Kak Lusi (Kakakku Malang)

Kak Lusi (Kakakku Malang)
X-tra part (Tidak sengaja bertemu Erik)


__ADS_3

X-tra part (Tidak sengaja bertemu Erik)


Setelah itu..


Sore menjelang malam..


Lusi pun menyempatkan diri untuk melihat Rian yang masih terbaring. Untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Dan melihat juga apa yang Rian butuhkan. Meskipun sangat repot seperti punya bayi dua. Namun Lusi ikhlas menjalaninya.


Lusi pun menemui Rian. Rian pun tampak tertidur. Lalu Lusi pun membangunkannya untuk makan. Karena sudah waktunya minum obat.


"Assalamualaikum" ucap Lusi sambil tersenyum. Namun Rian pun masih belum bangun juga.


Lusi pun langsung menggelitik kaki nya Rian. Agar ia terbangun.


Rian pun tampak menahan tawanya saat Lusi mengelitik kakinya.


"Walaikumsalam.. Aku ini pangeran bangunin aku pakai ciuman" ucap Rian sambil pura-pura merem padahal sudah bangun.


"Oh yah.. kalau aku bangunin kamu pakai ciuman. Yang ada bukan kamu yang bangun. Tapi si Anu lagi yang bangun"


Rian pun tampak tersenyum. "Aku gak mau bangun ah kalau gitu"


"Ayolah makan dulu. Jangan kebanyakan drama. Kamu kan sudah jadi bapak" ucap Lusi.


"Hehe, iya sayang."


Lalu Lusi pun tampak menyuapi Rian makan. Lalu setelahnya minum obat. Dan setelah itu mengelap tubuh Rian dengan air hangat. Agar tetap bersih dan tidak lengket. Dan mengganti pakaiannya juga.


Lalu Lusi pun mengambil sisir dan menyisir rambut Rian biar gak kusut.


"Kamu perhatian banget sih" ucap Rian.


Lusi pun tampak tersenyum.


"Iya, ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri"


"Kamu ikhlas gak. Ngelakuinnya"


"Ikhlas itu bukan diucap tapi dilakuin" Lusi pun tampak tersenyum. "Jadi menurut kamu aku gimana? Ikhlas gak?"


"Ikhlas"


Lusi pun tampak tersenyum.


Namun Rian tampak menghela napasnya.


"Lusi kalau sekiranya aku tidak bisa apa-apa apakah kamu akan tetap cinta" tanya Rian.


"Cinta itu tanpa syarat.. cinta itu bukan cuma milik pada orang yang sempurna. Justru cintalah yang mampu menyempurnakan segela kekurangan" ucap Rian.


"Lalu?"


"Aku akan berusaha menemani mu dalam keadaan apapun"


Rian pun tersenyum melihat Lusi bak dokter cinta dalam hidupnya.


"Terimakasih sayang"


"Besok aku pulang bersama Fabio. Aku akan sering kesini untuk menemani kamu. Sampai kamu pulih" ucap Lusi.


"Jangan kamu pasti akan lelah"


"Kamu jangan khawatir soal itu"


*****


Beberapa hari setelah itu,


Adit pun berhasil ditangkap oleh polisi. Ia di tangkap polisi karena sudah melakukan tindakan kriminal dengan menusuk Rian dengan senjata tajam. Dan proses hukum pun berjalan seusai dengan undang-undang yang berlaku. Agar dapat memberikan efek jera kepada pelaku.


Beberapa hari setelah itu..


Lusi tidak sengaja bertemu Erik di Restorant cepat saji. Lusi saat itu datang sendirian. Ia sengaja mampir sebentar dulu untuk makan siang, sebelum ia kerumah sakit menemui Rian. Sementara Fabio ia tinggal sebentar bersama mama dan baby sitter.


Tampak Erik yang memperhatikan Lusi.

__ADS_1


"Sendirian aja" Lusi pun tampak kaget saat seseorang datang menghampiri nya.


"Erik" ucap Lusi kaget.


"Boleh gue duduk disini" ucap Erik melihat bangku Lusi yang kosong dihadapannya.


"Duduklah"


Lusi pun tampak memandang Erik.. Lusi sangat ingat bahwa Erik ini adalah orang yang pernah sengkongkol dengan Adit. Untuk melakukan penggelapan dana di perusahaan milik Rian. Lusi pun hanya melihatnya tanpa banyak bicara.


"Masih hidup juga Lo. Gue kira Lo udah mati di bunuh Adit" ucap Erik tertawa sambil menyantap hidangan yang ia pesan.


Lusi pun langsung memandang tajam saat ia bicara seenaknya seperti itu.


Lusi pun sebenarnya kesal dengan ucapan Erik yang tanpa di cerna itu. Namun Lusi tidak mau banyak bicara apalagi emosi.


"Mungkin lu heran kenapa gue bisa bilang begitu" Ucap Erik lagi.


Lusi pun hanya diam. Sambil fokus menyantap makan siangnya.


"Adit pernah ajak gue buat balas dendam ke lu. Dia mau culik lu" ucap Erik.


"Awalnya sih gue mau ikut. Ya bayarannya lumayan besar yang Adit janjikan itu. Namun gue kaget saat Adit bilang kalau dia juga ingin membunuh lu"


"Mmm.. Terus?"tanya Lusi kaget sekaligus penasaran.


"Jelas gue tolak kerjaan itu. Gue jahat sama orang.. tapi gak sejahat itu. Gue gak mau lah bunuh orang. Sekalipun gue dendam samaa lu" ucap Erik.


Lusi pun hanya menarik napasnya dalam dan langsung mengambil minum. Untuk meredam suasana Yang agak memanas itu.


"Ceritanya buat aku panas, aku minum dulu biar adem" ucap Lusi.


Lusi pun langsung meminum air mineral dihadapannya.


"Itu belum seberapa panas. Ada yang lebih panas. Dan lebih parahnya lagi.. dia sempat bilang ke gua. Setelah menculik lu, dia mau jual lu setelah lu melahirkan. Dan setelah itu, baru dia membunuh lu" ucap Erik.


Dan Lusi pun semakin kaget.


"Dia beneran ngomong begitu" ucap Lusi. Dengan tatapan yang tajam.


" Bahkan, saat anak lu lahir. Dia akan tes dna. Untuk memastikan anak siapa yang lu kandung. Kalau emang itu bener anaknya Adit. Dia masih mau merawatnya, tapi ternyata kalau bukan anak lu bakal di buang"


"Astaga.. " Lusi pun tampak memejamkan matanya sambil memijat keningnya. Lusi tidak tahu ucapan Erik benar atau tidak. Namun perasaan Lusi terasa sakit dengan apa yang dikatakan Erik.


"Kamu jangan mengada cerita Rik" ucap Lusi. Menarik napas nya lagu.


"Gue ngomong begini bener, apa adanya.. gue pengen lu waspada Lusi. Takut masih ada rencana buruk itu lagi, dikemudian hari" ucap Erik.


"Oke.. Makasih Rik, kamu udah baik. Udah kasih tahu aku soal ini" ucap Lusi lagi. "Aku bener-bener gak habis pikir sama dia Rik. Kenapa dia tega banget sih"


"Tapi, sekarang ini, Kehidupan Adit sudah hancur. Kabar terakhir yang gue tahu sih. Rumah dijual, mobil dijual, dan semua aseet yang ia miliki sudah ia jual semua. Ia kelilit hutang"


"Kelilit hutang?"


"Iya, dia mau buka usaha. Terus minjem duit di bank. Eh ternyata malah ketipu sama teman bisnisnya. Usaha gak jalan, uangnya di bawa kabur. Gue deketan rumahnya sama dia jadi gue kurang lebih tahulah tentang dia" ucap Erik.


"Kalau rumah dijual, semuanya dijual. Lalu bagaimana dengan anaknya? Anaknya tinggal dimana sekarang?" Tanya Lusi.


"Anaknya, sakit. Salsa berada di rumah sakit. Tiga hari yang lalu Adit telepon gue, dia kaya stres banget. Ngurus anaknya yang sakit. Dia mau pinjem uang gue, ya.. gue bantu lah tapi sedikit doang"


"Sakit..? Sakit apa?"


"Gue sih kurang tau sakit apa"


"Oke, makasih atas info ini" ucap Lusi.


"Dan Sebenarnya gue juga temuin lu. Gua mau minjem duit sama lu"


"Minjem duit?"


"Iya, gua mau minjem duit, Buat beli motor baru, kemarin motor gue turun mesin. Gue ada duit dua jutaan lah buat dp motor. Waktu itu. Eh di pinjem Adit"


"mau minjem berapa?" Tanya Lusi.


"Dua puluh juta, gue beli cash ajalah daripada credit"

__ADS_1


Karena Lusi merasa memiliki uang ia pun memberikan nya.


"Berapa nomer rekeningnya aku transfer ya" ucap Lusi.


Lalu Erik pun memberikan nomer rekeningnya. Dan Lusi pun tampak mengambil handphone nya. Dan mentransfer sejumlah uang.


"Nih aku lebihin, lima juta" ucap Lusi.


"Wah makasih banyak ya Lusi. Gua janji, gua bakal cicil utang gue tiap bulan" ucap Erik senang.


"Ga perlu Rik, itu buat kamu. Anggap aja motor itu hadiah dari aku. Kamu gak perlu kamu ganti"


"Jangan begitu gue minjem bukan minta Loh" ucap Erik tidak enak hati.


"Gak apa-apa"


"Makasih banyak Lusi. Gak sia-sia gue ketemu lu"


"Iya, sama-sama. Terus, Aku juga mau tahu. Salsa di rawat di RS mana?"


"Harapan kita, lu tanya aja pasien yang bernama Salsa disana"


"Umm oke" ucap Lusi. Mengangguk paham.


"Bay the way" ucap Erik memperhatikan Lusi. "kalau lihat kondisi lu yang udah melahirkan. Gue lihat sih lu baik-baik aja. lu gak sampe di jual kan sama Adit" ucap Adit sambil berbisik. Namun sambil ketawa- ketawa meledek.


"Aku emang sempat di culik Rik. Tapi aku berhasil kabur. jadi semua rencana buruk Adit. Gak sampai terjadi"


"Oh syukur deh.. gue gak bisa bayangin ke lu. Kalau sampai itu bener-bener terjadi. Gak sampai lu dibunuh Adit, mungkin lu udah bunuh diri duluan kali" ucap Erik sambil memandang Lusi dari atas sampai bawah.


"Aku rasa semua sudah cukup jelas Rik. Aku ijin pulang dulu"


"Oke sip, ati-ati dijalan"


Lalu Lusi pun pulang dengan langkah kaki yang sedikit lebih cepat..


Setelah itu Lusi pun ke rumah sakit untuk menemui Rian di rumah sakit. Namun sayang, diruang rawat sudah tidak ada Rian.


"Pak pasien yang dikamar ini kemana ya?" Ucap Lusi kepada petugas kebersihan dirumah sakit.


Kebetulan memang hanya ada petugas didalam kamar itu.


"Oh, pasien dikamar ini sudah di bawa ke kamar Jenazah" ucap Ob diruang itu.


"Pak, jangan bercanda suami saya gak mungkin meninggal" ucap Lusi.


"Serius mba"


Lalu Lusi pun bergegas pergi meniggalkan ruang rawat Rian. Lusi pun panik dan mencari informasi yang benar. Ia yakin bahwa suaminya baik-baik saja.


Dan saat Lusi keluar ruangan tiba-tiba Rian datang memberikan bunga.


"Tara...." Ucap Rian. Memberikan bunga.


"Rian, tadi kata mas tadi kamu udah meninggal"


"Jadi kamu doain aku meninggal"


"Ya gak juga justru aku bahagia melihat kamu baik-baik aja"


"Tadi emang ada pasien yang baru aja meninggal dan itu kamar sebelah. Mungkin dia salah orang dipikirnya aku. Aku udah boleh pulang hari ini"


"Beneran.." ucap Lusi senang


"Iya, aku udah lebih baik"


Lusi pun memeluk suaminya.


"Jangan tinggalin aku ya" ucap Lusi.


"Iya.. Kita pulang kita kumpul bersama lagi" ucap Rian.


*********


hemz.. oke mohon like aja... kayanya harus ada satu lagi episode tambahan setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2