Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
Rian POV


__ADS_3

Part 145 (Rian POV)(sesion 2)


Setelah itu Lusi pun pulang dari kantor.


Sesampainya di rumah Lusi langsung membantu menyiapkan untuk makan malam. Namun kali ini tidak tampak ada Rian. Karena Rian sedang menemui rekan kerjanya makan malam.


Setelah itu..


Lusi melihat Meti asisten rumah tangga yang sedang membuatkan sesuatu untuk Renata.


"Itu apa mba" tanya Lusi.


"Jahe untuk nyonya" jawab Meti


"Oh.."


"Katanya sih badannya pegel-pegel. Jadi minta di buatkan jahe"


"Sini mba saya ajah yang kasih"


Lalu Lusi pun berjalan menemui Renata di kamar dengan membawakan segelas air jahe yang dibuat Meti.


Lusi pun tampak mengetuk pintu..


"Masuk.." ucap Renata.


Lalu Lusi pun masuk dan melihat Renata yang sedang duduk dikasur sambil bersandar.


Lusi pun duduk disamping Renata yang sedang istrihat.


"Ini jahe.." ucap Lusi. Lusi pun menyodorkanya kepada Renata.


"Terimakasih" ucap Renata. Lalu meminumnya secara perlahan. "Enak, kamu pintar ya membuatnya"


"Sebenarnya sih bukan saya yang buat. Tapi Meti"


Renata pun hanya tersenyum.


"Ma, saya pijitin ya. Kata Meti badan mama pegel-pegel" ucap Lusi.


"Gak usah.. jangan" jawab Renata.


"Gak apa-apa.. saya udah biasa kok pijitin ibu saya dikampung"


"Beneran nih"


"Iya" ucap Lusi tersenyum.


Lalu Lusi pun memijat pundak Renata.


"Kamu kalau sakit biasanya diapain. Dipijitin juga" tanya Renata.


"Ya, lebih vulgar dari itu. dikerokin" ucap Lusi tersenyum malu. " Tapi kalau orang kaya seperti nyonya. Eh maksudnya mama gak mungkin di kerokin seperti saya"


Renata pun tersenyum. "Ah pernah juga dikerokin cuma jarang sih"


"Lusi kamu tahu.. Dari dulu sebenernya saya itu ingin sekali punya anak perempuan. Agar bisa temenin saya. Tapi cuma dikasih satu anak. Si Rian itu aja" Ucap Renata..


Lusi pun semakin tersenyum. Yang kali ini tampak Renata yang lebih terbuka padanya. Lusi pun tampak senang karena Renata sudah tidak speerti dulu lagi.


"Dia itu Nakalnya bener-bener. Saya kalau hadepin dia dari kecil itu pusingnya minta ampun. Gak pernah mau nurut. Pas udah gedean kerjaan balapan Mulu. Kumpul sama anak-anak motor. Saya sampai pusing"


Oh nakal ya ma. Pantes aja benak Lusi dalam hati.


Lusi pun hanya mendengarnya. tanpa berkomentar apa-apa..karena Lusi pun juga penasaran dengan masa lalu Rian semasa dulu.


"Kalau saja anak saya bukan cuma Rian. Beneran itu si Rian sudah saya tidak anggap sebagai anak. Tapi ya mau bagaimana lagi anak saya satu satunya dia" ucap Renata yang sedang bercerita. "Apalagi pas papanya sudah meninggal terpaksa dia harus kembali. Kemarin kemarin mah dia kaya gak punya orang tua. Ditelepon gak pernah diangkat. Di temuin juga susah"


Lusi pun tampak tersenyum mendengar cerita Renata.


"Tetapi meskipun begitu saya sayang sama Rian. Meskipun dia nakal, tapi Dia anak yang pintar. Karena berhasil kuliah di perguruan negri favorit. Saya sempet mau kuliahin dia keluar negri tapi dia waktu itu gak mau. Katanya kuliah di Indonesia aja. Saya turutin aja lah apa maunya dia. Yang penting kuliah" ucap Renata.


Lusi pun hanya tersenyum sambil memijat pundak Renata.


"Kamu mengenal sosok Rian bagaimana?", tanya Renata.


"Ya tidak jauh seperti mama mengenal Rian", ucap Lusi.


Renata pun tersenyum dan memegang tangan Lusi.


"Dari dulu Rian itu tak pernah memikirkan wanita. Dalam hidupnya ia selalu bermain. Tapi sepertinya dia beneran sayang sama kamu..."

__ADS_1


"Kamu sayang gak sama anak saya?"


Lusi pun terdiam.


Seketika hati Lusi pun langsung berdetak tidak seperti biasanya, saat ditanya apakah ia menyayangi juga atau tidak...


Lusi pun seketika menjatuhkan air matanya. Entah mengapa air matanya turun disaat Renata yang menanyakan langsung hal ini. Lusi pun langsung teringat bagaimana air matanya selalu tumpah saat hatinya selalu tersakiti oleh Rian. Tapi meskipun begitu ada perasaan cinta di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Saya tidak tahu... sejak mulai kapan ya.. saya menyanginya" ucap Lusi sedikit berfikir. "Tapi... perasaan saya selalu sakit. Setiap kali Rian menyakiti perasaan saya. Saya sakit, Setiap Rian mengabaikan saya. Dan saya selalu sakit, Setiap kali saya melihat ia pergi dengan Zelda. Apa itu mungkin cinta ya.. Tapi.. walau seperti itu, saya selalu berharap bahwa rumah tangga saya akan selalu baik-baik saja. Meskipun saya tahu, saya harus berulang kali merasakan pahitnya mencintainya"


Seketika Renata pun terharu mendengar Lusi. Lusi pun mulai kembali bercerita. kali ini tampak Lusi yang bergantian cerita tentang perasaannya.


"Dari awal saat anak mama melingkarkan cincin di jari tangan saya. saat itulah Saya sudah mencintainya. Namun ada hal paling pedih, disaat saya tahu. Ternyata Rian tidak benar-benar mencintai saya. Saya saat itu berfikir, bahwa cinta saya hanya bertepuk sebelah tangan. Saya merasa diabaikan olehnya. Hingga saatnya sampai saya menikah. Ia pun masih belum benar-benar mencintai saya. Kalau saya bisa memilih, saya tidak mau mencintainya sama sekali. Sampai saya berfikir Apakah saya salah sudah mencintainya. Namun saya tidak bisa memungkiri itu. Cinta itu masih saja ada. Walau saya tahu merelakannya adalah jalan yang terbaik"


Renata pun seketika mengingat betapa jahatnya dia pada Lusi. Padahal sebetulnya Lusi lah wanita yang mampu mencintai Rian dengan apa adanya.


"Lusi, kamu tidak salah untuk mencintainya. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Semua kesalahan mama, yang sudah berusaha untuk memisahkan kamu sama Rian" ucap Renata. "mama minta maaf sama kamu"


Lusi pun membalasnya dengan senyuman..


"Ma, terimakasih mama sudah menerima Lusi. Baiknya mama sama Lusi sekarang. Itu sudah mewakili kata maaf mama" ucap Lusi dengan air mata yang mengembang dimatanya. Karena bahagia


Seketika Renata pun memeluk Lusi.


"Kamu mau temani mama tidur disini" ucap Renata.


"Mau ma.."


Lalu Lusi pun menemani Renata tidur disampingnya.


"Lalu Rian bagaimana?" tanya Renata.


" Rian juga belum pulang sih ma. Katanya diajak rekan kerjanya makan malam. Tadi dia ijin sebentar keluar. Dan gak tahu pulang jam berapa?" Ucap Lusi.


"Mudah-mudahan ajah dia gak balapan lagi"


"Iya ma.." ucap Lusi.


"Yaudah lah kita tidur" ucap Renata memeluk Lusi. Dan tidur satu kamar disampingnya. Lusi pun juga tampak sangat bahagia bisa tidur disamping sang mama mertua..


*****


Sepulangnya aku mencari Lusi sesosok wanita yang pernah ku dampakan. Dalam hidup. Namun tampak aku tidak melihatnya.


Lalu aku coba menanyakan pada bibi.


Ternyata katanya ia ada di kamar mama. Lalu aku masuk kedalam kamar mama yang ternyata memang tidak dikunci. Aku rasa Lusi memang belum tidur.


Namun saat aku masuk aku melihat Lusi dan mama sedang tidur dalam satu ranjang yang sama.


Aku pun tampak memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Aku tak pernah menyangka pada akhirnya melihat pemandangan mama bisa menerima Lusi juga.


Hemm.. wanita ini.. bisa bisanya tidur sama mama.. ini mama ngapain lagi tidur sama Lusi segala. padahal aku udah niat banget malam ini mau kangen-kangenan.


Aku pun mencoba ingin membangun kannya. Tiba-tiba aku pun merasa tak tega. Melihat Lusi yang sudah tertidur lelap.


kalau di bangunin kasihan. Karena ini cita-cita Lusi dari dulu.. bisa akur sama mama. Aku pun tersenyum kembali sambil memandang nya.


Dan aku pun menatap wajah Lusi yang terlihat polos namun tetap cantik.


Dasar wanita ini... bisa juga dia akhirnya ambil hati mama. Yang dari awal tak suka dengannya..kini mama sudah menerima nya.


Namun sepertinya repot juga kalau tiap malam mama tidur berdua sama Lusi begini. Nanti aku Takan kebagian jatah malam ku bersamanya.


sebelum kembali ke kamar aku niatkan mencium kedua wanita cantik dihadapan ku. mereka lah kedua wanita hebatku.


pertama Tama aku mencium kening mama.


Setelahnya barulah aku mencium kening Lusi. Saat itu Aku berharap Lusi akan terbangun saat aku menciumnya.


Namun sayang ia tidak bangun.


Lalu Aku pun tampak menciumnya lagi. mulai dari keningnya dan pipinya.. berharap kali ini ia akan terbangun.


Muuaaachh..


Namun ia tak bangun juga..


Sekali lagi coba, berharap kali ini akan terbangun.


Muaacchh..

__ADS_1


Ah sial... gak bangun juga.. hadeh..


ampun dah.. wanita ini kalau sudah tidur susah sekali untuk terbangun. Padahal sudah diciumin berkali kali tapi tak bangun juga.. Mau dibangunin kasar namun aku seperti tak tega.


Dan aku pun memandangnya sekali lagi.


Lusi. Lusi.. kamu tidur aja cantik. Apalagi kalau bangun lalu senyum pada ku.


Seketika.. aku sedikit termenung... Dan Aku pun mulai tersadar, saat aku melihat wajahnya. aku merasa berdosa karena telah banyak berbuat jahat dan telah banyak menyakitinya. Dirinya yang begitu baik dan Begitu setia pada ku. Namun aku menyia-nyiakannya.


Dan sepertinya aku tidak bisa hidup tanpanya. Bukan karena dia memberikan segala apa yang aku ingin kan. Tapi dia yang telah mengajari aku tentang cinta dan ketulusan. Aku akan belajar mencintainya lagi. Untuk menebus setiap rasa bersalahku padanya.


Setelah itu.


Lalu aku putuskan untuk kembali ke kamar dan tidur di kamar ku saja. Karena aku tidak ingin menganggu malam nya bersama mama. Lalu aku langkahkan kaki ku untuk pergi.


Namun tiba-tiba saat aku mau keluar kamar.


Dari belakang ada yang menepuk punggung ku. Sontak aku pun kaget melihat Lusi yang sudah ada di belakang.


Lusi pun tampak tersenyum juga melihat ku kembali.


Aku melihat wajahnya, entah mengapa dada ini begitu terasa bergetar. Senyum yang manis dan cantik. Di balut dengan baju tidur model daster dengan berbahan satin. Begitu menyiksaku ingin rasanya aku menguasai tubuhnya malam ini. Walaupun sedang hamil namun tetap saja aku tak tahan melihatnya. Tangan ini serasa gatal ingin memeluknya.


Lalu aku pun mendekatinya, dan tanpa sadar aku mencium bibirnya.


Aku pun terhanyut dalam perasaan ini.


Entah mengapa perasaan tak tahan ini tiba-tiba muncul. Ku dorong Lusi perlahan ke sofa yang ada di kamar mama. Kucium bibirnya yang menggoda itu. Ku kuasai dirinya diatas sofa. Baru kali ini kulihat Lusi seolah sangat pasrah mendapatkan sentuhan dan ciumanan dari ku. Biasa nya dia selalu terlihat kaku.. Lusi pun tampak memeluk ku juga. Apa mungkin dia belum seratus persen sadar dari tidurnya. Sehingga ia menjadi pasrah seperti ini. Aku pun mencium bibirnya penuh gairah.


Aku pun tampak tak banyak bicara padanya. Aku terus saja menciumnya. Dengan keadaan yang sangat romantis hanya lampu tidur yang menyala. Semakin menambah mesra kami bedua.


Namun... Tiba-tiba lampu menyala dengan terangnya. Aku pun melepas ciumanku.


Sontak ciuman kami pun terhenti dan menoleh.


"Mama" ucapku kaget.


Lusi pun tampak membulatkan matanya dalam keadaan di bawah ku.


Kami bersamaan kaget melihat mama yang melihat kami sedang berciuman. Lalu kami pun langsung melepaskan pelukan dengan cepat. Aku pun tak tahu sejak kapan mama terbangun dan melihat aku dan Lusi berciuman.


Mama pun tampak mengangkat kedua alisnya. Seperti seorang guru yang memergoki muridnya berbuat nakal.


Lalu kami pun segera beranjak dari sofa. Dan berdiri dihadapan mama dengan perasaan malu.


Dan tampak Lusi sangat merah mukanya.


Mama pun melipat tangannya seperti marah namun tidak terlalu.


Mama pun sepertinya mengerti dengan hasrat aku kepada Lusi yang sudah tak tertahan ini.


"Kalian kalau memang sudah tak tahan lakukan dikamar sendiri ya.. jangan dikamar mama" ucap mama.


"Ma..maaf. em, lebih baik mama dan Lusi lanjutkan tidurnya lagi. Tadi aku yang salah.. aku yang membangunkan Lusi ma. Lusi kalau kamu mau tidur lagi gak apa-apa. Lanjut kan saja tidur sama mama" ucap ku


Lusi pun tampak tersenyum kaku.


Lalu Lusi pun kembali ke ranjang mama. Namun mama malah menggandeng tangan Lusi. Ditariknya tangan Lusi dan memberikan tangan Lusi pada ku.


"Sudah kamu tidur di kamar saja sama Rian. Rian sudah menunggu mu" ucap mama.


Lusi pun tampak memandang mama malu.


"Gak apa-apa, sana.. mama bisa tidur sendiri" ucap mama.


Lalu kami pun di dorong oleh mama dengan secara halus.


Entah mengapa perasaan ku pun semakin tidak enak. Tapi sepertinya yang paling merasa malu Lusi.


Lalu aku dan Lusi ke kamar.


Sesampainya ..


Tak banyak hal yang kami bicarakan. Dada ini masih serasa bergetar. Lalu Lusi pun tampak merebahkan diri namun tak bicara. Ia memejamkan matanya sambil menutupnya dengan selimut. Sepertinya ia masih malu perihal kejadian tadi. Lalu aku pun hanya memandang dan menggenggam tangannya.


Mungkin aku lanjutkan besok malam saja. Atau besok pagi saja untuk melakukannya. Karena ku lihat Lusi sepertinya masih shock.


************


like like like..

__ADS_1


__ADS_2