
Part 102 (Tisu penghapus air mata) (Sesion 2)
Tampak Lusi dan Viola yang sedang berpelukan. Tiba-tiba Rian datang dan memperhatikan keduanya.
Yang lain pun tampak hormat dengan menyapa saat Rian datang.
"Selamat Siang pak.. " ucap Mba santi dan Intan.
"Selamat Siang" ucap Rian.
Lalu Rian menghampiri dan memberikan tisu. Dengan maksud untuk menghapus air mata Lusi dan Viola yang terlihat berderai.
"Nih... " ucap Rian memberikan tisu.
Intan dan Lusi pun melepaskan pelukan dan menoleh ke arah Rian. Lalu mereka pun menghapus air matanya dengan tangannya. Dan mengabaikan tisu pemberian Rian.
"Tisu ini memang bisa menghapus air mata. Tapi sayangnya, tisu ini tidak mampu menghapus luka pak " ucap Viola. "Bapak ada apa ya kesini? "
"Sekertaris tidak tahu diri... Saya nyariin kamu!!! " ucap Rian jengkel menatap Viola. "Ada beberapa berkas yang saya ingin tanyakan"
"Telepon kan bisa pak.. Gak usah modus mau kesini juga kali" ucap Viola.
"Hak saya mau telpon atau cari langsung kan.. " ucap Rian dengan nada kesal.
Lalu Rian pun memandang ke arah Lusi yang terlihat merah di matanya.
"Oia Lusi.. mobil kamu sudah saya benerin. Kamu nanti bisa membawanya lagi" ucap Rian dengan nada lembut.
"Makasih pak" jawab Lusi.
"Memang bawa mobil itu lebih praktis sih" ucap Rian.
__ADS_1
"Ban mobil itu kempes, Udah tiga hari nginep di kantor"
"Terus kamu pulangnya gimana? " tanya Rian.
" kadang naik ojek atau naik taksi. Kalau kemarin sih sempet dianter pulang sama Pak Adit?"
"Apa!!?! Pak Adit?!! " ucap Rian kaget.
"Iya.."jawab Lusi.
"Biasa aja kali pak.. Gak usah kaget gitu" ucap Viola memperhatikan keduanya yang sedang mengobrol.
"Coba kamu pikir Viola. Seorang wanita dan pria berduaan di dalam mobil. Berduaan lohh itu... Nanti kalau diapa-apain sama Adit gimana? " ucap Rian kesal.
"Ya pak tapi biasa aja kali gak usah kaget gitu. Lagi pula.. Ada juga kok di kantor yang berbuat macam-macam.. " sindir Viola pada Rian sambil memandang sinis. "Bapak sendiri gak sadar siapa? "
"Vio maksud kamu apa!! " ucap Rian memandang Viola.
"Vio.. Kamu mau bonus dan gaji kamu saya potong.."
"Oh.. Maaf pak. Saya kembali keruangan segera.. " ucap Viola langsung pergi.
Lalu Rian pun menarik napas panjangnya. Dan meninggalkan Lusi. Lusi pun hanya diam tak banyak bicara.
"Punya sekertaris matre... apa-apa harus diduitin. Kalau udah ngomongin duit baru deh rajin" gerutu Rian yang kesal pada Viola.
Lalu Rian pun pergi..
***
Setelah itu Rian pun pulang ke rumah.
__ADS_1
Tak lama Lusi pun juga sampai. Terlihat Renata yang menunggu didepan pintu.
"Kapan kamu mau pergi dari rumah ini" ucap Renata.
"Maksud Mama apa? " tanya Rian.
"Saya mau wanita ini pergi dari rumah ini Rian"
"Tidak boleh.. Lusi tidak boleh pergi dari sini Ma"
"Tapi Mama tidak sudi dia tinggal disini.. "
"Aku tidak peduli Ma.." ucap Rian menggandeng tangan Lusi dan membawanya ke kamar.
Lusi pun tampak terdiam seperti orang melamun. Ia seolah pasrah pada kehidupannya.
"Kamu mengapa diam saja" tanya Rian.
Lusi pun tak berkata apa-apa..
"Lusi bicaralah.. Aku takut kalau.. "ucap Rian tidak meneruskan.
"Kalau apa?" tanya Lusi.
"Aku takut kalau penyakit gila kamu kambuh"
"Peduli apa Rian.. Di dunia ini tidak ada yang peduli dengan nasibku.." Ucap Lusi.
Lalu Lusi pun ke kamar mandi. Membersihkan diri dan tidur tidak peduli dengan Rian.
like yiaa.. terimakasih buat yang udah baca dan like juga. walaupun yang baca nyaris ada tapi seperti tidak ada. pada dasarnya aku menulis ini karena sudah terlanjur menulis. jadi alangkah baiknya aku selsaikan.. sampai selesai.. walau gak bagus amat tulisan ini. hehe
__ADS_1