan besar disana. Sehingga membuat ia kepo dan penasaran dengan jalanan ibu Kota. Dan kali ini Lusi pulang agak lebih cepat.
Lusi pun pulang sekitar jam 19.00 malam. Sesampainya ia langsung mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Lusi pun bercermin di wastafle deket kamar mandi. Sambil memandangi dirinya.
Aku tak menyangka bila aku masih saja tinggal dirumah ini... Benak Lusi.
Tak lama Rian pun menghampiri Lusi sambil senyum-senyum sendiri, apalangi melihat Lusi yang masih terbalut dengan handuk.. Membuat Rian semakin tergoda dan pikirannya kemana-mana.
Lusi pun menoleh pada Rian yang sedang tersenyum sendiri tidak jelas.
"Ngapain senyum-senyum" ucap Lusi jutek.
"Ngapain ya.. Enaknya ngapain" ucap Rian menghampiri Lusi.
Rian pun membelai rambut Lusi perlahan.
"Ish.. Ngapain pegang-pegang" ucap Lusi lagi.
"Enaknya pegang apa.. " ucap Rian yang semakin berani dan tangannya mulai nakal.
"Eh.. Jangan kurang ajar ya!!" ucap Lusi menampik tangan Rian.
Lusi pun tampak kesal sambil memandang tajam Rian.
"Ayolaah.. Kita kan udah lama gak melakukannya.. "ucap Rian memeluk Lusi dengan paksa.
"Eh. Eh.. Sana sana ah!!!" ucap Lusi menghindar.
"Kamu itu orang paling munafik yang pernah aku temui.. Aku tahu.. Sebenarnya kamu juga mau kan melakukannya malam ini.. Kamu kan wanita dewasa. Aku pria dewasa.. lalu tunggu apalagi" ucap Rian sambil mendekap tubuh Lusi, yang terlihat sangat seksi. dengan balutan handuk yang ia kenankan.
"Riann.. " teriakan Lusi yang kesal berusaha melepaskan diri.
Rian pun tidak peduli.
Lalu Rian pun memeluk erat dan memebekap mulut Lusi.
"Ssstttt.. Jangan berisik aku gak mau Mama tahu kalau kita melakukan ini. Nanti dia ganggu kita" bisik Rian ke telinga Lusi. "Intinya malam ini aku mau dilayani.." ucap Rian terssenyum.
"Rian.. Ka.. " tak sampai Lusi berucap Rian langsung mencium bibir Lusi. Dan menarik tubuh Lusi, lalu membawa Lusi ke kamar dan menjatuhkan ke kasur.
Lusi pun tampak kesal pada Rian.
"Kamu tahu Lusi, aku sudah sangat merindukan untuk melakukan ini lagi" ucap Rian yang sudah siap melakukan.
"Rian..aku tak suka kamu memaksa aku"
"aku tak peduli.." ucap Rian. "semua akan tersasa sakit bila kamu tak menurut padaku.."
Lalu Rian pun melakukannya dengan memaksa Lusi. Rian pun memulai permainannya dengan sedikit kasar.. Karena Lusi agak sedikit memberontak. Dan semua mudah saja bagi Rian. Apalagi mengingat Lusi cuma memakai handuk. cuma membuang sehelai handuk di badan Lusi.. dan tampak Rian menikmatinya.
..Skip..
__ADS_1
Sesusainya...
"Haaaaaahhhh... " tarik napas panjang Lusi yang terasa berat. "Baru saja aku ingin meminta cerai pada mu.. Kamu malah melakukan ini lagi padaku" ucap Lusi.. Sambil memegangi tubuhnya yang sakit karena cengkraman Rian yang begitu kasar saat melakukannya.
"Jangan kata cerai terus yang keluar dari mulutmu. Karena aku membencinya"
"Aku seperti orang bodoh Rian. Yang masih mau menerima suami yang jelas-jelas sudah menduakan aku"
"aku tidak peduli seberapa bodohnya kamu. Intinya kamu masih jadi istri aku. Dan sah sah aja buat aku melakukannya kan" ucap Rian.
"Hah.. Susah sekali sepertinya bicara pada pria egois seperti dirimu"
Setelah itu..
Lusi pun langsung ke kamar mandi lagi. Untuk mandi wajib..
"Rian.. kurang ajar sekali dia, menggunakan aku semaunya sendiri"
Lalu Lusi pun bercermin.. Dan kaget melihat lehernya.
"Astaga... Aku tak menyangka Rian begitu banyak meninggalkan merah di leher aku ini....ishh. bener-bener kamu Rian ya.. Benak Lusi kesal.
Tak lama Lusi pun keluar kamar mandi..
namun tak nampak Rian kala itu.
"Sekarang dia kemana lagi.." ucap Lusi.
Lalu Lusi pun ke luar kamar. dan mencarinya di ruang tamu.
Dan tiba-tiba....
"Cari siapa kamu?" tanya Renata datang tiba-tiba.
"Ri.. Rian" jawab Lusi terbata.
"Buat apa kamu mencarinya.. Jangan ganggu dia.. Ia sedang menemui Zelda"
Lusi pun tertunduk, saat mendengar nama Zelda di telinganya.
Lalu Renata pun memperhatikan rambut Lusi yang basah dan tanda merah di lehernya. Sepertinya Renata ini sudah paham bahwa Lusi dan Rian habis melakukannya.
Memang pada dasarnya Renata tidak suka pada Lusi. Ia pun langsung menghardik Lusi.
"Dasar wanita murahan.. Sudah jelas-jelas anak saya tidak cinta sama kamu, masih saja kamu minta ditiduri oleh putra saya" ucap renata.
Lusi pun menghela napasnya.
"Saya tidak mungkin melakukanya. jika bukan putra anda yang memintanya" ucap Lusi.
"Saya bingung sama Rian. mau aja dia sama perempuan gila dan murahan seperti kamu. Yang jelas-jelas lebih bagus Zelda daripada kamu"
"Bisakah anda tidak memanggil saya dengan sebutan perempuan gila dan murahan"
"Lusi!!!... Riwayat penyakit gila kamu takan pernah bisa kamu tutupi sekalipun kamu sudah waras"
"Saya gila pun itu ulah dari anak anda" ucap Lusi.. "Jika saya bisa memilih. Saya lebih baik mati ketimbang saya hidup dalam penderitaan sedemkian rupa seperti ini"
"Kalau begitu.. Cerai sekarang juga !!!! Atau kamu mau mati sekalipun.. silahkan!!! Saya tidak peduli.. saya pun sudah hadiahi uang yang banyak kan.. , apakah kurang banyak sehingga kamu meminta anak saya juga!!!" ucap Renata dengan nada tinggi.
"Kalau memang saya bisa melakukannya untuk cerai, sudah saya lakukan dari dulu. namun anak anda sampai saat ini tidak mau menceraikan saya.. Dan satu hal yang perlu saya sampaikan.. Jika memang saya kelak akan bercerai dengan putra anda. Saya tidak sudi menerima sepeser pun rupiah yang pernah anda janjikan itu kepada saya.."
"Sombongnya kamu Lusi"
"Saya bukannya sombong nyonya. Saya hanya tidak suka bila harga diri saya di injak-injak seperti ini.. " ucap Lusi pergi. Ia pun langsung kembali kamar.
Renata pun kaget melihat Lusi yang berani berbicara seperti itu..
__ADS_1
***************
....