
Part 112.. (Minum Teh) (Sesion 2)
Hah.. Waktu berlalu dan berganti dan semua terasa melelahkan. Cuma wanita bodoh dan idiot yang masih mau bertahan dalam genggaman pria yang menyebalkan seperti Rian.. Tapi... Lari pun sepertinya Lusi takan mau. Lusi tak siap bila menjadi janda secepat kilat.
Entah apa dan bagaimana.. Zelda bisa-bisanya mau menerima kembali Rian dalam pelukannya. Padahal sudah jelas-jelas ketahuan ciuman dengan Lusi.
Sesampainya di rumah..
"Duduklah.. " ucap Renata pada Lusi.
Lusi pun duduk diruang tamu..
Tampak Renata yang sedang duduk juga disitu. Membuang wajah sambil menyilangkan kaki terlihat sangat arogant saat itu.
Lusi pun hanya memandangnya dengan tatapan biasa. Sambil meminum teh yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga ketika itu.
"Saya tidak menyangka. Bisa-bisanya kamu berciuman dengan Rian di kantor" ucap Renata.
Lusi pun tampak kaget dengan ucapan Renta..
"Darimana anda tahu soal itu?" tanya Lusi.
"Dari Zelda.." ucap Renata.. "Beruntung Zelda percaya pada saya. Sehingga dia tidak jadi marah"
"Masih saja putra nyonya, anda bela untuk kesalahannya"
Renata pun tersenyum..
__ADS_1
"Lalu ada perlu apa anda memanggil saya" tanya Lusi.
"ternyata.. Ada gunanya juga kamu pernah jadi orang gila Lusi" ucap Renata.
"Maksudnya apa???"
"Kamu kira-kira saja sendiri" ucap Renata. "Jelas Zelda lebih percaya saya, ketimbang saat saya bilang bahwa wanita yang mencium Rian itu adalah wanita gila"
"Nyonya bener-bener tega" ucap Lusi.. "Jadi nyonya bilang pada Zelda bahwa saya hanyalah wanita gila .."
"Iya.. Kamu hanyalah wanita gila yang butuh akan belaian sehingga kamu datang pada Rian untuk memintanya"
Lusi pun menghela napasnya.
"Aku pikir yang selama ini gila adalah saya.. Namun ternyata.. jalan pikiran nyonya lebih gila dari apa yang saya duga"
Plaaakkk...
Wajah Lusi pun terlempar ke samping dan tampak merah dengan tamparan Renata.
Renata tak suka pada ucapan Lusi yang membalas ucapan Renata.
Lusi pun tampak memejamkan matanya. Sambil menahan sakit di pipinya.. Bukan cuma itu tapi sakit juga pada hatinya.
Lusi pun menatap Renata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ucapan nyonya sudah sangat sakit. Kini dengan mudahnya nyonya menampar saya" ucap Lusi lirih..
__ADS_1
"Kamu sama sekali tak ada artinya di rumah ini Lusi. Saya tidak suka kamu menyakiti perasaan Zelda, Dengan bermesraan didepannya"
"Saya bukanlah wanita murahan nyonya.. Dan tak mungkin saya mengumbar kemesraan didepan orang. Sekalipun itu pada suami saya sendiri" ucap Lusi..
"Tapi... Secara tidak langsung.. Zelda melihat dan kamu telah membuat perasaanya menjadi sakit"
Lusi pun menarik napas panjangnya..
"Memang... Sangat sakit.. Sangat sakit nyonya.. Sakit rasanya, Disaat nyonya bisa memikirkan perasaan Zelda. Sementara saya tak pernah dipikirkan.. saya selalu di sudutkan dan tak pernah ada baiknya.. Jika perasaan Zelda saja bisa tersakiti. Lalu bagaimana dengan perasaan saya" ucap Lusi yang tak sengaja menjatuhkan air matanya.
"Mungkin.. kamu memang pantas untuk mendapatkan itu.. "
"Iya.. saya memang pantas mendapatkan ini.. karena seharusnya.. Saya memang tak perlu bicara panjang lebar begini.. Karena saya tahu saya menangis darah pun dihadapan nyonya.. semua akan sama saja.."
Dengan perasaan sedih... Lalu Lusi pun ke kamar..
seolah Lusi merasa tak percaya dengan ibu mertuanya itu.. sangat mudah menyakiti perasaannya..
Sambil sesekali menjatuhkan air matanya. Tampak Lusi yang hanya memeluk bantal dan guling.
Jika semua sakit ada obatnya.. Lalu bagaimana menghilangkan rasa sakit pada hati.. benak Lusi.
Sepertinya semua terasa sulit..
Lusi pun hanya memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit hatinya. Sambil berbaring di tempat tidur. Menikmati kesunyian malam yang semakin terasa hampa...
like yoo..like like like like. thank thank thaanks
__ADS_1