Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Saya Angkat Tangan


__ADS_3

Part 19 (saya angkat tangan ) (sesion 2)


Lalu saat itu Lusi ditemukan tergeletak di jalan. Beruntung saat itu yang menemukan Lusi adalah Viola. Dengan sigap Viola membawa Lusi yang pingsan.


Viola yang saat itu ingin berangkat ke kantor pun langsung memutar balik dan membawa Lusi ke rumah Viola. Karena kebetulan Viola memiliki kakak yang seorang dokter. Jadi Viola membawa Lusi ke rumahnya.


Sesampainya, Tampak Lusi yang masih belum sadarkan diri.


"Kak, tolong Ada temenku yang pingsan". ucap Viola berlari ke dalam rumah menemui Victor.


Lalu Victor pun berlari juga menemui Lusi yang berada di mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Lalu Victor pun menggendong Lusi dan membawanya ke kamar Viola untuk di periksa.


"Viola coba kamu ambilkan tas kerja kakak di kamar kakak" ucap Victor.


Lalu Viola pun mengambilnya dan memberikan kepada Victor.


"Ini bener teman kamu Vi. Kok pakai baju laki-laki" tanya Victor.


"Iya bener kok"


Viola sempat terheran dengan keadaan Lusi saat itu, Lusi yang selalu tampil feminim dan cantik. Terlihat sangat berantakan ditambah lagi dengan pakaian laki-laki yang kebesaran ditubuhnya.


"Kak, aku tinggal sebentar ya. Aku ambilkan minum dulu untuk Lusi" ucap Viola


"Iya" jawab Victor.


Lalu Victor pun memeriksa Lusi. Dengan menggunakan stetoskop untuk meriksa detak jantungnya.


Namun saat Victor sedang memeriksa. Lusi pun membuka matanya dan sadarkan diri.


Betapa kagetnya Lusi saat ia tersadar ada seorang pria di hadapannya. Sontak Lusi pun langsung panik.


"kamu siapa!?! Pergi.." ucap Lusi langsung duduk ketakutan namun tetap bisa mengancam.


"Tolong tenang saya bukan orang jahat. Saya dokter" ucap Victor menangkan Lusi.


"Bohong.. saya tidak percaya!! Lepaskan saya atau saya akan berteriak meminta tolong" ucap Lusi yang langsung berdiri.


"Tenang dulu"


Memang saat itu Victor tidak memakai seragam dokternya. hanya menggunakan kemeja dan celana hitam.


Lalu tampak Lusi yang langsung mengambil gunting yang ada di dimeja dan menodongkan kepada Victor.


"Jangan mendekat atau saya akan membunuh kamu" ucap Lusi membulatkan matanya dan mengarahkan gunting itu ke Victor.


Victor pun mengangkat kedua tangannya.


"Oke, oke saya angkat tangan" ucap Victor pasrah "Sekarang kamu maunya apa?"


Lusi pun hanya memandang Victor dengan tatapan yang tajam dan tak mau lepas. Meskipun Victor terlihat tampan dengan wajah orientalnya, itu tak membuat Lusi luluh. Lusi tetap takut bila Victor akan berbuat yang macam-macam dengan dirinya.

__ADS_1


Tiba-tiba Viola datang dan memulihkan suasana saat itu.


Viola pun tampak kaget melihat Lusi yang ingin menusuk kakaknya.


"Lusi ada apa ini?'' tanya Viola kaget melihat Lusi yang mengarahkan gunting kepada Victor.


Sementara Victor hanya pasrah mengangkat kedua tangannya di depan Lusi.


"Viola, kamu.??.", ucap Lusi kaget melihat Viola.


"Iya. Aku yang membawa mu kesini Lusi, saya menemukan mu pingsan di tengah jalan. Dan dia adalah kakakku"


Lusi pun menghela napasnya dan melepas gunting yang ada di tangannya.


"haduh.. beruntung kamu datang Viola. kalau tidak Aku sudah ditusuk olehnya" ucap Victor.


"Maaf" ucap Lusi merasa bersalah.


"Astaga jadi Lusi tadi mau menusuk kakak, Mungkin wajah kakak seperti orang jahat, jadi Lusi ketakutan" ucap Viola.


Victor pun menghela napasnya. "Terus saja hina Kakak mu ini Vi. Kakak terlalu tampan untuk jadi seorang penjahat"


"Jadi kamu dokter" tanya Lusi.


"Iya, apakah saya terlihat seperti orang jahat"


"Ma..maaf" ucap Lusi lagi.


Lusi pun mengangguk.


lalu Lusi pun kembali berbaring di tempat tidur.


Lalu Victor pun memeriksa Lusi. Lusi pun hanya memandang Victor di hadapannya.


Victor pun juga memandang Lusi saat memeriksanya. Lusi memang tetap tampak cantik saat itu, walaupun berantakan. Dan bagi Victor, sayang bila harus dilewatkan wanita cantik dihadapannya itu. Victor pun memandang wajah Lusi yang pucat, secara seksama.


"kamu pucat sekali, kamu sudah makan belum?" tanya Victor.


Lusi pun menggelengkan kepalanya.


"Vi, setelah ini kamu siapkan makan untuk teman mu ya"


"Siap kak"


Setelah selesai periksa.


"Kamu makan yang banyak dan yang bergizi. kamu kelelahan dan juga dehidrasi. serta Istirahat yang cukup ya. saya akan memberikan Vitamin untukmu" ucap Victor.


Lusi pun mengangguk.


"Oia, Selamat ya kamu hamil." ucap Victor sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hamil!!", Ucap Lusi kaget.


"Iya.. kandunganmu masih sangat kecil, jadi harus di jaga''


Lusi pun tampak kaget dan tak sadar langsung menangis.


Viola yang mendengar berita itu pun saat itu ikut kaget. Viola pun langsung memeluk Lusi yang saat itu menangis.


"Sabar Lusi. Jangan sedih" ucap Viola.


"Loh. Loh ini kok pada sedih" ucap Victor bingung.


"Aku tahu, ini berat buat kamu. Kamu sabar ya. Rian harus bertanggung jawab dengan apa yang ia perbuat sama kamu" ucap Viola.


Victor pun hanya menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.


"Ada apa sih?" Tanya Victor masih bingung.


"Dia ini pacar nya boss aku kak. Cuma ya gitu. Ternyata boss aku malah bertunangan dengan wanita lain" tutur Viola menjelaskan.


"Brngsk juga ya boss kamu Vi" ucap Victor.


"iya'


Lusi pun menangis dengan perasan yang campur aduk. Bagaimana tidak, kejadian dia dengan Adit baru saja terjadi tadi malam. Dan paginya Lusi mendapati berita dirinya tengah hamil. Berani sekali Adit ini telah menengok bayi dalam kandungannya.


Hati Lusi begitu perih dan teriris ingin sekali rasanya membunuh Adit dengan tangannya.


"Viola antar aku pulang" ucap Lusi.


"tapi kamu makan dulu ya" ucap viola.


Lusi pun mengangguk. Lalu Lusi pun disuapin Viola. Viola tidak peduli bila harus datang terlambat ke kantor. Ia hanya peduli dengan Lusi yang saat ini sangat membutuhkannya.


Lalu Viola pun mengantar Lusi pulang, dengan mobilnya.


Viola pun mengantar Lusi sampai rumah.


Dan Betapa kagetnya Viola melihat rumah Lusi yang sangat besar. Dan Viola tidak tahu bahwa Lusi tinggal serumah dengan Rian.


"Ini rumah kamu Lusi.. besar banget" ucap Viola sambil memandang kagum rumah yang di tempati Lusi.


"Bukan, aku hanya menumpang disini. Oya, Terimakasih banyak kamu sudah mengantar aku"


"Sama-sama" ucap Viola


Lalu Lusi pun turun dari mobil dan masuk kedalam rumah dengan berjalan Perlahan. Sesampainya di kamar, Lusi pun langsung masuk kedalam kamar mandi. Membuka pakaian yang ada di badannya.


Lalu ia pun bercermin dan melihat dirinya dikaca. Begitu banyak bekas tanda merah. Kecupan bibir yang membekas di dada dan lehernya. Seolah itu bukti bahwa tadi malam benar-benar terjadi. Lusi pun menangis tersedu melihat dirinya yang tampak sangat hina. Kejadian tiga orang yang hampir menodai dirinya saja masih sangat membekas di hati. Ditambah lagi dengan kelakuan Adit yang justru menjatuhkan dirinya dalam lubang yang sama. Lusi pun hanya bisa menangis. masalah dirinya dengan Rian sebagai istri yang tak dianggap saja belum selesai. Kini ia dihadapkan dengan masalah baru yang membuat hatinya semakin hancur.


Lusi pun hanya bisa menangis dibawah air shower yang mengalir. Putus asa , itulah yang paling dirasakan Lusi. Lusi pun duduk tersungkur menangisi dirinya yang sedang mengalami duka yang mendalam.

__ADS_1


Like.. like..like..


__ADS_2