
Part 97 (Butuh kamu) (sesion 2)
Keesokan harinya..
Lusi pun berangkat ke kantor dengan naik mobil milik Lisa adiknya. Kali ini Lusi terlihat berbeda dengan mobil merah yang ia pakai. Terlihat lebih keren dari biasanya.
Memang Lusi ini terlahir dari golongan keluarga kelas menengah. Di bilang miskin gak miskin juga. Di bilang kaya ya.. Gak kaya kaya amat. Kalau cuma buat beli mobil sih, sepertinya Ayahnya Lusi masih mampu.. Cuma memang tidak sekaya Rian dan Zelda yang memiliki perusahaan yang besar.
sesampainya di kantor Lusi pun bertemu dengan Mela di parkiran. Tampak Mela yang memandang Lusi dengan tatapan tajam. Lusi pun hanya memandang nya biasa. Dan Lusi sepertinya males kalau harus berantem lagi dengan Mela.
"Gue gak nyangka kalau jadi wanita simpenan itu. gampang ya buat dapetin mobil" ucap Mela tersenyum sinis memandang Lusi.
"Mel.. Terserah kamu mau bilang apa. Aku lagi males berantem" ucap Lusi yang enggan untuk ribut dengan Mela.
Mela pun memandang Lusi tajam..
Dan..
Tiba tiba..
Viola, sekertaris Rian datang menghampiri Lusi.
Namun berbeda dengan Mela.. Justru Viola memperlakukan Lusi dengan baik.
"Selamat pagi Lusi. Hari ini anda terlihat cantik sekali.." ucap Viola sambil tersenyum.
Lusi pun hanya tersenyum melihat ucapan viola yang begitu manis padanya.
Sedangkan Mela terlihat sinis dan benci melihat Viola yang begitu manis dan baik pada Lusi.
"Ke dalem bareng yuk.." ajak Viola menggandeng tangan Lusi.
Lusi pun tersenyum menerima perlakuan baik Viola.
Sebenernya Lusi masih canggung pada Viola. Mengingat dirinya pernah ke gep berduaan bersama Rian.. Namun karena Viola baik membuat Lusi berusaha untuk biasa saja.
Lalu mereka pun berjalan ke dalam. Dan meninggalkan Mela di parkiran.
Lalu mereka berdua pun berjalan berdua ke dalam kantor, Selayaknya seorang sahabat. Sepertinya Viola ini memang memiliki pribadi yang ramah dan baik. Sehingga memang pantas ia dijadikan sekertaris boss di perusahaan.
"Karena Pak Rian ke luar kota jadi hari ini aku sedikit free. Sengaja datang terlambat eh.. ketemu kamu di parkiran.." ucap Viola.
Lalu mereka pun menaiki lift bersama.
Saat di lift hanya nampak mereke berdua.
"Kamu tahu Lusi.. Akhir-akhir ini pak Rian aku perhatikan rajin sekali solatnya. Apa ada kaitannya dengan mu ya.." ucap Viola lagi.
Lusi pun hanya tersenyum.
"Sepertinya memang kamu yang telah merubahnya.." ucap Viola.
"Aku tidak bisa merubah siapapun Viola.. tugas aku hanya mengingatkan seseorang. Soal perubahan itu tergantung hati masing-masing" ucap Lusi.
Viola pun tersenyum mendengar jawaban Lusi..
"Next.. Aku pengen ajak kamu hankout bareng" ucap Viola.
"Baiklah kapan" tanya Lusi.
"Nanti aku beritahu lagi kapan nya ? "
"Oke"
Lalu Lusi pun berhenti di lantai 7, sementara Viola berhenti di lantai 9.
.
.
.
Setelah itu...
Lusi pun duduk di meja kerja nya dan menyelesaikan tugasnya.
....
Sementara itu..
Terlihat Rian yang sedang berada di Bali dan menginap di sebuah hotel mewah. Untuk sebuah tugas. Namun amat di sayangkan ia terlambat bangun pagi. Mengingat dirinya selalu di bangunkan oleh Lusi. Dan semua keperluannya pun selalu Lusi yang menyiapkan. Sehingga ia terlambat untuk meeting.
__ADS_1
Memang mulai dari pakaian kerja, sepatu bahkan hal kecil seperti jam tangan pun selalu Lusi yang siapkan. Sehingga saat ia berjauhan dengan Lusi. Ia pun kerepotan sendiri menyiapkan segala keperluannya..
....
....
Saat jam Makan siang.. Tampak Lusi yang menikmati santap makan siang disebuah restorant cepat saji.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dan tidak disangka yang menelpon itu adalah Rian.
"Hallo sayang" ucap Rian di telpon.
"Kenapa menelponku? " tanya Lusi di telpon
"Pertanyaan macam apa yang kamu lontarkan pada suami mu ini.. Bukankah itu wajar bila aku menelpon mu"
Lusi pun tersenyum.. "Bagaimana dengan tugasmu disana? " tanya Lusi.
"Aku sepertinya membutuhkan mu" tutur Rian ditelpon.
"Untuk apa?" tanya Lusi singkat.
"Untuk melayani disetiap kebutuhan ku "
"Bukankah aku sudah siapkan semuanya didalam kopermu"
"Iya aku masih tetap butuh kamu untuk melayaniku. Hari ini saja, aku terlambat bangun pagi untuk meeting"
"Tidak kusangka bayi besar ini membutuhkan ku juga"
"Bukan cuma butuh tapi sangat sangat butuh kamu.." ucap Rian di telpon. "Sebagai istri kamu mau tetap melayani ku kan bagaimana pun keadaan ku nanti"
"Melayani dalam hal apa dulu? "
"Semuanya.."
"Haruskah itu berlaku juga untuk wanita yang tak pernah kau anggap ini Rian"
"Harus.. Karena aku kan suami kamu.. Aku berhak mendapat pelayanan dari kamu"
"Oia sudah dulu ya.. Sepertinya aku ingin menghabiskan makan siang ku dulu.. Kamu pun juga ya.. Jangan lupa makan dan solat.. asalamualaikum.."
"Kata penutupnya mana"
"Seperti ini.. Dadah sayang I Love you.. Muuuuaaaccchh" ucap Rian manis.
"Oke deh.. Muuaaahh" ucap Lusi di telepon.
"Sip oke deh nah gitu dong... Hehehe.. Asalamualaikum" ucap Rian menutup telepon.
"Walaikum salam"
.
.
.
setelah itu..
Dan Seperti biasa Lusi harus bekerja lembur lagi sampai jam 20.00 malam..
Saat jam pulang..
Lusi pun kaget melihat mobil yang ia bawa bannya kempes semua.
Ya ampun kenapa bisa begini sih.. Benak Lusi sedikit kesal sambil melihat ban mobilnya.
Dan tidak lain tidak bukan itu adalah perbuatan Mela.
Tiba-tiba Pak Adit datang..
"Kenapa Lusi? " tanya Adit.
"Gak tahu pak, masa mobil aku ..kempes semua bannya" ucap Lusi heran.
"Haduh kok bisa ya.. " ucap Pak Adit sambil memperhatikan satu-satu ban mobil milik Lusi.
"Hari sepertinya sudah malam, bagaimana kalau kamu pulang bareng saya" ajak Pak Adit.
"terus mobil aku bagaimana? "
__ADS_1
"Tinggal aja mobil kamu disini aman kok" ucap Adit. "Pulangnya bareng ya.. "
"Aku naik taksi aja pak " tolak Lusi.
"Gak apa-apa saya antar pulang"
Lalu Lusi pun dengan terpaksa menerimanya.
Selama di perjalanan..,
Tampak Adit yang fokus menyetir sambil memperhatikan wajah cantik Lusi kala itu.
"Lusi.. " Panggil Adit.
"Ya pak.. " jawab Lusi.
"Dulu kamu panggil saya dengan sebutan Mas.. Kok sekarang bapak"
" Yaudahlah. Bapak atau mas kan sama aja.. Yang penting bukan manggil mba atau ibu"
Adit pun tersenyum.. "Apakah kamu sudah bisa melupakan Devan"
"Sepertinya aku jahat sekali kalau melupakan orang yang telah meninggal. Orang yang telah meninggal bukan untuk dilupakan.."
"Baiklah kalau seperti itu.." ucap Adit "oia Lusi.. Saya merasa Sepertinya saya sudah menemukan ibu sambung untuk Salsa"
"Bagus dong pak.. "
"Kira-kira saya pantas kan kalau menikah lagi" ucap Adit lagi.
"Pantas kok pak" jawab Lusi.
"Ibu sambung yang aku maksud adalah kamu.. Aku menyukai kamu Lusi. Bahkan sejak awal bertemu" ucap Adit
"Apaa.. " ucap Lusi kaget.
"Sebenrnya aku suka sama kamu. Tapi saya sadar saat itu saya punya istri.. " ucap Adit lagi.
"Jujur sebenernya saya kaget dengan ucapan pak Adit barusan" ucap Lusi.
"Apakah kamu terima saya?"
"saya punya alasan kuat untuk menolak bapak.."
"Kenapa?"
Lusi pun menghela nafasnya.
"Ya adalah.. Lagi pula saya sudah menganggap Pak Adit seperti kakaku sendiri.." ucap Lusi.
"Bukan karena umur kita yang terpaut jauh kan."
"Bukan kok pak... "
"Saya sadar umur kita jauh berbeda tapi saya yakin bisa membahagiakan mu"
"Tapi mohon maaf.. saya tidak bisa"
Adit pun terdiam dan menundukan kepalanya.
Setelah itu..
"Rumah kamu dimana?" tanya Adit
"itu pak deket pohon besar itu berhenti ya"
"Tapi disitu kan gak ada rumah Lusi"
Lusi pun hanya tersenyum.
"Kamu kaya hantu rumahnya di bawah pohon" ucap Adit heran.
"Ya.. Rahasialah rumah aku dimana.."
"Yaudahlah yang penting jangan di kandang macan atau kandang singa ya. Oia... ucapan saya barusan kamu tidak usah untuk terburu-buru menjawabnya. Ya.. Mudah-mudahan hati kamu bisa terbuka untuk saya kedepannya" ucap Adit.
Lusi pun diam tak menjawab. Dan langsung pergi.
Lusi pun aneh dengan pernyataan Adit yang menyatakan rasa padanya. Dan Lusi pun sudah merasa bahwa Adit lebih cocok jadi kakaknya. Dan lagi pula Lusi ini kan istri Rian. Mana mungkin menerima cinta dari pria lain...
Ok deh. Lanjut nanti.
__ADS_1
*Likeeeee*